Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 39: Pasukan Kadipaten Menyerang


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


 


Mengetahui Nyi Unyu adalah murid dari Dang Dangga, Ki Robek jadi betah mengobrol dengan gadis dewasa itu. Meski Nyi Unyu berkebatasan dalam hal komunikasi, tapi itu tidak membuat si kakek kesal atau jenuh. Ki Robek bahkan menyediakan beberapa lembar papan untuk Nyi Unyu menulis.


Banyak hal yang Ki Robek tanyakan, terutama tentang mendiang pendekar Dang Dangga, juga seputar Jurang Naga Angin. Nyi Unyu pun dengan telaten dan sabar menjawab dan bercerita melalui tulisan pisaunya.


Bendong dan Ageng menjadi pendengar setia. Sebagai pendekar, mereka jelas sangat tertarik dengan bahan obrolan tersebut.


Di sisi lain, Nyai Demang bersikap antara tertarik dan tidak mendengar obrolan dunia persilatan oleh dua orang pakar. Dia duduk tidak terlalu jauh sambil mengurusi dirinya sendiri. Sambil menyisiri rambutnya dalam rangka isnpeksi kutu, demi memastikan kepalanya bebas dari kutu dan telurnya, Nyai Demang diam-diam menyimak obrolan Ki Robek dan Nyi Unyu.


Agak terpisah sendiri, Mak June tertidur pulas karena pengaruh dari kekenyangannya.


Hingga akhirnya, ketika obrolan itu sudah terasa lama, kedua pendekar itu memutuskan berhenti. Nyi Unyu berpamitan pulang. Namun, hari sudah terlanjur senja. Nyi Unyu akan kejatuhan malam di tengah jalan jika memaksa pulang saat itu juga ke Desa Buangsial.


Meski memendam sedikit kadar cemburu karena Nyi Unyu akrab dengan Rugi Sabuntel, Nyai Demang tetap menawarkan kamar untuk menginap bagi penjahit baju itu.


Malam berlalu tanpa ada insiden muslihat dari hati yang cemburu buta.


Pagi-pagi, Nyi Unyu sudah rapi, seperti wanita karir yang mau berangkat ke kantor. Dia menaiki kudanya setelah berpamitan kepada Nyai Demang, yang membuat janda itu penuh keikhlasan melepas tamunya. Nyi Unyu tidak perlu berpamitan kepda Ki Robek atau Bendong, apalagi kepada Mak June.


Saat sudah meninggalkan kediaman Nyai Demang dan akan keluar dari Desa Buangsetan, Nyi Unyu berpapasan dengan satu pasukan kadipaten yang berjumlah sekitar lima puluh orang.


Drap drap drap...!


Pasukan pelari bersenjata pedang dan berperisai itu dipimpin langsung oleh Panglima Muda Arit Batik yang berkuda sendirian.


Arit Batik sempat memandangi Nyi Unyu yang cantik. Dia mengenalnya sebagai penjahit hebat meski bisu. Namun, saat itu Arit Batik dalam tugas serius, tidak ada waktu untuk menggoda wanita cantik.


Setelah melewati pasukan kadipaten tersebut, Nyi Unyu menghentikan kudanya dan diam berpikir seraya menduga-duga.


Berdasarkan cerita yang telah dia dengar tentang dibunuhnya Demang Segara Gara yang diduga kuat didalangi oleh Adipati Bawel Semara, Nyi Unyu dapat menduga kuat ke arah mana pasukan itu akan menuju.


Nyi Unyu lalu membalik arah kudanya dan menggebahnya mengejar pasukan tersebut. Nyi Unyu sempat mengejar, tetapi dia memilih memelankan kudanya agak jauh di belakang.

__ADS_1


Warga Desa Buangsial dibuat terkejut dengan kemunculan pasukan yang tampang-tampang wajahnya seperti perokok yang kehilangan korek. Selain mereka segera menyingkir dari tengah dan pinggir jalan, mereka juga jadi penasaran apa yang akan terjadi.


Semakin lama semakin jelas arah kepergian pasukan itu, yaitu ke arah kediaman Nyai Demang.


Ageng yang sedang menyapu di halaman rumah, terkejut mendengar suara lari banyak kaki. Saat dia memandang ke arah jalanan, dia lebih terkejut melihat kemunculan pasukan kadipaten yang jelas-jelas siap perang.


“Nyai Demaaang! Pasukan kadipaten datang menyeraaang!” teriak Ageng sangat keras, seolah-olah dia mengeluarkan volume maksimum dari suaranya. Itu hal yang sangat langka dia lakukan, karena dia memang wanita tipe pendiam.


Teriakan kencang itu sontak mengejutkan semua orang yang ada di dalam dan sekitar rumah. Ki Robek langsung berkelebat ke depan rumah. Bendong yang ingin buang air besar, tidak jadi masuk ke kakus karena mendadak pup-nya masuk lagi ke dalam perut lantaran kaget mendengar teriakan Ageng.


Nyai Demang, Campani dan Mak June serentak muncul di ambang pintu dengan wajah tegang dan ketakutan.


“Kepuuung!” teriak Panglima Muda Arit Batik kepada pasukannya tapi menunjuk ke arah rumah besar Nyai Demang.


Drap drap drap...!


Puluhan prajurit kadipaten itu langsung berlarian teratur memecah diri menjadi dua, memasuki halaman rumah Nyai Demang dan mengambil posisi mengepung, tidak langsung menyerang.


“Nyai, kunci semua pintu dan jendela! Jangan sampai ada prajurit yang masuk!” teriak Ki Robek.


Para pembantu wanita juga ikut masuk berlindung dan lebih ketakutan, sampai-sampai mereka bingung harus berbuat apa. Berzikir pun tidak bisa karena nol hapalan.


“Cepat tutup pintu belakang, Mak June!” teriak Nyai Demang panik kepada Mak June, sambil dia buru-buru mengunci pintu depan.


Sementara Campani menutup dan mengunci semua jendela rumah.


“Semua jendela sudah aku kunci, Ibu!” teriak Campani memberi tahu.


Di luar, Ki Robek, Bendong dan Ageng telah bersiap dengan senjatanya masing-masing. Mereka ditemani oleh beberapa centeng Nyai Demang yang juga siap dengan golok di tangan, tapi tegang di wajah.


“Anjing-anjing Adipati keparat! Tidak puas majikan kalian membunuh Gusti Demang, sekarang masih juga mau membantai keluaganya!” teriak Bendong marah sambil menunjuk para prajurit itu dengan pisau kecilnya.


“Jika tidak ada yang ingin mati, apalagi terluka, serahkan Nyai Demang dan Campani baik-baik!” seru Arit Batik dengan jumawanya.


“Kejahatan yang sudah sangat jelas di depan mata, tapi masih juga dibela oleh kalian yang seharusnya menjadi penjaga rakyat, tidak akan kami biarkan menjadi racun dalam kehidupan warga Bantar Gepeng. Jika kalian tega membunuh rakyat tidak bersalah, maka kami kaum pendekar juga akan tega membunuh prajurit jahat seperti kalian. Aku Ki Robek. Ingat namaku sampai kalian bertemu dengan setan kematian!” teriak Ki Robek yang sudah seperti orator demo sejuta buruh di Negeri Wakindi. Kemarahannya yang terpendam sepertinya sudah waktunya untuk dilepas agar tidak jadi gairah di malam tanpa istri.

__ADS_1


“Kami tidak akan menyerahkan wanita-wanita cantik kami ke tangan-tangan kotor kalian!” seru Bendong pula dengan meminjam gaya gombalan Blikik. Namun sayang, Blikik tidak hadir saat itu, dia sedang kesiangan dalam pelukan istrinya, bukan selingkuhannya.


“Diberi jalan selamat tidak mau, terpaksa tajamnya pedang yang bicara,” kata Arit Batik. Lalu teriaknya laksana panglima perang sungguhan, “Pasukaaan! Bunuh mereka semua, jangan pandang lelaki atau wanita, jangan pandang tua atau muda, jangan pandang miskin atau kaya! Seraaang!”


“Heaaat!” teriak puluhan prajurit sambil ramai-ramai maju dengan pedang terhunus dan tameng.


Sebagian pasukan menyerang Ki Robek dan kawan-kawan, sebagian lagi menyerbu ke rumah.


“Jika aku bilang lompat, melompatlah kalian semua!” teriak Ki Robek.


“Baik!” sahut salah satu centeng Nyai Demang yang tegang luar biasa dengan wajah sudah berkeringat melihat serbuan yang datang.


Sebelum ada prajurit yang sampai kepada mereka, Ki Robek melakukan loncat di tempat seperti sedang main loncat tali karet.


“Lompat!” teriak Ki Robek saat kakinya akan menjejak tanah.


Jleg! Wuss!


Ketika kedua kaki Ki Robek mendarat di tanah, Bendong, Ageng dan beberapa centeng sudah naik mengudara.


Ketika ada gelombang energi yang menyebar ke segala arah dari pijakan kaki Ki Robek, energi itu lewat di bawah mereka.


“Akk! Akk! Akk...!” jerit para prajurit dengan tubuh berpentalan ke belakang secara massal, ketika mereka dihantam gelombang energi hebat yang tidak terlihat.


Panglima Muda Arit Batik yang duduk di punggung kudanya di sisi belakang terkejut dan terbeliak. Separuh kegarangannya seakan raib melihat kesaktian Ki Robek.


Namun, ada sejumlah prajurit yang lolos dari energi ilmu Pendaratan Dewa Goyang tingkat pertama itu. Mereka adalah prajurit yang menyerang ke rumah.


Bendong dan Ageng kompak segera berlari ke teras dan menyerang para prajurit dengan pisau. Sepasang pendekar itu memang bersenjatakan pisau. Sepertinya memang cocok.


Dak!


“Akk!” jerit Arit Batik saat tiba-tiba dari sisi belakang ada sebatang kaki sekeras balok kayu menghantam sisi kanan kepalanya. Tidak hanya memaksanya menjerit kesakitan, tetapi juga memaksanya jatuh dari kuda.


Sambil meringis, dia segera bangkit dan melihat makhluk apa yang menaboknya. Dia melihat makhluk cantik yang bernama Nyi Unyu.

__ADS_1


“Nyi Unyuuu!” teriaknya murka bukan main. (RH)


__ADS_2