
Hampir sejam aku menghiasi wajah ku, tetapi bukannya terlihat cantik malah jadi seperti badut jalanan.
Aku terus mengulang terus menerus tetapi jadinya selalu buruk, hingga aku memanggil Bi Asih untuk membantu ku.
Tetapi Bibi malah menertawakan wajah ku, membuat ku tambah kesal saja.
"Non! Kenapa dengan wajah non?" Tanya Bi Asih dengan menahan tawa nya lagi
"Bibiii! Aku tadi mau merias wajah ku, karna malam ini aku mau ke ulang tahun teman ku. Tapi malah jadi badut begini" Jawab Ku Dengan cemberut
"Kenapa tidak memanggil bibi saja Non" Ucapnya
"Aku mau belajar make up, Bi!" Kata ku mengambil Tisu
"Sini biar bibi bantuin" Tawar Bibi membantu ku menghapus make up ku yang seperti badut itu
Bibi merias ku sambil mengajari ku cara cara nya, dari menggunakan pelembab, dan lain lain.
Setelah selesai merias ku bibi keluar untuk memanggil pelayan yang lain, hingga mereka berdatangan ke kamar ku.
Membantu bibi merapikan rambut ku, dan mencari gaun yang bagus agar kelihatan menawan.
Aku duduk dengan santai di depan meja rias ku, memandangi mereka yang tengah sibuk mencari gaun.
"Non! Pilih salah satu dari gaun ini!" Pinta Bi Asih mengangkat kedua gaun yang berwarna biru dan putih
"Warna putih, Bi!" Ucapku
Hingga bibi memisahkan baju itu,lalu mereka merapikan lagi semula.
Aku memakai gaun yang ku pilih tadi, dan memperlihatkan kepada Bibi.
"Cantik!" Kata mereka serentak
"Tinggal, menata rambut" Tutur Bibi memegang sisir
Setelah selesai, aku berjalan menuruni tangga dengan langkah anggun menuju Vin dan Raja yang sudah menunggu ku.
Aku berdiri di hadapan mereka dengan tersenyum lebar, sedangkan mereka tengah menatap ku tanpa berkedip.
"Luar biasa" Ucap Vin dengan menggeleng kan kepala nya
"Anda sangat cantik malam ini Nona!"ujar Raja mengulurkan tangannya
"Singkirkan tanganmu "pinta Vin dengan menatap Raja dengan tatapan tajam
"Apa masalahmu! "Tutur Raja
"Sudah sudah, jangan bertengkar! Ayo berangkat "ajakku
__ADS_1
Dalam perjalanan Vin terus menatapku dalam diam, aku tersenyum dan membalas tatapan Vin dengan pandangan tajam membuat Vin tersipu malu.
Wajah Vin memerah dan ia berusaha menyembunyikan wajahnya di balik ponselnya, aku hanya tersenyum puas dan kembali menatap keluar jendela.
Angin Malam menghembus masuk ke dalam mobil dan menghentak lembut rambutku, sementara itu Vin masih terus menutup wajah nya.
Raja membelokkan mobil dengan mendadak, membuat aku terhuyung. Hingga wajah ku bertemu dengan wajah Vin begitu dekat.
Mata ku melotot menatap nya, sedangkan Vin wajah nya merah merona.
Dengan refleks yang cepat aku kembali ke tempat dudukku dengan tersenyum malu.
"Maaf! Non! Ada lubang tadi " Ucap Raja
Aku melirik nya dan menggangguk lalu kembali menatap keluar jendela, ada lubang atau dia memang sengaja membuat kejadian seperti itu.
Vin mendekati ku dengan senyum lembut membuat ku mengerutkan kening, ia semakin mendekat yang aku pikir Vin hendak memelukku tetapi ternyata ia memasang kan sabuk pengaman.
Aku memalingkan wajah ku darinya, merasa malu dengan pikiranku sendiri sambil menepuk nepuk dahiku.
Mobil kami berhenti di rumah yang ramai, kami turun dan berjalan masuk tetapi sebelum itu kami menunjukkan undangan kami kepada dua penjaga di depan pintu.
Kami masuk dan bergabung dengan kerumunan di dalam, meriah nya pesta dan suara musik terdengar di udara.
Aku mengambil minuman yang tidak ber'alkohol, karena kebanyakan di meja mereka menyediakan minuman memabukkan.
Sorot mata penuh kekaguman, suara musik yang menghentak membuat suasana semakin meriah.
Raja mendekati ku dan mengulurkan tangan nya dengan senyuman khasnya.
"Mari berdansa Nona!" Ajak Raja
"Dengan senang hati" Ucapku menerima uluran tangan nya
Kami mulai berdansa dengan mengikuti irama musik yang merdu, aku terbawa oleh irama nya hingga tak sadar sudah di ujung musiknya.
"Dansa pertama sudah selesai Nona!" Ucap Raja
"Benarkah? Aku tidak menyadari nya" Ujar Ku
"Anda menghayati sekali irama musik nya" Kata nya dengan tertawa
Aku berjalan kembali ke tempat ku tadi, dan melihat Vin menatap Raja dengan kesal sangat terlihat di wajahnya.
Seperti nya akan ada perdebatan lagi di antara dua orang ini, lama kelamaan kepalaku bisa pecah.
"Kamu mengambil dansa pertamanya!" Kesal Vin menatap Raja
"Siapa cepat dia dapat!" Ucap Raja menaikkan keningnya
__ADS_1
"Seharusnya aku duluan" Tutur Vin berdiri tegak di depan Raja
"Berhenti lah berdebat, tidak enak di liat teman teman! Jangan membuat masalah disini" Pinta Ku
"Kalian seperti anak kucing yang tengah memperebutkan makanan saja"Lanjutku
Aku kembali menatap teman teman yang sedang bercerita dan tertawa kecil, hingga pandanganku berhenti di pintu.
Ada dua orang yang tengah menatap ku dari pintu itu, seperti nya mereka bukan orang orang yang di undang.
Hingga orang itu mengangguk ke arah ku, aku tidak tau arti anggukan nya tetapi aku berniat menghampiri nya.
Aku harus mencari alasan terlebih dahulu kepada Vin dan Raja agar mereka tidak mencurigaiku dan mengikuti ku.
"Mau kemana Non?" Tanya Raja menatap ku
"Aku mau ke kamar mandi" Jawab Ku
"Oh baiklah" Ucap Raja
Aku segera berjalan dan menemui orang orang itu, aku penasaran kenapa mereka memperhatikan ku.
"Siapa kalian?" Tanya Ku mendekati mereka
"Bisakah Anda ikut bersama kami?" Tanya nya balik
"Kami di perintahkan untuk membawa anda ke hadapan bos kami!" Sambung lelaki itu
Bos mereka? Siapa? Kenapa sampai menyuruh mereka untuk membawa ku kehadapan nya, haruskah aku ikut atau tidak?.
Jangan sampai ini hanya jebakan seperti saat Hendy di Sandra itu, tapi kalau aku menolak apakah mereka akan menghargai nya.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" Tanya Ku
"Mau tidak mau, anda harus ikut bersama kami" Jawab Nya
"Hemm, baiklah! Ayo jalan!" Ucapku
Mereka membiarkan ku jalan duluan dan mereka mengawalku dari belakang, aku berjalan keluar dari rumah teman ku itu.
Dan ternyata bukan hanya dua orang yang datang untuk menjemput ku, di luar rumah itu sudah ada beberapa orang yang menunggu dengan tiga mobil.
Siapa sebenarnya bos mereka ini, dan apa keperluan nya memanggil ku untuk bertemu dengan nya.
Aku berharap dia bukan orang jahat, karena aku cukup tenang dengan tidak adanya masalah yang muncul.
Aku lelah juga jika harus berkelahi terus menerus, tapi yasudah lah terima saja dengan lapang dada apapun yang terjadi nanti.
Sudah pasti jika aku menolak tadi, pasti akan terjadi kekacauan di pesta itu.
__ADS_1