
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
“Sambeeer!” teriak kencang Sumira Dasmi terkejut melihat putranya yang mengarahkan lari kencang kudanya kepada Adipati Bawel Semara.
Bukan hanya Sumira Dasmi yang terkejut, semuanya juga terkejut, terutama Adipati Bawel Semara yang sepertinya ingin ditabrak oleh Samber Raga.
Drap drap drap!
“Bangun, Lilis!” teriak Samber Raga yang tidak berbaju, tapi masih bercelana meski tidak bercawat dalam.
Lilis Angir yang duduk tersimpuh di tanah samping rumah dan tidak jauh dari Adipati sempat bingung, tetapi dia buru-buru berusaha berdiri meski kakinya sakit.
Adipati Bawel Semara bergerak mundur terbirit-birit berusaha menghindari kuda yang ingin menabrak.
“Anak durhaka kau, Sambeeer!” maki Adipati Bawel Semara gusar.
Tiba-tiba Samber Raga sedikit membelokkan laju kudanya dan dia menurunkan badan atasnya ke samping kuda dengan satu tangan terentang. Pemuda itu menyambar pinggang Lilis Angir yang merupakan ibu tirinya sekaligus kekasih terlarangnya. Adegan itu persis seorang koboi berkuda yang datang sebagai pahlawan bagi seorang gadis.
“Akk!” pekik Lilis Angir saat tubuhnya disambar oleh tangan kekar Samber Raga dan membawanya pergi.
Adipati Bawel Semara agak lega karena tidak jadi ditabrak kuda, tetapi dia marah melihat istri mudanya dibawa kabur oleh putranya sendiri.
Lilis Angir akhirnya berhasil duduk di punggung kuda, di belakang Samber Raga. Dengan tegang dan takut, dia memeluk erat pinggang selingkuhannya itu.
Panglima Muda Arit Batik dan beberapa prajurit kadipaten berusaha menghadang kuda yang berlari menuju ke pintu pagar. Namun, lari kuda Samber Raga sedemikian kencang, membuat Panglima Muda dan anak buahnya memilih melompat ke samping daripada kena tabrak.
Dengan demikian, maka loloslah Samber Raga dan Lilis Angir dari kemarahan Adipati Bawel Semara.
“Arit Batik, kenapa kau biarkan mereka lolooos?!” teriak Adipati Bawel marah bukan main. “Cepat kejaaar! Tangkap anak setan itu!”
“Kejaaar!” teriak Panglima Muda Arit Batik.
Para prajurit segera berlari kencang untuk mengejar kuda Samber Raga.
“Prajurit bodoooh!” teriak Arit Batik meneriaki pasukannya.
Merasa mereka yang diteriaki, belasan prajurit itu jadi berhenti berlari dan menengok kepada panglimanya.
“Pakai kuda, Buodoh!” maki Panglima Muda kesal.
Mau tidak mau, para prajurit itu berbalikan dan berlomba-lomba berlari menuju kandang kuda. Mereka tahu bahwa jumlah kuda terbatas, tidak sebanyak jumlah orang. Jadi siapa duluan sampai, itu yang dapat kuda. Maka, prajurit yang tidak niat mengejar Samber Raga dan Lilis Angir memilih berlari gaya slow motion.
“Prajurit kurang ajar!” maki Adipati Bawel Semara marah sambil cepat memungut batu dan melempar prajurit yang melawak.
__ADS_1
Mendapat lemparan batu, walaupun tidak kena, prajurit itu terkejut dan buru-buru lari sprint. Dan jadilah dia pemenang yang lebih dulu mengambil kuda. Bermodal takut dihukum, dialah yang kemudian paling semangat dan terdepan mengejar Samber Raga.
Akhirnya semua kuda dipakai untuk mengejar Samber Raga, tertinggallah beberapa prajurit yang tidak kebagian kuda.
“Kuda untukku mana?” tanya Panglima Muda Arit Batik kepada prajurit yang tidak kebagian kuda.
“Habis, Panglima. Panglima tidak minta,” jawab salah satu prajurit dengan ekspresi melongo. Mereka tidak menyangka sang panglima muda mau kuda juga.
“Buoddoh!” maki Arit Batik.
Para prajurit itu segera berlalu meninggalkan panglimanya sambil lirik-lirikan.
“Padahal yang bodoh itu dia. Hihihik!” bisik si prajurit lalu tertawa cekikikan ala orang licik, memancing rekan-rekannya untuk tertawa dengan model yang sama.
Mendengar kasak-kusuk para prajuritnya, marahlah Arit Batik. Namun, belum lagi dia meneriaki bawahannya, dia yang lebih dulu diteriaki.
“Arit Batik! Sini!” panggil Adipati Bawel Semara.
“Iya, Gusti!” sahut Arik Batik, lalu bergegas berlari menghadap.
“Rasakan itu!” maka salah satu prajurit yang melihat junjungannya buru-buru menghadap kepada Adipati Bawel.
“Kumpulkan Pasukan Kadipaten. Nyai Demang dan orang-orangnya harus ditangkap hari ini juga!” perintah Adipati Bawel Semara.
“Tapi itu tidak akan keburu, Gusti,” kata Arit Batik.
“Baik, Gusti,” ucap Arit Batik patuh.
“Di mana Gepeng Rempeng?” tanya Adipati.
“Tadi dia izin pulang ke rumah istri mudanya, Gusti,” jawab Arit Batik.
“Prajurit tiada guna. Dia pikir kalau punya istri muda hidup bisa bahagia!” gerutu Adipati kesal. “Suruh orang untuk memanggilnya menghadap aku. Aku ingin mengirim surat ke Istana!”
“Baik, Gusti,” ucap Arit Batik patuh.
“Sudah, pergi sana!” usir Adipati.
“Tapi ... aku tidak ada kuda, Gusti,” ucap Arit Batik ragu.
“Jalan saja. Kau masih punya kaki, Boddoh!” maki Adipati Bawel Semara.
“Ba-ba-baik, Gusti,” ucap Arit Batik sembari menjura hormat, lalu berbalik pregi.
“Tidak panglima, tidak prajurit, sama-sama bodoh!” maki Adipati Bawel di belakang.
__ADS_1
“Aaah, untung adipati, kalau demang, sudah aku tonjok congornya!” dumel Arit Batik, tapi di dalam hati saja. Faktanya dia berjalan kalem menuju ke gerbang halaman.
“Gusti Adipati mau menangkap janda Demang Segara Gara?” tanya Sumira Dasmi.
“Benar,” jawab Adipati tanpa ragu.
“Tapi, atas dasar apa Gusti menangkapnya?” tanya Kunir Sulasih, istri muda Adipati.
“Kelima prajurit yang aku perintahkan untuk membakar gudang jagung Demang Segara Gara mereka tangkap. Itu yang akan aku jadikan alasan untuk menangkap Nyai Demang dan Campani,” jelas Adipati Bawel Semara.
“Apakah Gusti belum puas membunuh Demang Segara Gara? Kenapa harus menghukum istri dan anaknya juga?” kata Sumira Dasmi mengingatkan.
“Diam saja kau, Perempuan Celaka!” hardik Adipati Bawel. “Sejak dulu kau memang tidak pernah bisa diajak berbuat jahat sedikit saja. Lihat sekarang, anakmu membuat musibah kepadaku, seolah-olah aku ini bukan bapaknya yang menanam benih di perutmu. Atau memang bukan benihku?”
“Gusti!” pekik Sumira Dasmi terkejut dan marah mendengar kalimat terakhir suaminya. Sepasang matanya terlihat berkaca-kaca karena ingin menangis, bukan karena gembira. “Apakah Gusti tidak lihat, wajah dan kelakuannya sangat mirip dengan Gusti. Jangan membuat aku menggunakan tangan kuasa ayahku untuk membungkam mulut kotormu itu, Gusti!”
Terkesiap Adipati Bawel Semara dan Kunir Sulasih mendengar ancaman Sumira Dasmi yang memang adalah putri dari seorang pejabat di Istana.
Setelah itu, Sumira Dasmi pergi menuju ke rumah kedua dengan membawa kemarahan.
“Gusti,” sebut Kunir Sulasih sambil memegangi tangan suaminya. Dia mencoba menjadi kipas angin di saat suaminya kegerahan karena emosi. “Gusti jangan sembarangan bertindak.”
“Tidak. Aku tidak sembarangan bertindak. Aku penguasa Kadipaten Bantar Gepeng. Siapa yang berani melawan aku di sini? Orang-orang yang berani menentang kekuasaanku dan kemauanku harus disingkirkan. Aku sudah membuang uang banyak untuk membunuh Demang Segara Gara, tetapi Campani belum juga bisa aku dapatkan. Jika anak itu aku penjara, aku akan bebas membuatnya seperti apa. Biar dia tahu akibat menolak permintaan orang yang berkuasa,” kata Adipati Bawel Semara agak panjang.
“Aku takut, Gusti. Aku takut nanti Istana mengetahui kejahatan yang Gusti perbuat terhadap Demang Segara Gara. Aku takut nanti aku kehilangan Gusti,” kata Kunir Sulasih.
“Tidak akan. Karena itu aku akan berkirim surat ke Istana untuk mengadukan kejahatan Demang Segara Gara,” kata Adipati Bawel Semara.
“Gusti memang pandai,” puji Kunir Sulasih.
“Hahaha!” tawa jumawa sang adipati sambil meraih bahu istrinya dan menariknya dalam pelukan samping.
“Huacciw!”
Tiba-tiba seorang prajurit jaga bersin yang mengejutkan Adipati dan istri mudanya. Sontak mereka berdua menengok memandang kepada prajurit yang sedang menggosok-gosok cuping hidungnya.
“Kurang ajar!” desis Adipati lalu memungut sebuah batu dan melemparkannya ke arah prajurit jaga tersebut.
Tak!
“Uwaddaw!” jerit prajurit itu ketika kepalanya tepat kena lemparan batu. Dia sampai lompat-lompat sambil memegangi kepalanya yang bocor. Sambil meringis, dia menengok memandang kepada junjungannya.
Sementara itu, di dalam rumah.
Sumira Dasmi baru saja selesai menulis sesuatu pada selembar kain. Kain itu lalu dilipat-lipat, kemudian diikat dengan tali benang.
__ADS_1
“Jukini, berikan pesan ini kepada Amber. Katakan, pesan ini harus sampai kepada ayahku langsung. Jangan sampai berpindah tangan selain kepada ayahku,” kata Sumira Dasmi kepada seorang pelayan perempuannya.
“Baik, Gusti,” ucap Jukini patuh lalu menerima lipatan kain hijau tersebut. (RH)