
Zaid tidak tahan dengan trauma yang masih hinggap di hati anaknya, hal yang paling ditakutkan adalah rasa kekecewaan yang patah akibat dirinya yang pernah berkhianat. Semua orang ikut terharu dan juga sedih, mengingat Rasidha seperti melupakan jati diri sesungguhnya.
Suci yang mencoba untuk menenangkan anaknya sekarang beralih pada suaminya yang memang membutuhkan sandaran, dia segera mengusap punggung Zaid. "Kita pasti bisa melewati ini semua, aku bersamamu."
"Bagaimana mungkin? Rasidha bahkan menatapku dengan penuh kebencian, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Zaid mencoba untuk mengontrol dirinya dan mengatut nafas.
"Waktu, beri Rasidha sedikit waktu. Aku akan mencoba untuk mendekatkan kalian, dan memcabut permasalahannya."
"Apa kamu yakin?"
Dengan cepat Suci mengangguk, dan menyeret suaminya untu segera pergi dari tempat itu, tidak ingin jika kondisi Rasidha terus menjerit dan di kuasai oleh trauma dan kebencian. "Kak, aku titip anakku."
"Baiklah." Sahut Aisyah yang menganggukkan kepala.
Dari kejauhan Suci melihat Azzam bersama Ayna, dan segera memanggilnya. "Nak, kemarilah!"
"Iya, Ibu." Azzam menyahut panggilan ibunya dan segera menghampiri.
"Iya, Bi." Sahut Ayna yang juga berlari menghampiri bibinya.
Azzam melihat ibunya yang memasukkan ayahnya ke dalam mobi, hal itu membuatnya dan Ayna terpana saat melihat wajah asli pria bermata biru yang selama ini di baluti sorban.
"A-apa itu ayah, Bu?"
"Benar, kita harus pulang sekarang!" titah Suci yang mengambil alih kemudi mobil.
"Tapi__."
"Tidak ada tapi-tapian, Masuk!" titah Suci yang segera menatap keponakannya dan mengeluskan kepala. "Bibi harus pulang, jaga kak Rasidha selama dia di sini."
"Kenapa cepat sekali Bibi pulang?" tanya Ayna yang sangat bingung dengan situasi ambigu tang di hadapinya.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, Sayang. Bibi pergi sulu, assalamu'alaikum." Belum sempat Ayna membalas ucapannta, dia masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa. Mengingat situasi yang tidak baik, dan memberikan Rasidha sedikit waktu untuk bisa memahami segalanya. Sebenarnya dia tidak ingin pergi dengan cara seperti itu, tapi apa dayanya sekarang? Dia begitu rapuh dengan permasalahan masa lalu suami dan juga anaknya saat di Palestina. Hari yang paling di takuti benar-benar terjadi, tidak ada yang bisa memahami suaminya dan putrinya selain dirinya sendiri.
"Bu, kita baru saja sampai. Mengapa kita pulang dengan tergesa-gesa? Dan mengapa ayah baru memperlihatkan wajahnya untuk pertama kali? Apa alasan ayah yang menutupi wajah dengan sorban selama ini?" Begitu banyak pertanyaan di benak Azzam, dia sangT bingung dan sekaligus kagum dengan ketampanan ayahnya. Jadi dia mengerti, mulai dari bola mata berwarna biru dan wajahnya sama persis, hanya rambutnya berwarna hitam dari gen ibunya.
"Diamlah, ibu sedang konsentrasi mengemudi mobil."
"Tapi apa sebenarnya terjadi? Aku bukan akan kecil lagi yang tidak bisa memahami segalanya. Aku sudah dewasa, katakan mengapa ayah terlihat begitu?"
Suci mengerjakan matanya beberapa detik dan juga menghentikan laju mobil setelah mereka berada di pinggir jalan. Dia segera menengok ke belakang dengan air mata yang dari tadi menemaninya. "Ibu akan menjelaskannya setelah sampai di rumah, jangan banyak bertanya." Tegasnya membuat Azzam patuh.
"Bagus."
Sementara Zaid hanya terdiam, bagai seseorang yang hidup tanpa jiwa. Kesedihan dan juga kesalahan membuatnya memahami hubungan yang berdasarkan ketidak jujuran. Dia juga membutuhkan waktu untuk bisa berdamai dengan keadaan, dan berharap Rasidha memaafkan kesalahannya.
"Sayang, tenangkan dirimu. Ini Bibi!" ucap Aisyah yang mencipratkan air di wajah Rasidha yang belum juga sadar.
Rasidha yang sekarang terbaring diatas tempat tidur dan melihat Aisyah dan juga Ainun berada di ruangan itu sangat mencemaskan dirinya. "Aku dimana? Dan mengapa aku berada disini?" gumamnya yang mencoba untuk mengingat segalanya.
"Aku?" Rasidha menunjuk dirinya sendiri, hingga bayangan tadi kembali terlintas di otaknya. "Dimana ibu dan juga ayahku?" Rasidha merasa bersalah dengan sikap kurang ajarnya, tapi dia juga tidak bisa mengendalikan trauma berat yang hampir membuatnya tiada.
Ainun dan Aisyah menahan tubuh Rasidha untuk tidak beranjak dari tempat tidur, memberikan segelas air mineral dan membantu gadis itu. "Baca bismillah dulu."
Rasidha meneguk air di dalam gelas setelah mengucapkan basmallah, meneguk hingga habis dan kembali tenang. Aisyah segera membaringkan tubuh gadis itu dengan perlahan dan menepuk-nepuknya dengan perlahan hingga keponakannya tertidur. "Alhamdulillah, dia sudah tenang."
"Hem, kita kembali dan akan membahas hal ini bersama Doni."
"Iya Umi."
Rasidah tidak masuk ke dalam kelas membuat beberapa temannya menjadi cemas, apalagi gadis berparas cantik keturunan Palestina tidak terlihat di asrama. "Tumben dia menghilang, tidak seperti biasanya."
"Apa mungkin dia ada di rumah kyai Baharuddin?"
__ADS_1
"Mungkin saja."
Elis dan Neneng terus mengobrol tanpa menghiraukan ustadzah yang tengah menerangkan pelajaran, sebuah kapur papan tulis terlempar dan mendarat di kening masing-masing.
"Auh, siapa yang berani melempari kapur?" Neneng berdiri dan menunjuk untuk mencari siapa pelakunya, hingga tersadar jika mereka masih dalam pelajaran.
"Saya yang melempari kalian, apa ada masalah?"
"Tamatlah riwayatku," batin Neneng yang menelan saliva dengan susah payah. "Maaf, Ustadzah. Saya refleks!" ucapnya yang cengengesan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Silahkan keluar dari pelajaran saya, sebagai hukumannya."
"Baik Ustadzah." Neneng menekuk wajahnya yang menyesal, sedangkan Elis juga dihukum sama hingga keduanya berada di luar kelas.
****
Rasidha yang baru saja selesai sholat subuh segera menggantung mukena nya dengan sangat rapi, mulai menyiapkan buku pelajaran dan melupakan kejadian itu. Bukan dia tak ingin memaafkan, tapi hanya membutuhkan waktu untuk melupakan segalanya dan menerima Zaid yang menjadi pembunuh kedua orang tuanya.
"Kamu mau kemana?" tanya Aisyah yang melihat Rasidha selesai bersiap-siap.
"Aku mau kembali ke asrama, Bi."
"Apa kamu yakin?"
"Sangat yakin, aku membutuhkan waktu untuk bisa berdamai dengan keadaan ini."
Aisyah mendekati Rasidha dan memeluknya, mencoba untuk memberi pengertian agar gadis itu tak salah melangkah dan mengikuti jalan sesat. "Bibi tahu, itu semua tidaklah mudah untuk menerima kenyataan pahit. Zaid sangat menyayangi mu, dia ayah yang baik dan mendapatkan hidayah karena dirimu."
"Apa maksud Bibi?" Rasidha melepaskan pelukan itu dan mendongakkan kepala.
"Simon Albert, komandan tentara militer Israel yang dikenal sangat kejam dan tanpa pandang bulu. Saat itu dia memang berdarah dingin, tapi semenjak melihatmu dengan air mata itu membuat hatinya yang beku mulai mencair. Dia mengadopsi mu dan menyamar sebagai Zaid dan selalu menjadi donasi terbesar di yayasan untuk anak-anak di Palestina. Setelah kalian memutuskan ke Indonesia yang saat itu umurmu hampir enam tahun, dia tak sengaja mendengar alunan indah ayat suci Al-Quran yang memutuskannya untuk memeluk islam dan datang ke pesantren ini dengan penyesalan yang mendalam. Jangan membuat ayahmu bersedih dan merasa bersalah di sisa hidupnya, selama delapan belas tahun dia menyimpan rahasia itu dengan kekhawatiran mendalam." Jelas Aisyah yang tahu kisah itu dari ayahnya, Suci juga banyak bercerita dan dia bisa memahami segalanya.
__ADS_1