
Felix tak menggubris perkataan Rasidha yang memekakkan telinga, dia sudah tidak tahan dengan sikap gadis itu yang terus saja memukul dadanya. Dia merasa nyeri di bagian kena pukulan, tapi menahannya.
Berjalan masuk ke dalam ruangan yang sudah di pasang terali besi putih di setiap jendela, agar tidak ada celah untuk kemungkinan untuk kabur. Dengan kasar dia menjatuhkan tubuh istrinya ke lantai, membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Astaghfirullah, ini sangat sakit sekali." Lirih Rasidha yang memegang pinggangnya, melirik suami kejamnya dengan pandangan tak suka.
"Itu tidak lebih sakit saat kamu mencoba untuk kabur dari sini, apa kamu pikir kalau kamu itu pintar, hah? Mengelabui semua orang bukan berarti kamu bisa lolos dariku!" kecam Felix yang sudah muak dengan aksi kabur-kaburan yang dilakukan oleh istri kecilnya.
"Aku tidak ingin tinggal di sini!"
"Dan aku tidak peduli, suka ataupun tidak kamu akan tetap tinggal di sini. Jangan berusaha untuk kabur bahkan membayangkannya kamu tidak boleh." Ultimatum yang dikatakan oleh pria itu tidak membuat gadis itu takut, malah semakin tertantang.
Rasidha mendelik kesal, menghela nafas dengan jengah dan tidak menghiraukan perkataan dari suaminya. Dia sudah jengah dan juga lelah, menghadapi sikap pria itu yang selalu saja mengekang juga mengurungnya.
"Apa kamu mendengarku?" kesal Felix yang sudah mengeluarkan ultimatum tapi hanya dianggap angin lewat saja.
"Tidak perlu berteriak begitu, aku mendengar suaramu. Setidaknya pikiran pita suara mu!" ucap Rasidha yang menohok.
"Sial, gadis ini selalu saja membuatku jengkel." Felix segera pergi karena kepalanya selalu saja pusing menghadapi sikap dari istri kecilnya.
"Hah, sekarang bagaimana caraku untuk kabur. Ya Allah, berikan aku jalan untuk menemui keluargaku. Aku sangat merindukan mereka, pertemukan aku." Rasidha berdoa di dalam hati, berharap kalau doanya terkabulkan. Dia melihat ruangan yang sangat berbeda, sekarang benar-benar terlihat seperti penjara yang dikelilingi oleh terali dari besi putih. Mengusap wajahnya dengan kasar, merasa putus asa dan segera dia melaksanakan shalat sebagaimana perintah bagi umat muslim.
__ADS_1
****
Zaid dan juga Doni akhirnya menemukan lokasi dimana keberadaan musuh, mereka langsung tergerak dengan membawa pasukan penuh. Mereka menyerang secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari kejadian yang sama terulang kembali.
Zaid dan Doni sudah mengatur rencana untuk penyerangan yang akan dilakukan tanpa diketahui oleh pihak musuh begitu banyak senjata dan jumlah pasukan yang dibawa olehnya bersiap untuk bertempur demi membawa kembali harta terbesar mereka yaitu Rasidha.
Mereka sudah tidak tahan lagi karena batas kesabaran yang sudah habis, serangan secara bersembunyi-sembunyi membuat mereka mendapatkan keunggulan yang lebih.
"Aku akan menangani di sini, carilah Rasidha dan bawa keponakanku itu pulang dengan selamat!" titah Doni yang langsung mendapatkan persetujuan dari Zaid.
Pria bermata biru segera menyelinap masuk ke dalam, mencoba untuk melihat situasi dan juga berapa banyak anggota yang berjaga. Sudah banyak penjaga yang mereka lumpuhkan namun masih belum diketahui oleh Felix. "Aku harus mencari putriku dan membawanya pulang bagaimanapun caranya." Tekad yang sudah kuat ditambah lagi dengan doa yang dipanjatkan sebelum melakukan peperangan secara bersembunyi.
Pencarian yang membutuhkan waktu yang sangat lama, namun dia berhasil menemukan seorang gadis yang tengah memanjatkan doa. Betapa bahagianya dan segera menyeka air mata di saat melihat putrinya yang terlihat sehat, kerinduan yang menjalar di dalam hati karena sudah lama tak bersua. "Itu Rasidha, aku harus cepat sebelum Felix menyadari hal ini."
Usaha yang cukup memberikan hasil, melubangi terali besi dan segera menyusup ke dalam kamar. Rasidha yang segera menyelesaikan doa menoleh ke belakang, melihat ayahnya yang datang untuk menyelamatkan begitu membuat rasa terharu ingin memeluk. Namun, dia ingat jika statusnya hanyalah Putri angkat dan tidak boleh bersentuhan dengan ayah angkatnya. "Ayah."
"Bagaimana kabarmu apa Felix menyakitimu? Katakan pada Ayah!"
"Kita lupakan itu, sebaiknya bawa aku pergi dari neraka ini, aku merasa sesak jika berada bersama dengan pria kejam itu." Bujuk Rasidha yang menyatukan kedua tangannya, dia tidak peduli dengan dosa apalagi pria yang dikatakan kejam sudah resmi menjadi suaminya.
"Untuk itulah ayahmu datang kemari, ayo keluar dari sini! Paman masih ada di luar untuk menangani situasi!" titah Zaid yang menyuruh anaknya untuk berjalan keluar kamar lebih dulu.
__ADS_1
Rasidha sangat senang karena dirinya sudah dinyatakan bebas di saat ayah dan juga pamannya telah berhasil menyelamatkannya, tapi dia sangat takut mengenai hukum yang ada apalagi Felix merupakan suaminya, walau bagaimanapun juga dia harus ikut dengan pria kejam itu. "Bagaimana kalau dia menuntut untuk memaksaku pergi bersamanya?" dia sungguh khawatir tapi segera di teratasi oleh Zaid.
"Jangan takut, karena kami ada bersamamu! Setelah kita kabur dari sini maka ayah akan mengurus surat perceraian mu dengannya."
"Baiklah."
Felix tidak mengerti, karena sistem keamanan yang lemah mencoba untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Betapa terkejutnya dia saat melihat beberapa mayat yang berserakan di atas tanah, hingga dia sangat geram dan memerintahkan seseorang untuk segera mengejar musuh.
"Tidak semudah itu kamu membawa istriku, Simon Albert." Ucap Felix di dalam hati sambil menyunggingkan senyuman licik yang sudah menjadi ciri khasnya.
Zaid dan Doni segera menancapkan gas menambah kecepatan laju kendaraan mobil, di saat beberapa orang mulai mengejar dan mereka menembak, beberapa orang yang masih tersisa mencoba untuk membantu tetapi mobil yang mereka kendarai dijadikan target.
Tentu saja Zaid tidak tinggal diam, segera mengeluarkan senapan dengan kecepatan peluru seperti angin. Dia keluar dari jendela mobil dan menjadikan dudukan mengintai para musuh. Setelah memastikan dan mengunci sang target, dia langsung menarik pelatuk dan menembak hingga mobil itu kehilangan kendali dan terbalik.
Rasidha melihat ke belakang dan masih saja banyak mobil yang mengejar mereka, dia juga berinisiatif menembak musuh dengan melakukan posisi yang sama dengan ayahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zaid yang khawatir.
"Jangan cemaskan aku, tembak saja mereka!" jawab Rasidha yang tersenyum karena berhasil menghirup udara segar, selama ini dia hanya berada di sangkar emas dan dikurung. Hal inilah yang membuat mereka begitu kompak, dan mendapatkan kemenangan.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan keluargaku, dan berkumpul kembali dengan mereka." Batin Rasidha yang tersenyum sumringah, membayangkan dirinya dalam pelukan sang ibu.
__ADS_1
"Sial, mereka lolos. Tidak akan aku biarkan kemenangan itu kalian nikmati!" gumam Felix yang menahan amarah.