Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 53 - Hamil


__ADS_3

Sudah seminggu Felix menunggu palang merah yang dirasakan oleh istri kecilnya, hingga di hari terakhir membuatnya sudah tidak tahan lagi. "Sepertinya kamu sudah selesai, terlihat dari rambutmu yang basah." Ucapnya seraya tersenyum. 


"A-aku belum selesai." Rasidha sangat gugup, dia tak menyadari kedatangan suaminya yang masuk ke dalam kamar secara tiba-tiba. 


"Benarkah? Tapi aku melihatmu sholat subuh, jangan berbohong padaku!" 


Rasidha menelan saliva dengan susah payah, memundurkan langkah dan sangat takut melihat wajah suaminya sendiri yang seakan tak ingin melepaskannya di hari ini. "Mundur! Aku bilang mundur!" 


"Tidak." Felix mendekap tubuh Rasidha dan melepaskan handuk yang melilit di atas kepala, mendekati sang istri dan menciumnya. 


Rasidha menatap semua pakaian yang berserakan di lantai, melihat Felix tengah tersenyum ke arahnya. "Tidak lama lagi kamu akan hamil dan aku jamin itu." 


Rasidha tak menggubris dan lebih memilih memungut pakaian yang berserakan dan memakai nya, namun dia sedikit heran karena sikap Felix dalam bersenggama dengannya sangat lembut. 


Dua bulan kemudian..


Sifat Felix semakin berubah kepada Rasidha, menjadi pria yang lembut dan juga perhatian. Entah mengapa pria itu berubah seratus delapan puluh persen, dimana dirinya hampir tak percaya dengan sikap itu dan mengiranya sedang bersandiwara memainkan sebuah peran. 


"Kenapa dia tiba-tiba berubah bersikap lembut dn perhatian padaku? Apa yang direncanakan sebenarnya?" batin Rasidha seraya menatap cermin. "Apakah ini dari doa-doa ku selama ini?" gumamnya yang mengenakan kerudung menutupi dada. 


"Apa kamu sudah selesai bersiap-siap?" tanya Felix yang mengintip di sebalik pintu membuat Rasidha terkejut. 


"Aku sudah siap, memangnya kita mau kemana?" 


"Aku ingin membawamu jalan-jalan." 


"Tumben sekali, tapi kemana?" tanya Rasidha mengerutkan dahi.


"Jangan banyak bertanya, kenapa kamu selalu bertanya saat aku mulai bersikap lembut padamu? Padahal aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku." Cetus Felix yang keceplosan membuat Rasidha semakin menatapnya penuh curiga. "Apa kamu ingin di cium? Jangan menatapku seperti itu, aku memang suami yang tampan dan kamu beruntung menikah denganku." 


Ya, semakin hari hubungan keduanya mulai membaik. Perdebatan dan pertikaian keduanya lah yang menyatukan mereka, Felix yang dikenal kejam perlahan luluh dan bersikap baik juga lembut pada istrinya, tentu saja dengan doa-doa yang selalu dipanjatkan oleh Rasidha. 

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam mobil, suasana yang sedikit canggung terjadi. Rasidha melihat ke luar jendela, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. 


"Maaf." Ucap Felix yang spontan membuat Rasidha langsung menoleh seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. 


"Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Rasidha, sedangkan Felix merdecak kesal. 


"Maaf." 


"Untuk apa?" 


"Semua sikap kasarku, dan aku tidak akan menyakitimu lagi." 


"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Rasidha hampir tak percaya, padahal pria di sebelahnya terkenal kejam dan berubah membaik setelah mereka menghabiskan waktu bersama walau secara paksa. 


"Aku tidak tahu, aku rasa harus meminta maaf padamu. Itu saja!" 


Rasidha tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Apa kepalanya terbentur di kamar mandi? Hari apa ini, dan mengapa dia tiba-tiba meminta maaf?" batinnya. 


Tak lama mobil berhenti di sebuah bangunan yang cukup besar, dia tidak tahu dan juga sangat shock kemana suaminya itu membawanya pergi. "Kenapa kita di sini?" 


"Umroh?" 


Dengan cepat Felix menganggukkan kepala, Rasidha kembali terkejut dengan pernyataan dari suaminya. "Aku ingin meraih pernikahan sakinah mawaddah dan warohmah."


"Darimana kamu mendapatkan ide ini?" 


"Entahlah, aku tertarik mendengar ceramah salah satu ustadz dan mencoba untuk menerapkannya. Jangan salah paham dengan maksud baikku, aku hanya ingin mempertahankan rumah tangga yang diterjang badai." Ungkap Felix yang menyatakan hal sebenarnya, dia begitu menyesal telah memperlakukan istri dengan begitu buruk, dan berniat untuk membawa istrinya keluar selama empat puluh hari dalam menjalankan Masthurah. 


"Alhamdulillah, suamiku telah berubah ke jalan yang baik. Semoga dia tidak akan berubah dan memilih jalan yang buruk lagi." Ucap Rasidha di dalam hati, tersenyum seraya memeluk suaminya sebagai tanda menerima pernikahan dengan sepenuh hati karena Allah SWT. 


"Maafkan atas sikapku yang pernah membuatmu marah, aku menerima pernikahan ini." 

__ADS_1


Felix tersenyum membalas pelukan istri kecilnya. "Kita raih Jannah bersama-sama." 


Rasidha melihat tiket pesawat penerbangan bersama sang suami umroh, memenuhi kewajiban sebagai umat muslim. "MasyaAllah, begitu besar hadiah yang Engkau berikan kepadaku ya Rabb. Doa yang tak henti-hentinya ku panjatkan padaMu diijabah dengan sangat cepat, sekarang suamiku telah berubah menjadi pribadi yang baik. Sungguh, di hatiku sudah merasa tenang dan tidak ada rasa kebencian lagi. Tolong maafkan hambamu yang bergelimang dosa, jadikan bahtera rumah tanggaku sakinah mawaddah warohmah. Aamiin." 


Selesai berdoa dengan rasa puji syukur kepada sang Pencipta, mendengarkan keluh kesahnya yang sungguh banyak menuntut. Rasidha yang baru ingin melipat sajadah merasakan perutnya mual dan segera berlari menuju toilet. Felix yang baru berbalik selesai berdoa dan sholat berjamaah untuk pertama kalinya merasa cemas dengan kondisi sang istri dan ikut menghampiri.


Felix memijat tengkuk Rasidha dengan perlahan, berharap kondisi istrinya membaik. "Sebaiknya kamu beristirahat dulu!" 


"Hem." 


Felix segera menghubungi dokter dan sangat cemas, tak butuh waktu lama hingga wanita berjas putih datang memeriksa istrinya. "Bagaimana dengan kondisi istriku, Dok?" 


"Selamat untuk Bapak dan juga Ibu yang sebentar lagi menjadi orang tua." 


"A-apa? Istriku hamil?" Felix sangat tak menduga kalau perkiraan nya dan keinginan nya didengar oleh sang khalik dengan begitu cepat. 


"Benar, sudah hamil lima minggu. Jangan lupa makan makanan yang sehat dan juga bergizi, vitaminnya diminum dengan rutin." 


 


Betapa bahagianya Felix saat ini, dia meneteskan air mata bahagia dan itu baru pertama kali dilihat oleh Rasidha. Perasaannya yang menjadi orang tua untuk pertama kali tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hatinya yang keras menjadi sangat lembut bisa saja karena sinyal cinta yang diberikan oleh calon anaknya, yang ingin dirinya berubah menjadi lebih baik. 


"Aku akan menjadi seorang ayah?" tanya Felix sekali lagi, dengan cepat dokter wanita itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Dia langsung memeluk istrinya dengan sangat erat dan mencium pipi bertubi-tubi, mengungkapkan rasa bahagia yang begitu dalam. "Kita akan menjadi orang tua." 


"Iya." Rasidha sangat bahagia dinyatakan hamil, menerima semua kekurangan suaminya karena dirinya juga tak sempurna. 


Setelah kepergian dari dokter, Felix tak henti-hentinya memberikan pelukan dan juga mengecup pipinya. "Aku ingin kalian sehat, aku akan melakukan apapun selama aku sanggup memberikannya." 


Rasidha terdiam di saat dirinya begitu merindukan keluarga yang sudah lama tidak diberi kabar, wajahnya yang tiba-tiba murung diperhatikan oleh Felix. 


"Ada apa?" tanya Felix dengan lembut.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan keluargaku." 


Felix tersenyum dan langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang yang tak lain adalah sahabat lamanya yaitu Zaid, dia melupakan ego demi keinginan sang istri yang ingin membagi kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini. Dia memberikan ponsel itu pada sang istri setelah tersambung, Rasidha meraihnya dengan raut wajah yang berbinar juga bersemangat tak menyangka kalau suaminya memberikan izin untuk menghubungi keluarga. 


__ADS_2