Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 51 - USG


__ADS_3

Rasidha menghindar jika bertemu dengan suaminya, dia sangat kecewa kalau pria itu tidak menepati sesuai dengan janjinya. Kejadian di malam itu masih terngiang di dalam pikiran, sangat sulit baginya melupakan. Sebagai seorang istri sudah sepatutnya bahagia karena menjalankan kewajiban dengan memberikan keperawanan pada sang suami, tapi dalam kasusnya sangatlah berbeda. 


"Bagaimana aku bisa bertahan, dia lelaki yang penuh dusta. Bagaimana aku bisa mempercayainya?" ucap Rasidha dengan hati yang sangat dongkol, tidak ingin kalau dirinya terjebak dalam pernikahan paksa. "Aku akan tetap bercerai dengannya!" 


"Benarkah? Memang mudah mengatakannya, tapi cukup sulit untuk melakukannya. Jangan pernah berharap untuk bercerai dariku, karena selamanya kamu akan terikat dalam pernikahan penuh duri ini." Sahut Felix yang entah datang dari mana, langsung berjalan mendekati sang istri. 


"Harusnya kamu tidak di rumah sekarang!" tekan Rasidha yang sangat ketakutan, Felix bisa sewaktu-waktu nekat dan kembali ingin berhubungan intim dengannya. 


"Memangnya kenapa? Bisnisku telah di handle orang kepercayaanku. Sepertinya kamu tidak senang kalau aku kembali." 


"Tentu saja, aku tidak ingin dekat dengan pria sepertimu. Aku sarankan agar kamu mencari uang dengan cara halal." 


"Jadi kamu menceramahiku? Sangat menarik. Apa yang kamu ketahui mengenai bisnis? Mau haram maupun halal tak akan menjadi perbedaan, sama-sama uang dan kamu cukup beruntung bisa menjadi istriku." Tutur Felix yang sarkas, dia begitu bangga dengan pencapaian dan juga kejayaannya dalam menjalankan bisnis barang ilegal dan obat terlarang. 


"Aku tidak ingin makan dari hasil haram, sebaiknya kamu simpan untuk dirimu." 


Felix langsung mencengkram dagu sang istri, dia sangat marah mendengar perkataan tajam yang begitu menyakitkan hati. "Jangan ajari aku masalah halal maupun haram, dan juga jangan bersikap sombong di hadapanku, kesombonganmu bahkan bisa aku beli." Kecam nya yang memberi peringatan, seraya melepaskan tangan yang bertengger di dagu sang istri. "Ayo ikut aku!" dia langsung menarik tangan Rasidha tanpa aba-aba, membawanya menuju keluar dari Mansion dan masuk ke dalam mobil.


"Lepas!" pekik Rasidha yang berusaha untuk melepaskan diri, sedangkan Felix akan berpura-pura tidak mendengar perkataan dari istrinya. 


Di sepanjang perjalanan tidak ada yang ingin memulai pembicaraan, Rasidha sangat kesal dengan suaminya yang begitu memaksakan kehendak. Dia paling tidak suka dengan pemaksaan begitulah yang terjadi dengan dirinya saat ini, menikah dengan paksaan dan apapun yang dilakukan harus mendapatkan izin terlebih dahulu. "Kapan aku bisa terbebas dari pria ini?" batinnya yang memalangi nasib. 


Mobil berhenti di sebuah bangunan dengan tulisan yang cukup jelas dibaca, ternyata Felix membawanya ke rumah sakit swasta membuatnya mengerutkan dahi. "Kenapa dia membawaku ke sini?" lirihnya pelan dan melihat sang suami yang sudah turun duluan. 


Felix membukakan pintu dan kembali menyeret tangan wanita berkerudung pink, tapi kali ini di depan pintu masuk rumah sakit dia sengaja menggendong ala bridal style agar sang istri tidak melakukan perlawanan. Pertemuan yang sudah dijanjikan olehnya pada seorang dokter kandungan, dan juga melakukan USG. 

__ADS_1


"Periksa istri saya!" titah Felix to the point. 


"Baik, berbaringlah disini." Dokter laki-laki spesialis kandungan itu menepuk brankar, meminta pasiennya untuk segera mengikuti perkataannya. 


"Apa tidak ada suster yang menemani, Dok?" celetuk Felix yang merasa janggal kalau pria itu memeriksa istrinya, sesuatu yang tidak bisa dilukiskan namun sangat marah kalau ada pria lain yang mencoba untuk menyentuh Rasidha. 


"Saya bisa sendiri, tidak perlu khawatir." 


"Tidak, harus ada yang mendampingi seorang suster!" tekan Felix yang tak ingin mengalah. 


"Sayalah dokter disini." 


"Tapi aku hanya ingin istriku di periksa seorang wanita, bukan dokter laki-laki. Apa anda paham yang saya maksud?" Sekarang Felix memperlihatkan wujudnya bagai iblis, membuat sang dokter bergetar karena ketakutan.


"Ba-baik, saya akan memanggil suster." 


Pikiran yang sangat jauh bertolak belakang, tapi di hati siapa yang tahu. Tanpa di ketahui oleh Felix, jika sebenarnya dia tidak ingin kalau Rasidha di sentuh oleh perempuan. Ada perasaan dihatinya yang sulit di katakan, tapi sangat terasa dan juga nyata. 


Rasidha sedikit malu saat sang suster menyingkap gamisnya, dan memperlihatkan celana panjang menutup aurat. Felix memastikan kalau dokter tidak mengintip perut putih mulus dan hanya fokus pada layar monitor saja. 


"Apakah sudah ada janin disana?" tanya Felix yang tak mengerti dengan gambar hitam putih di monitor.


"Tidak ada janin di sini, itu artinya istri anda belum hamil!" ucap sang dokter, mendapatkan suami pasien yang banyak menuntut seperti Felix. 


"Bagaimana mungkin? Aku sudah menidurinya sekali. Coba kamu periksa sekali lagi!" ketus Felix yang tak ingin mendengar kata yang jauh dari angan. 

__ADS_1


"Aku sudah menelusurinya, istri anda belum hamil." 


"Coba kamu ganti alat USG itu, bisa jadi itu barang lama dan juga rusak." 


"Ya Tuhan, harus aku apakan pria ini? Dia terlihat sangat kejam tali juga bodoh?" batin sang dokter. "Alat ini baru di beli tiga bulan lalu. Bukan salah alatnya, tapi berhubung suami istri sekali sangat kecil kemungkinannya untuk hamil." 


"Lalu?" 


"Melakukannya sesuai dengan anjuran, dan makan makanan bergizi dan juga sehat."


"Jadi kamu membawaku hanya memeriksa kehamilan? Sangat konyol sekali." Celetuk Rasidha yang langsung menurunkan gamisnya, berhenti mengikuti kebodohan sang suami. 


"Itu agar kamu tidak terus mengatakan perceraian," sahut Felix yang memelas. 


"Antara polos dan juga bodoh," itulah yang di pikirkan oleh sang dokter, tak bisa menyampaikan perkataan itu keluar. "Apa ada yang ingin anda tanyakan?" 


"Bagaimana caranya agar dia bisa hamil?" tanya Felix sembari menunjuk Rasidha. 


"Dengan menghitung masa suburnya dan melakuan setelah haid selesai, itu masa subur seorang wanita. Sedangkan pria masa suburnya di pagi hari, melakukan hubungan intim di pagi hari kemungkinan besar berpeluang kehamilan." 


"Hem." Felix segera meninggalkan tempat itu, kembali menggendong tubuh Rasidha ala bridal style. Sementara sang dokter menggeleng-gelengkan, kali pertama melihat suami yang begitu posesif. "Wanita itu beruntung mempunyai suami yang mencintainya, tapi sangat menyebalkan bagi orang sekitar." Monolognya. 


"Kamu hanya membuat malu saja, memeriksaku ke dokter kandungan." 


"Itu aku lakukan untuk memastikanmu agar segera hamil anakku, dan tidak akan ada masalah perceraian." Jawab Felix dengan penuh keyakinan. 

__ADS_1


"Baiklah-baiklah, sekarang turunkan aku! Tidak ada banjir disini!" cetus Rasidha yang malu menjadi pusat perhatian dia semua orang. 


"Biarkan mereka berkata apa, aku suamimu! Lakukan sesuai dengan perkataanku. Aku ingin kamu hamil, dan katakan masa suburmu itu padaku!" putus Felix. 


__ADS_2