Reinkarnasi Terakhir

Reinkarnasi Terakhir
Cerita putri Sofia


__ADS_3

Di lain sisi Raja iblis sudah mengetahui bahwa tiga panglimanya telah musnah, Raja iblis sudah tidak memiliki panglima tempur lagi.


"sial dia melenyapkan seluruh panglima ku, aku harus bersabar sampai waktu nya tiba." kata Raja iblis.


Raja iblis pergi kembali ke istana neraka dan membuat rencana besar untuk mencari kelemahan dan mengalahkan IRO.


cerita kembali ke istana, putri Sofia sedang bersenang-senang karena terbang di bawa IRO. putri Sofia sangat puas dan lelah sekali, seharian bermain bersama IRO.


"sudah cukup aku sangat puas karena bisa terbang, aku lelah ayo kita beristirahat lagi." kata putri Sofia.


IRO menurunkan putri Sofia dan membaringkan tubuhnya. IRO juga duduk di sebuah kursi dekat taman.


"ngomong ngomong putri Sofia, apa yang kau ketahui tentang Raja iblis atau iblis itu." kata IRO.


"aku tidak mengetahui banyak tentang yang begituan tapi aku bisa menceritakan mu tentang sebuah kisah iblis yang dulu pernah di cerita kan ibuku, kalau kau mau aku bisa menceritakan ulang." kata putri Sofia.


"baiklah tolong cerita kan aku mungkin bisa dapat sedikit pelajaran atau menghibur diri sendiri." kata IRO.


putri Sofia bercerita, Pada suatu zaman di sebuah kerajaan paling tangguh di belahan bumi Utara, sebuah tragedi telah terjadi. Dari semua monster yang ada, Tuan Iblis yang telah berhasil menculik sang Putri dan mengurungnya di kastilnya yang gelap di ujung padang pasir. Para ksatria yang gagah berani pergi menantang Tuan Iblis. Beberapa berhasil mendekati kastilnya sebelum akhirnya mati di ujung pedang si Tuan Monster. Banyak ksatria malang lainnya tumbang bahkan sebelum melihat kastil Tuan Iblis, sebab disuruhnya monster-monster rawa dan naga-naga beracun untuk mengawasi padang pasir di sekitar kastil.


Hal itu terjadi dalam waktu yang lama hingga akhirnya suatu hari muncul seorang ksatria tak bernama. Ksatria ini adalah seorang ksatria yang kuat namun juga malang. Baju zirahnya berwarna perak kelabu, sebab lama dia telah berlatih menjadi ksatria. Rumbai di helmnya berwarna merah darah, sewarna dengan jubahnya yang berkibar dari pundaknya. Dia masih mencari nama dan belum juga menemukannya. Mengikuti jejak ksatria-ksatria lain, Ksatria Tak Bernama juga menantang kediaman si Tuan Iblis, berharap bahwa nanti dia akan mendapatkan sebuah nama terhormat karena jasanya.


Di antara pedang-pedang berkarat milik ksatria pendahulunya yang telah tumbang, tertancap di tanah dan terlupakan, Ksatria Tak Bernama berjalan sendiri dengan gagah berani. Monster rawa ditebasnya tanpa ragu. Naga-naga melenguhkan napas terakhir mereka di hadapannya. Meski tak banyak berkata-kata, Ksatria tak Bernama maju dengan tenang namun pasti menuju kediaman Tuan Iblis.


Pada akhirnya Tuan Iblis sendiri yang turun tangan untuk menghabisi Ksatria ini. Tuan Iblis telah terlalu lama berdiam di dalam kastil, dia terlalu sibuk memandangi sang Putri jelita yang tertidur karena sihir. Dia tak tahu telah berapa lama waktu berlalu di luar kastilnya bahwa kekuatannya juga memudar seiring waktu berlalu. Namun demikian, Tuan Iblis tetaplah seorang tuan para iblis dengan kekuatan yang menakutkan raja-raja. Ksatria tak Bernama tak merasa takut. Dengan membawa beban para pendahulunya, dia tetap maju menyongsong Tuan Iblis dengan pedangnya dalam genggaman.


Butuh waktu satu malam bagi si Ksatria tak Bernama untuk mengalahkan Tuan Iblis. Saat fajar menyingsing, gagak-gagak yang biasa berpesta atas mayat-mayat para ksatria menyaksikan dengan mata mereka sendiri bahwa Tuan Iblis akhirnya tumbang. Seorang ksatria yang pendiam dan kesepian berdiri dengan pedangnya yang panjang menghujam jantung Tuan Iblis. Beberapa dari gagak tersebut terbang ke desa terdekat, memberitakan kekalahan sang Tuan Iblis.


Ksatria tak Bernama lalu menyerbu masuk ke dalam kastil. Tak ada lagi yang perlu dia takutkan, sebab semua makhluk sihir Tuan Iblis telah mati bersamanya. Dia menuju ke menara tertinggi, di tempat Tuan Iblis menyembunyikan hartanya yang paling berharga; sang Putri.


Di ruang teratas, di atas sebuah tempat tidur besar dan kuno dengan tirai sewarna darah, terbaring sang Putri makhluk paling indah yang pernah dilihat Ksatria tak Bernama. Para pujangga kerajaan menuliskan deskripsi-deskripsi panjang mengenai kecantikan sang Putri. Ksatria tak Bernama tak pernah membaca cerita-cerita para pujangga, tapi dia telah mengerti maksud para sastrawan-sastrawan itu.


Sang Putri memiliki rambut paling lembut dan bercahaya, lembut seperti berkas-berkas matahari pagi. Kulitnya pucat bercahaya seperti pualam-pualam tua. Jemarinya yang terkait satu sama lain di dadanya mengingatkan si Ksatria pada dahan-dahan muda di hutan-hutan Timur, lembut namun kuat, berjalin-jalin menuju langit.


Namun bagi si Ksatria tak Bernama, mata sang Putri lah yang terindah dari semuanya itu. Sejak kekalahan Tuan Iblis, kutukan atas sang Putri telah lenyap kuasa tidur abadi telah hilang, dan kini, di depan sang Ksatria tak Bernama, sang Putri perlahan-lahan membuka matanya.


Matanya biru seperti langit musim panas, seperti samudra di tepi Selatan, seperti es di penghujung Januari. Ksatria tak Bernama bukanlah seorang pujangga dia tak dapat menceritakan keindahan mata sang Putri. Mengikuti naluri, Ksatria tak Bernama maju dan berlutut di hadapan sang Putri.


“Ksatria yang rendah tanpa nama ini menghadap Tuan Putri.”


Ksatria tak Bernama membopong sang Putri dalam perjalanan menuju kediaman Gubernur. Meski pendiam, Ksatria tak Bernama senang mendengar cerita. Tuan Putri senang bercerita, maka sepanjang perjalanan Tuan Putri menceritakan pengalamannya diculik Tuan Iblis. Dia bercerita tentang duyung-duyung cantik yang memangsa manusia, wanita-wanita jelita bernama Siren yang memiliki sayap dan menyergap manusia layaknya elang menyergap tikus.


“Kemudian aku tertidur. Begitu kubuka mataku, hanya kau yang terlihat.” Kata Tuan Putri mengakhiri ceritanya. Ditatapnya lekat-lekat mata Ksatria tak Bernama. Sekalipun telah mengalahkan beratus-ratus musuh, Ksatria tak Bernama mesti mengumpulkan segenap kekuatannya untuk dapat menatap balik Tuan Putri.

__ADS_1


Ketika akhirnya mereka tiba di kediaman Gubernur, Ksatria tak Bernama sadar bahwa dia telah dikutuk dengan mantra terkeji; dia telah jatuh cinta pada Tuan Putri jelita.


Di kediaman Gubernur, pesta besar diselenggarakan untuk merayakan kembalinya Tuan Putri. Semua rakyat ikut bergembira. Mereka menyalakan obor di setiap sudut kota dan menebarkan kertas warna-warni di jalan-jalan. Semua merasa senang sebab Tuan Putri mereka yang jelita telah aman dari tawanan Tuan Iblis dan bahkan Tuan Iblis yang terkenal kejam itu akhirnya terkalahkan oleh Ksatria tak Bernama.


Dibanding semuanya, Ksatria tak Bernama lah yang paling bahagia. Tuan Putri menyukainya dan selalu memintanya untuk menyertainya kemana saja. Di sore hari mereka berbincang dan minum teh. Di saat malam mereka bahkan makan malam di meja yang sama. Ksatria tak Bernama tak pernah bermimpi dia bisa makan malam bersama Tuan Putri. Di pagi hari Tuan Putri dan Ksatria tak Bernama berjalan-jalan menikmati indahnya bunga-bunga di taman kediaman Gubernur. Ksatria tak Bernama selalu mempersembahkan setangkai mawar merah bagi Tuan Putri. Merah sewarna darah.


Suatu hari, rombongan istana akhirnya tiba juga di kediaman Gubernur. Mereka utusan raja yang bertugas untuk menjemput Tuan Putri menuju istana. Sebagai hadiah atas jasanya menyelamatkan Tuan Putri, Ksatria tak Bernama dinobatkan menjadi ksatria pengawal Tuan Putri. Tapi sebelum itu, dia harus menyelesaikan pemberontakan gablin-goblin jahat di desa lain. Barulah setelah misi itu selesai Ksatria tak Bernama dapat menyusul Tuan Putri ke istana.


“Kita harus bertemu lagi! Aku sendiri yang akan menganugerahkan sebuah nama untukmu! Akan kuberikan segera begitu aku melihatmu lagi.” Demikian janji Tuan Putri sebelum mereka harus berpisah.


Begitu iring-iringan Tuan Putri tak lagi terlihat dari kediaman Gubernur, sebuah pasukan mengepung Ksatria tak Bernama. Mereka bermaksud membunuhnya agar tak mempengaruhi Tuan Putri.


“Tak pantas seorang ksatria tak bernama untuk dekat-dekat dengan Tuan Putri. Sekalipun dia mengalahkan Tuan Iblis, dia tetap seorang ksatria tak bernama. Di istana nanti Tuan Putri akan mendapat seorang ksatria emas yang pantas baginya.” Kata komandan pasukan sebelum menyerang Ksatria tak Bernama.


Ksatria tak Bernama tak suka membunuh sesama ksatria, namun dia telah terikat janji dengan Tuan Putri. Dia belum boleh mati sebelum bertemu Tuan Putri, yang akan menganugerahkannya sebuah nama segera begitu Tuan Putri melihatnya. Pemberontakan Goblin hanyalah kebohongan untuk menahan Ksatria tak Bernama di tempat itu, agar pasukan berkuda dapat membunuh Ksatria tak Bernama.


Seorang diri, Ksatria tak Bernama berhasil menghindari pasukan berkuda yang mengejarnya. Dia segera berlari menuju ibu kota. Namun pelariannya sulit, sebab setiap pasukan di negeri itu telah diperingatkan untuk waspada akan seorang ksatria tak bernama dengan zirah perak kelabu dan jubah merah.


Perlu berhari-hari baginya untuk melewati sebuah kota, sebab hanya saat malamlah dia bisa bergerak bebas di jalan-jalan. Ksatria tak Bernama tak suka pada kekerasan dan hanya akan menghunuskan pedangnya untuk menolong orang dalam kesulitan, karena itu sebisa mungkin dia tak ingin berpapasan dengan orang lain. Hanya seekor gagak yang menemaninya; seekor dari gagak-gagak kejam yang menikmati mayat-mayat ksatria yang telah gugur. Gagak ini makhluk yang cerewet dan senang bergunjing. Namun karena kesukaannya itu dia mendapat banyak informasi. Informasi ini dibaginya dengan Ksatria tak Bernama agar dia tahu kota mana yang harus ditempuh untuk menuju istana tempat Tuan Putri berada.


Ada malam-malam kejam yang membekukan tiap-tiap orang hingga ke tulang, atau hari-hari yang panas menusuk, angin tak kenal kasihan yang meniup butir-butir es setajam jarum hingga badai yang membinasakan desa-desa. Ksatria tak Bernama tak pernah mengeluh. Diambilnya si gagak temannya dan dimasukkannya ke dalam jubahnya yang hangat, sementara dia tetap maju menantang angin ataupun badai. Ingatannya akan senyum Tuan Putri, akan janjinya bahwa mereka akan terus bersama memberikan Ksatria tak Bernama kekuatan untuk melalui semua itu.


Perlu setahun baginya untuk tiba di ibukota. Baju zirahnya yang dahulu berwarna perak kini menjadi hitam karena debu jalanan dan jelaga-jelaga penduduk. Jubahnya tak lagi sewarna darah, kini warnanya hitam kelam layaknya malam. Namun Ksatria tak Bernama tak peduli, selama dia tahu dia bisa bertemu Tuan Putri jika dia bisa masuk ke dalam istana.


“Tuan Putri merasa bahagia sekali sebab dia akan dinikahkan dengan Pangeran. Pangeran adalah Ksatria yang tahun lalu menolong Tuan Putri dari tawanan Tuan Iblis.” Jelasnya.


Ksatria tak Bernama terkejut bukan kepalang mendengar hal itu. Sebab dialah yang sebenarnya telah menolong Tuan Putri. Raja dan para menteri pastilah dalang di balik ini semua, pikir si Ksatria. Tak ada cara lain selain menerobos masuk ke dalam istana dan bertemu langsung dengan Tuan Putri.


Ksatria tak Bernama benar-benar menjalankan rencananya di malam berikutnya. Dia masuk dari sebuah lorong terlupakan di sisi gerbang belakang. Lorong itu menjadi tempat berdiamnya warga-warga kelas bawah yang terusir dari masyarakat. Ksatria tak Bernama biasanya tak senang mengganggu rakyat tak bersalah. Tapi salah seorang rakyat jelata itu bisa saja membocorkan keberadaannya kepada para pengawal dan hilanglah kesempatan Ksatria tak Bernama untuk bertemu Tuan Putri.


Maka, dengan pedang yang dahulu menumbangkan Tuan Iblis, Ksatria tak Bernama membantai puluhan warga yang tinggal di lorong terlupakan. Gagak temannya yang biasanya tak dapat menahan diri untuk berceloteh terpaku diam digigit ketakutan.


“Ini semua demi Tuan Putri.” Kata Ksatria tak Bernama dan melanjutkan perjalanannya.


Ksatria tak Bernama dan Gagak masuk ke istana dari ruang bawah tanah. Di sana mereka melihat banyak makhluk-makhluk sihir yang buas dan ganas. Monster-monster yang meresahkan warga, yang terlalu kuat untuk dibinasakan, ditahan di ruangan bawah tanah dengan sihir. Dua yang terkuat di antara monster-monster itu adalah Ular Beludak dan Serigala Liar. Mereka melihat Ksatria tak Bernama dan membujuknya untuk membebaskan mereka.


“Kau lihat, tuan kami Tuan Iblis sudah tak ada lagi. Biarkan kami menjadi hambamu, maka kami akan memberikan kekuatan kami untukmu.” Kata mereka.


Ksatria tak Bernama menerima tawaran mereka dan melepaskan Ular Beludak dan Serigala Liar dari tahanan mereka. Mereka membuktikan kekuatan mereka begitu mereka naik ke lantai atas di istana itu. Ksatria tak Bernama tak perlu repot-repot menghunus pedangnya, sebab Ular Beludak mengalahkan musuh-musuhnya dalam belitan-belitan maut, sementara Serigala Liar mengambil nyawa para serdadu dengan taring-taringnya yang tak kenal belas kasihan.


Satu per satu pengawal, tentara, penjaga, pelayan, petugas, tumbang di hadapan Ksatria tak Bernama. Dia terus menanyakan keberadaan Tuan Putri pada setiap orang yang dia temui. Namun semua menyayangi Tuan Putri lebih dari nyawa mereka, jadi Ksatria tak Bernama terpaksa membunuh tiap-tiap orang. Dia melakukan itu semua seperti membalikkan tangan, sebab sejak Ular Beludak dan Serigala Liar menjadi pelayannya, Ksatria tak Bernama menjadi mampu menguasai ilmu sihir kuno.


Setelah lama berputar-putar dalam istana dan membantai setiap orang yang ditemuinya, Ksatria tak Bernama akhirnya tiba di sebuah ruangan dengan langit-langit yang tinggi. Di ujung ruangan itu ada sebuah tahta yang besar dan kokoh. Di atasnya duduk seorang perempuan bak bidadari.

__ADS_1


Ksatria tak Bernama girang bukan kepalang melihat Tuan Putri pujaan hatinya tertidur di hadapannya. Mata biru itu yang amat diidamkannya itu akan segera melihat padanya dengan penuh kasih! Suara Tuan Putri yang indah akan segera didengar lagi oleh telinganya. Semua penderitaannya akan segera terbayar! Dengan penuh semangat, Ksatria tak Bernama segera berlutut dan memberi salam.


“Hambamu Ksatria tak Bernama menghadap Tuan Putri.”


Pelan-pelan Tuan Putri membuka matanya dan memandangi wajah Ksatria tak Bernama.


“Kau siapa?” Tanya Tuan Putri.


Tuan Putri juga telah jatuh cinta pada Ksatria tak Bernama. Tapi seorang putri takkan bisa menikah dengan ksatria rendahan. Jadi raja memerintahkan tukang sihir kerajaan untuk memberi ramuan sihir untuk Tuan Putri. Ramuan itu membuatnya melupakan segala hal tentang Ksatria tak Bernama. Tuan Putri dibuat percaya, bahwa Ksatria Emas lah yang telah menolongnya.


Ksatria Emas itu gagah dan tampan juga pemberani. Dia cerdas dan kenal dengan bermacam-macam sajak dan puisi. Tuan Putri segera menyukainya, apalagi dia percaya Ksatria Emas lah yang telah menyelamatkannya dari kungkungan Tuan Iblis dulu. Tuan Putri lalu bertunangan dengan Ksatria Emas.


Suatu kali, ketika terbangun dari tidurnya, Tuan Putri melihat seorang pria berlutut di hadapannya. Pria itu mengenakan baju zirah berwarna hitam dan rumbai serta jubah kelabu. Selain kelabu, warna lain yang dapat dilihat Tuan Putri adalah percikan darah segar dari korban-korban Ksatria tak Bernama. Di sisinya, di antara tumpukkan mayat tentara kerajaan, adalah Ular Beludak dan Serigala Liar, darah segar menetes dari mulut mereka.


“Tuan Putri?” Panggil Ksatria tak Bernama dengan rasa heran. Tak mungkin Tuan Putri melupakannya. Bukankah Tuan Putri akan memberinya sebuah nama segera setelah Tuan Putri melihatnya? Dengan  begitu dia takkan lagi menjadi Ksatria tanpa Nama. Dia akan memiliki nama dan menjadi pantas untuk bersanding dengan Tuan Putri. Dilihatnya mata Tuan Putri melebar, bibirnya yang indah bergetar ketakutan. Ksatria tak Bernama masih menunggu namanya, sebab Tuan Putri telah berjanji akan memberinya sebuah nama begitu melihatnya lagi.


“Kenapa kau membunuh semua orang? Jawab aku, Tuan Iblis!” Seru Tuan Putri.


Ksatria tak Bernama terdiam mendengar pertanyaan Tuan Putri. Dia melihat ke sisinya, ke arah Ular Beludak dan Serigala Liar. Keduanya terlihat sangar dan menyeramkan. Darah manusia menetes dari taring-taring mereka. Di kaki mereka adalah mayat-mayat serdadu kerajaan. Ksatria tak Bernama lalu melihat tangannya sendiri. Tangannya kini sewarna darah, sebab amat banyak orang yang telah dibunuhnya.


Ksatria tak Bernama berusaha menjelaskan duduk perkaranya kepada Tuan Putri, namun Ksatria Emas terlanjur datang untuk membela Tuan Putri.


“Jangan dekati Tuan Putri!” Serunya, pedangnya dihunuskan ke arah Ksatria tak Bernama. Ksatria tak Bernama berhasil menghindari serangan Ksatria Emas. Ksatria tak Bernama, sejak dibantu kekuatan Ular Beludak dan Serigala Liar, tak dapat dikalahkan siapapun, termasuk oleh Ksatria Emas. Dengan mudah dia mengalahkan Ksatria Emas. Tanpa pikir panjang diangkatnya pedangnya untuk mengakhiri nyawa Ksatria Emas. Tapi Tuan Putri lebih cepat. Dijatuhkannya badannya di hadapan Ksatria tak Bernama.


“Tuan Iblis, bawa aku saja, jangan sakiti dia lagi.” Demikian Tuan Putri memohon dengan air mata berlinang.


“Ambil saja nyawaku sebagai ganti Ksatria Emas! Aku rela mati demi orang yang kucintai!”


Saat itu bukan hanya Tuan Putri yang menangis. Air mata sewarna darah menetes di wajah Ksatria tak Bernama. Sejak saat itu Ksatria tak Bernama tak lagi tak bernama. Dengan sihirnya dibuatnya Tuan Putri tertidur. Kemudian dibunuhnya Ksatria Emas. Ilmu sihirnya membuatnya mampu mengganti rupanya serupa dengan Ksatria Emas.  Setelah itu dibawanya Tuan Putri pergi. Kini Ksatria tak Bernama telah memiliki nama lain, sesuai dengan nama yang diberikan Tuan Putri sendiri.


Tuan Iblis telah bangkit dan menculik Tuan Putri.


Tuan Iblis tak lagi melihat Gagak di manapun sejak dia meninggalkan ibu kota. Gagak menyukai seorang ksatria meskipun tanpa nama, namun seorang tuan iblis amat menakutkannya. Tapi Tuan Iblis tak peduli, sebab kini dia telah mendapatkan Tuan Putri. Dibangunnyalah sebuah kastil besar di ujung daratan, di mana matahari selalu terbenam, sebab Tuan Iblis tahu bahwa Tuan Putri amat menyukai matahari terbenam. Mantra yang ditanamkan Tuan Iblis pada Tuan Putri dimaksudkan untuk mengembalikan ingatan Tuan Putri, namun mantra itu justru membuat Tuan Putri tertidur tanpa terbangun lagi.


Di menara tertinggi kastil itu, Tuan Iblis menyiapkan tempat tidur yang besar dan kokoh. Di atasnya dibaringkannya Tuan Putri jelita. Di sisi ranjang diletakkannya sebuah kursi di mana dia dapat duduk memandangi Tuan Putri sepanjang hari.


Sesekali datang para ksatria berusaha menyelamatkan Tuan Putri, namun dengan kekuatannya yang sakti, Tuan Iblis dengan mudah mengalahkan mereka. Setiap kali, dengan tangan berlumur darah para ksatria, Tuan Iblis naik ke menara untuk melihat Tuan Putri yang tak juga terbangun. Dengan lembut dibelainya wajah Tuan Putri.


“Apa lagi? Apa lagi yang harus kulakukan demi anda, Tuan Putri?” Tanya Tuan Iblis sedih. Tamat.


"begitu lah cerita tentang iblis yang pernah diceritakan ibuku lalu selanjutnya aku lupa jadi sampai situ saja dulu." kata putri Sofia.


IRO sudah mengantuk mendengar cerita putri Sofia barusan, putri Sofia tertawa dan mengajak IRO untuk tidur saja.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2