Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 29 - Paksaan Felix


__ADS_3

Seorang pria yang tengah berjalan menuju sebuah ruangan, tempat dimana Rasidha di kurung. Raut wajah yang dingin bagai seorang yang tak tersentuh sudah menjadi ciri khasnya setelah belasan tahun terakhir. Berjalan dengan membawa sebuah berkas yang berisi hal penting, harus ditandatangani sebagai kesepakatan. 


Dia membuka pintu yang terkunci, namun langkahnya tertahan di saat mendengar seorang gadis yang sedang membaca Al-Qur'an dengan sangat indah dan merdu di dengar. Menikmatinya beberapa saat yang hampir saja terbuai, dia segera mengembalikan raut wajah seperti semua dan masuk ke dalam ruangan itu. 


Rasidha sangat terkejut dengan kedatangan Felix yang berusia tidak jauh dari ayah angkatnya, segera dia menghentikan dirinya mengeluarkan suara merdu melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Dia takut melihat wajah pria dingin di dekatnya, tak berani mendongakkan kepala dan menggeser posisi duduk menjauh di saat pria matang itu mendekati nya. "Berhenti disana, jangan mendekatiku!" sergahnya tanpa menoleh.


Felix tidak menggubris perkataan Rasidha, terus melangkahkan kaki dan melemparkan sebuah berkas dengan asal. "Cepat kamu tanda tangani berkas itu!" titahnya dingin.


"Berkas apa itu?" Rasidha hanya melirik berkas itu tanpa ingin menyentuhnya, dia tidak ingin menandatangani hal apapun ataupun membuat kesepakatan dengan pria itu.


"Tanda tangani saja dan jangan banyak bicara." 


"Tidak, aku tidak akan menandatangani nya. Sebaiknya kamu melepaskanku, ayah dan ibuku pasti sangat mencemaskanku sekarang."


Felix menarik kerudung Rasidha dengan sangat kasar dan mencengkram dagu gadis yang tidak bersalah hingga sang empunya meringis kesakitan. "Jangan banyak bertanya, atau aku akan menamparmu."


"Singkirkan tanganmu itu, dan jangan sentuh aku!" balas Rasidha yang menatap Felix dengan sangat tajam, dia sudah muak bersikap sabar menghadapi musuh yang bahkan tidak dia kenal sebelumnya. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia menendang pria itu dan melakukan serangan berikutnya.


Felix menangkis serangan dari gadis itu dan merasa tertarik dengan apa yang terjadi, segera meladeni Rasidha hingga keduanya saling bertarung. "Jadi itu yang diajarkan Simon padamu? Lumayan juga, jurus bela diri yang ku pelajari saat masih di bangkau sekolah." Ejeknya yang tersenyum miring. 

__ADS_1


Rasidha tidak ingin berputus asa, terus memperjuangkan harga diri dan juga haknya yang diterima secara tidak adil. "Tidak masalah kalau teknik itu kamu pelajari di masa kecil," celetuknya yang memukul titik saraf pria itu yang hampir saja terjerembab ke lantai. 


Felix tersenyum sangat tipis, bahkan tidak disadari oleh gadis yang berusaha menantangnya. Karena kekuatan gadis itu bukanlah apa-apa, tandingannya adalah Simon sang mantan sahabat. "Menarik juga, gadis ini ingin menantang singa." Batinnya yang dengan senyuman mengejek. 


"Aku tidak punya urusan denganmu, mengapa kau malah menjebakku disini?" Rasidha tidak bisa bersabar lagi, walau bagaimanapun juga dia memilih untuk menjunjung harga diri yang dimainkan oleh pria matang di hadapannya. 


"Kamu seperti seekor kelinci yang akan menjadi mangsaku, salah satu penyebab Simon berpindah agama. Tandatangani berkas itu!" Ancamnya dengan raut wajah dingin. 


Rasidha sangat penasaran dengan berkas itu dan segera melihatnya, tulisan yang sangat rapi mengenai sebuah perjanjian di antara mereka. "Perjanjian?" celetuknya yang menautkan kedua alis mata dengan pikiran yang penasaran. 


"Ya, mau tidak mau, suka ataupun tidak suka kamu akan menjadi istriku!" terang Felix yang tertawa jahat membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. 


"Aku sudah memintamu secara baik-baik, tapi kamu sendirilah yang memintaku berlaku kasar. Maka aku akan mengabulkan caramu itu," tutur Felix yang menampar wajah gadis malang itu hingga tersungkur. 


Rasidha tidak bisa berkata-kata lagi, di saat bulir bening di pelupuk mata keluar sebagai saksi kepedihan yang dia terima. Menatap tajam ke arah Felix dengan tangisan yang tetap mempertahankan harga dirinya. "Aku tidak ingin menikah denganmu." 


Felix tersenyum sangat tipis dan mendekati Rasidha dengan aura gelap yang selalu mengelilinginya. Mengambil cap jempol gadis itu dan menempelkannya di kertas putih sebagai perjanjian pra nikah. "Persiapkan dirimu, karena sebentar lagi kita akan menikah." Ucapnya dingin dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu, kembali menguncinya dan menyelesaikan beberapa dokumen untuk pernikahan mereka. 


"Aku akan melihat, bagaimana hancurnya hati Simon saat melihat anaknya aku nikahi." Batinnya yang sudah mempersiapkan segala bentuk persiapan pernikahan. 

__ADS_1


Rasidha menyandarkan tubuhnya di pintu dan mengetuknya berulang kali, air mata yang pecah sedari tadi karena tidak ingin menikah secara paksa dengan seorang pria yang berbeda agama dengannya. "Tolong keluarkan aku dari sini, siapapun yang ada di luar sana." Pekik yang begitu malang, karena tidak ada siapapun yang datang untuk menolong. 


Setelah mencoba beberapa menit untuk kabur, namun usahanya tetap tidak membuahkan hasil. Hanya berpasrah diri pada sang Pencipta, menyerahkan semua keputusan itu dan mencoba untuk menerimanya. 


Hati yang begitu bertolak belakang dengan dirinya yang pasrah akan sebentar lagi menyandang status seorang istri dari pria yang sangat tua darinya. Air mata yang terus mengalir tanpa ingin berhenti, terus mengucapkan dzikir semampunya. "Ayah…Ibu…mas Afif, apa kalian akan datang menolongku? Apakah aku harus pasrah dan menerima pernikahan ini?" lirihnya dengan air mata terurai. 


Zaid sangat mencemaskan keadaan anaknya, begitupun dengan Suci sebagai kedua orang tua. Mereka bertindak cepat dengan melapor ke kantor polisi, tapi pria itu juga melakukan usahanya agar bisa menemukan anak gadisnya. 


"Dimana Rasidha? Apa sudah ditemukan?" lirih Suci yang menangis dan sangat gelisah karena hari semakin larut. 


"Berdoa saja, agar Rasidha baik-baik saja. Tenangkan dirimu, aku akan mencarinya di setiap sudut kota dan bila perlu kita mencarinya di pelosok desa." Ucap Zaid yang menenangkan istri tercintanya yang sangat sedih. "Kenapa ini terjadi?" batinnya yang mencoba mengingat musuhnya, hingga terpikirkan mengenai Felix, sahabat yang selalu bertindak nekat. 


"Jangan berdiam diri saja, carilah putriku sampai ketemu." Suci menangis dan melepaskan pelukan dari suaminya, hatinya sangat cemas dan juga khawatir dengan kondisi Rasidha yang belum pulang juga. 


"Aku pergi dulu, jangan percaya pada apapun dan pada siapapun sekarang." Zaid segera pergi dari tempat itu menuju gudang, mencoba untuk melacak keberadaan Rasidha dan juga mempersiapkan kelengkapan senjata untuk mencarinya. 


Sementara ustadz Afif langsung memesan tiket pesawat di penerbangan awal, dia sangat cemas dengan sang calon istri yang belum ditemukan. "Aku akan menyelamatkanmu, semoga saja tidak terlambat." Gumamnya di dalam hati sambil menatap ke luar jendela pesawat. Apapun kalau menyangkut masalah Rasidha, dia akan langsung turun tangan dan meninggalkan studi di Istanbul.


 

__ADS_1


__ADS_2