
Tidak bisa dipungkiri betapa bahagianya Rasidha yang merasakan kebebasan, pernikahan paksa yang akan segera diakhiri. Dia sudah tidak sabar untuk menemui keluarganya, terutama sang ibu dan ingin memeluknya dengan sangat erat.
"Bagaimana keadaan semua orang?"
"Mereka tidak baik-baik saja semenjak kepergianmu, ibumu selalu saja menangis saat memikirkanmu." Jawab Zaid yang terharu, berhasil membawa putrinya pergi suatu kebanggaan terbesar.
"Aku sangat merindukan mereka semua terutama ibuku."
"Kita akan segera pulang, jangan takut lagi karena Ayah ada bersama denganmu."
Rasidha membalasnya dengan tersenyum, mengalihkan pandangan ke luar jendela dan membiarkan wajahnya di terpa angin. Sangat sejuk terasa, menghirup udara sedalam mungkin dan mengeluarkannya dengan perlahan, apalagi senyum di wajah menjadi pemanis tambahan.
Air mata Rasidha terjatuh, di saat menatap mata sang ibu yang hanya berjarak beberapa langkah saja. Perlahan dia berjalan dan kemudian berlari menghamburkan diri memeluk sang ibu tercinta. Semua orang menangis bahagia, menyaksikan kedatangannya yang sangat mereka nantikan. Dia menenggelamkan wajahnya di leher yang tertutup kerudung itu, menangis terharu dengan apa yang telah di capainya.
"Bagaimana kabar Ibu? Aku selalu memikirkan kalian terutama Ibu." Isak tangis Rasidha keluar, melampiaskan rasa kerinduan mendalam yang selama ini di pendam.
"Ibu baik-baik saja setelah melihatmu, Sayang. Jangan pergi lagi, Ibu tidak sanggup dengan ini." Suci semakin memperdalam pelukan itu, dia begitu bersemangat saat kedatangan putrinya.
Dia mencium kedua pipi Rasidha secara berulang kali, semua orang meneteskan air mata dengan pertemuan itu.
Rasidha melepaskan pelukan itu dan beralih memeluk keluarga, seperti nenek, bibi, dan juga sepupunya Ayna. Sedangkan Suci menghampiri suaminya dan memeluknya dengan haru sebagai tanda terima kasih.
"Terima kasih telah membawa putri kita kembali."
"Apa yang kamu bicarakan? Jangan mengucapkan terima kasih, ini sudah kewajibanku."
"Bagaimana kalau Felix kembali dan membawa Rasidha pergi?" Suci mulai cemas memikirkannya, apalagi status anak mereka sudah berubah menjadi seorang istri.
__ADS_1
"Aku sendiri yang mengurus surat gugatan perceraian, dan dia tidak akan memiliki hak lagi. Jangankan menyiksanya, bahkan menyentuhnya aku tak akan rela."
"Terserah saja, asal putriku tidak tinggal bersama pria kejam itu."
"Aku akan selalu melindungi kalian." Zaid memegang janji yang akan dibawa sampai nafas terakhir, melindungi keluarga adalah tugasnya sebagai kepala keluarga.
Semua orang kembali merasa bahagia, hari yang buruk telah berlalu dan dianggap sebagai ujian terberat mereka. Kini saatnya untuk menata masa depan, dimana Rasidha akan kembali memulai kehidupan baru.
Rasidha duduk menatap luar jendela kamarnya, dia sangat merindukan kamarnya itu dan bahagia. Melihat hujan rintik-rintik yang turun membasahi tumbuhan, dia tersenyum dan sengaja membuka jendela membiarkan rintik hujan yang dihembuskan angin mengenai wajahnya. Sekarang dia telah bebas, menjauh dari hunian Felix yang sangat menyesakkannya.
Namun dia tersadar dan membuatnya sangat bimbang, surat perceraian yang sedang diurus tapi dia tak yakin kalau Felix menandatangani surat itu dan akan membuat statusnya menjadi gantung. Kecemasan yang menyeruak di hati dan bahkan dia tidak sadar sedari tadi pintu kamar di ketuk.
"Kenapa kamu melamun? Apa tidak bahagia kembali pulang?" tanya Suci yang membawa sepiring buah yang telah dikupas dan juga segelas susu, meletakkannya ke atas nakas dan menghampiri putrinya.
"Bagaimana kalau Felix tidak menandatangani surat itu, Bu? Apa status ku gantung?"
"Pria itu tidak mudah ditebak, bisa saja dia akan nekat melakukan segala cara untuk memisahkan keluarga kita."
"Ayahmu bisa mengatasinya. Oh ya, di luar ada Amayra. Dia datang untuk mengunjungimu dan sangat senang saat mendengar kabarmu yang telah di temukan."
"Kak Amayra?"
"Ya, kakak nak Afif."
"Apa dia datang sendiri saja atau bersama mas Afif, Bu? Aku tidak ingin menemui mereka terutama mas Afif." Ucap Rasidha yang menolak, hatinya masih diliputi rasa bersalah karena telah menikah dengan pria lain. Dia tidak ingin menemui siapapun di keluarga calon suaminya itu, sedikit membuat dirinya tertekan.
Suci mengerti apa yang dirasakan oleh anaknya dia mengelus bahu gadis itu dengan sangat lembut dan tatapan penuh cinta seorang ibu. "Amayra datang sendiri, sebaiknya kamu temui dia!"
__ADS_1
"Aku seakan kehilangan wajah untuk menemui keluarga mereka, apalagi statusku sekarang yang masih menjadi istri sah dari Felix. Aku tidak bisa menatap mata kak Amayra." Rasidha terus menolak membuat Suci menghela nafas, pasrah mengenai keputusan anaknya.
"Baiklah, kalau itu jadi keputusanmu. Ibu pergi dulu dan jangan lupa buah nya di makan."
"Hem." Rasidha menatap kepergian dari ibunya yang sudah berada di balik pintu, perasaannya yang tak karuan dan juga kacau saat mendengar salah satu keluarga dari pihak calon suaminya itu datang mengunjungi. Bagaimana dia bisa menampilkan wajahnya?
Suara ketukan pintu membuatnya segera berjalan ke sumber suara, berpikir kalau itu adalah ibunya. Tapi terlihat sesosok wanita bercadar dan menggunakan gamis berwarna senada tengah memaksakan diri untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Rasidha, biarkan aku bicara denganmu sekali saja." Bujuk wanita bercadar itu yang tetap memaksakan kehendak.
"Sudahlah Kak, tidak ada yang bisa dibicarakan lagi, semuanya sudah jelas."
"Berikan aku kesempatan dan ini tidak akan lama," Amayra terus mencoba membujuk Rasidha sambil menerobos masuk ke dalam kamar.
Rasidha yang melihat situasi dari wanita bercadar itu yang terjepit di pintu membuat hati nuraninya tergerak dan pasrah. "Maaf Kak, aku tidak sengaja melukaimu. Jujur saja untuk saat ini aku tidak bisa menemui Kakak maupun yang lainnya, aku sangat malu dan tidak bisa menunjukkan wajahku yang masih menjadi istri dari pria lain."
"Berikan aku waktu sebentar saja karena ini sangat penting."
"Sebaiknya Kakak keluar saja! Tolong maafkan keegoisanku kali ini, tapi demi kebaikanku dan juga kita semua."
"Apa yang kamu bicarakan? Tidak ada yang menyalahkanmu dalam hal ini. Ini sudah ketetapan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan apa yang sudah dikehendaki, namun percayalah tidak ada yang membencimu dan kami semua sangat mengkhawatirkanmu dan juga Afif."
Perkataan dari Amyra membuat Rasidha terdiam, apalagi mendengar kalimat akhir yang itu artinya Afif tidak ada di rumah. "Mengkhawatirkan mas Afif? Apa maksudnya?"
"Semenjak kejadian itu, Afif tidak pulang ke rumah dan kami sudah mencarinya kemana-mana dan tidak menemukannya."
"A-apa?" Rasidha sangat terkejut dengan kejadian ini, lidahnya terasa kelu karena rasa syok. Diakui memang pernikahan yang dilakukan secara terpaksa begitu menyakiti hati banyak orang, tapi dia tidak mengetahui begitu besarnya cinta Afif untuknya.
__ADS_1