
Felix beranjak dari meja makan, dia sangat kesal juga marah saat semua koleksi minuman alkoholnya di buang begitu saja, usahanya yang cukup keras mendapatkan beberapa botol minuman langka membuatnya tak bisa berpikir jernih.
"Eh, habiskan makanannya dulu." Pekik Rasidha yang merasa bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh suaminya itu, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Kamu makan saja sendiri!" cetus Felix yang menahan amarah, bagaimana tidak? usahanya selama bertahun-tahun hanya sia-sia saja, semua koleksi minuman alkohol berbagai merek dari negara yang berbeda, mendapatkannya dalam acara lelang.
"Eh, ada apa dengannya?" pikir Rasidha sembari mengangkat kedua bahunya dengan acuh dan lebih memilih menarik kursi dan menikmati makanan yang sudah tersaji.
Beberapa hari kemudian, Rasidha baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah. Dia melakukannya dari subuh, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan semuanya. Kini dia berada di taman dan menyirami tanaman dan juga bunga-bunga yang layu karena tidak adanya yang merawat.
Kesibukannya itu membuat hari bisa berjalan dengan sangat cepat, bukan tanpa sengaja dia melakukan itu. Hanya mencari pelampiasan mengenai perasaannya yang begitu merindukan keluarga dan sanak saudaranya. Rasidha melamun dan mengingat saat-saat dia menghabiskan waktu bersama di rumah, dan juga di pondok pesantren. "Aku sangat merindukan mereka semua, kapan aku bisa keluar dari sangkar yang persis seperti penjara ini? Hanya keluar saat mengikutinya pindah saja." Keluhnya yang meneteskan air mata.
Dengan cepat Rasidha menyeka air matanya, rasa kerinduan yang begitu mendalam. Ingin sekali dia mendengarkan suara ibu, ayah, adik, dan juga keluarga paman Doni termasuk Ayna, sepupunya. "Apa aku akan hidup sendiri seperti ini?" lirihnya yang sangat sedih, tidak ada orang lain yang bisa diajak berbicara. Felix sengaja tidak menyewa orang lain, hanya mereka berdua saja di rumah yang besar itu. Setelah berdebat dengan suaminya di pagi hari, dan menyiapkan segala keperluan sang suami di kala bekerja.
Hari-hari Rasidha sangatlah sepi, dia bahkan mempergunakan waktu luangnya dengan menambah hafalan, begitulah seterusnya.
"Lakukan pekerjaan dengan benar!" hardik seseorang yang membuat Rasidha segera menoleh ke sumber suara, terlihat seorang pria tampan yang baru saja pulang.
"Tuan sudah pulang? Bukankan baru saja berangkat ke kantor?" Rasidha mengerutkan dahi karena tak mengerti.
"Memangnya kenapa kalau aku pulang cepat?"
"Bukan apa-apa, hanya saja aku merasa ini sedikit janggal saja."
"Ck, berhenti menatapku begitu. Buatkan aku kopi!" titah Felix seraya melonggarkan dasinya yang seakan membuat leher tercekik.
__ADS_1
"Baiklah." Patuh Rasidha yang segera meletakkan selang air dan menjalankan perintah suaminya, selagi tidak melanggar prinsip dan aturan agama, selama itu pula dia akan menjadi istri yang baik dan berusaha untuk sabar menghadapi suaminya yang unlimited.
Beberapa saat kemudian, Rasidha membawakan secangkir kopi dan meletakkannya di atas meja. Dia kembali menjalankan pekerjaan yang baru saja tertunda dan menyelesaikannya sebelum Felix berkomentar mengenai pekerjaannya yang tidak benar.
"Aku akan pergi keluar kota selama dua hari."
Ucapan yang sangat di mengerti oleh Rasidha kemana ujungnya, sudah di pastikan dia ikut dengan segala persiapan keperluan sang suami. "Kapan?"
"Besok, ada pertemuan dengan klien penting."
"Hem."
"Kamu tahu apa yang akan dilakukan?"
"Ya, menjadi asisten sekaligus pelayan."
"Bukankah itu sudah menjadi kebiasaan? Kita baru saja pindah ke sini dan sekarang pindah lagi? Apa kita ini sepasang suami istri siput?" gerutu Rasidha membuat Felix diam-diam menyunggingkan senyuman di saat pria itu menyeruput kopinya.
"Akulah bosnya, tidak ada siapapun di sisiku selain kamu yang hanya gadis tak berguna, bisanya hanya bekerja sebagai pembantu saja." Ejek Felix, sebenarnya dia kesal pada mantan sahabatnya yang masih menyekap adik tiri yang belum di ketahui di sembunyikan di mana. Kehilangan Justin malah membuatnya semakin repot dengan semua pekerjaan dan urusan bisnis.
"Bagaimana aku akan menjadi berguna? Tuan sendirilah yang mengekangku dan mengurungku. Aku menyelesaikan S1 tentunya memiliki cita-cita dan juga impian, dan bisa membuktikan kemampuanku. Tapi apa? Bukankah aku harus menerima jalan takdirku ini?"
"Ck, kamu sangat cerewet sekali. Suaramu persisi seperti radio rusak dan juga usang, selayaknya dibuang ke tempat sampah."
"Dan aku tidak peduli!" balas Rasidha tegas.
__ADS_1
"Kamu hanya melihat sisi kejamku dua puluh persen saja, tapi kamu belum melihat bagaimana kejamnya aku yang bahkan bisa membunuh orang setelah menyiksanya. Sepertinya kamu sasaran yang empuk untuk dijadikan target berikutnya," Felix berusaha menakut-nakuti istri kecilnya, namun di luar dugaan kalau Rasidha tak gentar sedikitpun.
"Selagi Allah bersama ku, aku tidak akan takut pada siapapun termasuk kamu."
"Baiklah, sesuai keinginanmu Nyonya Felix." Ucapnya yang berjalan menghampiri istri kecilnya.
Rasidha yang merasa terancam segera mengelak dari pukulan sang suami, untung saja dia mempunyai refleks menghindar dengan sangat bagus. ilmu yang diam-diam dia asah tanpa di ketahui oleh Felix.
Keduanya bertarung di bawah guyuran air keran, karena mereka bertarung dengan menyemprotkan air pada pihak lawan.
"Hai, letakkan selang air itu!" tegas Felix yang mencoba melindungi wajahnya, berjalan mendekat ingin melakukan serangan balik.
"Coba saja kalau anda bisa Tuan Felix." Ledek Rasidha yang terus menyemprotkan air kran pada suaminya itu, melayangkan pukulan hingga keduanya basah. Tanah dan rerumputan yang basah, membuat keseimbangannya tidak bisa di atasi karena kecerobohannya menginjak ujung gamis.
Rasidha terpeleset dan berteriak sambil memejamkan mata, dia sudah terima akan kekalahan akibat kecerobohannya sendiri. "Eh, kenapa aku tidak merasakan sakit?" lirihnya sembari membuka mata dengan perlahan.
"Karena tubuhmu menimpa tubuhku!" geram Felix yang merasakan nyeri di punggung, terbentur batu saat menahan bobot tubuh istrinya.
"Pantas saja aku tidak merasakan sakit," Rasidha segera berdiri, tapi kembali terjatuh saat menginjak ujung gamisnya.
"Astaga…tubuhmu kecil tapi kamu sangat berat, mungkin ini akibat dosa mu yang sudah menumpuk, selalu saja berargumen."
"Ini tidak di sengaja," Rasidha kembali berdiri, dia sedikit malu apalagi tubuhnya yang basah dan juga kerudungnya terlepas saat Felix mencoba meraihnya ingin minta di bantu berdiri.
Felix menelan saliva dengan susah payah, saat berdiri melihat pemandangan yang menyejukkan hati. Kecantikan yang terekspos tepat di hadapan matanya, rambut ikal dan kulit putih sebening salju membuat jiwa lelakinya meronta-ronta.
__ADS_1
Rasidha merasakan ada yang aneh, dia segera berlari setelah mengambil kerudung dan memasangnya. Menjauh dari Felix yang sudah tadi menatapnya tanpa berkedip, masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dengan nafas yang terengah-engah. "Ini tidak benar, apa pakaian basahku melihat bagian pakaian dalamku? Semoga saja tidak terlihat, apalagi bahan gamis ini cukup tebal." Lirihnya yang sangat takut dan berusaha berpikiran positif.