Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 20 - Latihan memanah


__ADS_3

Rasida masuk ke dalam ruangan itu dan segera menghapus foto yang ada di layar monitor milik sang ayah, dia tidak ingin jika pria yang membantunya membawa pak supir ke rumah sakit mendapatkan hukuman yang artinya sangatlah berat. "Walaupun dia jahat, setidaknya mempunyai sisi baik. Aku menyelamatkanmu dari ayahku." Gumamnya di dalam hati yang tidak ingin memperpanjang masalah. 


"Aku baru saja sampai, Ibu memintaku untuk memanggil Ayah." Ucap Rasidha yang tersenyum, memberikan alasan agar tidak dicurigai telah menghapus foto pria yang baru saja dilacak oleh ayahnya. 


"Ada apa?" tanya pria bermata biru penasaran. 


"Ibu membuat kue untuk kita dan sebagai penyambutan kepulangan ku, sebaiknya kita turun atau ibu berbuat nekat." Rasidha mencoba untuk mengalihkan perhatian dari ayahnya, tidak ingin memperkeruh masalah. 


"Kamu benar sekali, ayo!" 


Keduanya berjalan ke arah ruang keluarga, mencium aroma kue yang menggugah selera. Keduanya tampak akrab dan melupakan masa lalu, hidup bersama dengan melewati segalanya bersama. 


Suci tersenyum saat melihat anak dan juga suaminya, menyambut kedatangan keduanya dengan senyuman hangat. "Akhirnya kalian datang juga, ayo duduklah bersama ku." 


"Tentu," sahut ayah dan anak itu dengan kompak, segera berjalan menghampiri Suci yang telah menghidangkan kue buatannya sendiri. 


"Makanlah, dan katakan bagaimana rasanya." Ucap Suci yang bersemangat. 


"Tentu saja kue buatan istriku yang paling lezat, terbukti dengan toko Az-Zahra yang sekarang laris manis dan dicari banyak orang." Puji Zaid yang begitu menikmati kue yang terasa lumer di mulut.


"Apa yang dikatakan ayah benar, kenapa Ibu tidak membuka cabang baru?" tutur Rasidha yang bersemangat.


"Memantau tiga toko saja sudah membuat Ibu lelah, jangan menambahnya lagi. Tapi hal itu akan berbeda saat kamu ingin menjalankan bisnis di cabang baru." 


Perkataan dari Suci membuat Rasidha terdiam, karena dia juga tidak mempunyai kegiatan lain. "Baiklah, aku akan menjalankan cabang keempat." Putus Rasidha.


Zaid dan Suci saling berpandangan, mereka merasa ragu dengan keinginan anaknya. "Apa kamu yakin, Sayang?"

__ADS_1


"Sangat yakin, aku sangat suntuk karena tidak mempunyai kegiatan lain, itu sebabnya aku berniat untuk membuka cabang roti yang keempat yang tak jauh dari kampus."


"Wow, itu luar biasa. Ayah akan mengatur segalanya," Zaid sangat senang dengan keputusan anak sulungnya, mendukung sepenuh hati. 


"Carikan aku toko yang berukuran sedang saja, aku ingin mencoba usaha dari bawah." 


"Baiklah, sesuai dengan keinginanmu." 


Mereka bertiga tengah menyantap roti buatan nyonya rumah, suasana yang begitu dirindukan oleh Rasidha. Sudah menerima keadaannya dengan mengikhlaskan kepergian kedua orang tua kandungnya, memberikan maaf kepada ayah angkatnya. Kembalinya rasa kehangatan keluarga membuatnya sangat bahagia, berharap jika bertahan selamanya..


"Oh ya, aku tidak melihat Azzam, dimana dia?" Rasidha celingukan mencari keberadaan adiknya yang tidak terlihat sedari tadi.


"Dia ada dikamarnya dan menyelesaikan pekerjaan sekolah, makan saja kue mu. Ibu sudah mengasingkan untuknya, jangan khawatir untuk menghabiskannya." Sahut Suci yang tersenyum tulus.


"Apa sekarang kamu sudah memilih kampus?" celetuk Zaid setelah menyeruput tehnya. 


"Oh ya, Ayah punya beberapa universitas yang sangat bagus dan cocok untukmu dan tentunya dekat dengan rumah." 


"Aku akan menimbang mana yang terbaik, Ayah. Lagipula aku akan segera menikah 'bukan? Universitas mana saja aku akan terima." Pasrah Rasidha yang sedikit lesu, mencoba untuk menerima keadaannya. 


"Tidak bisa begitu, tentu harus memilih universitas yang terbaik di kota. Ayah akan mendaftarkan mu disana, dan belajarlah dengan baik. Jangan pikirkan mengenai pernikahanmu, itu masih lama." Ujar Zaid yang tidak ingin menekankan masalah perjodohan.


"Baik Ayah, aku akan menurut selama itu baik untukku." 


"Hem."


Suci segera menyeka air matanya, anak yang dirawat sedari kecil dan sekarang akan menikah, memulai awal yang baru sangatlah membuatnya senang dan juga sedih. Sedih karena mereka akan segera berpisah. Rasidha tak sengaja melihat hal itu, dia mengerutkan dahi dan menghampiri ibunya dengan raut wajah yang cemas. 

__ADS_1


"Ada apa, mengapa Ibu menangis?" 


"Hanya kemasukan debu saja, jangan khawatir." Jawab Suci yang menenangkan anaknya untuk tidak khawatir.


"Jangan berbohong, apa yang Ibu coba sembunyikan dariku?" kaukeuh Rasidha.


"Ibu bahagia untukmu, tidak terasa waktu berputar dengan sangat cepat. Dulu kamu masih sangat kecil, dan sebentar lagi kamu akan menikah. Ibu berharap, kamu tidak menyesali keputusanmu itu." 


"Aku tidak menyesalinya, Bu. Ustadz Afif sangat baik, apalagi dia pemuda yang telah kalian pilihkan untukku. Tentu saja aku menerimanya dengan sangat baik." Terang Rasidha yang sedikit terkejut saat mendapatkan pelukan erat dari seorang wanita yang selama ini dipanggil dengan sebutan "ibu". 


"Ayah mengenal karakternya dan sangat cocok menjadi calon imammu, jangan seperti Ayah yang mempunyai masa lalu yang begitu suram." Sela Zaid yang masih mengingat bagaimana dia membunuh begitu banyak orang menggunakan tangannya sendiri, dan sekilas merindukan suasana di kamp militer Israel bersama dengan temannya. "Sudah belasan tahun aku tidak melihat Felix, kemana dia sebenarnya?" batinnya yang sedikit sedih. 


"Ada apa dengan ayah, Bu?" tanya Rasidha yang tak mengetahui apapun.


"Ayahmu merindukan temannya, Felix."


"Felix?" Rasidha menyerngitkan dahi karena kali pertama mendengar nama yang menurutnya sangatlah asing.


"Sahabat ayahmu yang satu profesi, entah dimana dia sekarang berada." Jawab Suci. 


Sedangkan Rasidha yang tak merasa mengenal orang itu hanya ber "oh" ria saja seraya mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda memahami obrolan itu.


Dia segera beranjak pergi dan meninggalkan ibu dan ayahnya, pergi ke lapangan memanah yang selama ini selalu dia geluti.


Selesai bercengkrama, Rasidha sangat merindukan rutinitas yang selama bertahun-tahun tidak dia dapatkan di Kairo dan juga pesantren. Kali ini dirinya fokus memanah, dengan konsentrasi penuh, mengarahkan pandangan arah lurus dan juga target agar tepat sasaran. Setelah memperhitungkan dengan pas, dia melepaskan anak panah dan mengenai lingkaran dengan nilai yang hampir sempurna. " Yey, berhasil. Semoga tembakanku mengenai nilai sempurna dan mendapatkan rekor baru," gumamnya yang bersemangat.


Mencoba beberapa kali dengan dua kali tembakan yang meleset dengan nilai yang sangat buruk. Sedikit kecewa, tapi dia terus berusaha hingga anak panah yang berada di punggungnya sampai habis. "Hah, sebaiknya aku istirahat dulu." Lirih pelannya yang menyeka keringat di dahi, mendudukkan dirinya di kursi panjang yang tak jauh darinya. 

__ADS_1


Latihan memanah adalah salah satu hobi yang sudah lama dia geluti, tentu saja diajarkan oleh Zaid yang sebagai gurunya. Bukan hanya ilmu memanah, seni beladiri, dan bermain dengan senjata api dan juga tajam telah dikalahkan olehnya. Suci tidak memperbolehkannya memegang senjata api maupun senjata tajam, mengingat itu sangatlah berbahaya.


__ADS_2