
Rasidha tidak menyangka jika seseorang yang ada di hadapannya adalah pria yang mencoba untuk merampoknya, dia sedikit terkejut karena pria itu mencoba untuk tetap dekat dengannya.
"Wah, ternyata dunia ini sangatlah sempit ya. Aku tak menyangka jika kamu sekolah disini," racau pria itu yang tak digubris oleh Rasidha yang hanya terdiam seakan tak menganggapnya ada. Melambaikan tangan tepat di hadapan wanita yang mengenakan pakaian muslimah syar'i, mencoba untuk menyadarkan wanita berkerudung. "Halo, aku disini. Jangan berpura-pura tidak mengenalku."
Rasidha menatap pria itu sekilas, kemudian menarik perhatiannya di saat pesanan telah tiba, tersenyum kepada ibu kantin dan mulai membaca doa makan dengan khusuk.
"Apa kamu tidak menawarkannya juga padaku?" celetuk pria itu yang menarik perhatian Rasidha.
"Pesan saja, aku yang membayarnya. Selagi aku makan jangan menggangguku!" titahnya dengan nada perintah.
"Baiklah, kamu sangat baik sekali." Pria itu segera beranjak dari kursi dan hendak memesan makanan dalam jumlah dua porsi. "Terima kasih, kamu sangat baik padaku."
Rasidha terkejut dan terbatuk, dengan cepat dia meneguk segelas air mineral. "Apa itu porsi makanmu?"
"Tidak juga, ini karena kamu yang mentraktir ku, tentu saja aku mempergunakannya dengan semaksimal mungkin." Pria itu meniup makanan panas dan segera memasukkannya ke dalam mulut, makan dengan sangat lahap membuat selera makan Rasidha menghilang.
Rasidha merasa risih karena pemuda itu makan di hadapannya, dia tidak terbiasa untuk dihadapkan dengan pria asing. Ingin beranjak dari duduknya dan bergabung dengan wanita lain di kantin, namun hal itu tidak terjadi di saat pria itu menahan tangannya.
"Astaghfirullah hal'adzim." Rasidha menyingkirkan tangannya segera, bersentuhan dengan pria asing membuatnya merasa bersalah.
"Ada apa?" pria itu terkejut karena memang merasa asing dengan kalimat yang diucapkan oleh Rasidha.
"Tidak baik laki-laki dan perempuan berdekatan, minimal jaga jarak satu meter dan jangan mencoba untuk menyentuhku."
"Kenapa kamu sangat berlebihan sekali? Aku hanya menyentuh tanganmu saja bukan bagian sensitif." Sahut pria itu dengan santai.
"Apa kamu percaya Tuhan dan juga agama?"
"Tidak, apa itu Tuhan dan agama?"
"Apa kamu tidak memilikinya?" tanya Rasidha yang terlihat penasaran.
"Bukan urusanmu!" cetusnya yang tak tertarik dengan pembahasan kali ini, dan fokus pada piring kedua untuk menyuapinya ke dalam mulut.
"Hem, aku sudah selesai makan. Aku permisi!"
"Tunggu, setidaknya kamu menungguku selesai makan. Apa jangan-jangan kamu ingin menipuku dengan cara kabur dan berimbas padaku yang membayar semua tagihan makanan?"
__ADS_1
Rasidha menghela nafas dengan jengah, mengeluarkan uang selembar kertas warna merah. "Ini uangnya, dan sisanya boleh kamu ambil."
"Baiklah, kamu wanita yang sangat baik, Rasidha." Ucap pria itu yang menghentikan langkah gadis berpakaian syar'i.
"Kamu tahu namaku?" Rasidha menoleh.
"Hem."
Rasidha merasa takut dengan pria itu dan hendak pergi. "Ta-tapi bagaimana kamu mengetahuinya?"
"Baiklah, untuk menghilangkan rasa penasaranmu, tidak adil bagiku yang mengetahui nama mu, tapi kamu tidak tahu siapa namaku. Aku, Justin!" seru pria itu yang tersenyum sambil menjulurkan tangannya.
Dengan cepat Rasidha menyatukan kedua tangannya agar tidak bersentuhan dengan pria asing. Hal itu semakin membuat Justin merasa ada sebuah magnet yang membuatnya tertarik pada gadis yang berada di hadapannya. "Aku harus pergi!"
"Baiklah."
Baru saja beberapa langkah Rasidha pergi dari kantin, namun terdengar suara dari ponsel yang ada di dalam sakunya. Dia segera menghentikan langkah dan mengambil ponsel, melihat siapa yang menghubunginya, tertera nama ustadz Afif dan segera mengangkatnya.
"Halo, assalamu'alaikum, Rasidha."
"Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah, aku baik. Bagaimana dengan ustadz sendiri? Dan jelaskan mengenai Istanbul."
"Aku baik, ternyata kamu begitu tertarik dengan Istanbul. Andai saja kita menikah, kamu sudah berada disini bersamaku dan sekaligus bulan madu."
"Ustadz bisa saja."
"Apa kamu sudah makan siang?"
"Sudah, jangan cemaskan masalah itu."
"Jujur, aku disini selalu mengingatmu. Hanya ada dirimu di doa yang terselip sepertiga malam, berharap jika kita berjodoh."
Rasidha hanya terdiam, dan tersipu malu mendengar perkataan dari ustadz Afif. Entah bagaimana dia bisa luluh dan nyaman dengan perhatian yang selalu diberikan, apalagi mereka akan segera menikah
"Entah mengapa aku sangatlah gelisah dengan mimpi itu."
__ADS_1
"Mimpi?"
"Ya, aku bermimpi berusaha untuk menggapaimu. Tapi semakin aku berusaha, semakin pula kamu menjauh dariku. Aku terbangun sebelum menyelesaikan mimpi itu, dan semoga saja itu tidak akan terjadi."
"Mimpi hanyalah bunga tidur."
"Aku sangat mencintaimu sudah bertahun-tahun yang lalu, dan aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu."
"Percayakan semuanya kepada Allah."
"Hem, kamu benar. Jaga dirimu baik-baik, aku akan berusaha menyelesaikan studi lebih cepat sebelum satu tahun, lalu menikahimu."
"Baiklah, aku akan mendoakannya."
"Wah, pantas saja kamu tidak ingin aku sentuh, ternyata inilah alasannya." Celetuk Justin yang dari tadi mendengarkan pembicaraan gadis berkerudung dan dia paham, kalau Rasidha telah mempunyai calon suami.
"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa kamu selalu saja datang dan mengejutkan aku. Apa jangan-jangan kamu sedari tadi mendengarkan pembicaraan ku lewat telepon?" selidik Rasidha yang menatap tajam ke arah sang pelaku utama.
"Aku hanya mendengar sekilas saja, aku tidak menyangka jika wanita sepertimu akan menikah sebentar lagi, padahal aku sudah tertarik denganmu, walaupun pertemuan kita tidaklah menyenangkan.
"Hem, jangan di ulangi lagi."
"Tentu saja, tapi lain cerita jika aku keceplosan."
Rasidha melirik penampilan Justin seperti orang yang punya, tapi dia tidak mengerti mengapa pria itu menjadi seorang perampok dan hampir saja mencelakai nya. Jika saja dia tidak mempunyai ilmu bela diri yang tinggi, sudah dipastikan dia sekarang berada di rumah sakit. "Siapa kamu sebenarnya? Dilihat dari penampilanmu bukanlah dari orang kalangan biasa, dengan menjadi seorang perampok yang bisa melukai orang lain dan lebih parahnya melayangkan nyawa.
Justin menatap gadis yang berkerudung syar'i, tentu saja dengan senyuman yang penuh makna dan juga arti yang berbeda. "Aku pergi dulu!" tanpa menunggu waktu dia segera pergi dari tempat itu dan menarik dua sudut bibir ke atas karena permainan segera dimulai.
Justin menghubungi seseorang yang sudah pasti berkomplotan. "Aku sudah menandai target dan tidak akan lama lagi kita akan segera melumpuhkannya."
"Bagus, aku ingin kamu terus mendekati Rasidha seolah-olah kamu menyukainya."
"Tentu saja, akulah raja dalam berakting dan pria tampan yang bisa menaklukkan para wanita apalagi seperti gadis muslimah itu."
"Heh, tapi kamu berhati-hatilah jangan sampai ada yang curiga apalagi Zaid. Pria itu sangatlah berbahaya dan juga sangat menyayangi putrinya itu, gunakan kesempatan sebaik mungkin. Rasidha merupakan kelemahan dan juga kekuatannya, jadikan itu kelemahan."
"Baiklah, sesuai perintahmu."
__ADS_1