
Rasidha hanya pasrah dengan apa yang dia hadapi, dia sudah pasrah mengingat keluarganya yang terus saja menuntut agar menerima lamaran dari ustadz Afif. Kabar yang menyebar dengan sangat cepat, membuat heboh para santriwati, para ustadz dan juga para gus.
"Padahal masih menjalani proses ta'aruf, mengapa semua orang tampak heboh." Keluhnya yang tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Semenjak saat itu pula dia menghindar setiap kali bertemu dengan ustadz Afif, dan lebih banyak menghabiskan waktu di taman.
Menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, melakukannya sebanyak tiga kali mampu mengurangi beban pikirannya.
"Aku tidak ingin menikah di usia muda, mengapa tidak ada yang mendukung cita-cita ku?" monolognyanyang berbicara sendiri seperti orang gila.
"Bukankah aku sudah mendukungmu, kita menikah dan melanjutkan studi bersama." Ucao seseorang dari arah belakang, suara yang tidak asing lagi terdengar.
Rasidha segera menoleh ke belakang, dan sangat terkejut dengan kedatangan ustadz Afif yang menjadi calon suaminya, datang bersama dengan temannya karena tidak ingin menimbulkan fitnah. "Astaghfirullah, aku kaget. Sejak kapan Ustadz berdiri di sana?" ucapnya sembari mengelus dada.
"Tidak lama. Maaf, aku juga tidak sengaja mendengar lisanmu." Jawab ustadz Afif dengan tenang tanpa menoleh, kedua tangan yang terikat di belakang.
Rasidha tersenyum getir, mengingat pria tampan yang menjadi buah bibir di pesantren. Tapi baginya itu semua hanya biasa saja, tidak ada kelebihan dengan mengagumi orang pria itu, yang tetap ada di hatinya adalah baginda besar nabi Muhammad SAW.
"Saya lupa ada keperluan mendadak, saya permisi dulu." Rasidha ingin menghindari calon suaminya dengan cara mencari-cari alasan yang sangat logis.
"Tunggu dulu!" tekan ustadz Afif yang menghentikan langkah Rasidha.
"Iya, apa Ustadz butuh sesuatu?" tawar Rasidha yang tersenyum paksa.
Pria itu berjalan mendekati Rasidha, menatapnya beberapa detik dan menoleh ke arah lain. "Kenapa akhir-akhir ini kamu sering menghindariku?"
"Maaf Ustadz, aku tidak ingin memberikan harapan palsu yang nantinya akan menyakitkan. Lagipula, belum tentu aku menerima lamaran itu setelah selesai proses ta'aruf."
"Aku sudah memahami karaktermu, dan tidak ada salahnya jika kita menikah. Menikah itu ibadah," ucap ustadz Afif.
"Ya, itu memang benar, tapi aku belum siap untuk membina rumah tangga. Assalamu'alaikum." Jawab Rasidha yang pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan ustadz Afif menatap kepergian gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
__ADS_1
Seseorang mendekati ustadz Afif, teman seperjuangannya yang memahami perasaan dari sahabatnya itu. "Jangan memaksakan kehendakmu padanya, beri dia ruang sebelum memutuskan sesuatu. Jangan menekan seorang gadis, itu tidaklah baik." Tutur ustadz Umar.
"Apa aku terlalu memaksakan diri padanya?" tutur ustadz Afif yang menileh ke sebelahnya.
"Benar, sebaiknya kamu tidak terlalu mengekangnya. Beri dia waktu dan lihat bagaimana Allah yang bisa membolak-balikkan hati seseorang."
"Kamu benar, aku akan bersikap sabar dan menunggu hari itu tiba. Sebentar lagi, masa untuk menggantikan ustadz lain telah selesai. Aku akan pergi ke Istanbul untuk melanjutkan pendidikanku selama setahun."
"Jadi apa rencanamu jika Rasidha belum memberikan jawabannya?" tanya ustadz Umar yang menautkan kedua alisnya.
Ustadz Afif diam seketika, dia juga tidak tahu kapan akan kembali lagi di Indonesia. "Aku akan menunggunya, untuk sekarang biarkan saja."
"Bagus, aku mendukungmu. Jika Rasidha adalah jodohmu, maka Allah kembali mempertemukan kalian."
"Insya Allah."
Rasidha mulai merancang kemana dia akan melanjutkan studi, dia menginginkan untuk menambah ilmu dengan belajar sesuai dengan pepatah, tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. "Aku hanya ingin fokus belajar dan belajar, barulah menikah."
****
Di malam harinya, Rasidha baru saja menyelesaikan sholat isya dan akan melanjutkan dzikir dan juga mengaji, rutinitas yang selalu dia lakukan di setiap malamnya. Terdengar suara dengan ponsel miliknya, dia menjangkau benda pipih itu melihat siapa yang menelponnya di malam hari. Tertera nama sang ibu di bunda pipi yang pas digenggam, dia segera mengangkat telepon. Semenjak proses taaruf yang sudah ditentukan itu, dia mendapatkan ponsel untuk memudahkan keluarga yang menelepon, tidak perlu lagi mengantri dan berebutan telepon di sana.
"Assalamu'alaikum, bu. Ada apa?"
"Wa'alaikumsalam. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, bagaimana keadaan ayah dan juga Azzam?"
"Alhamdulillah mereka semua baik."
"Oh ya, ada perlu apa bu?"
__ADS_1
"Ibu ingin mengobrol sebentar denganmu, bisa?"
"Tentu saja bisa, bu. Katakan saja!"
"Bagaimana perkembangan ta'aruf kalian?"
"Tidak ada perkembangan, hanya berjalan di tempat."
"Berikan pendapatmu, Nak. Jangan sampai membuat orang lain menunggu terlalu lama. Mereka juga berani dengan melamarmu secara mendadak, untuk itu berikan jawabanmu segera agar orang lain tidak mengharapkan hal yang lebih darimu."
"Aku sudah menolak ustad Afif, bahkan beberapa kali. Tapi dia tetap saja bersikeras untuk menikah denganku, jika aku menikah, bagaimana dengan sekolahku dan bahkan Aku juga belum siap untuk membina rumah tangga di umurku yang masih berusia dua puluh dua tahun."
"Ada satu hal yang ingin ibu katakan, jika Afif akan berhenti mengajar di pesantren itu, dan melanjutkan kuliahnya di Istanbul. Jika kamu menyetujui lamarannya, kalian akan menikah sebelum keberangkatan di negara itu. Mengenai cita-citamu, dia juga menegaskan tidak akan mengganggumu. Pikirkan ini dengan baik-baik, jangan menilai seseorang tanpa tahu siapa dianya."
"Insya Allah, bu. Aku akan mengingatnya, walaupun ini cukup sulit, tetapi aku tidak akan berhenti shalat istikharah dan meminta petunjuk, berharap jika menemukan jawaban dari setiap kegelisahanku ini."
"Semua jawaban ada padamu, berikanlah dia kepastian antara hitam dan juga putih. Jika memilih hitam, maka katakan dengan baik-bai ketika kamu menolak perjodohan itu di hadapan keluarganya dan jika putih kalian akan segera menikah."
"Baik bu, aku akan segera memberikan jawabanya."
"Ya sudah, ibu tutup dulu teleponnya. Jaga kesehatanmu disana, wassalamu'alaikum."
"Iya bu, wa'alaikumsalam."
Rasidha segera memutuskan sambungan telepon, dan meletakkannya di atas nakas. Pikirannya masih membayangi dengannya jawaban yang belum ditemukan, sebenarnya tidak ada yang diragukan lagi dari ustadz Afif. Dia pemuda soleh, bertanggung jawab kepada orang lain, dan sigap, serta menjadi nilai plusnya adalah wajah tampan yang bisa memikat para kaum hawa.
"Apa aku harus menerima ustadz Afif? Lagipula aku juga belum mengenalnya." gumamnya seraya berpikir dengan jernih, mengingat jawaban apa yang harus dia berikan.
Perjodohan di acara tahunan itu benar-benar membuatnya merasa tertekan, apalagi ustadz Afif yang selalu saja mengawasinya di saat dirinya berpapasan dengan santri dan juga para ustadz yang masih memperebutkan dirinya.
"Apa aku akan bahagia jika menikah dengan ustadz Afif?" gumamnya sambil terbaring di atas tempat tidur yang sangat sederhana, ranjang susun dan dia memilih untuk tidur di bagian bawah.
__ADS_1