
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Saat ini Rugi Sabuntel harus membuang jauh-jauh planing malam pertama atau ritual belah durian, karena duriannya digondol monyet tanpa ekor. Saat ini, dia harus memikirkan cara untuk menemukan kembali durian itu dan memastikannya belum sempat dibuka oleh si monyet jahat.
Jika mau, bisa saja pendekar gendut itu mencari durian baru, karena ada pohon durian yang sedang berbuah di dekatnya. Namun, durian yang dicolong orang itu adalah hak miliknya satu-satunya. Jika dia membiarkan orang asing merampok haknya begitu saja, jiwa kependekarannya bisa-bisa dipertanyakan dunia.
Ki Robek, gurunya satu-satunya, bahkan memerintahkan untuk merebut kembali Rambati dalam kondisi utuh atau berkurang.
Setelah Nyai Demang dan Campani beristirahat di bawah penjagaan Ageng, Rugi Sabuntel berbincang enam mata bersama Ki Robek dan Bendong.
“Banyak sekali pertanyaan yang memerlukan jawaban, Guru. Apakah Rambati bagian dari kelompok pembunuh itu atau bukan? Apakah dia ikut merencanakan serangan ini? Apakah dia mencintaiku atau tidak? Apakah dia mau aku rebut kembali atau tidak? Saat aku bertarung dengan pemilik Pedang Naga itu, Rambati mengkhawatirkan aku. Namun, ketika dia pergi bersama salah satu anggota kelompok itu tanpa dipaksa, dia tersenyum kepadaku. Apa maksud dari senyumannya?” ujar Rugi Sabuntel kepada Ki Robek.
Saat itu mereka bertiga duduk di bekas pelaminan Rugi dan Rambati.
“Inilah risiko menikahi orang yang tidak kita kenal dekat. Namun, pertanyaan itu tetap harus dicari jawabannya. Jika Rambati mengenal baik orang-orang itu, berarti dia bagian dari mereka. Cinta Rambati kepadamu, tentunya kau bisa merasakannya, Rugi,” jawab Ki Robek.
“Aku bisa merasakan Rambati mencintaiku dalam beberapa hari ini hingga dia akhirnya ikut pergi. Aku bisa merasakan cinta dan perhatiannya, meski sikapnya masih canggung,” kata Rugi Sabuntel.
“Jika kau yakin, lalu kenapa kau tanyakan lagi?” kata Bendong.
Rugi Sabuntel hanya melirik sahabatnya itu. Kemudian dia kembali fokus kepada gurunya yang berwajah rusak.
“Jika benar dia mencintaimu, dia pasti ingin kau merebutnya kembali. Jika Rambati pada kenyataannya memiliki seorang kekasih yang dia cintai, tidak mungkin dia berani obral diri untuk dinikahi. Aku yakin dia bermasalah dengan lelaki yang mengaku sebagai kekasihnya. Rambati sudah menjadi hakmu, Rugi. Kau harus mengambilnya kembali meski harus bertaruh nyawa dalam keadaan utuh atau kurang. Kau berguru kepadaku untuk menjadi seorang pendekar yang berjiwa pendekar. Kehormatanmu sebagai pendekar akan tergadaikan jika kau membiarkan milikmu yang lebih berharga dari emas permata diambil orang dengan semena-mena,” tegas Ki Robek.
“Baik, Guru. Aku akan mengambil kembali Rambati,” kata Rugi Sabuntel.
“Yang terpenting adalah merebutnya kembali. Setelah itu bisa kau tanyakan, apakah benar dia ingin kembali kepadamu atau ingin pergi. Jika dia ingin pergi dan ternyata kau hanya dipermainkan, lepaskan saja. Masih banyak wanita cantik yang justru benar-benar mencintaimu,” kata ki Robek.
“Baik, Guru,” ucap Rugi Sabuntel patuh.
“Aku menilai, Rambati tidak terlibat dalam rencana penyerangan ini. Jika dia terlibat atau tidak memiliki masalah dengan lelaki berpedang itu, pasti kekasihnya itu tidak akan marah melihat kau dan Rambati sudah menikah,” kata Bendong.
“Benar. Mungkin juga Rambati memiliki hubungan khusus dengan lelaki yang membawanya berkuda. Dia terlihat akrab dengannya. Atau mungkin, orang itu adalah ayahnya,” pikir Rugi Sabuntel.
__ADS_1
“Aku menyarankanmu untuk pergi ke Jurang Naga Angin untuk bertemu dengan pewaris Pedang Petir Naga. Jika itu membuang waktu, tidak ke sana pun tidak apa-apa,” kata Ki Robek.
“Nanti akan aku sesuaikan kondisi, Guru,” kata Rugi yang membuat gurunya mengangguk.
“Nyai Demang mengadakan masa berkabung sepuluh hari di kediamannya di Desa Buangsetan. Aku akan menjaganya selama kau pergi, agar Nyai Demang tidak keberatan mebiarkanmu pergi. Namun, sepertinya kau butuh bantuan. Akan sangat sulit menghadapi kesaktian Pedang Petir Naga dan musuh yang jumlahnya banyak....”
“Biar aku ikut membantu, Rugi,” ujar Bendong.
“Jangan, Bendong. Kondisimu sangat tidak memungkinkan, apalagi kau terluka. Jika hanya menghadapi centeng-centeng orang kaya yang kita rampok, itu tidak masalah. Namun, Kelompok Ular Pembunuh adalah kelompok pendekar. Mereka sangat berbahaya,” kata Rugi Sabuntel.
“Benar, Bendong. Untuk sementara kau dekat-dekatlah dengan Nyai Demang. Kasihan ibu anak itu,” kata Ki Robek.
“Baiklah, Ki,” ucap Bendong.
“Lalu, siapa yang akan membantuku, Guru?” tanya Rugi Sabuntel.
“Bukan siapa, tapi apa,” jawab Ki Robek.
“Maksud Guru?” tanya Rugi lagi, tidak paham.
“Kau harus memiliki pusaka juga, Rugi. Sangat berbahaya jika hanya mengandalkan kemujuran belaka,” timpal Bendong.
“Baik, Guru,” ucap Rugi Sabuntel patuh.
“Jika begitu, kita pulang malam ini juga, agar kau tidak membuang banyak waktu untuk menyelamatkan istrimu,” kata Ki Robek.
“Baik,” jawab Rugi sambil berdiri lebih dulu.
“Bendong. Nanti sampaikan kepada Nyai Demang, aku dan Rugi pulang ke hutan Desa Buangsetan. Katakan, Rugi sudah pergi untuk menyelamatkan Rambati dan mencari tahu siapa orang yang membayar kelompok itu. Aku akan menunggunya di Buangsetan. Aku akan turut menjaganya selagi Rugi belum kembali,” kata Ki Robek.
“Baik, Ki,” ucap Bendong patuh.
Maka, tengah malam itu juga, Rugi Sabuntel dan Ki Robek pergi berkuda pulang ke Desa Buangsetan.
__ADS_1
Sekedar informasi, mendiang Demang Segara Gara memiliki dua rumah, yaitu di Desa Buangsetan dan di Desa Buangbiang. Rumah di Desa Buangbiang ini adalah rumah kedua. Adapun rumah utama ada di Desa Buangsetan, satu desa dengan Rugi Sabuntel.
Karena sifatnya darurat, guru dan murid itu berkuda gelap-gelapan.
Menjelang pagi, barulah mereka tiba di Desa Buangsetan. Lalu mereka pergi ke hutan, di mana kediaman Ki Robek berada. Di gubuk itu pula Rugi tumbuh besar sebagai seorang murid.
Setelah menyalakan dian di waktu subuh itu, Ki Robek lalu masuk ke dalam kamar sederhananya.
“Kemarilah, Rugi!” panggil Ki Robek.
Rugi segera datang ke kamar. Ternyata gurunya sudah mengangkat satu sisi dipan sehingga dua kakinya terangkat cukup tinggi. Bukan kedua kaki Ki Robek yang terangkat, tetapi kaki dipan. Semoga tidak salah paham.
“Kau gali tepat di tengah-tengah. Ada kotak kayu yang aku kubur sejak puluhan tahun yang lalu,” perintah Ki Robek.
“Baik, Guru,” ucap Rugi patuh.
Saking bersemangatnya, sampai-sampai Rugi menggali dengan jari-jari besarnya. Meski tanah di kamar itu cukup keras, tetapi jari-jari Rugi bisa menggali tanpa takut cacingan.
“Aku dapat, Guru,” kata Rugi setelah tangannya merasakan adanya material kayu. Dia bisa membedakan kerasnya batu dan kerasnya kayu atau sifatnya. Namun yang jelas, sama-sama keras.
Rugi Sabuntel kian bersemangat menggali untuk mudah membongkar benda yang memang adalah sebuah peti kayu yang wujudnya masih bagus, tidak termakan cacing.
Setelah mengeluarkan dari makamnya, kotak itu kemudian dibersihkan dengan cara dilap menggunakan kain. Ternyata itu kotak kayu berukir berbentuk bangun balok dengan panjang setengah depa.
Peti itu diserahkan kepada Ki Robek. Harus gurunya yang membukanya karena itu milik gurunya.
“Ingat, Rugi. Selain mengambil kembali istrimu, kau juga harus mencari tahu siapa dibalik pembunuhan Demang Segara Gara,” kata Ki Robek. “Meski aku mencurigai seseorang.”
“Siapa, Guru?” tanya Rugi cepat.
“Menurutmu siapa yang bisa membayar mahal Kelompok Ular Pembunuh, dan dia akan mendapat keuntungan dari matinya Demang Segara Gara?” Ki Robek justru balik bertanya.
“Sepertinya aku tidak tahu, Guru,” jawab Rugi.
__ADS_1
“Pikirkanlah. Nanti kau pasti akan menduga seseorang. Belajarlah pintar, Rugi. Jangan hanya pintar menggombali Nyai Demang,” kata Ki Robek.
Terkejut Rugi Sabuntel. Perkataan gurunya seolah-olah menyebutnya bodoh dan tukang gombal istri orang. (RH)