
Gery dan teman teman nya datang dan berdiri di samping Megan, tatapan mereka semua mengarah kepadaku.
Entah apa yang mereka rencanakan, seperti akan ada permainan yang menantang terlihat .
Tatapan Gery membuat ku kesal, ingin rasanya aku menimpuk nya dengan sepatu ku tapi tanggung juga jika dia hanya meringis saja.
Aku ingin nya ia benar-benar kesakitan, aku rasanya geram sekali melihat wajah nya seandainya aku Vampir mungkin orang yang pertama ku makan adalah dia.
"Eh kamu, Sini! Lawan aku," Ucap Megan menunjuk ku
Lah? Kok langsung main lawan melawan yah! Bukannya di ajari latihan dasar nya terlebih dulu yah.
Gerakan gerakan awalnya, seperti nya dia memang sengaja mencari masalah tapi tidak masalah aku akan melayani nya.
"Biar saya saja!" Tawar Vin menaikkan tangan kanan nya dan tahan kirinya memegang tangan ku
"Hah? Yang aku panggil dia bukan kamu!" Tutur Megan dengan senyum sinis
"Tidak apa apa Vin, biar aku saja" Ucapku mengangguk kan kepala ku dan melepas kan tangan nya dari ku.
"Hati hati Non!" Kata Raja
Aku menatap Megan dengan tatapan tajam, aku berdiri tegak di tengah lapangan tepat di depan nya.
Megan memasang kuda kuda dengan mantap, menunjukkan bahwa ia merasa yakin dengan kemampuannya.
Kami saling berhadapan siap untuk pertarungan yang mendebarkan ini, aku tersenyum sebelum melancarkan serangan-serangan pertamaku.
Aku berniat menyerang nya terlebih dulu, tetapi dia sudah bergerak memulai serangan nya.
Megan melepaskan tendangan kuat ke arah ku, namun dengan refleks yang cepat, aku menghindar dengan lincah.
Aku kemudian membalas serangan dengan dengan kecepatan kilat, mengejutkan Megan dengan pukulan yang presisi.
Hingga pertarungan semakin memanas di lapangan sekolah tersebut.
Megan mengerahkan serangan bertubi-tubi, tapi aku menghindari nya dengan lincah menahan serangan dan menyerang balik dengan pukulan yang cepat dan kuat.
Pertarungan semakin intens, kepercayaan diriku terpancar dengan gemilang.
Aku menggunakan teknik serangan yang tak terbaca, mengarahkan tendangan ke kaki Megan dan kemudian mengarahkan tendangan ke wajah Megan.
Megan terkejut dan terhempas ke belakang, merasakan tendangan dahsyat dariku.
Megan memegangi hidung nya yang terluka akibat tendangan ku itu, wajah nya tampak kesakitan.
__ADS_1
"Wow, Emily! Kamu hebat sekali. Aku sangat salah menilai mu," Ucap Gery berjalan dengan santai ke arah ku.
Aku terdiam dan menatap nya tajam, bisa saja dia hanya mengecohku dengan perkataan nya itu.
"Kamu bisa mengalahkan Megan, tapi tidak dengan ku!" Kata Gery berlari dan menyerang ku.
Aku dengan cekatan menghadapi Gery, meski aku terkejut dengan serangan nya tetapi aku dengan tenang membela diri.
Pertarungan antara aku dan Gery menyambut sorakan dari teman teman yang tengah menonton kami bertarung.
Saat Gery hendak memukul wajah ku, aku melompat mundur untuk menghindari serangannya.
Lalu aku menangkap tangannya dengan cepat dan memutar tubuhnya, Gery terjatuh dengan canggung ke tanah.
"Apa apaan ini!" Ucap Megan dengan mengepalkan tangannya menatap ku
"Kalian yang memulai duluan, bukankah ini hanya latihan! Tapi kalian sengaja ingin menghajar ku. Aku tidak akan diam saja kan," Kata Ku menaikkan kening.
Dari raut wajah Megan seperti nya ia tidak Terima dengan kekalahan nya, mata nya penuh emosi yang menggelegar.
Megan berlari menyerang ku kembali dengan penuh emosi, aku dengan ketangguhan menghindari serangan Megan dan menendang nya dengan cepat.
Megan terjatuh, merasakan sakit untuk kedua kalinya dariku.
"Hentikan!" Perintah Pak Guru mendekati kami
"Apa apaan kalian ini! Bukannya latihan malah berkelahi beneran," Lanjut Pak guru memarahi kami
Aku hanya diam sambil berdiri tegak menatap Pak guru yang tengah mengomeli kami, seharusnya kan yang dimarahi Megan dan Gery saja.
Soalnya kan mereka yang mencari masalah duluan, aku hanya membela diri.
"Latihan dengan baik, kalau bapak lihat lagi perkelahian seperti ini! Satu kelas bapak Hukum," Ancam Pak Guru sambil berjalan meninggalkan kami.
Aku menatap Megan dan Gery yang tengah berdiri menundukkan kepalanya sejak tadi.
"Sudah selesai?" Tanya Ku dengan menaikkan kening ku
Aku berjalan kembali ke tempat ku tadi bersama Erika dan yang lainnya, Gery dan Megan terus menatap ku dengan mata yang sudah hampir terbakar itu.
Setelah selesai latihan, kami kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran kedua.
Aku duduk di kursi ku menatap kosong papan tulis, aku terus kepikiran Rani! Rasanya aku ingin segera mencari nya.
Aku sangat ingin tau keadaan ku sekarang dan juga nenek, apakah nenek selamat saat itu atau tidak.
__ADS_1
Lamunanku buyar saat seseorang menjatuhkan buku di meja ku dengan sengaja.
Aku melihat seseorang yang berada di hadapan ku itu tengah melipat tangannya di depan.
"Elina!" Ucapku terkejut.
Mengapa ia ada di sekolah sini? Bukankah dia tidak bersekolah disini, apa dia sengaja pindah untuk mengacaukan ku?.
"Halo ka, kita ketemu lagi! Ternyata sekolah Kaka besar juga yah!" Tutur Elina dengan melirik kesana kemari.
"Kaka tidak perlu kaget, aku pindah kesini untuk menjaga Kaka" Ujar Elina dengan senyuman licik
"Atau mengganggu Kaka, membuat Kaka tidak tenang! Itu sangat menyenangkan bukan?" Bisik Elina dengan tertawa kecil.
"Keluar lah dari kelas ku, aku malas meladeni bocah ingusan seperti mu!" Usir Ku menggerakkan kepala ku ke samping.
"Aku akan memperlihatkan kepada kaka, siapa sebenarnya yang bocah ingusan!" Tutur Elina mencengkeram tangan ku.
"Hey! Singkirkan tangan mu darinya, aku bisa melaporkan perbuatan mu ini kepada pak Guru" Ancam Bray memegang tangan Elina.
Sedangkan Vin dan Raja berada di samping Bray, mempertontonkan tatapan tajam mereka kepada Elina.
Elina segera melepaskan tangan nya dariku, ia mengambil kembali buku nya yang berada di meja ku.
"Lepaskan tanganku, sialan!" Kata Elina menepis kan tangan Bray
Elina pergi meninggalkan kelas ku dengan tatapan kesal, tatapan yang penuh dendam kepada ku.
Padahal dia terus duluan yang mengusikku, seandainya ia berbuat baik kepadaku, tidak mungkin aku akan menjahatinya.
"Kamu mencoba menjadi pahlawan kesiangan yah!" Ucap Vin kembali duduk di samping ku.
Bray tidak menanggapi omongan Vin itu, ia kembali duduk di kursi nya.
Berhubung Erika sudah masuk sekolah kembali, jadi aku, Vin dan Erika duduk bertiga di satu meja.
"Emily, anak baru itu, kamu mengenal nya?" Tanya Erika menatap ku
"Iya" singkat ku
"Kamu tau, dia adik kelas kita loh! Kalau gak salah sih," Ucap Nya
"Oh" singkat ku lagi
"Coba jawabnya yang panjangan dikit supaya enak di dengar" Cetus Erika dengan membulat kan mata malas.
__ADS_1