
Beberapa hari kemudian, Rasidha pergi ke kampus dengan penuh semangat. Dia datang di pagi hari lebih cepat untuk mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh dosen kepadanya, karena tidak sempat mengerjakannya jadi tidak memutuskan untuk datang lebih awal dan menyelesaikan semuanya dengan tenang dan tidak ada yang mengganggunya.
Rasidha sangat fokus dengan pekerjaan dan buku-bukunya, membuka lembaran demi lembaran dan mulai mengisi beberapa bagian untuk mendapatkan jawaban yang pas dan juga benar. Dia sudah bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang sempurna, itulah cita-citanya dan berniat untuk membanggakan kedua orang tua angkat yang sangat berjasa padanya.
Namun, suara telapak sepatu seakan mengarah ke arahnya, mendongakkan kepala dan melihat siapa yang datang menghampirinya. Terlihat seorang pria matang yang seusia tak jauh dengan ayah angkatnya, seorang pria tampan dan berkarisma walau di usianya yang sudah dewasa. Dengan sekilas dia menundukkan kepalanya agar tidak terjadinya zina mata, lebih baik menjaga pandangan daripada timbulnya dosa. "Maaf, apa Bapak membutuhkan sesuatu?" tanyanya yang tak menatap wajah pria itu.
"Ikut aku sekarang juga!" pria itu memegang tangan Rasidha dan menyeretnya keluar dari ruangan, sontak aksinya itu membuat wanita yang berkerudung berusaha memberontak agar dirinya terlepas dari pria yang bersikap kurang ajar padanya.
"Lepaskan tanganku!" sergahnya.
"Diam dan ikuti aku!" hardik pria itu yang tak lain adalah Felix, seorang dosen yang mengajar di universitas terkenal di kota.
Rasidha memberontak dengan menggunakan jurus karate yang biasa diajarkan oleh ayahnya, ilmu bela diri membuatnya berhasil lolos setelah berupaya cukup keras. Dia menghentikan langkah kakinya dan juga diikuti oleh sang dosen yang bahkan menoleh ke arahnya, dua pasang kontak mata yang saling bertemu bertahan dalam beberapa saat saja.
"Maaf, anda sudah melewati batasan." Ucap Rasidha dengan lantang, tak terima jika pria itu mencoba untuk menarik tangan yang bersentuhan.
Felix mengeluarkan dahinya, tidak memahami mengapa gadis itu marah, padahal dia tidak menarik tangan Rasidha dengan sangat erat. "Apa ada masalah?"
__ADS_1
"Tentu saja, anda laki-laki dan saya perempuan. Tapi Sebelum itu jangan tersinggung, di dalam agama yang aku panut dilarang untuk bersentuhan dengan lawan jenis, seperti pria asing yang bukan mahramnya." Jelas Rasidha.
"Baiklah, aku tidak akan menyentuh kulitmu lagi, tapi ikut denganku sekarang juga!"
"Memangnya Anda mau membawaku ke mana?"
"Jangan banyak bertanya!" sergah Felix.
Rasidha merasa ada yang tidak beres dari pria yang ada di depannya, dia tidak ingin mengambil resiko besar dan mencoba untuk mencari zona aman, melihat sekeliling dan mencari tempat untuk kabur. "Ini saatnya," ucapnya di dalam hati dan segera kabur saat mendapatkan kesempatan.
Felix hanya tersenyum dan menghela nafas, tahu jika gadis itu kabur. "Dasar anak-anak! Tidak ada yang bisa kabur dariku, tetapi dia berusaha mencobanya, aku ingin lihat sampai di mana perjuangannya untuk melarikan diri." Monolognya yang melihat punggung gadis itu yang mulai menghilang.
Rasidha mengatur nafasnya dan melirik ke arah belakang yang tidak ada orang yang mengejarnya, dia sangat kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat setelah menjauh dari kampus. "Syukur Alhamdulillah, aku bisa kabur dari pria itu, sebaiknya aku telepon ayah saja." Dengan tangan yang gemetar dan jantung yang berdegup dengan kencang, membuat gerakannya sedikit terhambat akibat rasa takut untuk menghadapi seorang pria yang sangat asing baginya.
Rasidha mengeluarkan ponsel yang ada di dalam sakunya, dan mencari nomor kontak sang ayah untuk menghubungi. Dia sangat takut dan tidak mempunyai cara lain, apalagi syarat mata biru yang begitu tajam masih terbayang olehnya. "Mengapa aku menjadi merinding jika berhadapan dengan pria itu? Apa urusan dosen itu denganku? Padahal aku baru masuk di tempat ini."
Rasidha menyeka keringat yang mengucur deras lewat dahinya, dia sangat kelelahan dengan berhenti sejenak untuk beberapa saat, mengambil kesempatan itu untuk menelepon ayahnya yang sekarang bekerja di kantor.
__ADS_1
Senyum leganya terukir di wajah cantik khas gadis Palestina, apalagi dibaluti dengan hijab dengan warna pink muda. Sesekali dia melirik jam yang ada di ponsel miliknya, dan memastikan jika tidak terlambat masuk ke kelas. Baru saja telepon yang tersambung ingin diangkat, namun tiba-tiba benda pipi yang menjadi kesayangannya itu malah dirampas oleh orang lain. Dia segera menoleh menatap sang pelaku, yang tak lain adalah sang dosen.
Akibat perasaan yang sangat takut, dia memundurkan langkah agar menjauh dari pria yang bermata biru. Baru saja dia ingin kabur, tetapi terlambat disaat pria itu kembali menarik tangannya, menyeret dengan paksa berjalan masuk ke dalam mobil yang terparkir.
"Tolong lepaskan aku! Aku mohon jangan memperlakukanku seperti seorang tawanan, memangnya apa kesalahanku padamu?"
"Jangan banyak berbicara atau mulutmu itu akan aku jahit! Ikuti saja kemana aku membawamu," balas dosen Felix dengan raut wajah yang dingin.
Tentu saja lah Rasidha tidak setuju dibawa pergi oleh pria asing, membuatnya mengeluarkan keahlian ilmu bela diri. Dia memutar kan tubuhnya dan memberikan tendangan tepat mengenai perut Felix. Namun, serangannya itu tidak ada artinya apa-apa dan bahkan tidak membuat pria dewasa itu mengeluarkan suara ringisan.
Felix sangat jengah dengan tingkah laku dari gadis itu, sebagai sebuah boneka kelinci yang sangat imut dan juga begitu menarik. Dia meraih sebuah tali setelah menjangkaunya terlebih dulu, melilitkan tali dan memberikan simpul mati agar Rasidha tidak melawan dan bertindak nekat.
"Ini sungguh di luar dugaan, dan juga di luar batas. Jika kamu tidak ingin melepaskanku, jangan salahkan aku bagaimana ayahku akan datang dan memberikan pelajaran."
"Itulah yang paling aku tunggu-tunggu selama beberapa tahun belakangan ini, sudah tidak lama aku mengadu fisik dengan bertarung."
Seketika hal itu berhasil membuat Rasidha sangat terkejut, karena kecurigaannya kepada pria itu memang benar adanya. "Jadi kamu Felix, sahabat dari ayahku?" liriknya pelan yang tidak menyangka jika teman baik dari ayah angkatnya itu berusaha untuk menyekapnya.
__ADS_1
"Tentu saja, aku akan menghancurkan keluarga Simon Albert. Bahkan pria itu tidak pantas menyandang gelar komandan militer tentara Israel. Dia telah berkhianat, tidak lebih dari pecundang!" akhirnya Felix berhasil mengeluarkan kekesalan dan juga kemarahannya yang selama bertahun-tahun disimpan olehnya, dengan begitu rapi. Namun, emosinya yang meledak itu dilihat langsung oleh rasyida yang hanya menatapnya dengan wajah kebingungan