
Aku menahan nya dengan mengarahkan tanganku ke samping kepalaku, aku tidak kuat menahan tendangan nya hingga aku terpental.
"Wah, cuman segitu kemampuan mu!" Ledek nya dengan senyuman menyeringai mendekati ku.
Aku baru mengingat bahwa tubuh ini bukan tubuh ku, tapi bukan berarti aku bisa kalah dari mereka berlima kan.
Aku melihat nya mengeluarkan sebilah pisau dari belakang nya, ia ingin menakuti ku dengan pisau kecil itu.
Ia mulai mengayunkan pisau itu ke arah ku dengan mantap, sebelum pisau itu mendarat ke arah ku aku memegang pergelangan tangan nya dengan kuat.
Memelintir tangan nya, lalu ku kepalkan tangan ku dan mengarah kan ke wajah nya dengan penuh semangat.
Ia terbaring di hadapan ku dengan kesakitan, aku berjalan mengambil pisau yang semula ia pegang.
Aku mengikat rambut ku dan membuka jaket yang ku kenakan.
Aku mulai memasang kuda kuda di hadapan mereka dan mengarahkan pisau itu, Hendy melihat ku dengan wajah terkejut.
"Maju lah kalian semua! Dasar Brengsek!" Tantang Ku
"Emily" Ucap Hendy Pelan
Aku hanya melirik ke arah nya sebentar dan kembali menatap tajam ke empat lelaki yang masih berdiri di hadapan ku.
"Dasar! Wanita Gila! Serang dia!" Perintah Lelaki itu
Mereka berlari mengeroyokku dengan memegang sebuah pisau, mereka mulai menyerang ku bersamaan.
Untung saja aku pintar menghindari setiap serangan yang mereka lontarkan, aku sedikit kecapean menghadapi mereka dengan tubuh ini.
Aku harus cepat menyelesaikan perkelahian ini segera, kini giliran aku yang menyerang mereka.
Aku memainkan pisau ku dengan lihai hingga melukai mereka semua, tetapi lengan ku terkena pisau itu saat berusaha menghindar.
Mereka semua terbaring di Gang itu dengan luka yang cukup serius, aku mengambil tas dan jaket ku dan berjalan mendekati Hendy.
"Kau tidak apa apa?" Tanya Ku mengulurkan tangan hendak membatu nya berdiri
"Aku tidak apa apa, tetapi aku malah khawatir dengan mu. Tangan mu terluka" Ucap Nya berdiri dan memegang lengan ku
"Tenang saja, nanti juga sembuh" Tutur Ku
Ia mengajak sembari memegang tangan ku pergi dari gang itu meninggal kan ke lima orang itu, aku melihat nya membawa sebuah bingkisan ntah apa isinya.
Dan sepertinya bibir ku pecah akibat tendangan orang itu tadi, aku terus mengusap bibir ku yang mengeluarkan darah.
Ia mengikat luka ku dengan sebuah kain kecil agar tidak mengeluarkan darah terus menerus.
Ia menatap ku dengan sedikit senyuman yang tertera di sudut bibir nya, aku membalas tatapan nya sebentar lalu kembali membuang muka.
__ADS_1
Aku memberikan salep yang ku beli tadi untuk nya.
"Pakai ini! Untuk mengobati luka lebam di wajah mu" Pinta Ku memberinya salep itu
"Terima kasih, maafkan aku! gara gara aku, kamu ikut terkena masalah tadi" Ucap nya
"Tidak apa apa, sebaiknya kita pulang! aku ada janji dengan ibuku" Sambung Ku lalu berjalan perlahan
"Baiklah" Tutur nya berjalan di samping ku
Sorot lampu mobil menerangi kami dari kejauhan membuat aku menyipitkan mata.
Mobil yang semula melaju kencang itu kini berhenti perlahan di samping ku.
Seorang lelaki membuka pintu mobil dan berjalan ke arah ku.
"Emily! Apa yang terjadi! Siapa Lelaki ini?" Tanya Raja menghampiri ku dengan wajah khawatir
"Dia teman ku," Jawab ku memalingkan wajah tak ingin Raja melihat luka di bibirku, bisa bahaya jika ia memberi tahukan ibu
" Hemm, lalu kenapa anda sangat kacau begini? dan kenapa dengan tangan anda ini" Ucap nya dengan memegang lengan ku yang terluka
"Tidak apa apa ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh" Tutur Ku
"Heh, Baiklah kalau anda tidak mau memberi tahuku. Sebaiknya anda pulang karena nyonya telah menunggu anda" Ujar Nya
"Hen! Aku akan pulang, Ikut lah dengan ku! aku akan mengantarmu sampai rumah" Ajak Ku
"Terimakasih, Tapi! itu tidak perlu aku akan pulang sendiri" Tolak Nya
"Aku tidak yakin kamu akan langsung pulang, aku khawatir mereka akan mencari mu kembali" Ucap Ku
"Aku janji! aku akan langsung pulang tanpa singgah dimana mana" Kata Nya sambil mengangkat tangan dan dua jarinya membentuk Suer
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang, hati hatilah di jalan" Ucap ku membalikkan badan dan berjalan mendekati mobil
Aku terkejut saat ia menarik tangan ku, dan menaruh sebuah bingkisan di telapak tangan ku.
"Ambilah ini! anggap saja ini permintaan Maaf ku, karna gara gara aku Emily jadi begini" Ucap nya dengan Nada Sendu
Aku terdiam sejenak harus kah aku menerima pemberian nya atau tidak, aku merasa tidak enak jika di beri sesuatu kepada orang lain.
"Aku mohon terima lah" Pinta Nya memegang erat tangan ku dan memasang wajah memohon
Sekejap ia terlihat seperti anak kecil yang tengah meminta permen, sangat manis.
"Baiklah,aku menerima nya. Terimakasih" Ujar Ku mengambil bingkisan itu dan memasuki mobil
Raja masih berada di luar mobil, ia menatap Hendy dengan tatapan tajam seperti tengah mengintrogasi nya.
__ADS_1
"Jadilah anda lelaki yang lebih kuat lagi" Kata Raja lalu masuk ke dalam mobil dan melajukannya
Hendy melambaikan tangan ke arah ku, aku tersenyum membalas lambaian tangan nya.
Raja melajukan Mobil nya menuju rumah, tidak membicarakan apa pun semasa perjalanan kami.
Aku membuka bingkisan yang di berikan oleh Hendy, aku terbelalak melihat sebuah ponsel yang mahal dengan Case hello Kitty berwarna putih.
"Dia memberi mu ponsel?" Tanya Raja menatap ponsel yang ku genggam
"Seperti nya Begitu" Jawab Ku
"Padahal Nyonya berniat akan membelikan mu ponsel besok" Tutur Nya
"Begitu yah" Ucap Ku menyalahkan ponsel itu
Ponsel nya sangat cantik dengan hiasan Case ini, aku sangat menyukai nya tetapi apa yang bisa aku berikan kepadanya nanti yah.
Kami telah sampai di rumah, aku bergegas masuk ke dalam dan baru saja aku menginjak teras rumah Bi Asih dan pelayan yang lain heboh berlari mendekati ku.
"Non! Ada apa dengan Non?" Tanya Bi Asih
"Kenapa Non kacau begini? Siapa yang melakukan ini? Dan tangan Non, Hiks Hiks Hiks" Tanya mereka bersamaan dan satu pelayan menangis melihat ku
"Aku tidak apa apa, kalian tidak perlu khawatir begitu" Jawab Ku Memeluk salah satu pelayan yang tengah menangis itu.
"Hwaaaa, Apa Non memelukku barusan!" Teriak Nya kesenangan
"Mari Non! saya obati luka Non, habis itu Non ganti baju, karna malam ini Nyonya ingin bertemu anda di Restoran dekat sini" Ujar Pelayan itu
Aku duduk di kursi dan ia mengobati luka di lengan ku serta di bibir ku, ia mengoleskan kapas yang sudah di beri obat dengan hati hati.
"Tolong! jangan ada yang cerita tentang ini kepada ibu, aku tidak mau ibu khawatir" Pinta Ku kepada Bi Asih dan pelayan yang lain
"Baik Non" Ucap mereka serentak
Selesai mengobati ku, pelayan itu membantu ku mengganti pakaian.
Aku meminta pakaian yang bisa menutupi luka di lengan ku, agar ibu tidak melihat nya. Selesai mengganti baju dan menata rambut ku kini aku siap untuk menemui ibu.
Aku menuruni anak tangga satu persatu dengan perlahan lahan, semua mata menuju ke arah ku dengan wajah terkejut.
"Wah, Non cantik sekali" Puji salah satu pelayan dan di sambung anggukan pelayan lain
Aku melirik ke arah Raja, yang tengah bengong memperhatikan ku dengan wajah merah merona.
Ia menyadari aku tengah memperhatikan nya, ia mengalihkan pandangan ke tempat lain.
" Sebaiknya kita berangkat sekarang" Ajak Nya sambil menutup matanya dengan satu tangan
__ADS_1