Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 12: Pertarungan Pinggir Rawa


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


Rugi Sabuntel dan Nyi Unyu sudah memasuki wilayah Kademangan Butoloro. Keduanya benar-benar seperti pendekar satu pasang karena yang satu lelaki dan satu perempuan. Terlebih keduanya berpakaian ungu. Rugi berjubah ungu gelap dan Nyi Unyu berpakaian ungu terang.


Keduanya fokus berkuda karena Nyi Unyu sulit diajak bercanda atau berdebat di kala seperti itu. Namun, keduanya saling perhatian. Di saat kuda Rugi ketinggalan karena keberatan beban, Nyi Unyu berhenti sejenak untuk menunggu. Seperti seorang ibu menunggu anaknya yang tertinggal.


Demikian sebaliknya, di saat kuda Nyi Unyu ketinggalan karena mampir pup, Rugi pun berhenti untuk menunggu. Seperti seorang bapak yang menunggu anaknya.


Berbeda ketika jalanan sedang lebar dan kedua kuda berlari berdampingan, kedua anak orang itu terkadang saling melirik yang berbuah saling senyum, mempresentasikan suasana hati keduanya. Terkadang pula, lirikan mereka hanya bertepuk sebelah wajah alias lirikan mencuri. Meski senyum yang dibuahkan tipis, tapi hati tetap bahagia.


Namun, sepertinya perjalanan mereka harus terhenti karena mereka melihat ada sebuah kereta kuda yang diam di tengah jalan, sementara sejumlah prajurit berseragam merah putih bergelimpangan di tanah dengan tubuh bersimbah darah yang keluar dari luka-luka senjata tajam, bahkan ada anggota tubuh yang terpotong rapi.


Pedang-pedang pun berserakan. Ada terlihat dua kuda berpelana tapi tidak tertambat, seolah-olah sedang menunggu penunggangnya yang mati hidup lagi. Sementara dua kuda kereta tetap terikat bersama keretanya.


Rugi Sabuntel dan Nyi Unyu berhenti dan memerhatikan kondisi di tengah jalan itu. Mereka mencari orang hidup, tetapi yang mereka temukan hanya mereka berdua.


Di sisi kiri jalan adalah area berpohon tapi bukan hutan. Sementara di sisi kanan jalan adalah semak yang tumbuh di bibir jurang.


“Aaa!” Tiba-tiba terdengar suara jeritan seorang wanita yang cukup jauh posisinya dan seperti berasal dari bawah jurang.


Rugi Sabuntel segera turun dari kudanya dan berlari kecil ke semak belukar di bibir jurang tanah itu. Dari sana dia bisa melihat pemandangan luas rawa-rawa di dasar jurang yang dalamnya hanya empat kali tinggi orang dewasa.


Meski di bawah adalah rawa liar yang luas, tetapi ada bagian pinggir yang merupakan tanah padat berumput, tepat di bawah jurang.


Di tanah pinggiran itulah terlihat dua orang lelaki yang menyandang pedang di punggungnya, sedang menyeret paksa seorang wanita separuh baya berpakaian ala bangsawan. Namun, pakaian dan rambutnya sudah tidak rapi karena mencoba berontak. Kedua lelaki itu terus menarik kedua tangannya.


Tidak jauh dari posisi wanita yang diseret, ada seorang lelaki berpakaian putih yang sedang bertarung melawan dua orang lelaki yang sudah menghunus pedangnya. Sementara si lelaki berusia separuh abad lebih tiga tahun itu hanya bersenjata keris.


Punggung bajunya sudah robek dan berlumur darah. Posisi tarungnya lebih merapat ke dinding tanah jurang. Sepertinya dia bermaksud agar tidak dibokong lagi. Luka di punggung diduga kuat adalah hasil serangan dari belakang.


“Lepaskan istriku!” teriak lelaki yang berasesoris seperti orang kaya itu.


“Istrimu cukup menjadi sandera kami dan kau mati pun tidak apa-apa!” kata lelaki berkumis berperawakan pendekar.


“Jangan mengulur waktu, Gawul. Kita bunuh secepatnya,” kata pemuda berambut gondrong dengan baju hitam tanpa lengan, memperlihatkan lengan kekarnya yang memiliki beberapa garis bekal luka sayatan yang sudah lama. Dia bernama Kupatan.

__ADS_1


“Matilah kau, Gusti Pangeran!” seru Gawul lalu maju sambil siap menebaskan pedangnya.


Bugk!


Sungguh mengejutkan seperti kena prank di malam pengantin. Tiba-tiba ada makhluk besar jatuh begitu saja dari atas dan mendarat keras di tengah-tengah ketiga lelaki yang sedang bertarung itu. Sosok yang tidak lain adalah Rugi Sabuntel itu, mendarat dengan dua kaki yang sampai melesak masuk seukuran betis besarnya.


Namun, dari kedua kaki yang mendarat itu menebarkan gelombang energi kuat ke segala arah.


Bdak! Cprak! Cprak!


Orang berpakaian putih yang tadi disebut “Gusti Pangeran” terpental ke belakang menghantam dinding tanah yang berumput liar. Setelahnya dia jatuh tertelungkup.


Adapun Gawul dan Kupatan juga terpental ke belakang lalu tercebur ke air rawa. Kedua lelaki itu basah bercampur lumpur.


Munculnya sosok berjubah ungu juga membuat terkejut dua lelaki berpedang yang sedang menyeret istri si Gusti Pangeran.


“Jaga dia, Kluwing!” pesan salah satu dari lelaki penyeret itu sambil mencabut pedangnya. Lelaki yang bernama Gatot itu lalu berlari dengan pedang siap ditebaskan kepada Rugi Sabuntel.


Set! Tep!


Gatot cepat mendongak. Dilihatnya sesosok wanita cantik berpakaian ungu telah meluncur dengan kaki bergerak-gerak cepat. Gatot menyambut serangan dari atas itu dengan sabetan-sabetan pedang.


Tak tak tak!


Namun hebatnya, ternyata sosok Nyi Unyu itu berani beradu kaki dengan sabetan-sabetan pedang. Gatot sampai terbeliak, Rugi pun sampai ternganga, melihat kekebalan kaki Nyi Unyu.


Rugi Sabuntel yang menyempatkan diri melihat terjunnya Nyi Unyu dari atas, tidak menyangka bahwa wanita cantik yang bersamanya ternyata keren.


Nyi Unyu mendarat dengan baik di tanah berumput pinggir rawa-rawa itu. Dia bahkan bisa mengibaskan kaki kanannya mengincar wajah Gatot.


Sambil menangkis dengan bilah pedangnya, Gatot melompat mundur.


Beg! Set! Tek! Ting!


Setelah memaksa Gatot mundur, satu kaki Nyi Unyu menghentak ke tanah. Itu membuat pisau yang menancap di tanah jadi mencelat keluar dan melambung. Satu kibasan kaki langsung menyambar pisau itu sehingga melesat cepat menyerang Gatot.

__ADS_1


Gatot dengan tangkas menangkis pisau menggunakan bilah pedangnya, membuat pisau terpental menancap di dinding tanah.


Seeet!


Serangan pisau itu disusul oleh serangan yang tidak terlihat oleh Gatot.


Sebanyak sepuluh jarum yang sulit tertangkap oleh mata Gatot, membuat pemuda matang itu mendelik. Dia tidak tahu ada berapa tusukan yang menusuk kulitnya. Meski dia tidak menjerit, tetapi itu tetap sakit.


Ternyata, satu tangan Nyi Unyu telah menggenggam sekumpulan benang khusus yang tidak terlihat. Benang-benang itu tersambung pada buntut sepuluh jarum yang masuk ke dalam daging tubuh Gatot.


Set!


“Aak!” jerit Gatot saat Nyi Unyu menarik benang di tangannya, membuat kesepuluh jarum tertarik keluar dari dalam daging dan kulit.


Jarum-jarum itu tidak membuat Gatot tunbang, tapi memberi efek lain.


“Aku tidak peduli kau siapa? Jangan harap akan selamat! Hiaaat!” seru Gatot, lalu berteriak panjang sambil maju hendak menyerang.


Namun, Gatot hanya kuasa maju satu langkah. Tiba-tiba dia merasakan otot dan persendiannya kaku dan sakit. Itu efek dari serangan Sepuluh Jarum Penakluk yang mengandung racun.


Bak! Cpruac!


Nyi Unyu tidak menyia-nyiakan momentum. Dia bergerak maju dengan cepat dan menamparkan satu kakinya ke pelipis Gatot. Itu kencang, membuat Gatot terlempar ke samping, tepatnya ke rawa-rawa.


Gatot pun berkalang lumpur rawa. Efek racun dari Sepuluh Jarum Penakluk membuat Gatot hanya bergerak-gerak di air rawa yang cetek berpadu lumpur, tanpa bisa bangkit berdiri. Gatot merasakan sakit yang luar biasa pada persendian-persendiannya. Kian lama makin menyiksa. Dan itu Gatot tidak bisa atasi.


Dengan demikian, Gatot dianggap tumbang.


Sementara itu, Gawul dan Kupatan sudah keluar dari rawa dalam kondisi yang berlumpur. Keduanya diliputi kemarahan yang tinggi kepada Rugi Sabuntel.


Gusti Pangeran pun sudah berdiri, tetap dengan kerisnya.


“Aki rehat saja, biar aku yang urus kedua penjahat ini,” kata Rugi kepada Gusti Pangeran.


“Biar aku menolong istriku,” kata Gusti Pangeran.

__ADS_1


“Baik,” ucap Rugi Sabuntel. (RH)


__ADS_2