
Rasidha kembali ke kelas dengan langkah gontai, sekarang dia sudah menerima lamaran itu dan berharap jika keluarga senang akan keputusannya itu. "Apa aku sudah membuat keputusan tepat?" Itulah yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Setelah pelajaran usai, Rasidha memutuskan untuk ke asrama dan ingin mencuci pakaian kotor miliknya. Memisahkan pakaian kotor dan dimasukkan ke dalam keranjang, hendak pergi ke sungai yang berada di belakang pesantren, biasa digunakan dan dimanfaatkan oleh santriwati yang diberi pemisah dengan santri putra. Dia melangkahkan kaki keluar dari kamar, membawa sekeranjang pakaian kotor yang akan dicuci, tapi seseorang di ambang pintu menghentikan niatnya.
"Assalamu'alaikum. Apa Bibi boleh masuk?"
"Wa'alaikumsalam. Silahkan Bi, masuk saja." Rasidha mempersilahkan Aisyah masuk ke dalam kamar, dan kembali meletakkan keranjang yang berisi pakaian kotor ke atas lantai.
"Sepertinya kamu sibuk, ingin mencuci pakaian di sungai ya?"
Dengan cepat Rasidha menganggukkan kepala dan tersenyum. "Iya, Bi."
"Bibi minta waktunya sebentar ya."
"Iya, Bi."
"Tadi ustadz Afif datang menemui Bibi dan juga pamanmu, mengatakan jika kamu telah menerima lamarannya. Apa benar begitu?"
"Iya, aku menerimanya. Tapi tidak bisa menikah dengan cepat." Jawab Rasidha.
"Apa itu niat dari hatimu atau dari desakan kami?"
"Kenapa Bibi menanyakan itu? Aku sudah menerima lamarannya. Kalian telah memilihkannya untukku, dan aku sangat yakin jika itu adalah yang terbaik."
"Bibi tidak bisa berkata banyak mengenai keputusan besar ini, ibu dan ayahmu akan kesini untuk membicarakannya."
"Ibu dan ayah akan kesini? Kapan?"
"Sehari sebelum ustadz Afif pergi studi ke Istanbul. Bibi pergi dulu, katakan jika kamu membutuhkan sesuatu."
"Hem, baiklah."
Rasidha kembali mengangkat keranjang pakaian kotor, melangkahkan kakinya menuju sungai yang berada di belakang pesantren. Tersenyum saat melihat di sekeliling yang masih tampak asri dan menyejukkan mata, terdengar suara kicauan burung bersatu dengan suara gemericik air membuat siapa saja merasakan tenang.
Dia melihat beberapa santriwati yang tengah mencuci baju, dia menyapa semua orang dan memilih bebatuan besar yang menjadi alas mencuci pakaian. Inilah suasana yang paling di rindukan, apalagi di Kairo dan juga di kota jarang ditemukan. Rasidha menjuntaikan kakinya yang terasa sejuk, air sungai yang sangat jernih menggoda siapa saja yang melihatnya.
__ADS_1
"Oh iya, katanya kamu mau menikah dengan ustadz Afif ya?" Celetuk seseorang yang tak jauh dari Rasidha, santriwati itu takjub dengan kulit putih mulus di sebelahnya.
"Iya Teh, doakan saja." Jawab Rasidha yang tersenyum ramah.
"Saya iri sama kamu, dapat calon suami seperti ustadz Afif. Banyak santriwati yang patah hati mendengar kabar burung itu, dan saya juga termasuk salah satunya." Ucap gadis dengan logat Sunda, hal itu membuat Rasidha ikut tertawa.
"Rasidha…Rasidha!" pekik Elis yang memanggil temannya.
Rasidha merasa ada yang memanggil namanya, dan segera menoleh menatap sang pelaku yang tak lain adalah temannya. "Iya Elis, ada apa?"
"Ternyata kamu ada disini, aku sudah berkeliling dari tadi." Gerutu Elis yang berjalan mendekati gadis keturunan Palestina itu.
"Iya, apa apa mencariku?"
"Bukan apa-apa, aku kira kamu hilang." Jawab Elis yang cengengesan, membuat gadis di sebelah Rasidha mencibir.
"Ini seperti prank, padahal saya sudah serius mendengar berita."
"Eh, Maimun. Tidak perlu mencibir, atau bibirmu itu aku lem setan." Balas Elis.
"Dimana Neneng?" tanya Rasidha yang menengahi pertikaian dua gadis yang berbeda suku itu, celingukan mencari seseorang.
"Dia ada di dapur membantu mbak Yayuk."
"Iya, sekalian membantu makan." Cibir wanita di sebelah Rasidha.
"Biarpun Neneng itu gendut, bukan berarti kamu bisa menghinanya. Apa kamu mau saya sentil badanmu yang kurus itu?" sergah Elis yang bertolak pinggang.
"Kamu sendiri yang mengatakan Neneng gendut, jangan bawa-bawa saya. Lagi pula, tubuhku ideal bukan kurus. Beratku tiga puluh sembilan kilogram." Ucap gadis Sunda yang membanggakan diri.
"Ideal empat puluh lima," sewot Elis.
Sedangkan Rasidha menggelengkan kepalanya, rasa ketenangan yang rusak saat mendengar pertikaian yang menurutnya unfaedah. Segera dia menyelesaikan mencuci pakaian dan membilasnya, memasukkan kedalam keranjang untuk di jemur keesokan harinya. Hal yang paling di tunggu adalah saat berebutan menjemur pakaian dengan santriwati lain, bahkan anger awalnya berwarna senada sekarang sudah berganti warna pelangi. Sudah menjadi masalah umum, penggantung pakaian berubah warna karena tertukar.
Setelah sholat subuh, para santriwati mulai menjemur pakaian mereka, siapa yang lebih dulu. Rasidha segera menggantung pakaiannya yang sudah dicuci bersih kemarin sore, dan mengambil tempat.
__ADS_1
Terlihat dua orang yang sangat dikenalnya, yaitu Elis san juga Neneng sedang menggeser pakaian milik santriwati lain layaknya yang berkuasa.
"Neneng, Elis? Apa yang kalian lakukan? Itu tidak baik." Ucap Rasidha yang mencoba menasehati kedua temannya.
"Entah siapa yang menciptakan perilaku itu dulunya, hingga sekarang menjadi kebiasaan. Bukan kami saja yang jahil, bahkan ada yang lebih parah." Sahut Neneng yang segera menjemur pakaiannya yang sebelumnya tidak kebagian tempat.
Rasidha kembali menjemur pakaiannya tanpa mengganggu jemuran orang lain, tidak seperti kedua temannya yang sangat curang. "Aku pergi dulu!" celetuknya yang telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Baiklah," sahut Elis dan juga Neneng yang cekikikan dengan aksi kejahilan mereka.
"Wah, diam-diam ada yang menjemur kacamata kuda di sini?" Neneng memperhatikan barisan dari tali keempat yang dipenuhi oleh pakaian dalam.
"Jemuran khusus pakaian dalam sudah penuh, bagaimana jadinya jika kacamata dan juga segitiga bermuda di tiup angin? Tidak ada pelindung disini." Ujar Elis. "Eh, sepertinya ini milik Maimun. Aku melihatnya sendiri saat dia mencuci di sungai."
Kedua wanita itu saling berpandangan dan tersenyum penuh arti.
Rasidha kembali ke kamarnya, tapi seseorang mencegat jalannya. "Ada apa?" tanyanya sambil menatap pelaku.
"Paman Zaid dan juga Bibi Suci sudah datang, mereka ingin menemui Kakak." Lapor Ayna.
"Baiklah, sebentar lagi aku menyusul."
Setelah beberapa saat, Rasidha berjalan menuju rumah sang pemilik dari pesantren yang tak jauh. Hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk berjalan kaki. "Assalamu'alaikum." Dia mengucapkan salam, masuk ke dalam ruangan sederhana. Semua orang menatapnya dan menyambut kedatangan dengan sangat baik.
Tak lupa, Rasidha menyalami kedua orang tua angkatnya dengan penuh hormat, dan juga para petuah di dalam ruangan itu. "Kapan Ayah dan Ibu sampai?"
"Tidak lama, bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Suci yang memeluk anaknya dengan erat, melepaskan rasa rindu yang mendera di hati.
"Aku baik, Bu."
"Ganti pakaianmu dulu, Ibu sudah bawakan." Suci menyerahkan paper bag yang berisi gamis syar'i dan dilengkapi dengan kerudung, dan kaos kaki.
"Baik, Bu." Rasidha mengambil paper bag dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, untuk mengganti pakaian sesuai keinginan ibunya.
__ADS_1