Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 10: Wasiat Demang


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


Di Desa Buangsetan. Di rumah mewah mendiang Demang Segara Gara.


Seorang centeng datang menemui Nyai Demang di halaman belakang. Nyai Demang sedang seorang diri duduk di tepian kolam kodok dengan kedua kaki mulusnya terjuntai ke dalam air. Tampak sejumlah kodok berbeda jenis berdiam diri juga di sejumlah batu-batu kolam, bahkan ada yang sedang kawin, bikin Nyai Demang sakit hati saja.


Tidak begitu jauh di teras belakang rumah besar itu, tampak Bendong dan Ageng sedang bersama. Mereka bukan pacaran, jangan percaya gosip! Mereka hanya berbincang-bincang mengakrabkan diri.


“Nyai, ada Gusti Adipati Bawel datang berkunjung,” lapor si centeng.


Ageng yang mengawasi majikannya dari jauh, segera datang mendekat dan mendengarkan laporan si centeng. Dia meninggalkan Bendong yang tetap di tempat dan memandangi dari jauh.                       


“Oh, iya,” ucap Nyai Demang lemah.


Wanita cantik yang kini berstatus janda itu lalu mengangkat kakinya keluar dari air kolam. Ageng segera mengambilkan lap dan mengelap betis indah Nyai Demang.


“Terima kasih, Ageng. Lain kali biar aku sendiri yang melakukannya,” ucap Nyai Demang lembut sembari tersenyum.


Memang, baru kali ini Ageng melakukan perbuatan itu. Dan mengelap anggota tubuh Nyai Demang memang tidak ada orang yang ditugaskan khusus. Ageng melakukan hal itu semata-mata demi menyenangkan hati majikannya yang masih dalam masa berkabung.


Nyai Demang lalu berjalan pergi memasuki rumah. Ageng mendampinginya. Sementara Bendong memilih jalan alternatif untuk pergi ke area depan rumah. Sepintas tertangkap dalam layar kamera, Ki Robek sedang main ayunan di sisi kanan rumah yang juga luas seperti taman berumput halus. Rumputnya jenis semut, bukan rumput gajah.


Sebenarnya Ki Robek bukan sekedar main ayunan, tetapi dia sedang menulis sebuah kitab. Entah kitab apa? Yang pastinya bukan kitab suci. Dia duduk bersila di atas papan ayunan yang kemudian dengan sendirinya mengayun tanpa diayun. Semoga tidak salah paham.


“Ayahmu adalah seorang lelaki yang sangat baik dan pejabat yang dapat dipercaya.”


Mendekati pintu keluar, Nyai Demang dan Ageng mendengar suara Adipati Bawel Semara yang berkata kepada seseorang. Dari kalimatnya, bisa ditebak bahwa Adipati sedang berbicara kepada putri dari mendiang Demang Segara Gara.


Akhirnya Nyai Demang keluar ke teras rumah yang lebar seperti pendapa kecil, sangat nyaman buat berbuat apa saja, seperti duduk, tiduran, guling-gulingan, hingga main futsal pun oke.


Dilihatnya tamu yang sedang dihadapi oleh Campani hanyalah Adipati Bawel Semara dan istri keduanya, Lilis Angir.


Sementara di halaman ada kereta kuda dan sejumlah prajurit yang berdiri sambil memegangi kudanya masing-masing.

__ADS_1


Melihat kehadiran Adipati Bawel Semara dan istrinya, Nyai Demang langsung tersenyum, tapi kecil. Maklum, masih masa berduka. Apalagi Rugi Sabuntel yang bisa menghibur hatinya sedang tidak ada di sisi.


Melihat kemunculan Nyai Demang yang tanpa make-up, tapi tetap cantik rasa original, Adipati Bawel Semara lebih dulu menghambur maju menemui nyonya tuan rumah. Dia langsung meraih kedua tangan Nyai Demang tanpa ketok pintu lebih dulu.


Nyai Demang hanya terkejut tanpa sanggup menolak.


“Aku dan istriku turut berduka cita atas nasib buruk yang menimpa suamimu, Nyai,” ucap Adipati dengan ekspresi wajah yang sedih, dengan embusan napas yang berat seberat dosanya.


“Terima kasih, Gusti,” ucap Nyai Demang tanpa enak hati untuk menarik lepas tangannya.


“Semoga Nyai Demang....” Lili Angir merapat ke sisi suaminya dan mengambil alih kedua tangan Nyai Demang dari penguasaan Adipati Bawel.


“Assem!” maki Adipati Bawel Semara kesal oleh tindakan istrinya, tapi hanya di dalam hati.


Kekesalannya hanya terlihat dari lirikan matanya kepada sang istri yang justru cuek.


“Tabah dan bisa melalui masa duka ini dengan nyaman,” sambung Lilis Angir yang sedikit lebih muda dari usia Nyai Demang. Namun, untuk urusan kecantikan dan bodi, Lilis Angir kalah telak dengan skor 0-3.


“Terima kasih karena Gusti berdua sudah menyempatkan diri datang ke mari. Mari, silakan duduk, Gusti” ucap Nyai Demang.


Campani ikut duduk untuk menemani tamu.


“Mohon maaf, Gusti. Kami sedang masa berkabung sepuluh hari, jadi tidak menyuguhkan apa-apa,” ucap Nyai Demang.


“Oooh, tidak apa-apa!” pekik Adipati agak mengejutkan untuk menunjukkan kebesaran jiwanya.


“Campani, tolong lihat masakan sayur Ibu di dalam, tadi sudah mau matang,” kata Nyai Demang kepada putrinya.


“Iya,” ucap Campani. Lalu katanya kepada Adipati dan istrinya, “Maaf, aku permisi, Gusti.”


“Iya, tidak apa-apa,” kata Adipati sembari tersenyum untuk menunjukkan kelapangan dadanya tanpa perlu membuka dada, padahal di dalam hati dia kecewa.


Campani lalu bangkit dan meninggalkan ketiga orangtua itu. Dia masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Di dapur, Campani tidak menemukan masakan apa pun di atas tungku. Dia yang awalnya mengira ibunya benar-benar meninggalkan masakan di dapur, akhirnya bisa menduga kuat maksud dari ibunya.


“Siapa yang menyerang kalian?” tanya Adipati Bawel Semara pura-pura lugu.


“Namanya Kelompok Ular Pembunuh, Gusti. Mereka para pendekar bayaran. Tentunya Gusti tahu tentang mereka?” kata Nyai Demang.


“Oooh, tidak. Aku baru kali ini mendengar nama kelompok penjahat itu. Kelompok Ular Pembunuh, ya? Hmmm...,” jawab Adipati Bawel cepat, lalu berakting pura-pura berpikir.


Lalu katanya lagi.


“Nyai tidak perlu khawatir, aku akan menangani kasus ini dan melakukan penyelidikan. Karena itulah, aku memohon maaf kepada Nyai, demi kepentingan penyelidikan, untuk sementara usaha perunggu dan gula milik Demang aku ambil alih lebih dulu. Aku curiga, ini terkait dengan persaingan dagang,” ujar Adipati Bawel Semara.


Nyai Demang hanya diam berpikir.


“Nyai Demang tidak perlu khawatir. Tentunya Nyai ingin mengetahui siapa sebenarnya yang membayar pembunuh bayaran itu. Setelah terungkap, kendali kedua usaha itu akan aku kembalikan kepada Nyai,” tandas Adipati Bawel.


“Ya, baiklah, Gusti. Aku berharap Gusti cepat mengungkap siapa dalang dibalik pembunuhan suamiku,” kata Nyai Demang akhirnya.


“Dan satu hal penting lagi, Nyai. Ini memang tidak pantas jika aku sampaikan pada masa berkabung ini. Namun, menimbang agar tidak boros waktu harus bolak-balik dari Buntitan ke Buangsetan, aku ingin melamar Campani sebagai istri keempatku. Campani akan menjadi istri terakhirku. Setelah menikahinya, aku tidak akan memikirkan untuk mencari wanita lain lagi,” ujar Adipati Bawel Semara dengan nada yang terkesan hati-hati, demi menjaga imej.


“Mohon maaf, Gusti. Apakah Gusti Adipati sudah mendapatkan Cincin Mata Pelangi?” tanya Nyai Demang.


“Tidak. Aku pikir, dengan wafatnya Demang, syarat itu jadi tidak berlaku lagi,” kata Adipati Bawel.


“Mohon maaf, Gusti. Syarat itu tetap berlaku bagi siapa pun yang ingin melamar Campani. Itu sudah menjadi wasiat dari suami hamba,” tandas Nyai Demang.


Pada novel “Rugi 1 Perampok Budiman”, dikisahkan bahwa Demang Segara Gara memasang syarat bagi siapa pun yang melamar putrinya Campani, untuk membawa benda yang bernama Cincin Mata Pelangi. Semua pelamar bingung. Meski mereka pernah mendengar nama benda itu, tetapi mereka tidak tahu ke mana harus mencari dan mendapatkannya.


“Lebih baik syarat itu dihapus saja, Nyai. Campani sudah kehilangan sosok seorang ayah yang bisa melindunginya. Memiliki seorang lelaki yang bisa melindunginya adalah hal yang mendesak bagi Campani. Alangkah baiknya jika syarat lamaran itu dipermudah, atau bisa diganti yang lain. Aku rasa, Gusti Adipati bersedia memberikan mahar yang besar atau yang lainnya. Sebab, Gusti Adipati sangat jatuh hati kepada Campani. Di rumah, Gusti Adipati selalu menyebut-nyebut nama Campani, sampai aku yang bosan mendengarnya,” tutur Lilis Angir sedikit mengarang kisah.


“Mohon maaf sekali lagi, Kanjeng Gusti. Aku tidak bisa mengkhianati wasiat mendiang suamiku,” tegas Nyai Demang.


“Haaah!” Adipati mengembuskan napas keras tanda kekecewaannya. “Baiklah, Nyai, jika memang seperti itu. Kami pamit pulang agar tidak kesorean di jalan. Nanti aku akan datang lagi jika memang ada hal yang harus aku tanyakan dalam penyelidikan.”

__ADS_1


“Baik, Gusti,” ucap Nyai Demang dengan keteguhan hati. Dia tidak takut jika penolakannya tadi menyinggung lelaki yang seharusnya sudah puas dengan tiga istri itu. (RH)


__ADS_2