Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 14 - Menerima lamaran


__ADS_3

Rasidha sedikit deg-degan jika pengajarnya adalah ustadz Afif, dirinya merasa gugup jika setiap kali pria itu mengajar di kelasnya. Lain halnya dengan para santriwati yang lain, heboh saat ustadz idola mereka mengajar. 


Rasidha selalu saja mengajukan pertanyaan pada ustadz atau ustadzah yang masuk dalam mengajar, tapi dia hanya terdiam di saat ustadz Afif mengajar di kelasnya. Hal itu membuat Elis dan Neneng bingung dan menoleh ke arahnya. 


"Kenapa kamu diam kalau ustadz Afif yang masuk kelas?" tanya Neneng yang penasaran.


"Bukan apa-apa," sahut Rasidha.


"Aku tahu apa penyebabnya, pasti kamu grogi bertanya pada ustadz Afif sebab dia calon suamimu." Sambung Elis.


"Dia bukan calon suamiku."


"Jangan mengelak, seluruh pesantren ini tahu jika kamu akan menikah dengan ustadz Afif."


"Berhentilah menyebut namanya di depanku," ketus Rasidha yang tidak ingin diganggu. 


"Untuk kalian bertiga, silahkan berdiri di depan!" tegas ustadz Afif yang mengetahui ketiga santriwati itu sedang mengobrol di dalam kelasnya.


Dengan terpaksa Elis, Neneng, dan Rasidha maju ke depan dan di perhatikan oleh santriwati lainnya. Sedangkan ustadz Afif menghampiri ketiganya dan menatap mereka satu persatu, dia tidak menyukai jika salah satu murid di kelas tidak memperhatikan pelajarannya. 


"Mengapa kalian mengobrol di dalam pelajaran saya?" tanya ustadz Afif yang terlihat dingin.


"Maaf Ustadz," sahut ketiganya yang menunduk, menyesali apa yang mereka lakukan.


"Baiklah, kali ini aku memaafkan kalian. Silahkan duduk ke kursi masing-masing!" titahnya yang dipatuhi oleh ketiganya. "Kecuali kamu." Sarkasnya yang menatap Rasidha. 


"A-apa? Bukankah aku juga sudah meminta maaf pada Ustadz?" Rasidha sedikit terkejut dengan keputusan ustadz Afif yang seakan menindasnya, lagipula dia tidak bersalah sepenuhnya. Kedua temannya yang lebih dulu membawanya mengobrol di dalam kelas, ingin sekali dia protes, tapi ustadz tidak menerima alasannya. 


"Jangan membantah, ini kelas saya." Ucap ustadz Afif yang meninggikan suaranya, hal itu membuat Rasidha tersentak kaget. 

__ADS_1


Kini Rasidha berada di ruangan ustadz Afif, dia sangat jengkel tapi bisa berbuat apapun. Melihat meja kerja milik gurunya itu yang sangat rapi dan juga bersih, mulai berpikir mengapa dia bisa berada disini. "Sebenarnya apa kesalahanku? Bahkan Elis dan Neneng di maafkan, sementara aku malah ditahan di sini." Lirihnya pelan. 


"Jangan suka menggerutu, itu tidak baik." 


Rasidha tersentak kaget saat mengenali suara itu, dia segera menoleh dan terlihat seorang pria tampan yang menjadi semangat para santriwati jika dia mengajar di dalam kelas. "Iya Ustadz." 


Ustadz Afif berjalan menghampiri Rasidha, kini posisi mereka berhadapan dan dibatasi oleh meja. "Apa kamu tahu mengapa aku memintamu untuk datang ke ruanganku?" 


Dengan cepat Rasidha menggelengkan kepala sembari menundukkan pandangannya. Tidak mau menebak apa yang membuatnya bisa datang ke ruangan kerja dari ustadz Afif.


"Aku ingin mendengar jawabanmu secara langsung, bukankah kita saling mengenal dan waktu ta'aruf juga sudah selesai."


Rasidha menelan saliva dengan susah payah, seakan tersangkut di tenggorokannya. Dia sangat gugup dengan jawaban apa yang harus diberikan, mengingat keluarganya menyambut hubungan itu dengan sangat baik dan ditambah lagi calon suaminya merupakan orang yang juga dikenal oleh ayahnya.


"Kamu selalu gugup setiap kali aku membahas masalah ini, jadi bagaimana?" 


"Karena kamu lah orangnya."


"Apa maksud Ustadz?" Rasidha menyerngitkan dahi, dia sangat penasaran mengapa pria tampan di hadapannya berkata seolah mereka telah bertemu sebelumnya.


Dengan cepat ustadz Afif menganggukkan kepala, seakan dia memahami apa yang dipikirkan oleh gadis di hadapannya. "Aku sudah menyelidikinya, ternyata kamulah gadis kecil itu yang sudah menyelamatkan aku di saat hampir saja tertabrak mobil."


"Jadi ustadz orangnya?" Rasidha mengingat saat itu dia menolong seorang anak kecil yang berusia tiga tahun di atasnya hampir saja tertabrak mobil, bahkan sikunya berdarah dan membuatnya berlari tanpa menoleh pada anak laki-laki yang ditolongnya.


"Ya, akulah orangnya. Mengapa saat itu kamu lari?"


"Karena aku takut melihat darah, itu sebabnya aku lari." Sahut Rasidha yang sedikit mulai terbuka.


"Semenjak hari itu aku mencarimu, dan ternyata kamu cucu dari kyai Baharuddin."

__ADS_1


"Lalu? Kejadian itu sudah sangat lama, dan hampir saja melupakannya. Jangan membahas masa lalu, tapi masa sekarang."


"Aku mencintaimu karena Allah, berikan aku kesempatan untuk membuktikannya." Ucap ustadz Afif yang begitu serius, karena sebentar lagi masa mengajarnya akan selesai.


Rasidha hanya terdiam, dia tidak tahu apa yang akan dijawab olehnya. "Pembahasan ini sepertinya terungkit begitu jauh, aku permisi dulu Ustadz." 


"Tiga hari lagi, aku akan pergi ke Istanbul dan melanjutkan studi di sana. Jika kamu mengatakan "ya", maka kita akan menikah dan aku membawamu ikut bersama. Aku juga memberikan kebebasan untuk melanjutkan studi."


Langkah Rasidha berhenti dan menoleh sepersekian detik, dia merasa tawaran itu menarik. Mengenai pernikahan yang hanya terjadi sekali seumur hidup, tentu membutuhkan waktu yang pas dalam menentukan masa depan dengan memulainya. "Berapa lama Ustadz studi di Istanbul?" 


"Hanya satu tahun, aku berusaha agar cepat selesai."


"Maafkan aku yang tidak bisa memberikan jawabannya dalam waktu tiga hari."


"Cinta bisa datang sendirinya setelah hidup bersama." Ustadz Afif tatp keukeuh dengan keputusannya yang ingin menikahi Rasidha, apalagi gadis kecil yang menyelamatkannya juga gadis yang sama.


Rasidha menghirup oksigen sedalam mungkin, dan mengeluarkannya secara perlahan. Dia terdiam sambil memikirkan jawaban apa yang akan diberikan kepada ustadz Afif. Dia juga tidak bisa mengecewakan keluarga dari pamannya dan juga ayahnya, yang begitu mendukung perjodohan itu. Jika keluarga nya merasa pilihan dari mereka itu hal yang terbaik, maka apa salahnya dia untuk mencoba menerima kenyataan yang ada.


"Jika kedua orang tuaku dan juga keluarga dari pamanku menerima perjodohan itu dengan sangat baik, aku sangat yakin jika mereka memilih seorang pria yang terbaik." Batin Rasidha.


"Jadi bagaimana jawabanmu?" tanya ustadz Afif yang menatap melekat ke arah Rasidha untuk beberapa saat, dan kemudian menunjukkan pandangannya. 


Rasidha mengucapkan basmallah sebelum memberikan jawabannya. "Saya menerima lamaran itu, tetapi tidak ingin menikah dalam waktu tiga hari." Hal itu menurutnya terlalu cepat dan membutuhkan waktu.


Seketika ustadz Afif tersenyum mendengar perkataan dari Rasidha yang menerima lamarannya. "Aku senang dengan jawaban yang sesuai dengan keinginanku. Aku akan mengatakan kepada keluargaku dan mengatur segalanya."


"Baik, Ustadz. Aku memang menerima lamaran itu, tetapi tidak bisa menikah hanya dalam waktu tiga hari."


"Tidak masalah, aku akan menyelesaikan studi di Istanbul. Setelah satu tahun selesai, maka aku akan menikahimu." Ustadz Afif tidak bisa memaksa Rasidha untuk menikah dalam waktu tiga hari, tetapi dia juga tidak bisa menunda untuk pergi menyelesaikan studi di Istanbul. Tidak ada pilihan lain, selain menunggu selama satu tahun, dia berharap jika gadis yang ada di hadapannya itu hanya akan menjadi miliknya. 

__ADS_1


__ADS_2