Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 14: Menyiksa Musuh


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


 


Kupatan dan Gatot sudah ditarik dari rawa oleh Rugi Sabuntel naik ke darat. Keduanya dalam kondisi kritis dan mereka berisik dengan erangan-erangannya, tetapi siapa yang peduli.


Gusti Pangeran menghampiri istrinya dengan tertatih sambil mengerenyit menahan pedih pada luka di punggungnya yang kotor oleh lumpur rawa.


“Nimas, kau tidak apa-apa?” tanya Gusti Pangeran bernada cemas.


“Hanya sakit, Kangmas,” jawab sang istri.


Gusti Pangeran segera beralih kepada Rugi Sabuntel dan Nyi Unyu yang telah menolong mereka.


“Terima kasih, Pendekar. Kalian telah menyelamatkan kami,” ucap Gusti Pangeran penuh syukur kepada sepasang anak orang itu.


“Kami harap pertolongan kami tepat, Ki. Karena kami melihat banyak mayat prajurit di atas sana. Oh, jangan-jangan Aki adalah seorang pejabat kadipaten?” kata Rugi baru tersadar.


Maklum Rugi adalah pendekar yang belajar di sekolah informal, jadi wajar kalau daya analisanya tidak setajam gurunya yang mantan pejabat.


“Bukan, aku Pangeran Doro Ronggowoso, adik dari Gusti Prabu Toro Solomong. Ini istriku Limpa Rayu,” kata Gusti Pangeran memperkenalkan diri.


Nyi Unyu segera turun berlutut menjura hormat kepada kedua orang kerajaan itu. Melihat Nyi Unyu menghormat, Rugi Sabuntel segera ikut berlutut dan menghormat.


“Bangunlah, kalian. Kalian tidak perlu menghormat,” kata Pangeran Doro sambil menyentuh lengan besar Rugi.


Kedua pendekar itu kembali bangun berdiri.


“Siapa kalian berdua ini?” tanya Pangeran Doro.


“Namaku Rugi Sabuntel, Gusti Pangeran. Yang cantik ini namanya Nyi Unyu,” jawab Rugi Sabuntel.


Nyi Unyu hanya tersenyum malu karena diperkenalkan pakai embel-embel “cantik”.


“Siapa mereka, Gusti? Kenapa ingin membunuh Gusti Pangeran?” tanya Rugi Sabuntel.


“Mereka adalah anggota Kelompok Ular Pembunuh. Mereka ingin membunuhku dan menyandera istriku. Aku yakin, mereka pasti dibayar oleh salah seorang pejabat Kerajaan Kutan,” jawab Pangeran Doro.


“Anggota Ular Pembunuh?” sebut ulang Rugi Sabuntel terkejut dan mendadak marah.


Dia langsung balik badan dan berjalan seperti orang ngambek, langkahnya menghentak-hentak seolah-olah ingin menggoyangkan tanah, tapi tetap tidak bergoyang, melainkan lemaknya yang terguncang.


Dengan kasar Rugi Sabuntel mencengkeram dada baju Kupatan yang tidak berdaya, sampai-sampai badannya terangkat separuh.

__ADS_1


“Kalian pasti tahu tentang Rambati?” tanya Rugi bernada geram dan mata melotot.


“Akk!” erang Kupatan. “Si-si-siapa kau, Gendut?”


“Arwah Demang Segara Gara mengutusku untuk membunuh kalian semua!” desis Rugi Sabuntel.


Terbeliak Kupatan dan Gatot mendengar pengakuan Rugi Sabuntel. Mereka berdua memang ikut menyerang di hari pernikahan Rugi Sabuntel dan membunuh Demang Segara Gara. Namun, mereka tidak mengenali Rugi Sabuntel yang kala itu tampil lebih ganteng dari yang sekarang.


“Apakah ... apakah kau suami Rambati?” tanya Kupatan.


“Benar!” sentak Rugi Sabuntel sambil menghempaskan tubuh Kupatan kembali ke tanah. “Siapa yang membayar kalian untuk membunuh Demang Segara Gara?”


“Aku tidak tahu,” jawab Kupatan.


“Benar kau tidak tahu?” tanya Rugi sambil menginjakkan kaki kanannya ke dada Kupatan yang sudah terluka parah.


“Hukr!” pekik Kupatan dengan mulut meluapkan darah kental.


Injakan kaki kanan Rugi Sabuntel bukanlah injakan biasa. Ingat, Rugi Sabuntel punya ilmu Injakan Kaki Gunung yang beratnya seperti gunung. Namun, tidak jelas gunung apa.


Dengan mulut yang berdarah, Kupatan membuka mulutnya lebar-lebar karena dia kesulitan bernapas jika hanya dengan lubang hidung. Injakan Rugi mempersempit saluran pernapasannya di dada.


“Katakan atau kau mati tidak bernapas! Siapa yang membayar kalian untuk membunuh Demang Segara Gara?” ancam Rugi Sabuntel.


“A-aku... aku tidak... tidak tahuuu!” jawab Kupatan terputus-putus sambil mengerang kesakitan.


“Tunggu!” teriak Gatot yang tergeletak di sisi Kupatan, tapi teriakannya pelan seolah-olah dia sudah mau mati. “Akan aku beri tahu, tapi jangan bunuh temanku.”


Perkataan Gatot itu membuat Rugi Sabuntel membatalkan niatnya untuk meremukkan dada Kupatan. Namun, Rugi tidak menarik kakinya dari dada Kupatan, hanya meringankan tekanan kakinya.


“Katakan!” perintah Rugi Sabuntel.


“Adipati Bawel Semara,” jawab Gatot.


Terbeliak Rugi Sabuntel mendengar jawaban itu. Meski nama Adipati Bawel Semara sudah masuk dalam salah satu orang yang diduga, tetap saja Rugi merasa terkejut.


“Kalian berdua akan menjadi sanderaku,” kata Rugi Sabuntel.


Pendekar Gendut Budiman lalu meninggalkan keduanya dan kembali menemui Pangeran Doro Ronggowoso dan Limpa Rayu.


“Apakah kalian memiliki urusan dengan Kelompok Ular Pembunuh?” tanya Pangeran Doro.


“Mereka telah menculik istriku di hari pernikahanku dan membunuh junjunganku. Kami sedang mencari sarang mereka. Jadi mereka berdua akan kami bawa sebagai penunjuk jalan,” jawab Rugi Sabuntel.

__ADS_1


“Aku pikir kalian suami istri,” kata Pangeran Doro, membuat kedua pendekar itu tersenyum, seolah-olah memiliki suasana hati yang sama. “Aku juga harus tahu siapa orang yang membayar mereka untuk membunuhku.”


“Biar aku yang bertanya kepada mereka,” kata Rugi Sabuntel.


Rugi Sabuntel kembali berbalik pergi mendatangi kedua anggota Kelompok Ular Pembunuh.


“Salah satu dari kalian akan aku bunuh jika tidak memberi tahu siapa yang membayar kalian untuk membunuh Gusti Pangeran,” ujar Rugi Sabuntel masih bernada datar kepada Gatot dan Kupatan.


Sementara Pangeran Doro dan istrinya mendekat di belakan Rugi.


“Tidak, itu kami tidak tahu,” jawab Gatot lemah dengan wajah mengerenyit menahan sakit dan mata tertutup.


“Baiklah. Kondisi temanmu ini lebih buruk. Daripada tersiksa oleh luka, lebih baik aku bunuh,” kata Rugi Sabuntel yang belakangan berkarakter keras. Sepertinya itu pembawaan dari status pengantin baru.


Rugi Sabuntel kembali meletakkan telapak kaki kanannya di dada Kupatan yang sudah pasrah karena memang dia tidak bisa melawan.


“Satu kesempatan. Katakan siapa yang membayar kalian untuk membunuh Gusti Pangeran!” perintah Rugi Sabuntel.


“Kami hanya melaksanakan perintah membunuh, tidak diberi tahu siapa yang membayar,” jawab Gatot, lambat dan lemah.


Krakr!


“Hekr!” erang terakhir Kupatan dengan tubuh tersentak dan mulut meluapkan darah lagi, setelah dadanya ditekan oleh kaki Rugi yang sangat berat. Terdengar suara tulang dada yang berpatahan.


“Kupataaan!” teriak Gatot histeris sambil menengok memandang rekannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sepasang matanya sampai memerah dan berair.


Setelah mengejang sekali, Kupatan sudah diam tidak bernapas dengan mata yang mendelik.


“Kau ikut aku,” kata Rugi Sabuntel sambil meraih satu tangan Gatot dan menariknya.


“Aaakk!” jerit Gatot kesakitan dengan tubuh yang mengikuti seretan Rugi Sabuntel.


Racun jarum-jarum Nyi Unyu yang bekerja di dalam tubuh Gatot membuatnya akan merasakan sakit yang tinggi setiap tubuhnya digerakkan, apalagi ditarik paksa seperti menarik benda mati yang sehat saja.


“Orang ini benar-benar tidak tahu siapa yang menginginkan kematian Gusti Pangeran,” kata Rugi kepada Pangeran Doro Ronggowoso. “Orang ini aku bawa, Gusti. Jika aku berhasil menumpas kelompok ini, aku akan paksa pemimpinnya untuk mengaku, Gusti. Semoga aku tidak gugur sebagai seorang suami.”


“Baiklah,” kata Pangeran Doro.


“Bagaimana dengan luka Gusti Pangeran?” tanya Rugi Sabuntel.


“Aku bisa menahannya,” jawab Pangeran Doro.


“Tapi perjalanan kita ke Istana masih jauh, Kangmas,” kata Limpa Rayu.

__ADS_1


Nyi Unyu lalu pergi memetik selembar daun semak belukar di tebing tanah. Dia lalu menulis di daun itu menggunakan sebatang jarum. Setelah itu, Nyi Unyu memberikan daun tersebut kepada Rugi.


Rugi menerimanya dan membacanya. (RH)


__ADS_2