Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 6 - Histeris


__ADS_3

Rasidha kembali ke kelas dengan pelajaran baru, dia merasa cukup menyetor hafalan hari ini. Dia segera mengemasi buku-buku yang berserakan di kursi dan berlari agar tidak terlambat untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Bisa saja dia meminta perlakuan khusus kepada pamannya, tapi tidak dia lakukan dan tetap melanjutkan masa pembelajaran yang sama dengan teman seangkatannya yang masih bertahan di sana, ada beberapa juga yang sudah menikah, dan juga yang telah bekerja setelah selesai menyelesaikan pendidikan tinggi. 


"Kamu darimana saja?" tanya Elis yang sangat penasaran.


"Aku ke taman, menyetor hafalan."


"Kamu tidak berminat melanjutkan kuliah S2 dan S3? Apalagi keluargamu dari keluarga yang berkecukupan." Ucap Neneng yang sebenarnya sangat iri dengan kehidupan Rasidha yang menurutnya makmur dan juga sejahtera. Tanpa mereka ketahui, jika dia bukanlah anak kandung dari kedua orang tua yang merawatnya. 


"Aku sangat berminat, tapi untuk sekarang rasanya belum ingin. Mungkin tahun depan," sahut Rasidha yang juga belum bisa memastikan jalan hidup ke depannya.


"Hem, begitu. Oh ya, minggu depan pesantren akan mengadakan acara." Ucap Elis yang memberikan informasi.


"Acara?" Rasidha menyeritkan kening, karena tidak tahu mengenai hal itu, ia sangat penasaran dan menanti perkataan Elis selanjutnya.


"Acara tahunan, di sana akan ada para kyai, ustadz, dan juga gus yang pertemukan. Sama saja dengan bersilaturahmi agar tidak terputus. Tapi, aku menganggap itu sebagai anugerah," sela Neneng yang mulai berkhayal.


"Anugerah?" 


"Tentu saja anugerah, mungkin jodohku salah satu dari mereka." Neneng selalu saja bermimpi untuk bisa menikah dengan salah satu pria yang masuk dalam jajaran pesantren. 


"Aamiin." Rasidha tersenyum dan mendoakan jika mimpi Neneng menjadi kenyataan. "Tidak mungkinkan santriwati ikut hadir, disana banyak kaum adam."


"Memang tidak, tapi kita akan di liburkan dan juga membantu para khadimah menyiapkan hidangan makanan dengan porsi kuali besar." Seru Elis.


Rasidha tersenyum, dia tak terlalu menghiraukan masalah acara, karena dirinya fokus pada pelajaran. "Sudahlah, kita sedang dalam pelajaran. Apa kalian ingin kapur putih yang di lempar?" 


"Hah, kamu benar."


Kini Rasidha dan kedua temannya yang sangat akrab memfokuskan diri saat pelajaran akan dimulai. Seakan pelajaran yang ditulis dalam bahasa arab membuatnya sangat tertarik, yang paling disukainya adalah membaca kitab kuning, apalagi aroma kitab yang khas. 


Akhirnya pelajaran hari ini selesai dengan sangat baik, Rasidha segera mengemasi buku-buku dan kembali ke asrama. Di sepanjang perjalanan, dia mengingat wajah ayah angkat yang membunuh kedua orang tua kandung dengan sangat bengis dan juga kejam. Berharap tidak bertemu dengan tentara Israel yang menjadi trauma terbesarnya. "Ya Allah, jauhkan hamba dari orang-orang yang berniat mencelakai, aamiin." 

__ADS_1


Seseorang memeluknya dari arah belakang, Rasidha sangat terkejut dan melihat siapa pelakunya. "Ayna, kamu mengagetkan aku." Kesalnya yang menatap gadis belia di sebelahnya.


"Ya maaf, kenapa Kakak melamun?" tanya Ayna yang sangat penasaran.


"Bukan apa-apa."


"Oh ya Kak, tadi aku bertemu ayah dan meminta kita untuk pulang ke rumah. Katanya ada yang dibicarakan," seru Ayna yang melapor.


"Apa ini penting?" 


"Sepertinya begitu, apalagi paman Zaid dan bibi Suci juga datang. Yah, tentu saja bersama Azzam."


"Eh, kenapa tiba-tiba sangat mendadak. Ada apa?" 


"Entahlah, aku juga tidak tahu." 


Rasidha sangat penasaran apa yang membuat kedua orang tua angkatnya datang ke pesantren. "Kenapa ini sangat mendadak? Padahal aku baru saja datang ke sini. Apa ayah dan ibu akan menjemputku?" gumamnya di dalam hati sambil menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


"Hem." Rasidha melangkahkan kakinya agar segera sampai, sangat penasaran tujuan kedua orang tua angkatnya yang tiba-tiba saja datang. 


"Assalamu'alaikum." Ucap Rasidha dan Ayna dengan kompak, melihat semua orang telah berkumpul di dalam satu ruangan. 


"Wa'alaikumsalam. Masuklah!" sahut mereka yang menyambut kedatangan dua gadis yang mengenakan kerudung putih. 


Rasidha tidak tahu apapun dengan tujuan kedua orang tuanya yang datang, melirik paman dan juga bibinya secara bergantian. "Maaf, ini sebenarnya ada apa ya?" ucapnya yang memberanikan diri untuk bertanya. 


Namun, semua orang hanya terdiam sambil menunggu komando dari salah satu orang yang meminta pertemuan itu diadakan.


Suasana begitu hening tanpa ada yang berminat membuka suara, aura ketegangan dapat dirasakan di sekitar. "Ada yang ingin ayah dan Ibu sampaikan, ini sangatlah penting." Suci menatap anak gadisnya dengan raut wajah serius, semakin membuat suasana tegang. 


"Aku tidak mengerti, apa yang ingin Ibu sampaikan dan mengumpulkan semua orang?" 

__ADS_1


"Azzam dan Ayna, kalian keluar dulu ya, ini pembahasan orang dewasa." Ucap Aisyah yang membawa anak dan juga keponakannya untuk menjauh, tak ingin mendengar satu kata buruk yang nantinya pasti terdengar.


Suci menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat, seakan memberikan kekuatan sebagai seorang istri. "Jawab yang jujur, apa alasanmu yang pergi ke pesantren?"


Rasida terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia tak sanggup menatap mata sang ibu yang mulai berkaca-kaca. "Untuk menuntut ilmu." Lirihnya pelan.


"Kalau itu kebenarannya, coba kamu tatap mata Ibu, ayo tetap!" tegas Suci. 


Rasidha mencoba memberanikan dirinya menatap mata sang ibu dengan lekat, hanya tiga detik saja dan kembali mengalihkan pandangan ke arah lain. 


"Apa Ibu mengajari berbohong, Sayang? Ayo, tatap mata Ibu selama sepuluh detik!" paksa Suci membuat Rasidha terpojokkan.


"Mataku kemasukan debu," elak Rasidha yang mengucek matanya.


Suci menghampiri putrinya dan duduk bersebelahan, menatap lekat mata indah dari gadis keturunan Palestina. "Ibu tahu kamu berbohong, tujuh belas tahun kita bersama, Nak. Bahkan Ibu mengetahui penyebab kamu datang kesini, apa karena ayahmu?" 


"Tidak," lirih Rasidha yang masih tak mengakui.


"Tidak?" ucap Suci yang mengintrogasi putrinya layaknya seorang polisi. 


"Tidak, aku pergi murni karena menuntut ilmu." 


"Jangan memberatkan timbangan di akhirat, Nak. Ibu tahu, saat itu kamu ada di luar kamar dan mendengar percakapan kami. Pintu yang sedikit terbuka juga membuat permasalah bertambah rumit, kamu melihat wajah ayah angkat mu." 


"Ya, aku lihat dan dengar semuanya. Itulah alasanku untuk berada disini, aku hanya ingin menghindari fakta dan berdamai dengan keadaan. Andai saja…andai saja waktu itu aku tidak lewat di depan pintu kamar ayah dan Ibu, aku sangat menyesalinya." Ungkap Rasidha yang menangis, bukan menyalahkan ayah angkatnya, tetapi dirinya yang tak sengaja melihat juga mendengar.


Zaid yang menundukkan kepala dengan linangan air mata, perlahan dia membuka sorban yang selama ini menutupi wajahnya. Mata biru dan wajah yang sama dengan orang yang melenyapkan kedua orang tua kandung Rasidha. 


Rasidha tidak bisa mengendalikan dirinya, amarahnya menyebar dengan sangat cepat saat melihat dengan jelas pelaku yang begitu kejam membantai kedua orang tua kandungnya. "Pembunuh…kamu pembunuh. Tolong sembunyikan aku, usir dia!" pekiknya yang sangat histeris membuat semua orang di dalam ruangan yang sama segera mengucapkan istighfar. Sedangkan Zaid menangis menyesali perbuatannya di masa lalu, luka yang cukup dalam dan masih membekas di hati anak sulungnya. 


Rasidha tidak bisa mengontrol diri, dia seperti seorang kesurupan saat wajah pembunuh kedua orang tuanya yang masih membekas sampai sekarang, menimbulkan trauma yang cukup dalam. "Sembunyikan aku atau dia akan membunuhku," pekiknya yang bergetar hebat, wajah yang pucat pasi. 

__ADS_1


__ADS_2