Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 41: Bersiap Berangkat


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


 


Drap drap drap...!


Rugi Sabuntel terus memacu kudanya dengan cepat. Sepanjang perjalanan, suasana hatinya mengharu biru seperti kain beludru.


Duka Rugi Sabuntel begitu mendalam mengenang istrinya yang cantik jelita, yang seperti mutiara berharga, seperti seorang bayi selalu ingin ditimang-timang dan kecup-kecup, bahkan seperti bantal guling yang selalu ingin dipeluk sampai matahari pagi meninggi. Apalagi ketika melihat jasadnya dimasukkan ke dalam liang lahat, Rugi merasa jantungnya seperti direnggut oleh kedukaan.


Hal yang wajar jika di dalam berkuda selama perjalanan pulang, sesekali Rugi meneteskan air mata yang kemudian terbang tertinggal di belakang. Di dalam hati, Rugi hanya berharap ada bidadari yang kecipratan air matanya dan menaruh iba kepadanya.


Akhirnya Rugi Sabuntel tiba di Desa Buangsial. Kedatangannya menjadi pusat perhatian warga.


Rugi Sabuntel tidak langsung pulang ke rumahnya, tetapi dia pulang ke rumah Nyai Demang.


Ketika Rugi sampai, di halaman rumah Nyai Demang sedang berkumpul sang nyai, Ki Robek dan yang lainnya, termasui Mak June. Kali ini, di situ juga sudah ada Blikik, tapi Nyi Unyu tidak terlihat. Nyi Unyu memutuskan untuk pulang dan melanjutkan usahanya sebagai tukang jahit.


Kereta kuda Nyai Demang sudah siap dan beberapa ekor kuda yang sudah berpelana. Terkesan mereka ingin berangkat pergi bersama-sama.


Suasana halaman rumah sudah bersih dari mayat-mayat prajurit, tetapi masih menyisakan kerusakan bekas pertarungan. Bercak-bercak darah yang sudah mengering masih terlihat di beberapa bagian. Pedang dan tameng ditumpuk di pinggir halaman. Namun, kondisi itu ternyata tidak menarik perhatian Rugi Sabuntel.


Mereka hanya memandangi Rugi Sabuntel yang sudah terlihat wajah sedihnya.


Setibanya di depan mereka, Rugi Sabuntel langsung melompat turun dari kudanya. Dia berjalan cepat ke arah emaknya dengan wajah yang sudah mewek.


“Emaaak!” sebut Rugi sudah bernada cengeng. Dia datang sambil melebarkan kedua tangannya hendak memeluk Mak June.


“Rugi anakku! Aduh!” sebut Mak June juga sambil merenggangkan dadanya. Namun, tiba-tiba Mak June membungkuk karena kakinya digigit semut.


Kejadian itu membuat Rugi Sabuntel jadi tersandung dan tubuh atasnya terdorong lebih ke depan melewati punggung emaknya.


“Akk!” pekik tertahan Campani yang saat itu berdiri di belakang Mak June. Rugi tanpa sengaja jadi memeluk Campani.


Pelukan yang tersasar itu menjadi pelukan yang tidak indah karena Rugi jadi jatuh menindih Campani.


“Akk!” erang Campani karena keberatan beban.


Tangis Rugi jadi tertanggul mendadak. Dia buru-buru bangkit, membebaskan Campani dari tindihannya.


“Hahaha...!” tawa Blikik seorang diri melihat insiden itu.


Nyai Demang yang melihat insiden itu hanya merengut. Cemburu, tapi dalam senyap.

__ADS_1


“Ma-maaf, Campani!” ucap Rugi Sabuntel seperti orang bersalah.


Campani hanya tersenyum getir karena masih merasakan sakit pada sikunya.


“Apa-apaan kau, Rugi?” omel Mak June.


“Emaaak!” Kali ini Rugi Sabuntel benar-benar memeluk emaknya. Tidak tertukar lagi.


Mak June pun gelagapan dipeluk oleh tubuh besar putranya.


“Huuu! Huuu!” tangis Rugi Sabuntel.


“Iya, iya. Sabar, Nak. Emak tahu kau ditinggal mati istrimu. Jangan khawatir, masih ada Nyai Demang,” kata Mak June menghibur sambil tangannya menepuk-nepuk pantat putranya.


“Hah, Nyai Demang?” sebut ulang Rugi Sabuntel heran, tangisnya kembali terbendung. Dia lalu memandang kepada Nyai Demang yang berdiri di sisi kereta kudanya.


Ketika memandang Nyai Demang, entah kenapa Rugi seperti memandang seorang gadis cantik yang berkilau karena sudah lepas dari ikatan cinta suaminya.


“Nyai Demang berjanji kepada Emak, akan mencarikan pengganti Rambati untukmu,” kata Mak June.


“Rugi, kami semua sangat berduka atas kematian istrimu,” kata Ki Robek, mengalihkan perhatian Rugi. “Kami baru saja diserang oleh pasukan kadipaten. Kita sudah menjadi musuh pemerintah kadipaten. Nyai Demang harus segera melapor ke Istana secepatnya tentang kesewenang-wenangan Adipati Bawel. Nyai Demang hanya ingin pergi jika kau yang mengawalnya. Ingat, aku pernah punya pengalaman dijadikan penjahat oleh pejabat seperti Adipati Bawel. Jangan sampai Istana lebih mendengar laporan Adipati daripada kalian.”


“Benar, Rugi. Kita harus segera berangkat ke Kerajaan,” kata Nyai Demang sambil berjalan mendekat.


“Kami berencana bersembunyi di hutan karena kita tidak tahu, Adipati akan mengirim siapa lagi untuk membunuh kita. Yang aku tahu, kadipaten memiliki pasukan lebih dari seratus prajurit, ditambah para centeng. Hari ini Adipati mengirim puluhan prajurit. Mungkin besok dia akan mengirim semua kekuatannya ke sini. Karena Nyai Demang hanya mau pergi ke Kerajaan bersama denganmu, dan kami tidak tahu kapan kau pulang, jadi kami berniat pergi menunggu di hutan. Karena kau sudah datang, maka pergilah bersama Nyai Demang dengan membawa kelima tawanan itu. Aku dan yang lainnya akan menunggu di hutan,” kata Ki Robek.


“Kita sudah tahu bahwa penjahatnya adalah Adipati Bawel dan orang-orangnya. Kenapa kita tidak serang dan bunuh langsung adipati itu, Guru?” tanya Rugi Sabuntel.


“Jangan menyerang pejabat jika kedudukanmu masih lebih rendah. Jika kau menyerang Adipati, kau akan dianggap menyerang pejabat Istana. Namun, jika mereka menyerang kita, kita masih bisa berdalih membela diri. Biarkan Istana yang menghukum Adipati. Jadi kau dan Nyai Demang harus segera melapor ke Istana dengan kelima tawanan itu sebagai saksi,” tandas Ki Robek.


“Baiklah, Guru,” ucap Rugi Sabuntel patuh.


Lega dan senanglah hati Nyai Demang mendengar persetujuan Rugi. Itu artinya dia akan pergi bersama pemuda idamannya dalam satu perjalanan yang cukup jauh.


“Apakah Campani juga ikut?” tanya Rugi.


“Tidak. Campani akan ikut dengan Guru bersembunyi di hutan,” jawab Nyai Demang cepat.


Campani hanya menarik sudut bibirnya mendengar jawaban ibunya. Padahal dia ingin ikut juga, daripada tinggal di hutan bersama Ki Robek yang sangat tidak menarik.


“Lalu, apakah Emak akan ikut sembunyi di hutan?” tanya Rugi.


“Tidak. Emak dan aku akan pulang ke rumah.” Yang menjawab Blikik.

__ADS_1


“Iya. Kasihan kakekmu tidak ada yang memasaki telor ayam,” sahut Mak June.


“Kau, Bendong?” tanya Rugi kepada sahabatnya.


“Tidak ada orang yang menungguku di rumah. Jadi aku dan Ageng akan ikut menjaga Campani bersembunyi di hutan,” jawab Bendong.


“Apakah Nyi Unyu bertemu dengan kalian?” tanya Rugi.


“Iya. Darinya kami tahu bahwa Rambati mati dibunuh. Dia juga membantu kami menghadapi pasukan kadipaten tadi pagi,” kata Bendong. “Dia sudah pulang.”


“Rugi, kapan kita akan berangkat?” tanya Nyai Demang, sudah tidak sabaran.


“Iya, Nyai. Tapi aku buang kencing dulu,” jawab Rugi.


Pemuda gendut perkasa itu lalu berlari kecil menuju ke belakang rumah.


“Karena Rugi sudah ada, jadi kami berangkat lebih dulu, Nyai,” kata Ki Robek izin.


“Baiklah,” ucap Nyai Demang.


“Ayo kita berangkat!” seru Bendong.


Mereka yang mau berangkat lalu mengatur kuda. Ujung-ujungnya, kuda kurang. Mak June dan Blikik tidak kebagian kuda.


“Aku jalan kaki saja. Rumahku dekat,” kata Mak June. “Ayo, Blikik!”


“Iya, Mak!” sahut Blikik lalu berlari kecil mengikuti Mak June.


Sementara yang lain, yaitu Ki Robek, Bendong, Campani, Ageng, tiga orang centeng Nyai Demang, pergi dengan berkuda. Tinggallah Nyai Demang dan kusirnya yang bernama Buntet.


Ditambah lima lelaki anak buah Adipati Bawel yang tubuhnya diikat kuat dengan tambang di atas bak pedati. Tubuh mereka diikat satu dengan bak pedati. Pedati itu akan ditarik oleh seekor kuda.


Agak lama Nyai Demang menunggu. Sampai-sampai Nyai Demang memutuskan menyusul Rugi ke belakang.


“Eh, jangan mendekat, Nyai. Aku sedang mandi, tidak pakai baju!” seru Rugi saat mendengar ada langkah kaki yang mendekat ke bilik sumur.


Nyai Demang jadi terkejut dan berhenti, tapi kemudian tersenyum.


“Tapi masih pakai celana?” tanya Nyai Demang bermaksud menggoda.


“Tidak juga!” jawab Rugi jujur.


 “Hihihi!” tawa Nyai Demang, tapi kemudian dia balik kanan sambil membawa senyumnya. Entah apa yang terbayang di dalam kepalanya? (RH)

__ADS_1


__ADS_2