
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
“Rugiii! Kakang Rugiii!” teriak Karani sambil berlari sedang menuju ke pinggiran jurang yang ada di Desa Lorogundik.
Wanita dekil itu berlari di area berumput setinggi betis. Rugi Sabuntel yang sedang duduk di atas pedati yang parkir di bibir jurang, menengok ke arah Karani. Melihat wanita berlari seperti itu membuat pikiran lelaki Rugi bertamasya. Mungkin semua orang tahu penyebab pikiran Rugi menghayal ke mana-mana.
“Hati-hati! Banyak lubang di rumput!” teriak Rugi Sabuntel.
Karani cepat menghentikan larinya. Dia jadi berjalan dengan memerhatikan rumput. Samar-samar dia melihat ada lubang di tanah. Entah lubang apa itu, tapi sepertinya cukup untuk dimasuki oleh satu kaki.
Dengan langkah yang hati-hati, Karani akhirnya tiba di dekat pedati. Dia terengah-engah, tetapi dia tersenyum, bahkan tertawa kecil.
“Tugasku sudah selesai. Ayo bayar aku!” tagih wanita yang berkeringat itu.
“Apa buktinya kau sudah menemukan Kampung Ular dan menyampaikan pesanku kepada kelompok itu?” tanya Rugi Sabuntel, tanpa mau percaya begitu saja.
“Kau menuduhku curang?” tanya Karani sewot.
“Aku tidak menuduhmu curang. Aku hanya ingin menjamin kesepakatan kita berjalan baik. Sebab, aku membayarmu tidak murah,” kilah Rugi.
“Baik. Aku punya bukti bahwa aku sudah sampai di Kampung Ular, sampai-sampai aku mau mati ketakutan. Buktiku adalah aku tahu ciri-ciri istrimu,” kata Karani.
“Kau bertemu dengan istriku? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Rugi Sabuntel.
“Aku melihatnya dikurung seperti monyet,” jawab Karani.
“Hah! Kau kira istriku monyet?” hardik Rugi Sabuntel.
“Bukan monyet, tapi seperti,” ralat Karani.
“Istriku dikurung?”
“Iya. Istrimu dibentak-bentak oleh orang galak itu,” kata Karani.
“Kurang ajar dua kali!” maki Rugi Sabuntel marah.
“Kakang, tapi istrimu sangat cantik ya. Aku jadi merasa jelek,” ucap Karani.
“Tentu, istrikuuu,” kata Rugi bangga.
“Lalu bayaranku mana? Jangan-jangan Kakang menipuku,” tukas Karani.
“Bayaranmu aku simpan di atas pohon kelapa yang kau panjat itu,” jawab Rugi Sabuntel. “Cepat pergi dari sini. Jika mereka keburu datang, mereka tidak akan melepaskanmu.”
Terbeliak terkejut Karani. Dia mendadak panik.
__ADS_1
“Lalu sedang apa Kakang di sini?” tanya Karani.
“Menunggu istriku,” jawab Rugi.
“Tapi mereka akan datang melawan Kakang,” kata Karani, terkesan khawatir.
“Aku akan bertarung sampai mati,” jawab Rugi percaya diri.
“Aku tidak mau mati!” kata Karani lalu berbalik dan berlari kecil dengan tetap memerhatikan tanah di bawah rumput. Dia mau pergi memanjat pohon untuk mengambil bayarannya.
“Heah heah!”
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan gebahan orang banyak di kejauhan.
Drap drap drap...!
Terdengar pula suara lari kuda yang ramai dan terlihat kepulan debu yang mengudara di kejauhan.
Benar dugaan Rugi Sabuntel. Sepertinya gerombolan Ular Pembunuh sudah datang. Karani yang mendengar suara ramai dan liar itu, cepat menengok ke sumber keramaian.
“Jiaaah! Mati aku!” pekik Karani lalu buru-buru berbelok arah larinya, lebih menjauhi kedatangan rombongan yang dipimpin oleh Gurat Satria. Sesekali dia berhenti ketika menemukan lubang di balik rumput. Dia takut jika itu adalah lubang ular.
Rugi Sabuntel berdiri gagah di atas pedati dengan jubah ungunya yang berkibar-kibar tertiup angin jurang.
Warna ungu membuat Gurat Satria dan kedua puluh pengikutnya sudah bisa melihat sosok besar Rugi Sabuntel yang berdiri di atas pedati. Gestur Rugi benar-benar menunjukkan bahwa dia sedang menunggu kedatangan rombongan itu.
“Dia sudah menunggu kita. Hati-hati ada jebakan di rerumputan!” teriak Gamak Pera memperingatkan.
“Hooof!” teriak Gurat Satria sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.
Teriakan dan tanda dari ketua kelompok itu membuat rombongan segera mengerem kudanya masing-masing.
Keputusan itu membuat rombongan berjarak sepuluh tombak dari posisi pedati dan bibir jurang. Kedua posisi itu dipisahkan oleh bentangan rumput setinggi betis atau lutut. Lebatnya rumput membuat Gurat Satria dan kelompoknya curiga.
Rasanya tidak mungkin seorang pendekar berani berhadapan dengan puluhan pendekar, terlebih yang dihadapi pendekar dari Kelompok Ular Pembunuh, jika tidak ada sesuatu yang tersembunyi disiapkan. Ini baru pertama kalinya dalam sejarah kelompok itu, yaitu mereka ditantang tanpa takut hanya oleh seorang pendekar.
“Di mana istriku?!” teriak Rugi Sabuntel.
Tidak ada yang menjawab, tetapi Rugi Sabuntel melihat ada seorang wanita cantik yang masih berbaju pengantin berdiri di atas salah satu punggung kuda, tepatnya di belakang Toreh. Wanita cantik yang penampilannya terkesan kusut itu tidak lain adalah Rambati.
Sebelumnya, Gurat Satria setuju tidak mengikat Rambati asalkan Rambati patuh. Meski Rambati termasuk pendekar wanita yang sakti, tetapi dia setuju patuh dan tidak akan bertarung melawan keluarga besarnya.
Bahagia hati Rugi Sabuntel tapi terheran-heran karena melihat istrinya tetap cantik dan sepertinya tidak kurang suatu apa, kecuali kurang rapi.
“Gendut! Di mana harta kami?!” teriak Gamak Pera.
__ADS_1
“Aku gantung di jurang!” jawab Rugi Sabuntel.
Jika melihat ke belakang Rugi Sabuntel, di sana ada jurang batu yang dalam, di mana dasarnya tertutup oleh lebatnya semak belukar. Belum bisa dipastikan sedalam mana dasarnya, tapi yang jelas itu dalam dan tidak mudah untuk naik turun.
Sementara itu, ternyata Rugi Sabuntel telah menancapkan dua batang bambu yang lurus membentang ke jurang. Uniknya, pangkal kedua bambu menancap masuk ke dalam tebing batunya di sisi atas. Jarak kedua batang bambu hanya satu depa dengan panjang empat depa. Pada kedua ujungnya dipertemukan. Di ujung itulah ada sepeti kayu yang terikat dan menggantung. Beratnya membuat kedua bambu melengkung agak ke bawah.
Mungkin jika salah satu batang bambu patah, maka peti yang tergantung akan jatuh atau bebannya akan semakin lebih besar dari daya tahannya.
Jika peti harta itu jatuh ke dalam jurang, maka akan sulit untuk menyelamatkannya dari keutuhan.
“Serahkan lebih dulu harta kami!” seru Gamak Pera.
“Aku minta tiga syarat! Pertama bebaskan istriku tercinta tanpa luka sedikit pun! Kedua, serahkan Pedang Petir Naga karena itu adalah milik Jurang Naga Angin! Ketiga, beri tahu siapa yang memerintahkan untuk membunuh Gusti Pangeran Doro Ronggowoso!” seru Rugi Sabuntel menyatakan tiga tuntutannya.
Terkejut Gurat Satria dan para anggotanya mendengar dua tuntutan tambahan Rugi Sabuntel.
“Keparat jadah! Kenapa tuntutanmu bertambah dua?!” maki Gurat Satria marah. “Aku akan menukar Rambati dengan harta kami. Hanya itu!”
“Jika dua tuntutan lainnya tidak kau penuhi, maka aku akan memintanya secara paksa!” seru Rugi Sabuntel.
“Kurang ajar!” maki Gurat Satria. Lalu teriaknya lagi, “Tunjukkan harta kami!”
“Lihat sendiri digantung di jurang!” balas Rugi Sabuntel.
Memang, dari posisi jauh dari bibir jurang, mereka tidak bisa melihat harta mereka.
“Ronggolate, lihat harta kita ada di mana!” perintah Gurat Satria.
Agak terkejut Ronggolate mendapat perintah itu. Sebab, dia pasti akan melintasi padang rumput itu. Bagaimana jika ada jebakan di dalam rerumputan? Namun, tidak mungkin dia mengungkapkan kengeriannya untuk maju.
“Aku akan maju melihat harta kami dulu!” teriak Ronggolate.
“Majulah!” seru Rugi Sabuntel.
“Heah!” gebah Ronggolate, memajukan kudanya memasuki padang rumput untuk menyeberang ke pinggir jurang.
Ronggolate memajukan kudanya dengan langkah pelan sambil dia memerhatikan area rumput yang akan dilewatinya.
Melihat tindak tanduk Ronggolate yang tidak bertanduk, Rugi Sabuntel bisa menerka kuat apa yang ditakutkan oleh Ronggolate.
Kruk!
Tiba-tiba satu kaki kuda Ronggolate tertekuk jatuh terlutut, membuat bagian kepala kuda ikut jatuh merendah. Kejadian tiba-tiba itu membuat Ronggolate terperosok ke depan dan jatuh dari pelana kudanya. Dia jatuh berguling di rerumputan.
Yang terjadi adalah satu kaki depan kuda Ronggolate masuk ke dalam sebuah lubang di tanah yang cukup dalam untuk menjerat kaki itu.
__ADS_1
Melihat insiden itu, terkejutlah Gurat Satria dan para anak buahnya. (RH)