Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 33 - Ternyata aku sangat terlambat


__ADS_3

Rasidha menatap ayahnya dengan sambutan air mata, bulir bening yang sebagai saksi hati terasa perih. "Biarkan aku mendekati ayahku, ku mohon." Ucapnya yang memberontak, namun tidak berhasil di kala Felix masih menahan tangannya.


"Lepaskan putriku, Felix." Ucap Zaid yang ingin menghampiri putri tercintanya, tapi beberapa orang datang menghalangi niatnya. 


Felix tersenyum miring, melihat keputusasaan dan air mata dari mantan sahabatnya. "Bagaimana rasanya? Sakit 'bukan?" 


"Brengsek! Ini antara kita berdua, jangan libatkan anakku." Zaid yang tidak bisa melakukan hal apapun lagi, dirinya sudah terlambat datang dan menyesalinya. 


"Bagaimana tidak, keluargamu adalah kekuatan juga kelemahanmu dan aku hanya ingin memanfaatkan sebaiknya."


"Sini kamu! Ayo kita berduel, hidup dan mati." Tantang Zaid yang ingin memberikan Felix pelajaran atas kesalahan yang diperbuat. 


"Hah, kamu tidak akan tahu dengan pengorbananku ini. Sekarang Rasidha sudah resmi menjadi istriku di mata agama maupun hukum." Terang Felix yang mengingat bagaimana senjata keramatnya di sunat terlebih dulu, untung saja pengobatan semakin canggih dan tak butuh waktu lama untuk pemulihan.


"Ayo berduel denganku, aku tidak akan rela dan tidak akan merestui pernikahan ini!" tekan Zaid yang tidak berdaya melihat air mata putrinya. "Jangan menangis, Ayah akan selalu bersamamu."


"Ayah, maafkan aku." Lirih Rasidha yang sangat sedih.


"Tidak Nak, Ayahlah yang harus meminta maaf padamu." 

__ADS_1


Felix mendelik melihat drama keluarga yang begitu membosankan baginya. "Hentikan drama yang membosankan ini, suka ataupun tidak Rasidha sudah menjadi istriku dan kamu tidak akan bisa mengubah faktanya." 


"Tapi aku tidak merestuinya." 


"Memangnya kamu siapa? Kamu bukanlah ayah kandungnya, tapi karena merasa bersalah dan merawatnya. Sungguh kamu adalah pria munafik, setelah membunuh kedua orang tuanya kamu malah ingin menjadi seorang pahlawan." Terang Felix yang tersenyum mengungkit masa lalu. 


Zaid terdiam karena luka dan kesalahan dimasa lalu kembali dibuka di hadapan semua orang, tidak bisa disangkal mengenai kebenaran. Rasidha juga merasakan hal yang sama dan terdiam untuk beberapa saat, dia sudah melupakan segalanya dan memaafkan ayah angkatnya itu. 


"Jangan mengungkit masa lalu lagi, aku sudah memaafkan ayah Zaid, yang terpenting sekarang ayahku sudah berubah menjadi lebih baik. Bukan sepertimu, yang hanya menyimpan dendam dan menikahiku dengan alasan itu." 


"Sekali lagi kamu membuka suara, jangan salahkan aku yang akan menampar wajahmu itu." Ujar Felix yang melirik sekilas gadis yang baru saja dia nikahi. Kata-kata yang menusuk begitu membuatnya tidak suka, bisa melakukan apapun tanpa pandang bulu. 


Zaid yang tidak sudah tidak tahan lagi mendorong beberapa orang yang mencoba untuk menahan tubuhnya, segera berlari menghampiri Felix dan memberikan hadiah sebuah pukulan keras mengenai wajah pria itu. Beberapa orang mendekati dua orang pria yang sedang memanas, tapi dicegah langsung oleh sang atasan. 


"Hentikan semuanya!" pekik Rasidha yang tidak tahan bagaimana Felix memukul ayahnya, kejadian belasan tahun yang lalu mulai menusuk di pikiran. Trauma yang sudah menghilang seakan kembali, dia tidak ingin kehilangan ayahnya untuk kedua kali. "Sudah cukup! Jangan sakiti ayahku lagi." Pekiknya yang mencoba melepaskan diri, artinya hancur dikala tubuh ayahnya dihantam oleh pria yang menjadi suaminya. Sekuat tenaga dia melepaskan diri dan menginjak kaki beberapa orang yang membuatnya bisa terlepas, berlari secepat kilat dan menghampiri ayahnya. 


"Minggir! Aku ingin menghajar pria itu!" Felix dikuasai oleh amarah selama belasan tahun meluapkan nya hingga ingin melenyapkan Zaid alias Simon Albert. 


"Aku tidak peduli, sudah cukup kamu menyakiti ayahku." 

__ADS_1


Zaid memuntahkan seteguk udara segar dari mulutnya, dada yang terasa sakit dan kekuatan yang sudah tidak seperti dulu lagi. Dirinya begitu putus asa dan tidak berdaya, tidak bisa membantu putrinya yang dalam kesulitan dan bahkan terjebak oleh permusuhannya. "Jika ini hari terakhir untuk Ayah, tolong jaga ibumu dan juga adikmu, Azzam." 


Rasidha memecahkan tangisan sambil menggelengkan kepala, dia tidak terima dengan perkataan dari ayah angkatnya itu. "Ayah sendirilah yang akan menjaga ibu dan juga Azzam, aku sudah pasrah jika harus menjadi istri nya. Sebaiknya Ayah kembali saja, jangan khawatirkan aku yang ada di sini." 


"Tidak, Nak. Felix bukanlah pria sesederhana itu dia pasti akan menyiksamu, biarkan aku yang tiada di sini."


"Apa yang Ayah katakan? Aku bukan gadis lemah, ibu telah mengajarkanku Apa artinya menjadi wanita tangguh. Berikan aku waktu untuk bisa membalikkan keadaan," ucapan Rasidha yang begitu meyakinkan, membuat Zaid tersenyum walau dirinya tidak yakin sepenuhnya.


"Sudah cukup drama ini." Suasana haru antara ayah dan anak terganggu oleh Felix yang menarik tangan Rasidha dengan keras hingga sang empunya meringis. 


Rasidha sudah memasrahkan semua kehendak kepada sang Pencipta, namun menjadi kekhawatirannya saat ini adalah sang ayah yang sudah tidak berdaya lagi untuk mengangkat tubuh sendiri. Dia berdoa di dalam hati agar seseorang datang dan membawa ayahnya pergi dari tempat itu, jika ini adalah takdir yang harus ditempuh maka dia akan tabah menjalani. 


Tak lama kemudian, sesosok pria baru saja hadir dengan raut wajah tak bisa diartikan. Rasidha menatap pria itu dengan pandangan tak berdaya, keduanya saling berkontak mata seakan mengisyaratkan sesuatu. 


Rasidha tidak menyangka karena doanya terkabul dengan cepat, melihat ustadz Afif yang menjadi calon suaminya yang menatapnya dengan sedih. Tatapan pria itu menyisakan kalau hatinya yang begitu hancur lebur, melihat sang calon istri sudah bersanding dengan pria lain. 


"Mas Afif," lirih Rasidha yang kembali meneteskan air mata, hatinya begitu hancur dan sangat tahu bagaimana perasaan yang dialami oleh ustadz Afif. Perhatian dan kepedulian dari pria itu menimbulkan benih-benih cinta di antara mereka, namun takdir yang seakan memisahkan tak bisa diubah.


"Ternyata aku sudah sangat terlambat," lirih ustadz Afif yang hanya menatap pandangan lurus, namun di dalamnya terlihat sangat kosong kosong. Dia terus berjalan perlahan dengan air mata yang terurai, perasaan cinta selama bertahun-tahun sudah menjadi milik orang lain. 

__ADS_1


"Aku dengar pria itu adalah calon suamimu," Felix kembali menyunggingkan senyuman kemenangan, hanya satu pukulan mengenai dua sasaran. Sebenarnya dia tidak mempunyai masalah dengan ustadz Afif, tapi begitu sangat menyukai penderitaan dari pria itu. 


"Maafkan aku yang datang terlambat, apa aku begitu sangat terlambat dengan semua ini?" ucap itu ustadz Afif yang tidak tahan menahan air matanya. 


__ADS_2