Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 17 - Awal perpisahan


__ADS_3

Rasidha menatap pria yang tak jauh darinya beberapa detik, kemudian menundukkan kepala. "Apa sudah selesai, Ustadz?" celetuknya yang membuat pria itu menoleh.


"Belum."


"Belum?" 


"Iya, belum. Masih ada satu lagi yang ingin aku minta darimu," ucap pria itu yang tersenyum khas.


"Apa itu?" Rasidha mengerutkan keningnya, karena dia seperti di jahili oleh pria yang dipanggil dengan sebutan ustadz.


"Nomor telepon mu, bagaimana caraku menghubungimu jika sewaktu-waktu merindukan suaramu?" 


Rasidha menganga karena tak percaya dengan ucapan dari seorang ustadz di hadapannya. "Apa dia ustadz Afif? Kenapa sangat berbeda dengan rumornya?" gumamnya di dalam hati dan segera menutup mulut dan mengembalikan ekspresi seperti semula. "Sepertinya itu tidak diperlukan, bagaimana jika aku beri nomor ayahku saja?" tawarnya yang sangat antusias. 


"Aku sudah mempunyai nomor telepon semua orang, bisa saja aku minta kepada mereka, tapi aku ingin meminta langsung padamu. Jika merasa kesulitan, kamu bisa menghubungiku."


"Baiklah." Rasidha segera memberikan nomor teleponnya dan membuat pria itu kegirangan di dalam hati. "Apa kita bisa kembali?"


"Tentu saja."


Rasidha membiarkan pria itu lebih dulu berjalan masuk menuju ruang tamu, sementara dirinya menghampiri Ayna yang sudah seperti sebatang obat nyamuk. "Cie, ternyata hubungan Kakak berjalan maju dan sedikit ada perkembangan." Godanya yang menjadi saksi dan mendengar segalanya dengan sangat baik.


"Apa maksudmu?" Rasidha pura-pura tidak tahu dan memperlihatkan raut wajahnya yang begitu polos. 

__ADS_1


"Sudahlah Kak, aku mendengar dan juga melihatnya." 


"Husss, jangan sampai orang lain mengetahuinya. Apa kamu bisa menjaga rahasia?" ucap Rasidha yang sigao menutup mulut adik sepupunya agar apa yang dilihat dan juga didengar oleh gadis itu tidak diketahui oleh orang lain. "Aku akan melepaskan tanganku di luar mulutmu, tapi setelah kamu berjanji." Bisiknya melihat suasana di sekitar. 


Dengan cepat Ayna menganggukkan kepala, Rasidha melepaskan tangan yang bertengger di depan mulutnya. "Ya, aku berjanji! Tapi setelah Kakak memberiku hadiah dulu, menyimpan rahasia bukanlah gratis. Sekarang serba mahal, mulai harga sembako yang naik, bahan bakar motor dan juga harga masuk ke toilet umum, dari dua ribu rupiah dan sekarang menjadi tiga ribu rupiah. Semua ada harga dan ada kualitas, tidak ada yang gratis di dunia ini, kemungkinan kentut di depan umum juga dikenakan denda." Jelasnya yang oanjang kali lebar, menerangkan hampir detail membuat gadis yang mengenakan gamis syar'i berwarna army batu saja mencerna perkataan gadis di hadapannya.


"Itu dinamakan suap, tidak boleh dilakukan!" tegas Rasidha.


"Memang, tapi sewaktu-waktu mulutku bisa saja keceplosan dan terpeleset mengatakan semua ini, jadi harap dimaklumi." Ayna sangat pintar dalam bernegosiasi, selalu menginginkan keuntungan dan tidak ingin rugi.


"Dasar pemeras," umpat Rasidha yang sangat jengkel dengan keusilan adik sepupunya. "Aku akan memberikanmu imbalan, mintalah di saat malam hari setelah semua orang tertidur. 


"Baiklah." Ayna tersenyum puas, entah sikap siapa yang menurun padanya, mungkin saja sifat sang ayah yang sangat pintar mencari keuntungan dengan negosiasi.


Setelah semuanya sudah jelas, keluarga dari ustadz Afif pergi meninggalkan tempat itu. Semua orang melambaikan tangan ke arah orang-orang yang berada di dalam mobil. 


Terlihat raut wajah kecewa dan juga sedih, meninggalkan wanita yang membuatnya begitu tertarik, karena keesokan harinya dia harus berangkat di Istanbul untuk menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi selama setahun, tetapi dia berusaha dan juga bertekad untuk menyelesaikannya sebelum target. "Andai saja Rasidha bisa aku nikahi dengan cepat, mungkin kegundahan di hatiku tidak akan terjadi. Apakah Aku sanggup menunggu selama satu tahun? Jangan sampai ada rintangan yang memisahkan kami nantinya." itulah yang ada di pikiran ustadz Afif. 


"Umi perhatikan jika sedari tadi wajahmu begitu murung dan juga hilang semangat, apa ini karena Rasidha?" tebak wanita yang duduk di sebelah ustadz Afif.


"Bukan Umi, Afif hanya memikirkan berkas-berkas yang harus dibawa untuk besok. Apakah telah selesai semua atau belum, hanya memastikan itu saja." ustadz Afif mengelak dan tidak ingin jika dirinya begitu terlihat merindukan Rasidha, yang bahkan baru beberapa menit meninggalkan pesantren.


"Umi tahu jika kamu berbohong, itu wajar saja terjadi, yang terpenting kalian sudah berjanji untuk tetap bersama. Lagi pula, satu tahun tidaklah lama jika kalian sama-sama berkomitmen untuk menikah."

__ADS_1


"Iya Umi."


"Dan satu lagi, seumpama jika kalian tidak berjodoh? Maka, relakan dia bersama dengan pria lain. Jangan begitu kecewa dengan hasilnya, karena jodoh, maut, dan rezeki sudah diatur oleh sang maha kuasa. Umi akan tetap berdoa jika kalian menikah dan juga berjodoh."


"Aamiin." Sahut ustadz Afif yang begitu bersemangat. 


****


Di waktu luang, Rasidha memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Dia mencari buku yang berisi hadist-hadist dari berbagai sumber, begitu serius dan ingin mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 


"Cie, yang lagi patah hati ditinggalkan kekasih," celetuk Neneng yang bernyanyi dan berjoget ala india. 


"Astaghfirullah, Neneng. Selalu datang tidak pernah mengucapkan salam," tukas Rasidha yang sangat terkejut dengan tingkah temannya yang ajaib itu.


"Biasa, kamu tahu jelangkung? Boneka kayu dari batok kelapa dan diberi bahu agar tidak kedinginan. Seperti itulah gambaran kedatangan Neneng," sahut Elis yang menghampiri dua orang gadis. 


"Enak saja, jangan samakan boneka Barbie dengan jelangkung." Geram Neneng yang melempar pulpen mengenai Elis. 


"Kutu kupret, apa kamu pikir aku ini kucing?" Elis bertolak pinggang serta tatapan tajam yang menyorot Neneng. 


"Kenapa kalian harus berisik? Ini perpustakaan dan bukannya pasar, jika kalian ingin berisik? Maka menjauhi dari sini." Cetus Rasidha yang hampir saja menutup buku tebalnya itu.


"Jangan pergi, sebenarnya kami datang ke sini untuk melarikan diri dari kejaran Maimun, karena keusilan kami waktu itu yang diketahui oleh salah satu antek-anteknya." Jelas Neneng yang cekikikan mengingat bagaimana mereka menjadikan kacamata kuda sebagai ketapel yang tak sengaja mengenai wajah salah satu teman dari pemilik pakaian dalam itu. 

__ADS_1


"Itulah akibatnya yang harus kalian tanggung sekarang, dengan sengaja menjahilinya. Jadi, nikmati apa yang telah kalian perbuat, sebab apa yang ditanam itulah yang dituai." Rasidha memberikan wejangan untuk kedua temannya. Tapi hal itu terasa tidak mempan, malah semakin parah.


__ADS_2