
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Wow keren!
Kuda yang ditunggangi oleh Nyi Unyu bisa sampai ke dekat Rugi Sabuntel tanpa terperosok lubang-lubang di rerumputan. Memang pepatah mengatakan “janda selalu beruntung”.
Melihat kondisi Rugi Sabuntel berlumuran darah dan terpincang, Nyi Unyu menunjukkan wajah tegang lagi cemas. Dia buru-buru turun dari kudanya.
“Nyi Unyu!” sebut Rugi Sabuntel sembari tertawa kecil menyambut kedatangan wanita cantik berbibir ungu tersebut. “Aku sudah memenuhi janjiku untuk menyelamatkan Pedang Petir Naga.”
Rugi Sabuntel menunjukkan pedang pusaka milik Gurat Satria yang sudah padam sinar hijau dan petirnya. Namun, Nyi Unyu mengabaikan pedang itu dan bergerak cepat mengeluarkan pisau.
Sreeet!
Rugi Sabuntel terkejut melihat Nyi Unyu meraih ujung jubah ungunya dan merobeknya dengan pisau kecil. Ujung jubah yang sudah terpotong, Nyi Unyu remas-remas menjadi segumpal. Kain itu lalu diletakkan pada garis luka besar di dada pemuda gendut itu.
“Akh!” erang Rugi Sabuntel karena lukanya ditekan.
Nyi Unyu meraih tangan kanan kiri Rugi Sabuntel yang bebas pegangan dan menempelkan kepada kain di dada. Nyi Unyu meminta Rugi memegangi kain yang disumbatkan pada lukanya.
Sreeet! Sreeet!
Dengan gerakan yang cekatan, Nyi Unyu kembali merobek ujung jubah Rugi Sabuntel sebanyak dua kali sehingga tercipta seperti tali. Nyi Unyu benar-benar bertindak seperti perawat profesional.
Dia lalu membuat ikatan pada badan besar Rugi Sabuntel sehingga lukanya bisa tertutupi oleh perban darurat.
Rugi Sabuntel hanya memandangi wajah cantik Nyi Unyu yang fokus pada pekerjaannya. Ketika perawan setengah tua itu hendak melakukan ikatan terakhir, tanpa sengaja dia bertemu pandang dengan Rugi Sabuntel yang fokus menatapnya.
Deg!
Bergebuk jantung Nyi Unyu karena baru tahu bahwa dia sedang diperhatikan dengan seksama oleh Rugi Sabuntel. Karena tatapan pemuda gendut itu membuatnya salah tingkah di dalam hati, Nyi Unyu tanpa sungkan mendorong wajah Rugi Sabuntel dengan tangan kanannya sehinga menengok ke kiri.
Rugi Sabuntel hanya tersenyum lebar diperlakukan seperti itu. Sementara Nyi Unyu yang memendam malu segera mengakhiri penanganan pada luka Rugi Sabuntel.
Setelah itu, barulah Nyi Unyu mengambil pedang pusaka di tangan kanan Rugi Sabuntel. Nyi Unyu kemudian pergi mendatangi mayat Gurat Satria. Wanita itu mengambil sarung pedang tersebut yang masih berada di punggung Gurat Satria.
Srek!
__ADS_1
Pedang Petir Naga disarungkan dan Nyi Unyu menyandangnya di punggung dengan tali senjata yang melintang melewati dadanya, memuat tonjolannya kian membumi. Nyi Unyu kembali mendatangi Rugi Sabuntel yang mendapat pemandangan lebih mendebarkan.
Sementara anggota Kelompok Ular Pembunuh yang bergelimpangan sebelumnya, sudah ada yang berjalan lemas menuju posisi mayat ketua mereka. Meski tenaga mereka berangsur pulih, tidak ada lagi mau coba-coba membalas Rugi. Mungkin jikalau ada umur dan luang waktu, serta kesehatan, bisa dicoba kembali.
Mertua Rugi Sabuntel masih berdiri di tepi jurang mengamankan peti harta. Dia hanya menyaksikan apa yang tergelar. Entah apa yang dia pikirkan saat melihat Nyi Unyu begitu akrab dengan menantunya.
Nyi Unyu yang tidak bisa berbicara memberi isyarat, menyuruh Rugi Sabuntel untuk naik ke punggung kuda.
“Kau saja, biar aku yang berjalan. Kudaku ada di sana,” tolak Rugi Sabuntel lalu menunjuk ke seekor kuda yang tertambat di pinggir jurang.
“Hmm!” gumam Nyi Unyu bersikeras agar Rugi Sabuntel naik ke kuda.
Melihat gadis itu memaksa dan demi tidak mengecewakannya, Rugi Sabuntel akhirnya naik ke kuda.
“Aku ingin menemui ayah mertuaku sebentar,” ujar Rugi Sabuntel kepada Nyi Unyu.
Nyi Unyu berjalan menuntun kudanya menuju ke posisi Toreh.
Sluk!
Tiba-tiba kuda yang ditunggangi oleh Rugi Sabuntel tersandung karena satu kakinya terjeblos ke dalam lubang di balik rumput. Rugi Sabuntel yang terkejut dengan cepat memeluk leher kuda agar tidak jatuh. Namun, Rugi Sabuntel justru oleng ke kiri, ke arah Nyi Unyu yang menuntun sang kuda.
Blugk!
Bukannya Nyi Unyu yang tidak kuat menahan beban tubuh Rugi Sabuntel, tetapi posisi kuda-kudanya yang tidak optimal, membuat dia jatuh dan tertimpa tubuh besar Rugi.
“Hekh!” pekik Nyi Unyu menahan sakit dan malu. Kuota rasa malunya lebih banyak.
Rugi Sabuntel yang terkejut pun jadi khawatir, kalau-kalau wanita cantik itu bernasib seperti kecoa terinjak. Buru-buru dia bangkit berdiri.
Dilihatnya Nyi Unyu hanya mengerenyit dengan fisik yang tidak apa-apa.
“Maafkan aku, Nyi. Maafkan aku!” ucap Rugi Sabuntel merasa bersalah.
Rugi Sabuntel meraih kedua tangan Nyi Unyu dan menariknya agar kembali berdiri, seperti sang kuda yang sudah berdiri lebi dulu.
“Kau sakit, Nyi?” tanya Rugi Sabuntel.
Nyi Unyu hanya menggeleng sembari tersenyum getir.
__ADS_1
“Kau saja yang naik ke kuda,” saran Rugi Sabuntel.
Nyi Unyu menggeleng lalu menunjuk Rugi Sabuntel.
“Tapi kalau aku jatuh lagi, jangan salahkan aku,” kata Rugi Sabuntel sambil tersenyum, membuat Nyi Unyu mendelik cantik.
Rugi Sabuntel kembali naik ke punggung kuda. Nyi Unyu juga kembali menuntun si kuda.
Untuk kali ini, ketiga makhluk itu tiba di pinggir jurang, di depan Toreh, tanpa insiden terjelok ke lubang.
“Ayah Mertua, aku sudah menyelesaikan tugasku, aku akan pulang. Apakah Ayah akan ikut aku dan tinggal bersama Rambati?” tawar Rugi Sabuntel.
“Tidak. Aku akan kembali bersama kelompokku dan melanjutkan apa yang sudah kami bangun,” tolak Toreh. “Siapa wanita ini?”
“Dia Nyi Unyu, pewaris sah Pedang Petir Naga,” jawab Rugi Sabuntel.
“Aku hanya berpesan kepadamu, Rugi. Jangan sakiti cinta dan perasaan anakku!” tandas Toreh.
“Baik, Ayah,” ucap Rugi Sabuntel patuh.
Rugi Sabuntel merasa pesan itu adalah kalimat ancaman. Sedangkan Nyi Unyu sendiri jadi merasa tidak enak hati, seolah-olah dia wanita perebut suami orang.
“Aku pamit, Ayah. Jika ada kesempatan, datanglah ke Desa Buangsetan untuk menjenguk kami,” ucap Rugi.
“Baik,” jawab sang mertua.
Nyi Unyu lalu menjura hormat kepada Toreh yang hanya mengangguk sekali.
Rugi lalu menjalankan kudanya menuju ke seekor kuda lain yang talinya ditambatkan pada sepokok pohon kecil di pinggir jurang. Itulah kuda Rugi Sabuntel yang sebenarnya.
Sementara itu, Toreh berjalan pergi mendatangi rekan-rekannya yang terluka sambil memanggul peti harta.
“Toreh, kenapa kau tidak ikut bertarung?” tanya Ronggolate dengan wajah yang menunjukkan kemarahan.
“Aku tidak mau kehilangan dua-duanya. Kehilangan Ketua dan kehilangan harta ini. Jika kita tidak bisa menolong nyawa Ketua, setidaknya kita pulang dengan tetap membawa harta kita. Apalagi orang gendut itu adalah suami putriku,” kilah Toreh.
Mendengar jawaban Toreh, Ronggolate tidak mendebat lagi. Toreh kemudian membantu memapah Ronggolate untuk berjalan.
Satu per satu anggota Kelompok Ular Pembunuh mencari kudanya yang nyaman merumput. Kuda-kuda itu tidak pergi jauh-jauh. Sepertinya mereka tidak mau menjadi kuda liar yang dieksploitasi susunya oleh manusia.
__ADS_1
Rugi Sabuntel dan Nyi Unyu pergi dengan menunggangi dua ekor kuda. Mereka meninggalkan tempat yang sudah mulai menggelap oleh senja. (RH)