
"kau terlihat membela dia, kenapa kau tidak menikah saja dengan dia." kata IRO.
"kalau bisa mungkin aku akan mencoba nya tapi yang jadi masalah kepala akademi kita itu wanita bukan pria." kata Vie.
"padahal dari yang kau katakan tadi dia seperti pria apalagi caramu menceritakan nya seperti kau mencintainya." kata IRO.
"aku hanya mengagumi dia saja tidak lebih dari itu, daripada itu kau berhati hati saja terhadapnya karena dia bisa mengetahui apa isi pikiran mu." kata Vie.
"apa dia seorang cenayang sehingga dapat membaca pikiran ku lagipula dia tidak akan bisa membaca pikiran ku." kata IRO.
"sombong saja Sekarang kalau kau mengatakan ini didepannya pasti nyawamu akan dalam bahaya." kata Vie.
"owh begitu kah biar kau tau saja raja iblis sekalipun tidak akan bisa membuat nyawaku dalam bahaya." kata IRO.
"jangan mengucapkan nama itu lagi dia sangat membuat ku muak andaikan saja ada orang yang sangat kuat." kata Vie.
"setelah kau mendapat orang yang kuat kau mau apa?" kata IRO.
"tentu saja meminta tolong padanya untuk membebaskan murid dan pahlawan dari raja iblis." kata Vie.
"apa untungnya orang kuat itu membantu mu, tanpa imbalan tidak mungkin dia mau membantu mu apa lagi lawannya raja iblis." kata IRO.
"kalau dia mau uang pasti akan kuberikan sekitar 5000 atau 6000 koin emas aku masih punya." kata Vie.
"tentu saja orang kuat itu tidak akan mau diakan mempertaruhkan nyawanya, sedangkan koin emas bukanlah sesuatu yang bisa di bawa mati." kata IRO.
"makan malam sudah siap kalian berdua jangan berbicara lagi dan segera makan." kata Veny sambil menyiapkan piring.
mereka bertiga pun makan dengan lahap, IRO dan Vie selalu tambah itu membuat hati mereka terasa senang.
"perut kenyang hati pun senang." kata IRO karena sudah selesai makan sampai kenyang.
setelah selesai makan malam IRO tidur di sofa sedangkan Vie dan Veny tidur di ranjang. IRO berangan angan dan masih belum tidur, saat menutup matanya Mei langsung datang dalam mimpi nya.
"lama tidak bertemu tuan tukang banyak wanita, sepertinya harimu bertambah indah karena kedatangan satu wanita cantik lagi." kata Mei sambil kelihatan kesal.
"awalnya dia guruku tapi sekarang sudah seperti teman biasa, apa maksudmu hariku bertambah indah." kata IRO.
__ADS_1
"buktinya kau makan dengan lahap sampai tambah beberapa kali, padahal sebelumnya kau cuma makan sepiring saja." kata Mei.
"ternyata kau masih menguntit ku ya, sampai hal sedetail itupun kau ketahui dasar tukang penguntit." kata IRO sambil tertawa.
"hmm, aku hanya melihat orang yang kucintai saja apakah dia ingat waktu makannya atau tidak." kata Mei sambil tertawa lagi.
"hehehe aku bukan anak kecil jadi jangan menguntit ku lagi, aku mulai mengantuk tetapi tidak ingin tidur." kata IRO sambil menguap.
"kalau kau mau aku bisa menceritakan mu sebuah cerita dongeng, dengan begitu kau mungkin bisa tertidur." kata Mei.
"walau aku tidak anak kecil lagi tapi mendengar dongeng bukan hal yang buruk, kalau begitu ceritakan saja aku akan mendengar nya." kata IRO.
"baiklah pertama berbaring lah di pangkuan ku, aku akan mulai menceritakan sebuah dongeng." kata Mei.
IRO berbaring dan Mei mulai bercerita.
Mei bercerita, Suatu ketika terdapat sebuah kerajaan yang diperitah seorang raja yang bijaksana. Namanya Raja Henry. Raja Henry yang telah tua itu ingin segera turun takhta.
Raja Henry memiliki seorang anak bernama Pangeran Arthur. Putra mahkota itu baik hati, bertanggung jawab, serta bijaksana. Ia juga dekat dengan rakyat. Itu sebabnya ia sangat cocok untuk memerintah kerajaan itu. Tetapi sayangnya ia belum beristeri. Padahal salah satu syarat untuk menjadi raja di kerajaan itu, pangeran harus memiliki isteri.
Kesibukan di istana pun dimulai. Seluruh anggota kerajaan sibuk mencarikan wanita yang cocok untuk Pangeran. Tapi, tak satu pun wanita yang dapat membuat Pangeran Arthur jatuh cinta. Selalu saja ada kekurangannya di mata Pangeran Arthur.
“Selamat pagi Pangeran Arthur!” sapa sang pengembara.
“Selamat pagi. Siapakah kau?” tanya Pangeran Arthur.
“Aku pengembara biasa. Namaku Theo. Kudengar, Pangeran sedang bingung memilih calon isteri?” tanya Theo.
“Ya, aku bingung sekali. Semua wanita yang dikenalkan padaku, tidak ada yang menarik hati. Ada yang cantik, tapi berkulit hitam. Ada yang putih, tetapi bertubuh pendek. Ada yang bertubuh semampai, berwajah cantik, tetapi tidak bisa membaca. Aduuh!” keluh Pangeran dengan wajah bingung.
“Hmm, bagaimana kalau kuajak Pangeran berjalan-jalan sebentar. Siapa tahu di perjalanan nanti Pangeran bisa menemukan jalan keluar,” ajak Theo sambil memandang wajah Pangeran yang tampak letih.
“Ooh, baiklah,” jawab Pangeran sambil melangkah. Mereka berdua lalu berjalan-jalan ke luar istana.
Theo mengajak Pangeran ke daerah pantai. Disana mereka berbincang-bincang dengan seorang nelayan. Tak lama kemudian nelayan itu mengajak pangeran dan Theo ke rumahnya.
“Isteriku sedang memasak ikan bakar yang lezat. Pasti Pangeran menyukainya,” ujar si nelayan.
__ADS_1
Setibanya di rumah nelayan, terciumlah aroma ikan bakar yang sangat lezat. Mereka duduk di teras rumah nelayan itu. Tak lama kemudian keluarlah istri nelayan menghidangkan ikan bakar.
Istri nelayan itu bertubuh pendek. Ketika sang istri masuk ke dalam, Theo bertanya, “Wahai Nelayan! Mengapa engkau memilih istri yang bertubuh pendek?”
Nelayan itu tersenyum lalu menjawab, “Aku mencintainya. Lagipula, walau tubuhnya pendek, hatinya sangat baik. Ia pun pandai memasak.”
Theo dan Pangeran Arthur mengangguk-angguk mengerti. Selesai makan, mereka berterima kasih dan melanjutkan perjalanan.
Kini Theo dan Pangeran Arthur sampai di rumah seorang petani. Disana mereka menumpang istirahat. Rumah Pak Tani sangat bersih.
Tak ada sedikit pun debu. Mereka beberapa saat bercakap dengan Pak Tani. Lalu keluarlah isteri Pak Tani menyuguhkan minuman dan kue-kue kecil. Bu Tani bertubuh sangat gemuk.
Pipinya tembam dan dagunya berlipat-lipat. Setelah Bu Tani pergi ke sawah, Theo pun bertanya, “Pak Tani yang baik hati. Mengapa kau memilih isteri yang gemuk?”
Pak Tani tersenyum dan menjawab dengan suara bangga, “Ia adalah wanita yang rajin. Lihatlah, rumahku bersih sekali bukan? Setiap hari ia membersihkannya dengan teliti. Lagipula, aku sangat mencintainya.”
Pangeran dan Theo mengangguk-angguk mengerti. Mereka lalu pamit, dan berjalan pulang ke Istana. Setibanya di Istana, mereka bertemu seorang pelayan dan isterinya. Pelayan itu amat pendiam, sedangkan isterinya cerewet sekali. Theo kembali bertanya,
“Pelayan, mengapa kau mau beristerikan wanita secerewet dia?”
Pelayan menjawab sambil merangkul isterinya, “Walau cerewet, dia sangat memperhatikanku. Dan aku sangat mencintainya”.
Theo dan Pangeran mengangguk-angguk mengerti. Lalu berjalan dan duduk di tepi kolam istana. Pangeran berkata pada Theo,
“Kini aku mengerti. Tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula dengan calon isteriku. Yang penting, aku mencintainya dan hatinya baik.”
Theo menarik nafas lega. Ia lalu membuka rambutnya yang ternyata palsu. Rambut aslinya ternyata panjang dan keemasan. Ia juga membuka kumis dan jenggot palsunya. Kini di hadapan Pangeran ada seorang puteri yang cantik jelita. Puteri itu berkata,
“Pangeran, sebenarnya aku Puteri Rosa dari negeri tetangga. Ibunda Pangeran mengundangku ke sini. Dan menyuruhku melakukan semua hal tadi. Mungkin ibundamu ingin menyadarkanmu…”
Pangeran sangat terkejut tetapi kemudian berkata,
“Akhirnya aku dapat menemukan wanita yang cocok untuk menjadi isteriku”. Mereka berdua akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya tamat.
"begitu lah kisah sang pangeran yang menemukan isterinya." kata Mei.
ternyata IRO sudah tertidur di pangkuan Mei.
__ADS_1
BERSAMBUNG