Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 28 - Kecemasan Afif


__ADS_3

Rasidha memutar otak agar dirinya bisa terlepas dari tawanan pria bermata biru, kebencian pria itu pada ayah angkatnya membuatnya terkena imbas dari permasalahan. Menumpu kedua wajah menggunakan tangan, memikirkan cara agar bisa lari dari ruangan yang membuatnya hampir putus asa. 


"Rasidha, kamu baik-baik saja?" celetuk seseorang di luar ruangan sambil menggedor pintu beberapa kali. 


"Apa aku bisa baik-baik saja sekarang? Kakakmu telah mengurungku disini." Jawab Rasidha yang berada di dalam ruangan, dia sedikit kesal karena ditawan oleh pria asing. Ingin sekali dia menghubungi ayahnya dan meminta bantuan. 


"Maaf, aku tidak bisa membantumu." Suara yang terdengar sangat pelan, tersimpan rasa ketidakberdayaan untuk menyelamatkan gadis berkerudung yang ada di dalam ruangan itu. 


Rasidha langsung menempelkan wajahnya ke pintu dan menangis, membujuk pria yang ada di luar agar membantunya kabur. "Justin, aku tahu kamu pria yang baik. Tolong bantu aku, hanya kamu yang bisa aku harapkan." 


"A-aku? Mana mungkin aku bisa melawan Felix, dia pria yang berhati dingin dan tidak akan melepaskan tawanannya dengan mudah. Maafkan aku yang tidak bisa membantumu kali ini, tapi aku janji kalau kamu tidak akan terluka olehnya." 


"Lalu, aku harus apa?" Suara keputus asa-an terdengar begitu pilu. 


"Bersabarlah, aku akan mencari jalan keluar untukmu. Jangan bersedih dan jangan menangis lagi, aku tidak tahan mendengarnya," sahut Justin yang juga bersimpati dengan seorang wanita muslim, hatinya merasa tersentuh dan juga merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia sangat memahami karakter dari kakak angkatnya yang terkenal sangat kejam dan berdarah dingin, menghukum orang tanpa pandang bulu sudah melekat di hati saat kehilangan sahabat yang paling dia percaya. 


Rasidha tidak punya pilihan lain, hanya duduk terdiam tanpa melakukan apapun. Hingga dia mulai tersadar dan segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang hanya berjarak beberapa meter saja. Dia membuka kerudung dan juga bandana yang menutupi rambutnya selama ini, mengambil wudhu dan mengadu kepada sang Rabb yang maha pengasih lagi maha penyayang. 


Dia mencari pakaian di dalam lemari untuk dijadikan alas, membentangnya dan mulai ber khusyuk menjalankan ibadah sebagaimana kewajiban seorang umat muslim di belahan bumi. 


Justin mengetuk pintu dengan ragu-ragu, karakter Felix yang begitu keras bagai seorang yang tak tersentuh. Dia segera pergi dari tempat itu dan menyusul ke mana kakak angkatnya berada, dia ingin membicarakan agar memberi belas kasihan kepada wanita berhijab yang dikurung di dalam ruangan. 


Justin melihat seorang pria yang tengah menatap di luar jendela tengah menyeruput secangkir kopi, pandangan lurus ke depan dan aura hitam yang mengelilingi pria itu benar-benar membuatnya menjadi pasang surut, antara menemui atau tidak. Tapi hatinya juga tidak tega melihat Rasidha yang tidak bersalah apa-apa, malah dijadikan sebagai tawanan. Kecemasan dan juga kepanikan terlihat dengan jelas lewat cucuran keringat dingin, Dia sangat takut, dan masih mengingat bagaimana Felix pernah memberikan hukuman yang sangat berat dijalankan.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu menemuiku?" suara barrington bagaikan sebuah peringatan dan juga nada ancaman membuat bulu kuduk berdiri, bagai menghadapi makhluk halus.


Justin melangkahkan kakinya dengan perlahan menghampiri sang kakak, menelan saliva yang bersusah payah seakan tersangkut di tenggorokan. "Aku ingin berbicara denganmu," ucapnya dengan pelan menarik perhatian pria yang berbadan tegap yang menatapnya dengan tajam. 


"Apa kamu datang hanya untuk membela gadis itu?" 


Deg


Detak jantung yang berjalan dengan sangat kencang, sedikit terkejut mengetahui kalau niatnya telah dibaca oleh Felix. "Be-benar Kak, Rasidha tidak punya kesalahan apapun. Tolong jangan libatkan dia dalam hal ini," ucapnya pelan dengan tatapan yang membahas meminta simpati agar sang kakak melepaskan tawanan yang tidak bersalah. 


"Siapa kamu yang berani memerintah ku?" Felix berjalan menghampiri Justin sembari menyiram pria yang lebih muda darinya itu dengan kopi panas yang baru saja dia seduh. 


"Auh, apa yang kamu lakukan?" kopi yang tertuang di bajunya membuat kulit terasa melepuh, Justin segera membuka baju dan menyimpan kulitnya yang terasa perih. Dia tahu jika hal ini akan terjadi, tapi mau bagaimanapun juga Rasidha lebih penting dan membutuhkan pertolongannya. 


"Kamu pasti sangat mengenali diriku, tidak semudah itu aku melepaskan burung yang sudah terjerat." 


"Apa kamu ingin aku tampar? pergilah dari sini!" usir Felix dengan tatapan dingin. 


Justin masih bertahan dan berusaha untuk meluluhkan hati sang singa, tapi itu tidak akan terjadi karena cukup sulit untuk menjinakkannya. Tapi dia sangat terkejut di saat mendengar cangkir kopi yang dilempar jatuh di atas lantai hingga pecah berkeping-keping. Tahu jika itu adalah tanda bahaya, dia segera pergi dari tempat itu sebelum terjadi sesuatu hal yang lebih buruk lagi. 


Felix kembali berjalan menuju arah jendela dan menatap lurus pandangannya, menikmati suasana dengan tatapan dinginnya. "Ini baru permulaan saja, aku pastikan kalau Simon tidak bisa berkutik." Ucapnya di dalam hati sembari menarik kedua sudut bibirnya ke atas, menjalankan rencana yang sudah disusun semenarik mungkin. 


Justin berjalan gontai keluar dari ruangan, wajah yang ditekuk dengan penuh kesedihan karena tidak bisa membantu Rasidha, gadis muslim yang mantap berkerudung telah membuatnya jatuh cinta. 

__ADS_1


"Maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkanmu, tapi aku berjanji kalau Felix tidak akan menyakitimu." Batinnya yang berjanji untuk melindungi Rasidha. 


****


Di belahan negara, seorang pria tengah gelisah menunggu kabar dari sang calon istri yang belum juga didapatnya. Kecemasannya yang begitu mendalam membuatnya tidak bisa fokus dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh tenaga pengajar di Istanbul. "Kenapa Rasidha belum mengabariku? Apa dia sangat sibuk? Tapi apa kesibukannya dan tidak mengangkat teleponku walau hanya satu menit saja." Monolognya sembari memainkan pulpen, dan sebelah tangannya lagi memegang ponsel berharap ada kabar yang masuk dari calon istrinya di Indonesia.


Afif tidak bisa menunggu terlalu lama dan segera bertindak, menghubungi calon Ayah mertuanya. 


"Halo. Assalamu'alaikum, paman."


"Wa'alaikumsalam, ada apa menghubungiku?" 


"Maaf sebelumnya, tiba-tiba perasaan saya menjadi tidak enak saat belum mendapatkan kabar dari Rasidha. Apa dia ada di rumah atau di toko roti?"


"Dia belum pulang ke rumah, paman berpikir kalau dia masih ada di toko roti."


"Saya sudah menghubunginya, tapi teleponnya tidak diangkat. Bisakah paman meneleponnya? saya tidak bisa tenang kalau belum mendapatkan kabarnya."


"Jadi begitukah? Kamu sangat mencintai putriku, dan aku tidak salah memilihmu sebagai calon suami Rasidha."


"Aku sangat mencintainya, paman. Bahkan jauh sebelum perjodohan itu dilangsungkan."


"Aku percaya padamu, aku akan mengabarimu setelah mendapat informasi mengenai Rasidha."

__ADS_1


"Terima kasih, Paman."


"Hem, sama-sama."


__ADS_2