Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 22: Rugi-Rambati Bersatu


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


Gamak Pera memapah Ronggolate yang tidak bisa berjalan karena satu kakinya patah.


Rugi Sabuntel masih berdiri di atas pedati sitaannya.


Sementara Gurat Satria masih duduk di punggung kudanya bersama pasukannya. Maksudnya pasukannya duduk di kuda masing-masing, bukan duduk ramai-ramai di kuda Gurat Satria. Jangan salah paham.


Satu pertukaran telah terjadi, yaitu nyawa Ronggolate ditukar dengan nama orang yang memberi perintah untuk membunuh Pangeran Doro Ronggowoso. Meski nama hampir sama, tetapi Pengeran Doro Ronggowoso tidak memiliki hubungan darah dengan Ronggolate.


“Sekarang bebaskan istriku!” teriak Rugi Sabuntel kepada Gurat Satria.


“Bawa Rambati kepadanya, Toreh!” perintah Gurat Satria kepada Toreh.


Tanpa menjawab, Toreh menjalankan kudanya dengan langkah biasa, bukan langkah tegak maju.


“Aku bisa menebak apa yang kau rencanakan, Gurat,” kata Rambati yang duduk di belakang punggung ayahnya.


Gurat Satria hanya menatap Rambati dengan tatapan yang tajam mengandung kemarahan.


Dengan teliti, Toreh menjalankan kudanya melewati padang rumput. Dia tidak mau kudanya bernasib seperti kuda dua rekan sebelumnya.


Ternyata Toreh berhasil lolos dari lubang-lubang jebakan. Dia berhasil sampai di dekat pedati Rugi Sabuntel. Toreh memandang kepada peti yang menggantung di ujung bambu di jurang.


“Rambati!” sebut Rugi Sabuntel sembari tersenyum. Sar sir sur lah perasaannya karena bisa bersama lagi dengan istrinya tercinta.


“Kakang Rugi!” sebut Rambati pula sumringah.


Rambati dengan mudahnya melompat dari punggung kuda dan mendarat di hadapan suami gendutnya, hanya sejangkauan tangan.


“Kakang Rugiii!” pekik Rambati benar-benar bahagia sambil memeluk tubuh besar suaminya.


Meski ada bau tidak sedap dari tubuh istrinya, Rugi Sabuntel pun balas memeluk dengan erat. Ingin rasanya Rugi melakukan ciuman pertama saat itu juga, tetapi dia masih punya adab dan rasa malu. Tidak mungkin dia mencium istrinya atau melepaskan rindu berat dan cinta setengah hidupnya di muka publik.


“Kau tidak apa-apa, Rambati?” tanya Rugi Sabuntel sambil melepaskan pelukannya dan menatap cemas wajah jelita istrinya yang kusut.


“Panggil aku Sayang, Kakang,” kata Rambati dengan senyum manja. Rupanya pendekar wanita keras kepala itu punya karakter manja juga.


“Oh iya. Sayang. Hahaha! Kau tidak apa-apa, Sayang?” ucap Rugi Sabuntel jadi salah tingkah dengan tawa kakunya.


“Aku baik-baik saja. Maafkan aku, Kakang Rugi. Aku telah membahayakan dirimu. Tapi, aku ingin melihat sebesar apa cintamu padaku,” ujar Rambati.


“Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang kau telah aman bersamaku,” kata Rugi. Kebahagiaannya saat itu seolah-olah melupakan semua dosa-dosa istrinya.


Panas. Panas jantung Gurat Satria melihat tontonan mesra itu. Wanita yang dicintainya begitu mesra dengan lelaki yang dia anggap jelek dan gendut. Dia merasa dirinya jauh lebih tampan dan gagah dibandingkan Rugi Sabuntel.

__ADS_1


Gurat Satria lupa bahwa ada yang dia tidak miliki, tetapi dimiliki oleh Rugi Sabuntel, yaitu perut gendut.


Bukan hanya Gurat Satria yang mendidih darahnya, tetapi juga para anak buahnya, tetapi yang lain lebih kepada tidak suka melihat musuh mereka bahagia.


“Perkenalkan, ini ayahku satu-satunya. Namanya Toreh,” kata Rambati memperkenalkan ayahnya yang menunggu di atas kuda. Entah apa yang ditunggunya.


“Hormatku, Ayah Mertua,” ucap Rugi Sabuntel sembari menjura hormat ala pendekar.


“Jika kau bisa lolos hari ini, aku harap kau membahagiakan putriku, Rugi,” ujar Toreh.


“Tentu, Ayah,” jawab Rugi Sabuntel. “Aku berjanji akan membahagiakan Rambati.”


“Kepuuung!”


Tiba-tiba terdengar teriakan menggelegar dari Gurat Satria.


Drap drap drap...!


Maka sebanyak tujuh belas anggota Kelompok Ular Pembunuh menjalankan kudanya. Mereka mencabut pedang masing-masing. Mereka pun harus hati-hati agar kuda mereka tidak terjeblos ke dalam lubang yang tersebar di dalam rumput.


“Sayang, pulanglah ke kediaman Demang di Desa Buangsetan. Temui Guru di sana dan tunggu aku pulang!” kata Rugi Sabuntel cepat.


“Kau yakin bisa selamat dari mereka, Kakang?” tanya Rambati. Kali ini dia cemas sungguhan.


“Pergilah, Rambati!” seru Toreh pula.


Tes!


Tiba-tiba Rugi Sabuntel menyentilkan jari tengahnya ke arah kuda pedati. Satu energi yang tidak terlihat melesat dan menembak bokong kuda.


Sontak si kuda meringkik keras dan kemudian berlari kencang. Nyaris saja Rambati terjatuh. Sementara Rugi Sabuntel telah melompat turun dari bak pedati.


“Tunggu aku pulang, Sayaaang!” teriak Rugi Sabuntel.


“Aku akan menunggumu, Suamikuuu!” teriak Rambati pula.


Rambati lalu bergerak ke posisi kusir dan menguasai tali kendali kuda.


Kuda itu berlari lurus di sepanjang bibir jurang. Jalur itu bebas dari lubang jebakan.


“Tangkap Rambatiii!” teriak Gurat Satria sambil menunjuk ke arah pedati yang berlari kencang menjauh.


Langkah kuda yang berhati-hati membuat kelompok itu sulit mengejar Rambati dan pedatinya. Perintah Gurat Satria membuat tiga anggota kelompok memutuskan menggebah kencang kudanya demi bisa mencegah kepergian pedati.


Blugk! Blugk! Blugk!

__ADS_1


Ternyata Rugi Sabuntel memang membuat lubang yang banyak. Terbukti, ketiga kuda anggota Ular Pembunuh yang ingin mengejar Rambati, harus terjebak kakinya. Ketiga kuda itupun tersungkur bersusulan dan penunggangnya pun jatuh bergulingan.


Ketiga anggota Ular Pembunuh tersebut tidak menderita luka yang berarti. Mereka bertiga segera bangkit.


Di saat rekan-rekannya bergerak hendak menyerang Rugi Sabuntel, Toreh yang posisinya tidak begitu jauh dari pendekar gendut itu, memilih tidak ikut menyerang menantunya. Toreh lebih memilih turun dari kudanya dan mendekat ke bibir jurang, tepatnya ke posisi dua batang bambu yang melengkung ke bawah. Dia ingin mengambil peti harta.


“Hentikan tindakan kalian!” teriak Rugi Sabuntel memperingatkan semua anggota Kelompok Ular Pembunuh itu.


Rugi Sabuntel diam sebentar untuk melihat apakah seruannya digubris. Oh, ternyata tidak. Para pembunuh berkuda itu terus bergerak maju dan kian dekat.


Orang pertama yang mendatangi Rugi Sabuntel adalah Gamak Pera. Dia meninggalkan Ronggolate terduduk di rerumputan demi menyerang Rugi Sabuntel.


“Aku sudah memperingatkan kalian!” teriak Rugi Sabuntel keras.


“Hiaaat!” teriak Gamak Pera dengan tubuh berputar seperti silinder di udara, tapi pedangnya berputar seperti baling-balik pesawat.


Dengan gesit Rugi Sabuntel menghindari serangan pedang maut itu dan memilih meninggalkan Gamak Pera. Rugi Sabuntel berlari sejauh satu tombak ke arah kedatangan belasan kuda itu. Kemudian dia melompat tinggi mengudara dengan tubuh besarnya yang bersalto.


Set! Set!


Di saat tubuh besar Rugi Sabuntel berada di udara, Kin Anti dan satu orang anggota lelaki cepat berinisiatif melesatkan pedang mereka lepas dari tangan.


Meski dalam kondisi tubuh berputar salto di udara, tetapi pandangan Rugi Sabuntel tetap awas dan bisa menguasai keadaan. Kedua tangannya bisa ia gunakan untuk menangkis pedang terbang tersebut, sehingga bisa mementalkannya tanpa membuat tangan teriris.


Jleg!


Rugi Sabuntel mendarat keras dengan kedua kakinya di tanah berumput.


Wesss!


Tiba-tiba dari bawah kedua kaki besar itu melesat gelombang energi ke segala arah. Wujud energi itu bisa diketahui dengan gerakan rumput yang rebah ke segala arah secara teratur dan runut, yang kemudian mencapai kaki-kaki kuda yang sedang berjalan di rerumputan.


Yang kemudian terjadi adalah energi dari ilmu Pendaratan Dewa Goyang tingkat pertama menghantam kaki-kaki kuda.


Blug blugk blugk...!


Kuda-kuda itu tersungkur ke depan, bahkan ada yang terpental pendek ke belakang dan jatuh juga bersama para penunggangnya.


Pantaslah Gurat Satria menjadi pemimpin. Di saat para anak buahnya dibuat berantakan dengan berjatuhan bersama kuda, dia ternyata bisa selamat dari jatuh.


Ketika melihat pergerakan rumput yang dijalari gelombang energi, Gurat Satria tepat waktu melompat mengudara dari atas punggung kudanya. Sementara sang kuda tersungkur jatuh. Sepertinya Gurat Satria tidak setia kepada kudanya.


Sebenarnya Rugi Sabuntel bisa berbuat lebih ekstrem dari itu dengan ilmu Pendaratan Dewa Goyang tingkat dua, tetapi dia tidak mau terlalu menyakiti kaum kuda.


Di saat para anggota Kelompok Ular Pembunuh berjatuhan, Rugi Sabuntel cepat melesat menyongsong turunnya tubuh Gurat Satria dari udara. (RH)

__ADS_1


__ADS_2