Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 24 - Rencana jahat


__ADS_3

Rasidha masih memikirkan mengenai dosennya yang bernama Felix, pria bermata biru dan berperawakan tinggi dengan tubuh yang kekar seperti orang yang selalu menghabiskan waktu ke gym atau berlatih mengangkat alat-alat berat. "Apa dia orangnya? Tapi mengapa dia tak mengenal ayah?" gumamnya di dalam hati, menatap sang ayah yang tengah menyantap hidangan buatan ibunya. 


"Kenapa kamu diam saja? Makanlah makanannya, Nak." Tutur Suci dengan lemah lembut. 


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" 


"Tanyakan saja, ibu akan menjawab sebisanya." 


"Bagaimana ciri-ciri dari Felix, sahabat ayah." 


Seketika Zaid menghentikan suapannya yang hampir masuk ke dalam mulut, mendengar nama sahabatnya yang keluar dari mulut Rasidha. "Kenapa kamu tiba-tiba menanyakannya?" ujarnya menyerngitkan dahi dan sangat penasaran. 


"Aku hanya ingin tahu saja," balas Rasidha dengan enteng, dia tidak ingin memberikan kabar tanpa adanya bukti yang kuat. Takut kalau dirinya hanya memberikan harapan palsu untuk ayah angkatnya yang sangat merindukan sahabatnya, Felix.


"Wajahnya brewok, mata biru dan juga tubuh yang kekar. Tinggi kami hampir seimbang, dan dia juga mempunyai tahi lalat di tengah punggungnya." Jelas Zaid yang masih mengingatnya.


"Eh, bagaimana mungkin aku mengetahui ciri-ciri umum itu. Tidak mungkin juga aku melihat punggungnya, sebaiknya aku melupakan saja dan mungkin bukan dia orangnya," batinnya. 


"Tapi mengapa kamu tiba-tiba tertarik dengan Felix?" tanya Zaid.


"Bukan apa-apa Ayah, hanya penasaran saja."


"Hem." Zaid mengangkat kedua bahunya dengan acuh dan kembali menyuapi makanan ke dalam mulutnya. 


****


Rasidha sangat bahagia di saat opening toko roti yang akan di kelola olehnya, raut wajah tersenyum terlukiskan dan disaksikan oleh keluarganya juga keluarga Doni, beberapa orang yang sekitar yang diundang untuk makan bersama. 

__ADS_1


"Bismillahirohmanirohim, dengan ini saya resmi membuka toko roti Az-Zahra. Semoga toko ini menjadi berkah, Aamiin." Rasidha mengambil gunting yang dihias pita dan menggunting pita biru yang ada di depannya.


Semua orang sangat menanti hari ini dan bertepuk tangan di saat toko sudah mulai resmi dibuka. Rasidha mempersilahkan untuk semua orang masuk ke dalam dan mencicipi roti secara gratis, tak lupa bersedekah sebagai tabungan akhirat. "Kalian boleh makan sepuasnya, dan hari ini gratis!" tekannya yang membuat beberapa orang dari fakir miskin tersenyum sumringah saat mendapatkan rezeki. 


Semua orang berbondong-bondong dan mencicipi kue, ada dari beberapa orang yang membawa pulang untuk keluarganya tentu saja dari fakir miskin sesuai dengan amanat sang ibu untuk berbagi sesama. 


"Selamat ya, Sayang! Sekarang kamu mempunyai tanggung jawab untuk mengurus cabang ini, jangan menyia-nyiakan kesempatan ini dan pergunakanlah dengan sangat baik." Pesan Suci kepada putrinya.


"Tentu saja, Bu." 


"Oh ya, Amayra memintamu untuk menjemputnya di bandara nanti sore, sekitar jam tiga." Suci memperingatkan anaknya mengenai kedatangan dari kakak calon suaminya. 


"Pasti Bu, aku akan menjemputnya." 


"Selamat Rasidha, semoga toko ini semakin sukses dan juga laris manis."


"Iya." Sahut Aisyah dengan senyuman teduhnya.


Semua orang masuk ke dalam toko, Rasidha memperhatikan bangunan yang ada di depannya. Zaid sudah membeli toko itu atas nama putrinya, dan menghadiahkannya. Dia sangat bahagia dengan penuh haru, akan memulai untuk meniti karir dan menuntut ilmu sekaligus. "Ya Allah, berikan kemudahan di setiap jalanku." Batinnya yang berdoa dan melangkahkan kaki masuk kedalam sebelum mengucapkan basmallah. 


Tanpa disadari, seseorang tengah mengintai keluarga yang bahagia, tidak menyukai kebahagian mereka. "Wah Simon, kamu sangat beruntung sekali. Mempunyai anak dan juga istri yang bisa merubahmu, tapi aku tidak menyukai perubahanmu. Aku benci mereka yang telah merubahmu, kebahagiaanmu sebentar lagi akan sirna dengan menyerang kelemahanmu." Gumam pria itu di dalam mobil, menarik dua sudut bibirnya ke atas. Siapa lagi jika bukan Felix, dia sangat merindukan sifat sahabatnya yang kembali seperti dulu. Tapi semenjak kedatangan Rasidha dan juga Suci malah semakin membuatnya jauh. 


Felix telah merencanakan hal besar untuk menyerang titik kelemahan dari Simon alias Zaid. Selama ini dia hanya hidup sendiri tanpa berniat untuk menikah, apalagi melihat bagaimana mantan sahabatnya yang berubah karena cinta. "Apa itu cinta? Sehingga dia berubah, dan aku tidak percaya adanya Tuhan, semua tergantung keberuntungan dan juga malapetaka." Dia segera menutup jendela mobil dan pergi dari tempat itu, sudah lama dia mengamati keluarga bahagia itu dan saatnya membuat kerusuhan untuk menghancurkannya. 


Felix menghubungi seseorang untuk menjalankan misi selanjutnya, bekerja sama dengan seseorang yang tak lain adalah Justin. 


"Halo."

__ADS_1


"Hem."


"Jalankan rencana yang sesuai kita sepakati bersama, jangan sampai kamu terjebak dengan wanita itu."


"Heh, itu biarlah menjadi urusanku. Tidak perlu ikut campur dengan apa yang menjadi keinginanku."


"Sialan, jangan merusak rencanaku. Jika kamu masih tetap ingin tinggal denganku, lakukan sesuai perintah!"


"Ya…ya, dan ya. Memangnya apa yang bisa aku lakukan lagi selain menuruti permintaanmu, bedebah."


"Brengsek, jangan memancing emosiku kalau kamu masih menyayangi nyawamu." 


Felix sengaja memutuskan telepon secara sepihak, tidak peduli pada Justin yang berpikir apa mengenai dirinya. Dia memukul stir mobil karena kesal dengan pria suruhannya yang tak lain adalah adik angkatnya yang juga berprofesi sebagai tentara militer Israel. 


Sementara di sisi lain, Justin mengumpati perilaku kakak angkatnya yang selalu bersemena-mena terhadap dirinya dan dijadikan sebagai pion. "Brengsek, andai saja aku tidak bertemu dengannya dan mungkin ini tidak akan terjadi." Geramnya yang menendang kaleng kosong yang ada di hadapannya.


Rasidha menyerahkan tanggung jawabnya kepada sang Ibu dan juga bibinya, karena dia harus menjemput Amayra di bandara sesuai dengan amanat yang dikehendaki. Dia berangkat dengan terburu-buru tentu saja menggunakan jasa supir, tidak mempunyai keahlian dalam menyetir mobil membuatnya sedikit ketergantungan kepada orang lain. 


Kini dirinya berada di bandara sambil celingukan, melirik layar ponselnya dan melihat kembali foto dari kakak ustadz Afif, karena ini kali pertama dia bertemu dengan Amayra. Sedikit ada keraguan di hati apakah wanita itu akan menyukainya atau tidak. "Di mana dia sekarang? Dan bagaimana aku mengetahuinya?" gumamnya yang mencari orang yang sama dengan foto di dalam ponselnya.


Seorang wanita yang berkerudung panjang, menggunakan cadar dengan berpakaian gamis syar'i warna hitam polos. Wanita yang menarik koper yang berukuran sedang berjalan menghampiri Rasidha, dan memeluknya dengan erat.


Tentu saja Rasidha menjadi sangat gugup, dan tidak mengenali wanita yang mengenakan cadar. "Maaf, apa anda kak Amayra?" tanyanya yang sedikit gugup.


Wanita yang mengenakan cadar itu melepaskan pelukannya dan tersenyum, terlihat dari kerutan di ujung mata. "Ya, aku Amayra, kakak dari Afif. Dia sudah bercerita banyak mengenaimu," tutur wanita itu dengan lemah lembut.


"Maaf, aku tidak mengenali wajah Kakak."

__ADS_1


"Tentu saja itu terjadi, aku mengenakan cadar."


__ADS_2