
Di sepanjang perjalanan, Rasidha terus saja berdoa kepada sang pencipta seluruh alam, tak lupa berdzikir menyebut nama Tuhan yang esa dengan segenap jiwa dan juga raga nya. Tetesan air mata yang terus mengalir, berdoa untuk meminta kesembuhan sang ayah. Sebagai anak dia sangat menyesal memperlakukan hal yang buruk, bahkan dia juga merasa tak berguna.
Ayna menggenggam tangan sang kakak sepupu untuk memberikan kekuatan, bahwasanya semua akan berjalan dengan sangat baik.
Doni menambah kecepatan laju kendaraan mobilnya, dia sangat mencemaskan Suci yang sangat rapuh. Tapi dia lupa sedang membawa keponakan, anak, dan juga istri. "Abi, pelan-pelan bawa mobilnya." Ucap Aisyah yang memperingatkan suaminya.
"Maaf, Mi. Tapi aku sangat khawatir dengan keadaan Zaid dan juga Suci."
"Kita akan selalu berdoa kepada Allah untuk kesembuhan Zaid."
"Iya Umi." Sahut Doni yang menganggukkan kepala, mengurangi kecepatan dan lebih memilih keselamatan keluarganya.
Sesampainya di rumah sakit, Rasidha berlari dan menghamburkan pelukannya pada wanita yang masih cantik di usianya sekarang. Wanita yang sangat luar biasa, ibu yang sangat baik dalam mendidik anak-anaknya, ibu yang terlihat kuat. Tapi, semua itu berbanding terbalik. Suci sangat rapuh dan menangis dalam pelukan putrinya.
"Maafkan aku, Bu. Tidak ada secuilpun untuk melukai perasaan ayah hingga masuk ke rumah sakit. Hukumlah aku yang bersalah, sebagai anak yang tidak tahu diuntung sepertiku." Rasidha menenggelamkan wajahnya, air mata yang terus menetes hingga membasahi bahu sang ibu.
"Tidak Sayang, kondisi ayah drop, saat merasa menyesal dengan kekejamannya dulu. Jangan hubungkan itu dengan denganmu." Suci mencoba untuk menghibur anaknya, tidak ingin Rasidha juga bernasib sama dengan suaminya.
__ADS_1
"Jangan mencoba untuk menghiburku, Bu. Umurku sudah dua puluh dua tahun dan sudah memahami segalanya."
Azzam sangat sedih dengan kondisi ayahnya dan berlari memeluk Doni. "Apa ayahku baik-baik saja, Paman?"
"Tentu saja, Allah senantiasa menjaga hambanya. Kita serahkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala." Balas Doni yang memeluk keponakannya, memberikan kekuatan kepada keluarga adiknya yang tertimpa musibah.
Semua orang sangat cemas dengan kondisi Zaid yang masih diperiksa oleh dokter, mereka mengharapkan jika kondisi pria bermata biru baik-baik saja.
Rasidha segera berpamitan kepada semua orang, menuju mushola yang tak berada jauh dari bangsal sang ayah yang dirawat. "Aku pergi dulu, panggil aku jika ayah sudah sadar."
"Kak, aku ikut." Ayna segera mengejar Rasidha yang baru beberapa melangkah, sedangkan Azzam dan Doni memutuskan untuk duduk di kursi tunggu keluarga pasien. Suci dibantu oleh Aisyah dan memberikan semangat juga diselingi dengan doa keselamatan suami dari adik iparnya.
Kali ini rasyida hanya membawakan dua rakaat saja, menandakan tangan dan memohon kepada Tuhan yang maha esa. Memberi tempat layaknya di sisi Allah subhanahu wa ta'ala untuk orang tua kandungnya, dan juga kedua orang tua angkat terutama ayahnya yang berada di atas brankar rumah sakit yang sedang ditangani oleh dokter. Dengan lindungan air mata yang menumpuk di pelupuk mata menetes dengan sendirinya tanpa bisa dicegah, rasa bersalah sebagai seorang anak dan juga dikuasai oleh ego yang tinggi. "Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah kesembuhan kepada ayahku dan berikanlah kesempatan untuk ku meminta maaf. Ampunilah segala dosa-dosaku, yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar." Ucapnya di dalam hati, dan juga bersungguh-sungguh seraya menyeka air mata.
Ayna langsung memeluk tubuh Rasidha yang seakan tak sanggup menopang tubuh. "Kak, kendalikan dirimu. Percayakan semuanya kepada Allah, berserah diri dengan apa yang ditakdirkan yang sudah digaris di dalam hidup."
"Aku sedang mencoba untuk melakukannya sekarang, jangan sampai aku menjadi seorang anak yang penuh dengan penyesalan." Lirih Rasidha yang melanjutkan untuk menyebut nama-nama Tuhan dan juga berdzikir.
__ADS_1
"Ayna…Rasidha, ayo cepat!" ucap seseorang yang membuat kedua gadis itu berlari sebelum membuka mukenah, kabar yang diberikan oleh Aisyah yang membuat suasana semakin menegangkan.
Rasidha menghampiri suci dengan harapan yang begitu besar hanya ingin mendengar kabar baik dan tak sanggup dengan kabar buruk. "Apa Ayah sudah Siuman, Bu?"
"Alhamdulillah, dokter mengatakan jika ayah telah sadarkan diri dan memanggilmu untuk masuk ke dalam." Jawab Suci yang tersenyum bahagia, setidaknya tidak ada yang parah dan diduga karena terlalu banyak beban pikiran hingga membuatnya drop."
"Aku akan masuk ke dalam, dan memastikan kondisi ayah baik-baik saja." Rasidha mencoba untuk menguatkan dirinya, melawan semua keegoisan yang ada di hati. Langkah yang begitu pelan, dan masuk menatap seorang pria bermata biru yang sama persis dengan pria yang membunuh kedua orang tua kandungnya tepat di hadapan matanya saat berusia lima tahun. Linangan air mata yang tak sanggup dibendung kembali menetes, hingga membuat matanya bengkak.
Zaid juga menangis karena rasa bersalah kepada putri angkatnya, dan juga kesalahan di masa lalu yang membunuh begitu banyak orang yang tidak bersalah. Hatinya yang dulu tak bisa tersentuh dan juga terkenal kejam, begitu mudah luluh saat bertemu dengan Rasidha yang sekarang menjadi putrinya. "Mendekatlah kepada Ayah!" lirihnya dengan suara yang serak karena tangisan yang membuatnya begitu rapuh menatap mata gadis yang menghampirinya.
Rasidha menghampiri ayahnya, dan menangis melihat wajah yang pucat dan juga tak berdaya. Kali pertama dia melihat Zaid yang begitu lemah terbaring di atas brankar rumah sakit, dan masih sempat tersenyum ke arahnya.
"Wajah yang Ayah tutupi menggunakan sorban dan menyimpan rahasia selama belasan tahun, ketakutan yang begitu menjadi kenyataan. Ayah tahu, di saat itu tiba-tiba kamu memutuskan untuk pergi ke pesantren, aku sedikit curiga mengapa kamu memutuskan untuk pergi walau baru beberapa hari pulang dari Kairo. Ayah mencoba untuk mencari kebenaran karena mengetahui jika ada sesuatu yang tak beres dari anaknya, dan benar saja CCTV membuktikan segalanya Dan di saat itu kamu sedang mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu." Jelas Zaid yang mengungkap segalanya, hal itu semakin membuat Rasidha tertunduk malu karena perbuatannya yang lancang.
"Maafkan aku, Ayah. Andai saja aku tidak lewat di depan kamar Ayah dan juga Ibu, mungkin tidak akan mendengarkan kebenaran yang begitu pahit, dengan begitu hubungan kita masih harmonis seperti dulu."
"Cepat atau lambat kamu akan mengetahui kebenarannya, dan untuk itu Ayah meminta maaf yang sebesar-besarnya, mengenai masa lalu yang membuatmu begitu trauma." Zaid menyatukan kedua tangannya dengan begitu tulus dalam meminta maaf.
__ADS_1
"Apa yang Ayah katakan? Aku sudah memaafkan Ayah. Tapi, di saat itu posisiku masih belum bisa menerima keadaannya, apalagi kebencian. Tidak ada sedikitpun yang terpikirkan mengenai rasa benci itu. Bagaimana aku bisa melakukannya? Selama belasan tahun kalian merawatku dengan sangat baik dan penuh dengan cinta."
Akhirnya ayah dan anak itu tersenyum dan saling memaafkan, walau kebenaran itu terungkap dengan tidak semestinya, tetapi semua telah berjalan dengan sangat baik.