
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Nenek Codet memasuki Kampung Ular dengan langkah yang sehat, tapi bertongkat. Tatapannya tajam. Dengan wajah keriput yang memiliki codet, dia memiliki modal untuk membuat takut orang yang bertemu dengannya.
Kedatangannya ke kampung itu bukan kali yang pertama, tetapi warga di tempat itu tidak akrab dengannya meski mereka tahu siapa si nenek adanya.
Seorang warga segera melapor kepada Ketua Kelompok Ular Pembunuh, yakni Toreh, ayah mendiang Rambati.
Dengan didampingi oleh Gamak Pera yang bertongkat karena masih luka, Toreh keluar dan pergi menghadang Nenek Codet.
“Hormatku, Tetua,” ucap Toreh sembari menjura hormat.
“Aku mendapat kabar dari pelayanku bahwa muridku telah mati?” tanya Nenek Codet dengan pembawaan yang tenang.
“Benar, Tetua,” jawab Toreh jujur.
“Hmmm,” gumam Nenek Codet.
“Tapi, lebih baik kita bicara di dalam saja, Tetua,” kata Toreh penuh hormat.
“Baik,” jawab Nenek Codet tanpa terkesan berduka atau marah.
Singkat cerita.
Nenek Codet ternyata adalah guru dari Gurat Satria dan Gura Kawini. Toreh menceritakan dari awal, yaitu ketika mereka mendapat orderan dari Adipati Bawel Semara. Toreh pun menceritakan kisah cinta Gurat Satria terhadap Rambati yang bertepuk sebelah tangan, sehingga terciptalah konflik antara Gurat Satria dan Rugi Sabuntel.
Dengan hati-hati Toreh mengisahkan permasalahannya dengan rinci dan lengkap.
Nenek Codet baru terkejut ketika mengetahui murid perempuannya juga mati di tangan Rambati dan demikian sebaliknya.
Namun pada akhirnya, Nenek Codet bisa menerima dan percaya dengan cerita itu tanpa menunjukkan kemarahan atau dendamnya.
“Karena Adipati adalah sebab pertama, maka dia dulu yang harus aku bunuh,” ucap Nenek Codet. “Setelah itu barulah bekas menantumu dan kemudian murid perempuan Dang Dangga.”
Itulah komitmen yang diucapkan oleh Nenek Codet. Karena itulah, hari ini dia hadir di kediaman Adipati Bawel Semara, tepat di saat pemimpin kadipaten itu sedang marah-marah.
“Aku datang ke sini untuk membunuhmu,” kata Nenek Codet kepada Adipati Bawel Semara.
Mendengar itu, seketika terkejut dan takutlah Adipati Bawel Semara. Dahinya langsung berkeringat.
“Pe-pe-perajuriiit!” teriak Adipati dengan suara keras, tetapi terdengar bergetar karena ketakutan.
__ADS_1
Drap drap drap...!
Maka berdatanganlah para prajurit jaga yang sehat-sehat, ditambah sekelompok centeng. Mereka langsung tahu, siapa orang yang mengancam junjungannya sehingga mendadak berubah menjadi ayam gulai siap santap.
Pasukan itu langsung mengepung teras rumah, di mana Nenek Codet duduk dengan tenang. Padahal di dalam hati, hati para prajurit maksudnya, tersimpan was-was karena mereka yakin bahwa nenek yang mereka kepung adalah orang sakti.
Set! Dugg!
“Akk!” jerit satu orang prajurit yang dadanya dihantam satu sinar biru kecil dari ludahan Nenek Codet.
Tubuh prajurit itu terpental deras, jauh ke belakang dan jatuh menghantam tanah, kemudian tidak bergerak lagi. Dia langsung mati dengan dada bolong kecil dan mengepulkan asap tipis.
“Haaah!” pekik para prajurit itu terkejut ketakutan. Mereka refleks mundur ramai-ramai. Jelas mereka tidak mau senasib semati dengan rekan mereka.
Bagaimana tidak ciut jika melihat cara Nenek Codet membunuh? Cukup dengan meludahkan sinar biru kecil.
Adipati Bawel Semara pun dilanda ketakutan. Apa jadinya jika si nenek meludah sinar kepadanya? Ketiga istrinya bisa jadi janda. Meski istri ketiganya telah kabur, tetapi Adipati masih mengakui bahwa itu istrinya. Adipati Bawel belum sempat pergi ke Pengadilan Agama untuk mengurus perceraiannya.
“Tapi aku berubah pikiran, Adipati,” ujar Nenek Codet yang langsung melegakan semua telinga, kecuali telinga si nenek.
“La-la-lalu apa yang kau mau?” tanya Adipati Bawel masih tergagap, bukan bernyanyi.
Terbeliak Adipati Bawel Semara mendengar tuntutan Nenek Codet. Sejenak Adipati terdiam bingung. Pilih mati atau jadi boneka?
“Waktuku tidak banyak, Adipati,” kata Nenek Codet sambil bangkit berdiri, berlagak jadi orang yang punya banyak acara.
“Iya. Aku ... aku akan turuti se-se-semua kemauanmu,” jawab Adipati. Kondisi itu benar-benar menghancurkan derajatnya sebagai pemimpin.
“Bubar!” perintah Nenek Codet kepada para prajurit dan centeng yang sangat terlihat kegentarannya meski memegang senjata.
Legalah para prajurit dan centeng itu. Pasalnya, mereka tidak perlu menjajal jadi orang mati seperti rekan mereka tadi.
Para prajurit dan centeng itu segera membubarkan diri, meninggalkan junjungan mereka seorang diri.
“Pokoknya, kau tinggal menunggu aku datang membawa kepala Nyai Demang dan anak buahnya,” kata Nenek Codet.
“Nyai Demang dan anaknya jangan dibunuh, ditangkap saja!” teriak Adipati Bawel cepat, agar tidak ada kesalahpahaman. Dia tidak mau gagal mendapakan Nyai Demang atau anaknya, atau keduanya, padahal dia sudah berkorban habis-habisan, bahkan rela menjadi budak Nenek Codet nantinya.
“Hmmm,” gumam Nenek Codet. Lalu umpatnya, “Dasar lelaki, tidak puas hanya dengan satu lubang!”
Adipati Bawel Semara hanya mendelik dan menelan ludahnya sendiri mendengar keta-kata si nenek yang seharusnya membuatnya ngamuk-ngamuk.
__ADS_1
Nenek Codet lalu melangkah pergi dengan langkah yang biasa-biasa saja, membuat Adipati jadi memendam keraguan, apakah benar nenek itu orang sakti. Jika dia orang sakti, seharusnya dia datang dan pergi dengan cara terbang seperti burung atau melompat-lompat seperti kodok.
Sementara itu pada saat yang sama di tempat lain.
Akhirnya, terwujud sudah harapan Nyai Demang pergi bersama pemuda pujaan hati. Meski tidak hanya berdua karena ada Buntet juga, tetapi tidak mengapa karena tetap saja hanya dia dan Rugi Sabuntel yang ada di kereta kuda, plus dua kudanya.
Buntet mengusiri pedati yang membawa lima tawanan anak buah Adipati Bawel Semara.
Saking senangnya, Nyai Demang sampai-sampai memilih duduk berpanas ria di sisi Rugi Sabuntel di tempat kusir, daripada duduk sendiri di dalam bilik kereta. Namun, terik menjelang sore itu tidak terasa dengan adanya Rugi Sabuntel di sisinya dan adanya belaian angin kesorean.
Kebahagiaan hati Nyai Demang sangat jelas terlihat dengan senyum samar yang awet di wajahnya, meski di kala dia dan Rugi Sabuntel tidak saling bertukar kata. Nyai Demang tidak terlihat seperti wanita yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya. Bisa dibilang dia terlalu cepat move on-nya.
Berbeda dengan Rugi Sabuntel yang tidak menunjukkan kegenitannya untuk sementara. Masih ada warna kedukaan di raut makmurnya. Sesekali Rugi terlihat melamun sampai-sampai arah kudanya pernah nyaris menabrak kerbau warga yang berpapasan.
“Rugi,” panggil Nyai Demang lembut.
“Iya, Nyai Demang,” sahut Rugi segera menengok, sikapnya tetap santun sebagai bawahan, meski dia seorang pendekar sakti.
“Setelah masalah dengan Adipati Bawel selesai, apa rencanamu?” tanya Nyai Demang yang dahinya terlihat lembap, membuat sehelai dua helai rambutnya melekat di dahi, yang justru memperindah kecantikannya dengan sudut yang berbeda.
“Entahlah, Nyai. Yaaa, mungkin akan kembali bekerja di gudang jagung Nyai Demang. Tiap hari makan sambal kunyit Mak Gendong,” jawab Rugi merendah.
Itulah salah satu karakter yang disukai Nyai Demang dari seorang Rugi. Meski seorang pendekar sakti, Rugi tidak malu untuk menjadi buruh gudang jagung. Dia justru happy mengerjakan itu.
“Bagaimana kalau menjadi kepala gudang jagung?” tanya Nyai Demang menawarkan.
“Maksud Nyai Demang, aku diangkat jadi kepala gudang?” tanya Rugi karena kurang yakin dengan daya tangkapnya.
“Ya, sekalian menjadi pemilik gudang jagung,” jelas Nyai Demang.
“Maksudnya aku akan dinikahkan dengan Campani, Nyai?” tanya Rugi cepat.
Nyai Demang menghempaskan napas mendengar pertanyaan penegasan Rugi.
Lalu dengan mimik kecewa dia berkata, “Aku yang berharap kau mau menikah denganku, Rugi. Kau malah melirik putriku.”
Terkejut Rugi Sabuntel mendengar itu. Seketika dia tidak bisa membalas perkataan Nyai Demang.
Setelah itu, keduanya terdiam. Nyai Demang sesekali melirik Rugi di sisinya, bibir merahnya agak maju karena kesal. (RH)
__ADS_1