
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
“Pusaka ini bernama Keris Kembar. Yang bermata merah adalah Keris Raja Bintang dan yang bermata kuning adalah Keris Ratu Bintang,” kata Ki Robek memperkenalkan dua keris yang ada di kedua tangannya kepada muridnya, Rugi Sabuntel.
Itulah senjata pusaka yang tersimpan di dalam peti kayu yang baru saja Rugi Sabuntel gali di bawah dipan gurunya.
Meski disebut Keris Kembar, tetapi sebenarnya kedua keris hitam itu tidak kembar. Keris di tangan kanan Ki Robek yang bernama Keris Raja Bintang, berbentuk lurus dengan pamor yang terbuat dari emas dan berwujud seperti ular kecil yang meliuk. Di tengah-tengah bagian ganjanya atau pangkalnya ada sebutir batu permata warna merah. Gagangnya terbuat dari kayu galih asem yang berwarna cokelat terang.
Sementara Keris Ratu Bintang berwujud meliuk dengan pamor berbahan perak berpola seperti tulang daun. Pada bagian ganjanya atau pangkalnya ada sebutir batu permata berwarna kuning. Gagangnya terbuat dari kayu timoho yang berwarna putih dengan lintasan warna cokelat.
“Keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Beri kehormatan kepada keduanya dengan lawan yang memang tidak sanggup kau atasi, Rugi. Aku tidak akan menceritakan secara rinci tentang Keris Kembar ini. Kau bisa mengetahui sendiri kehebatannya dengan memainkannya dalam latihan ilmu Totokan Jari Seribu. Totokan kau ganti dengan tusukan keris,” kata Ki Robek.
“Baik, Guru,” ucap Rugi Sabuntel.
Ki Robek lalu kembali menyarungkan satu per satu keris itu ke dalam warangkanya. Keris Raja Bintang memiliki warangka dari kayu galih asem yang berhias lapisan pola emas. Sedangkan Keris Ratu Bintang memiliki warangka berbahan kayu timoho dengan hiasan pola perak.
“Ambillah dan bawa keduanya. Yang perlu kau ingat juga, keduanya tidak bisa berpisah, harus ada di tangan satu orang. Ratu mengikuti Raja. Jangan sampai Keris Raja Bintang berpindah tangan,” pesan Ki Robek.
“Baik, Guru,” ucap Rugi Sabuntel.
Rugi Sabuntel lalu berlutut di depan gurunya dan menadahkan kedua tangannya dengan kepala menunduk dalam. Ki Robek lebih dulu meletakkan Keris Raja Bintang ke kedua telapak tangan muridnya itu.
Terkejut Rugi Sabuntel karena kedua tangannya langsung terjatuh ke bawah karena keberatan oleh bobot keris tersebut. Namun tidak sampai kedua tangan itu menyentuh tanah karena Rugi buru-buru menahan dengan tenaga. Dia tidak menyangka bahwa keris itu bisa lebih berat jika bahannya total dari besi.
“Keris ini terbuat dari batu bintang yang lebih berat dari logam jenis apa pun di dunia,” kata Ki Robek. “Jangan sampai badan besarmu kalah oleh bobot sebuah keris saja.”
__ADS_1
“Iya, Guru,” ucap Rugi Sabuntel patuh. Saat itu dia benar-benar bersikap sebagai anak yang baik. Ia menganggap itu adalah momen yang sangat sakral.
Rugi lalu menyelipkan Keris Raja Bintang di sabuk belakangnya. Setelah itu, Rugi kembali menadahkan kedua tangannya.
Ki Robek ganti meletakkan Keris Ratu Bintang ke kedua telapak tangan Rugi. Kali ini tangan itu tidak jatuh karena keberatan karena Rugi sudah siap menahan dengan tenaganya.
“Terima kasih, Guru. Doakan aku agar berhasil membawa pulang istriku, Guru,” ucap Rugi.
“Tapi aku tidak pernah berdoa kepada Dewa, Rugi. Segeralah pergi, agar kau tidak berpapasan dengan Nyai Demang di jalan,” kata Ki Robek.
Pikir Ki Robek, jika sampai Rugi bertemu Nyai Demang di jalan, Nyai Demang kemungkinan kuat akan menahan Rugi. Kematian suaminya membuat Nyai Demang memiliki jalan yang dibenarkan untuk mendapatkan lelaki pengganti. Kandidat kuat lelaki pengganti itu adalah Rugi Sabuntel yang sudah lama ia akrabi, semenjak Rugi bekerja sebagai buruh di gudang jagung.
“Jika begitu, tidak apa-apa, Guru. Aku akan langsung berangkat agar tidak bertemu Nyai Demang,” kata Rugi mengerti.
Meski Rugi merasa senang-senang saja jika dekat dengan Nyai Demang yang cantik dan selalu wangi, tapi untuk saat ini Rugi harus mementingkan istrinya di atas para kandidat selingkuhannya.
Maka, setelah mendapat dua keris pusaka serta penjelasan dan wejangan singkat dari gurunya, Rugi Sabuntel tidak mengulur waktu untuk meninggalkan Hutan Buangsetan.
Dari kediaman gurunya, dia mampir sebentar ke rumah aslinya. Ia menemui ibunya dan kakeknya hanya untuk meminta izin dan restu.
“Bawalah menantu Emak dengan selamat dan tetap cantik, Rugi.”
Hanya itu pesan penting Mak June.
Dari rumahnya, Rugi Sabuntel berkuda cepat meninggalkan Desa Buangsetan menuju ke Desa Buangsial yang masih dalam wilayah Kademangan Butogilo. Tanpa dia ketahui, tidak berapa lama dia meninggalkan sebuah pertigaan di Desa Buangsetan, dari arah lain muncul rombongan kereta kuda Nyai Demang.
Saat itu, Nyai Demang bersama putri cantiknya dalam pengawalan Bendong, Ageng, dan beberapa centeng menuju ke rumahnya yang ada di Desa Buangsetan.
__ADS_1
Kembali kepada perjalanan Rugi Sabuntel yang sedang dalam misi penyelamatan.
Berdasarkan informasi dari Kepala Desa Buangbiang Ki Bengal, sarang Kelompok Ular Pembunuh ada di dalam hutan di Kademangan Butoloro, yang bertetanggaan dengan Kademangan Butogilo dan masih dalam wilayah Kadipaten Bantar Gepeng. Jadi sebenarnya tidak terlalu jauh jika pergi dengan berkuda kencang.
Namun, Rugi Sabuntel tidak langsung menuju ke Kademangan Butoloro, tetapi mampir ke Desa Buangsial yang masih wilayah Kademangan Butogilo. Desa Buangsial adalah alamat rumah Bendong yang saat ini sedang bersama Nyai Demang.
Sesampainya di Desa Buangsial, hari terbilang masih pagi, meski terik sudah terasa. Kata pengamat politik, sinar matahari pagi bagus untuk kulit, meski membuat hitam.
Lalu mau ke mana Rugi Sabuntel jika sahabatnya tidak ada di rumahnya? Jangan dijawab, sebab Rugi sudah berhenti di depan salah satu lapak yang ada di sebuah pasar. Lapak itu adalah penjahit dan pembuat baju yang dimiliki oleh seorang gadis berusia kepala tiga. Gadis cantik berhidung mancung itu memiliki bibir tipis bergincu ungu dengan mata bermaskara tebal warna ungu. Saat itu, dia mengenakan pakaian warna ungu muda seperti warna bunga.
Gadis itu bernama Nyi Unyu, seorang penjahit dan pembuat baju berkeahlian pendekar. Saat Rugi Sabuntel datang, Nyi Unyu yang berwajah dingin sedang merapikan tatanan kainnya yang memiliki banyak warna.
Mendengar ada suara kuda berhenti di depan lapaknya, Nyi Unyu segera menengok.
Deg!
Jantung gadis itu berdetak kencang laksana ingin copot ketika melihat siapa yang datang. Untung mau copotnya hanya perumpamaan belaka.
Namun, mengenali Rugi Sabuntel yang datang, entah kenapa membuat jantung Nyi Unyu berdetak kencang. Ada rasa bahagia, tapi ada juga rasa ketar-ketir. Jujur, Nyi Unyu merasa punya salah, karena dia tahu bahwa Rugi telah memergokinya pergi meninggalkan acara menonton turnamen Duel Pendekar Butogilo. Cerita itu tertuang dalam novel “Rugi 1 Perampok Budiman”.
Sama seperti masa dua kali Rugi Sabuntel menemui Nyi Unyu, gadis itu selalu dingin dan minim ekspresi. Juga tidak berbicara karena faktanya dia tunawicara.
Rugi Sabuntel turun dari kudanya. Setelah menambatkan kudanya, dia masuk ke dalam lapak untuk menemui Nyi Unyu.
“Salam datang, Nyi Unyu!” salam Rugi Sabuntel.
Nyi Unyu hanya menjawab dengan anggukan wajah. Sejenak sorot matanya tertuju kepada keris di pinggang kiri Rugi Sabuntel.
__ADS_1
Kian berdebar kencang jantung Nyi Unyu. Dia takut jika pemuda gemuk gagah itu bertanya tentang kepergiannya dari menonton duel pendekar, meski sebenarnya dia punya jawaban jika ditanya. (RH)