
Rasidha memutuskan untuk pergi ke toko roti yang dikelola oleh ibunya, ingin memeriksa apa saja yang akan dibutuhkan dan juga adonan juga bahan apa yang nantinya harus dibeli. Dia begitu yakin dengan pendiriannya yang membangun cabang baru yang akan dikelola nantinya, namun konsepnya kali ini sedikit berbeda dari cabang-cabang yang lainnya seperti varian rasa yang kekinian dan juga bentuk yang unik untuk menarik para pembeli.
Rasidha sangat senang saat melihat begitu banyak pembeli, bahkan dari jumlah yang besar untuk dijual kembali. Ya, Suci telah memasok begitu banyak kue yang akan dijual kembali. Dia melangkahkan kaki masuk ke dalam toko roti dan disambut oleh beberapa karyawan yang sudah mengenalnya sejak lama karena sebagian dari karyawan adalah anggota lama yang biasanya dipercaya bekerja di bagian dapur.
Rasidha langsung pergi menuju dapur dan melihat apa saja kegiatan dan mulai mencatat hal-hal penting, tidak ada yang terlupa.
"Apa semuanya ini harus dicampur?" tanya Rasidha yang begitu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh karyawan yang bekerja di bagian membuat adonan kue.
"Tentu saja kita mencampurnya terlebih dahulu dan memisahkan menjadi beberapa bagian adonan yang nantinya bisa dijadikan varian lain dari rasa dan juga bentuk." Jelas seorang wanita paruh baya itu sambil tersenyum.
"Baiklah, apa ibuku sudah memberitahu hal ini?"
"Nyonya sudah memberitahu hal ini dan kami akan berusaha untuk memberikan semua resep yang kami pelajari dari nyonya Suci." Jawab wanita paruh baya yang tersenyum, sedangkan Rasidha juga membalas dengan senyuman manis khas miliknya.
Setelah Rasidha beberapa jam berada di toko kue, kini dirinya mulai membeli beberapa furniture dan juga dekorasi agar lebih menarik banyak pembeli. Di sepanjang perjalanan dia menulis apa-apa saja yang akan dibeli, ayahnya sudah menyediakan tempat yang nantinya akan di jadikan cabangtoko yang baru.
Teleponnya berdering menghentikan aktivitasnya, Rasidha segera mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan memeriksa siapa yang menghubunginya, ternyata itu adalah ustadz Afif.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, ada apa ustadz?"
"Aku hanya merindukan suara calon istri ku saja, bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Alhamdulillah aku baik, bagaimana dengan kabar ustadz Afif?"
"Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan lain saja, ustadz terdengar sangat formal."
"Kalau bukan ustadz, lalu mau aku panggil apa?"
"Terserah padamu saja, boleh memanggilku dengan sebutan Mas, senyaman mu saja. Mengenai kabarku? Aku tidak baik."
"Baiklah, aku akan memanggil Mas saja. Apa mas Afif sakit?"
"Hem, badanku kurang fit dan sekarang tengah berbaring di atas tempat tidur sesuai perkataan dokter."
__ADS_1
"Apa mas Afif sendiri saja atau ada orang lain di sana?"
"Aku hanya sendiri dan tidak ada siapapun, itu sebabnya aku meneleponmu. Mungkin saja ini efek aku merindukanmu, setidaknya aku sudah baikan dengan mendengarkan suaramu walau lewat telepon."
Rasidha tersenyum malu mendengar perkataan dari calon suaminya yang ternyata sangatlah manis bagaikan gula, dia bahkan tersipu malu.
"Jangan berlebihan, aku akan berdoa untuk kesehatanmu, mas."
"Terima kasih, andai saja kamu menerima lamaranku dan sekarang kamu pasti berada di sini dan merawatku. Aku tutup dulu teleponnya, setelah meminum obat tiba-tiba aku ingin tidur."
"Baiklah, jaga dirimu mas."
Rasidha sedikit khawatir mendengar pernyataan dari calon suaminya itu, apalagi tidak ada orang yang merawat di Istanbul. Dia hanya bisa berdoa untuk kebaikan ustadz Afif, hingg tidak sadar jika dirinya sudah sampai.
"Kita sudah sampai," tutur sang supir.
"Terima kasih, Pak." Rasidha segera keluar dari mobil dan berjalan menuju toko untuk memilah dan memilih hiasan dekorasi yang indah.
Rasidha berkeliling mencari hiasan apa saja yang menurutnya sangatlah unik, senyumannya terbit di saat melihat sebuah hiasan yang sangat indah, tapi posisinya terpajang di atas. "Hiasan nya sangat cantik, tapi itu tinggi sekali. Bagaimana cara ku mengambilnya?" gumamnya sedikit kecewa, melihat keadaan sekitar yang tidak terlihat karyawan.
Rasidha ingin menjangkau nya, tatapi tersentak kaget saat melihat sebuah tangan kekar yang mengambil hiasan itu dan memberikan kepadanya. "Ini, ambillah." Ucap pria itu yang dingin.
"Felix, itu nama saya." Ralat pria bermata biru dengan raut wajah yang dingin.
"Felix? Maaf, apa Paman mengenal ayahku?"
"Ayahmu?"
"Ya, nama Paman mirip dengan nama sahabat ayahku. Nama ayahku adalah Simon Albert, apa Paman mengenalnya?" Rasidha berharap jika pria itu adalah Felix, sahabat ayahnya yang tiba-tiba saja menghilang.
"Apa kamu pikir nama Felix hanya untuk satu orang saja? Dan aku tidak mengenal ayahmu."
"Hem, baiklah. Terima kasih sudah menolongku," Rasidha segera berlalu pergi meninggalkan pria itu.
Rasidha membayar barang-barang yang sudah dibeli dan segera pergi dari tempat itu menuju ke rumah, karena dia merasa sangat lelah.
__ADS_1
"Kenapa aku sangat gegabah sekali? Benar perkataan pak Felix, karena nama itu bukan milik satu orang saja. Lagipula aku juga tidak tahu bagaimana wajahnya," batin Rasidha yang segera menepis pikirannya mengenai sang dosen yang mengajar di kelasnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Balas seseorang yang berada di dalam rumah. Terlihat sang ibu yang tersenyum menyambut kepulangannya. "Kenapa sangat lama sekli?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Aku ke toko roti kemudian ke toko furniture, Bu." Rasidha langsung mencium tangan sang ibu, raut wajah kelelahan dapat terlihat oleh Suci.
"Baiklah, masuklah dan bersihkan dirimu."
"Hem, di mana ayah?"
"Ada di kantornya, seperti biasa. Memangnya ada apa?"
"Bukan apa-apa, hanya bertanya saja."
"Oh iya, Ibu hampir lupa mengatakannya padamu." Suci menghentikan langkah kaki anaknya yang langsung menoleh.
"Iya, ada apa Bu?" tanya Rasidha yang begitu penasaran.
"Kakaknya ustadz Afif akan berkunjung kemari dan menginap untuk beberapa hari kedepan."
"Kakaknya?"
"Ya, Ibu memintanya untuk tinggal bersama kita. Tidak baik untuknya tinggal di hotel ataupun penginapan lain, sementara kita berada di kota yanh sama."
"Kakaknya yang mana?"
"Amayra, dia akan kesini. Mungkin besok pagi, sekaligus ingin melihatmu."
"Baiklah, tidak masalah. Apa yang Ibu masak hari ini?" tanya Rasidha yang sangat lapar saat tak sengaja mencium aroma masakan dari arah dapur.
"Sayur capcay, dan juga ayam goreng." Sahut Suci yang kembali berjalan ke arah dapur.
"Apakah aku boleh membantu? Masakan Ibu paling lezat yang pernah aku makan, dan ingin belajar."
__ADS_1
"Oho, Ibu tahu kalau kamu sedang belajar untuk menjadi istri yang baik untuk ustadz Afif."
Seketika rona wajah Rasidha memerah, karena dia sudah merasa nyaman dengan calon suaminya itu.