
Afif mendengar keributan di luar ruangan, apalagi suara yang cukup familir terdengar di telinga. "Itu suara Rasidha meminta tolong, apa yang terjadi padanya?" gumamnya yang sangat cemas, dia tidak bisa berpikir jernih dengan melawan semua rasa sakit yang selama ini di deritanya.
"Tidak akan aku biarkan pria itu mencoba menyakiti Rasidha." Afif bangkit dan mencabut semua alat yang melekat di tubuhnya, memaksakan diri untuk melawan penyakit dan entah dari kekuatan apa dia bisa berdiri walau kaki masih gemetar. Berlari mengejar asal suara yang menjauh dan keluar dari pintu ruangan membuat semua orang shock.
"Afif?"
Afif tak menggubris perkataan siapapun, memaksakan diri untuk mengejar Rasidha dan melihatnya akan segera masuk ke dalam mobil. "Berhenti!" pekiknya yang menatap tajam ke arah Felix.
Felix menoleh dan melihat siapa yang mencoba menghalangi langkahnya dan tersenyum meremehkan saat melihat seorang pria kurus kering menghalangi niat awalnya. "Hanya tengkorak berjalan saja, sudah berani menghentikan langkahku?"
"Lepaskan dia dan berhenti memaksakan hubungan itu!" Afif mencoba untuk menghentikan dan berlari, tapi tubuhnya yang lemah tidak mendukung semua tekadnya dan sekarang terjatuh.
"Ck, menopang tubuhmu saja tidak bisa, tapi ingin melawanku. Pulihkan dulu kesehatanmu dan datang padaku, aku menunggumu!" ucap Felix yang menantang, membawa Rasidha yang masih sah menjadi istrinya masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu.
Afif tidak bisa melakukan apapun, dia sangat sedih karena tak bisa membantu Rasidha yang dalam kesulitan. "Maaf," lirihnya.
Beberapa orang datang dan menghampiri Afif, membantu pemuda malang itu untuk berdiri dan kembali memapahnya masuk ke ruang rawat.
"Ya Allah, apa yang kamu lakukan?" sergah wanita paruh baya yang menatap putranya, sebagai seorang ibu tentunya sangat cemas juga khawatir.
"Rasidha di bawa pergi pria itu, Umi."
"Istighfar dan lupakan Rasidha, dia sudah menikah dan pria yang kamu bicarakan itu adalah suami sahnya." terang Salamah.
"Tapi Rasidha tidak bahagia dengan pria itu." Lirih Afif yang masih terbayang bagaimana pria kejam itu menyeret paksa gadis yang sangat dia cintai.
__ADS_1
"Bahagia atau tidaknya bukanlah urusanmu, jangan menjadi penghancur rumah tangga orang lain. Jalani hidupmu dengan semestinya, jodoh sudah ada yang mengaturnya."
"Tapi Umi," Afif ingin membantah perkataan ibunya, tapi tidak jadi saat melihat kedatangan ayahnya.
"Sebaiknya kamu istirahat dan pulihkan kesehatanmu."
"Baik Abi." Afif dengan patuh berbaring di atas brankar, suster kembali memasang alat di tubuh lemahnya.
Afif memandang langit-langit ruangan dengan tatapan lurus kedepan, dia memikirkan perkataan Felix yang seolah memberikannya kesempatan untuk mendapatkan kembali cintanya yang hilang. "Akan aku buktikan sekali lagi, dan kalau gagal maka aku pasrahkan semua ini." Batinnya yang mulai menyusun rencana.
Zaid sangat marah karena Felix kembali berulah, dia tidak bisa melihat anaknya yang dibawa pergi oleh pria itu dengan dalih suami sah. "Kamu membuatku benar-benar marah, aku pasti membalasmu."
Sementara di tempat lain, Rasidha menangis dengan nasibnya yang kembali dibawa oleh Felix, padahal baru saja bebas. "Kamu pria jahat, kenapa kamu menculikku?"
Felix menoleh dan tersenyum. "Apa kamu lupa kalau kita sudah menikah? Aku suamimu dan sudah sepantasnya membawamu pergi bersamaku."
"Bercerai? Bukankah Tuhan membenci suami istri yang bercerai?"
Rasidha diam membeku untuk beberapa saat, dia sangat kesal karena Felix bisa membalikkan keadaan.
"Kamu masih istriku dan sampai kapanpun akan tetap menjadi istriku, tidak akan ada yang pernah lolos dari seorang Felix." Tekannya sembari tersenyum tajam, menatap gadis di sebelahnya dengan lekat memberikan sebuah peringatan penting.
Di sepanjang perjalanan, Felix tersenyum saat melihat istri kecilnya yang lebih fokus menatap keluar jendela. "Apa di luar jendela lebih menarik perhatianmu dibandingkan aku suamimu?" godanya.
Rasidha menoleh sekilas kemudian kembali menatap pemandangan diluar jendela mobil. "Kembalikan aku kepada orang tuaku!" celetuknya yang membuat Felix geram, mengepalkan kedua tangan saat mendengar ucapan istrinya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mendengar perkataanku sebelumnya? Kamu akan selamanya menjadi istriku." Tekan Felix yang langsung menampar Rasidha dengan sangat keras hingga membuat sang supir terkejut. "Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah aku ceraikan, aku lebih dulu menyiksamu." Ancamnya tak main-main.
Rasidha menahan rasa sakit di tangan, dia tersenyum dengan hidupnya yang terjebak dengan pria kasar dan mempunyai temperamen buruk seperti Felix. "Menyiksaku? Hubungan apa ini? Kalau kamu hanya ingin menyiksaku atas kesalahan ayahku, maka lakukan saja. Aku tidak akan menuntut apapun padamu, tapi sebelum itu ceraikan aku!"
"Jangan menguji kesabaranku, Rasidha. Aku bisa berbuat lebih dari pada ini."
"Kapan aku mengujimu? Apa yang aku tawarkan sangatlah menarik, kamu boleh menyiksaku tapi tanpa menyandang status suami."
Felix sangat marah dengan perkataan Rasidha, dia meminta supir untuk menghentikan mobil di sebuah hotel. "Aku akan memperlihatkan bagaimana siksaan sebenarnya." Dengan paksa dia menarik tangan istri kecilnya keluar dari mobil, menyeret tanpa menghiraukan orang lain yang menjadikan mereka pusat perbelanjaan.
Rasidha memberontak tapi kekuatan Felix tak pernah bisa dikalahkan, melihat aksi sang suami yang marah mencapai puncak padanya. "Apa yang ingin kamu lakukan?" tanyanya yang sangat cemas saat melihat pria itu menyeretnya masuk ke dalam kamar hotel dan mengunci pintu.
"Seharusnya yang aku lakukan sejak lama, kamu semakin melunjak. Dengan begini maka kamu akan tersiksa sepanjang hidupmu," Felix membuka ikat pinggang dan melemparkannya sembarang arah, juga membuang jas. Perlahan dia membuka kancing kemeja satu persatu dan tersenyum dalam kemarahan.
"A-apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu berjanji tidak akan melakukan itu padaku." Rasidha sangat gugup dan terus memundurkan langkah kakinya, belum siap untuk berhubungan suami istri, dimana melakukannya dalam kemarahan.
"Persetan dengan semua itu, kamu begitu bangga untuk mengembalikanmu pada orang tuamu bukan? Maka aku pastikan kamu hamil anakku."
Rasidha sangat takut saat melihat Felix yang tak terkendali, terus berjalan mundur dengan ketakutan yang meradang seluruh tubuhnya. "Stop! Jangan melangkah lagi!"
Felix seakan tuli tidak mendengar perkataan dari istrinya yang bahkan memohon padanya. "Sudah terlambat, aku pastikan kamu hamil anak kita, Sayang."
Rasidha yang menegangkan terjadi, dia tak sadar sudah sampai di balkon dan tubuhnya tak bisa mundur lagi, celingukan kiri kanan untuk mencari celah. "Aku mohon padamu, jangan lakukan ini padaku!"
"Kita suami istri dan aku bisa melakukan apapun, dan termasuk hubungan intim. Bukankah kita telah sah dimata agama juga hukum?"
__ADS_1
"Tidak, menjauhlah dariku!" pekik Rasidha namun tak digubris oleh Felix yang mendekap tubuhnya.
"Kamu akan selamanya berada di sampingku, Sayang. Jangan mencoba berpikiran untuk pergi dariku!" bisiknya yang langsung menggendong tubuh mungil itu dan melemparnya di atas ranjang.