
"Mau apa lagi sih mereka kemari!" Tutur Erika melirik ke pintu kelas
Megan dan rekan rekan nya tengah berdiri di ambang pintu, menatap ku sejenak lalu mereka berjalan ke arah ku.
Kenapa sih mereka tidak ada henti-hentinya mengganggu ku, apa tadi tidak cukup mereka ku buat babak belur.
Apa mau menambah yang lebih parah lagi, untung saja tadi ada pak guru kalau tidak, mungkin aku sudah memberi Megan pelajaran yang takkan ia lupakan seumur hidup.
Megan berdiri dengan melipat kan tangan nya di depan, menatap ku dengan memiringkan senyuman nya.
Aku hanya membalas dengan muka datar, tidak terlalu merespon keberadaan nya.
"Ku akui kamu jago, tapi suatu hari nanti aku pasti akan mengalahkan mu!" Ucap Megan dengan tersenyum licik.
"Hem! Jangan terlalu berharap, bisa saja ucapan mu itu menjadi terbalik." Kata Ku menampakkan senyuman Menyeringai
Megan meletakkan kedua tangan nya di meja ku, ia membungkuk kan tubuh nya hingga wajah nya berada di depan ku.
"Itu tidak mungkin terjadi, karna aku lah yang paling kuat!" Bantah Nya menatap tajam diriku
"Pfffft, hahaha! Lucu sekali," Kata Ku menertawakan nya.
Ekspresi wajah nya berubah menjadi serius, menatap ku dengan tatapan mengerikan mungkin ia akan mengeluarkan tanduk nya di hadapan ku.
"Pergilah, kedatangan mu hanya mengotori mataku!" Usir Ku
Erika tertawa kecil mendengar perkataan ku itu, hingga teman teman sekelas ku mengusir Megan dan rekan rekan nya itu dengan melempar kan bola bola kertas ke arah mereka.
"Awas aja kalian semua!" Ancam Megan lalu meninggalkan kelas kami
Kenapa sih tatapan Gery selalu membuat ku kesal, ingin rasanya aku menjotos wajah nya itu.
Wajah yang selalu menatap ku dengan menjengkelkan, apalagi saat ia tersenyum memamerkan senyumnya yang bahkan sangat tidak ku suka.
Gery berjalan mundur dengan tersenyum miring ke arah ku sembari menaikan kening nya terus.
Pelajaran terakhir pun berjalan dengan lancar, hingga waktunya untuk pulang sekolah.
Aku menunggu Vin dan juga Raja di gerbang sekolah, karena mereka tengah di panggil ke ruang guru.
Mereka rajin sekali di panggil keruang guru, padahal mereka tidak sedang membuat masalah.
"Halo ka!" Sapa Elina dengan mendorong ku hingga aku hampir jatuh.
"Lemah banget, gitu aja udah mau jatuh!" Ucap Elina berdiri di depan ku
Siswa siswa yang tengah menunggu jemputan mereka masing masing, semua menatap ke arah kami.
Aku hanya diam dan tidak menggubris nya, hingga sebuah mobil berhenti di hadapan kami.
__ADS_1
Paman Dillon turun dan menghampiri kami, ya sepertinya dia hendak menjemput Elina.
"Ayah!" Ucap Elina memeluk Paman Dillon
"Ayah, biarkan Kaka ikut pulang bersama kita!" Pinta Elina menatap ayah nya dengan senyuman.
Rencana jahat apalagi yang ia rencanakan untukku, dengan mengizinkan aku ikut bersamanya.
Aku melirik ke mobil paman Dillon, seperti ada seseorang di mobil itu.
Hingga kaca mobil turun dengan perlahan, menampakkan sosok lelaki dengan senyuman yang di buat buat.
Tangan ku seketika mengepal dengan sangat kuat, nafas ku memburu melihat lelaki yang berada di dalam mobil paman Dillon.
Sosok lelaki itu adalah orang yang merusak hidupku di masa lalu, hingga aku berada di tubuh Emily ini, itu semua gara gara dia.
Lelaki yang telah membunuh Nenek, dan juga aku, sekarang tengah duduk santai tanpa memikirkan dosa nya.
Lelaki itu mengerutkan keningnya saat melihat ku yang menatap nya dengan serius, aku hendak menghampiri nya untuk melampiaskan semua kemarahan ku kepadanya.
Tetapi seseorang menarik tangan ku, aku segera berbalik dengan tatapan yang masih menyimpan amarah.
"Sabarlah Non!" Ucap Raja
Aku tidak bisa sabar melihat lelaki yang telah membunuh ku dan juga nenek, santai santai di dalam mobil dengan tersenyum tanpa dosa ke arah ku.
"Mari Non!" Lanjut Raja menatap ku dengan mengangguk kepalanya.
Baiklah aku akan membiarkan nya untuk bersantai santai sekarang, aku juga tidak mungkin menyerang nya di tempat seramai ini.
Aku tidak mau membahayakan teman teman ku yang lain, aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan kasar.
Aku berjalan menuju mobil dengan mata yang masih menatap tajam lelaki itu, apa hubungan lelaki itu dengan paman Dillon mengapa ia bisa bersamanya.
Aku memasuki mobil dengan tangan yang masih mengepal, menahan emosi ku gara gara lelaki itu.
Kami meninggalkan sekolah dengan mobil yang melaju cukup kencang, angin menabrak wajah ku dengan kasar membuat mataku perih.
Aku menaikkan kaca mobil dan Kembali terdiam memikirkan lelaki itu, aku sangat tidak tenang begini.
Apalagi mengetahui bahwa dia sudah berada di sekitar ku, ini sudah kedua kali nya aku bertemu dengan nya.
Berarti saat di pasar malam itu, aku tidak salah liat dong! Itu benar benar dia.
Aku turun dari mobil dan masuk tanpa berbicara kepada Vin atau pun yang lain nya, aku menuju kamar ku.
Tapi saat hendak menutup pintu, sebuah tangan menahan pintu itu.
"Biarkan saya masuk!" Ucap Vin memunculkan wajah nya di balik pintu
__ADS_1
Aku membuka pintu dengan lebar, membiar kan nya masuk ke kamar ku.
Aku melemparkan tas ku ke kasur dan duduk di sofa dengan kasar, menatap langit langit kamar.
"Apakah kamu mengenal lelaki tadi? Kamu seperti sangat kesal saat melihat nya, bahkan kamu mengepal sangat kuat hingga tangan mu luka begini" Ucap Vin memegang tanganku
Aku terkejut melihat tangan ku terluka, aku sungguh tidak menyadari nya.
Aku terlalu marah hingga mengepalkan tangan sangat kuat, tak sadar bahwa kuku kuku ku menancap di telapak tangan ku.
Dan aku tidak mungkin memberitahu Vin bahwa aku mengenal lelaki itu sebagai pembunuh, aku ingin menceritakan semua nya kepada Vin tapi aku takut ia akan mengucilkan ku.
Pastinya dia akan menganggap semua itu hanya omong kosong, dan tidak mempercayai nya.
Aku akan cerita suatu saat nanti, di waktu yang tepat dan untuk sekarang aku akan menyimpan nya sendiri dulu.
"Aku tidak mengenal lelaki itu, hanya saja aku kesal dengan tatapannya!" Jawab Ku
"Apa kamu yakin tidak mengenal lelaki itu?" Tanya Vin lagi dengan menatapku tidak percaya sambil mengobati tangan ku.
"Aku sungguh tidak mengenal nya" Kata ku mencoba meyakinkan nya.
Vin mengangguk pelan dan kembali mengobati tangan ku, belum saatnya Vin mengetahui nya.
"Vin! Aku ingin menanyakan sesuatu," Ucapku
"Apa?" Tanya Vin
"Apa kamu melihat kotak itu saat kamu masuk kekamarku?" Tanya Ku balik
"Tidak, saya tidak melihat kotak itu! Memang nya kenapa?" Ujar Nya memberikan perban ke tangan ku
"Kotak Itu hilang!" Tutur Ku menatap nya
"Ohh" Singkat Vin
"Oh, doang!" Kata ku sambil memutar bola mata malas.
"Lalu saya harus bilang apa? Harus kaget dan loncat-loncat gitu!" Tanya Vin
"Sudah lah, keluar sana!" Ucapku menarik nya dan mendorong nya keluar dengan pelan.
"Saya akan pergi, tapi harus ada imbalan nya dong!" Kata Vin dengan tersenyum kecil
"Cium!" Pinta Vin menyodorkan Pipi nya
"Tidak mau," Ucapku mendorong wajahnya lalu menutup pintu dengan cepat.
"Saya akan menagihnya nanti!" Teriak Vin dari luar
__ADS_1