
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
“Aaakk...!” jerit Rok Gandir keras dan panjang yang menyayat isi kepala, perasaan hingga membuat bulu bokong merinding.
Itulah yang dirasakan oleh wanita pemanjat pohon kelapa yang hanya bisa mengerenyit ngilu pada giginya saat mendengar jeritan itu.
“Kakaaang!” teriak Rok Gebrak histeris dengan mata yang merah dan berair.
Dia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Kakaknya meregang nyawa dengan tubuh yang terbakar mengerikan oleh api biru dan sangat menyiksa.
“Heaaat!” teriak Rok Gebrak dengan pedang yang bersinar merah.
Seperti orang kesetanan, Rok Gebrak berlari maju menyerang Rugi Sabuntel yang masih memegang kedua keris pusakanya.
Sresss!
Baru saja Rugi Sabuntel hendak maju pula menyongsong serangan itu, Rok Gebrak sudah menghentakkan lengan kirinya, melesatkan lima garis sinar gelap berwujud ular pendek.
Tresss!
Jangan dikira orang gendut tidak bisa cepat. Terbukti Rugi bisa menangkis serangan lima sinar gelap dengan kedua keris pusakanya, padahal jaraknya cukup dekat.
Serangan lima sinar berwujud ular yang ambyar oleh kedua keris, disusul oleh serangan pedang Rok Gebrak yang bersinar merah.
Ting!
“Hah!” kejut Rok Gebrak yang merupakan keterkejutan untuk kesekian kalinya.
Setelah usai memusnakah lima sinar dari ilmu Sepuluh Hantu Ular, Rugi Sabuntel harus bergerak super cepat mengelaki tebasan pedang sambil menangkis dengan Keris Raja Bintang.
Sebenarnya Rok Gebrak ngeri tersentrum lagi seperti sebelumnya yang membuatnya lemah daya. Namun, ketika tangkisan Keris Raja Bintang menangkis, Rok Gebrak tidak merasakan sengatan setrum.
Yang dirasakan oleh Rok Gebrak sama yang sebelumnya dirasakan oleh kakaknya, Rok Gandir.
Pedang Rok Gebrak yang sebelumnya sudah rompal, terpental dalam wujud terpatah dua. Dia pun merasakan seluruh tubuhnya gemetar hebat dari puncak kepala sampai ujung kaki. Jelas itu keadaan yang gawat oleh Rok Gebrak, karena dia akan bernasib seperti kakaknya yang sudah berhenti menjerit.
Sek!
“Akhr!” jerit Rok Gebrak tanpa bisa menolak tusukan Keris Ratu Bintang.
Mengerikan, sepasang mata Rok Gebrak saat menjerit berubah hitam total dan mendelik mengeluarkan aliran darah hitam. Mulut, lubang hidung dan telinga juga mengeluarkan aliran darah hitam. Mungkin lubang yang lain juga demikian.
Ditusuk oleh Keris Ratu Bintang tidak membuat kulit Rok Gebrak terbakar atau berubah warna. Kekuatan keris itu berbeda dengan suaminya. Dia membakar darah di dalam tubuh sangat singkat, sehingga darah berubah hitam tanpa mendidih. Jangan ditanya apa rumus kimianya sehingga darah merah yang dimasak menjadi hitam!
Ketika Rugi Sabuntel mencabut Keris Ratu Bintang, darah warna hitam yang banyak langsung mengalir deras dari luka tusukan itu.
__ADS_1
Rok Gebrak jatuh terlutut, lalu jatuh tengkurap mengiringi ruhnya yang melayang keluar.
Kedua anggota utama Kelompok Ular Pembunuh itu gugur tanpa berkenalan lebih dulu siapa nama “Malikat Maut” gendut yang mengakhiri hidup mereka.
Rugi Sabuntel lalu membersihkan kedua keris pusakanya dengan mengelapnya di kain baju Rok Gebrak.
“Tidak perlu melatih kedua keris ini dengan ilmu Totokan Jari Seribu. Aku sudah mulai memahami kelebihan kedua pusaka ini,” batin Rugi Sabuntel.
Setelah memasukkan kembali kedua kerisnya ke sarungnya masing-masing di balik jubah ungunya, Rugi lalu menyeret mayat Rok Gebrak, Rok Gandir dan Gatot ke pinggir jalanan satu per satu. Kemudian dia bergegas melompat ke atas pedati untuk melihat isi peti kayu yang lebih besar dari lingkaran pelukannya.
Peti itu digembok besi. Jika ada yang ingat ketika aksi rampok Rugi Sabuntel di rumah Juragan Gorong, maka pasti tahu bahwa tidak ada gembok besi yang tidak bisa Rugi taklukkan.
Cess!
Rugi Sabuntel cukup menyalakan tiga jarinya dengan ilmu Telapak Lahar. Maka melelehlah gembok itu oleh tingginya suhu panas jari-jari Rugi.
“Walah-walah!” ucap Rugi terkejut terkagum, setelah membuka penutup petinya. “Ini lebih banyak dari harta Juragan Gorong yang aku rampok. Kalau aku bagikan ke satu desa, mungkin warganya akan menjadi kaya semua.”
Apa yang Rugi Sabuntel lihat adalah tumpukan kepeng perunggu bercampur kepeng perak yang jumlahnya jauh lebih sedikit. Ada pula perhiasan emas dan perak yang bercampur.
“Tolooong!” jerit seorang perempuan tiba-tiba mengejutkan Rugi Sabuntel.
Pemuda gendut itu langsung menengok ke arah atas samping, tepatnya ke atas batang pohon kelapa. Di atas sana, wanita pemanjat pohon sedang bergantung dengan dua tangannya berpegangan pada pinggiran pelepah kelapa.
Buru-buru Rugi menutup kembali peti hartanya dan melompat, lalu berlari di udara agar cepat sampai di bawah pohoh kelapa.
“Kakiku lemaaas!” teriak wanita pemanjat pohon. Maksudnya adalah kedua kakinya kram.
“Melompatlah! Aku akan menangkapmu!” teriak Rugi Sabuntel.
“Aku takut!” teriak si wanita.
“Jangan takut. Kalau kau berani naik ke ketinggian, seharusnya kau tidak takut untuk melompat!’ teriak Rugi Sabuntel lagi.
“Aku takut denganmu! Kau baru saja membunuh tiga orang. Aku tidak mau jadi yang keempat!” teriak si wanita sambil bertahan sekuat tenaga bergantung pada pelepas kelapa.
“Aku baru punya satu istri, belum tiga!” sahut Rugi Sabuntel tidak cerdas.
“Bukan jadi istri keempat, tapi jadi mayat keempat!” ralat si wanita.
“Aku orang baik yang sayang wanita!”
“Tapi kau membunuh orang!”
“Mereka orang jahat. Mereka membunuh orang baik dan menculik istriku!”
__ADS_1
“Aku tetap takut kepadamu!”
Buk!
Tiba-tiba Rugi Sabuntel menonjok batang pohon kelapa tersebut. Pohon itu langsung terguncang keras.
“Aaa!” jerit si wanita pemanjat karena guncangan itu membuat pegangan jari-jarinya lepas dari pinggiran pelepah kelapa. Tubuhnya meluncur jatuh.
Bluk!
Jeritan si wanita pemanjat pohon kelapa mendadak berhenti saat merasakan seperti jatuh di kasur yang empuk. Tidak sakit sedikit pun, kecuali jantung yang berdebar-debar. Jantungnya lebih berdebar-debar karena memandangi wajah bakpao Rugi Sabuntel yang ternyata beralis ganteng, jika diperhatikan dari jarak sejangkauan tangan.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” kata Rugi Sabuntel sembari tersenyum semanis mungkin kepada wanita yang ditangkapnya dengan kedua tangan kekarnya. Rugi tidak peduli bahwa senyumnya tidak bisa menjadi manis, yang terpenting dia sudah berusaha.
“Terima kasih,” ucap wanita itu dengan nada suara yang gemetar. Air mukanya menunjukkan dia takut campur rasa malu. Entah jadi rasa apa itu? Mungkin jadi rasa buah ceri.
Ternyata wanita berkulit hitam itu cantik juga jika diperhatikan lebih dari setengah menit durasinya.
Rugi Sabuntel lalu menurunkan dan memberdirikan si wanita.
“Aw!” pekik si wanita saat kedua kakinya tidak bisa menahan tubuhnya. Otot pada paha dan betisnya lemah karena kram.
Buru-buru Rugi Sabuntel memegangi wanita itu, bahkan setengah memeluknya agar tidak jatuh. Rugi tidak melakukan tindakan modus, tetapi itu murni karena memang si wanita tidak kuat berdiri.
Kelamaan tegang menahan diri di atas pohon kelapa, membuat kedua kaki si wanita kram.
“Aku bawa Nini ke pedati saja,” kata Rugi lalu beralih mengangkat tubuh si wanita lagi.
“Tapi ... tapi kau tidak akan memperkosaku, Kisanak?” tanya si wanita takut bercampur malu karena pakai acara digendong-gendong segala seperti pengantin baru menuju ke ranjang asmara.
“Tidaaak. Hahaha! Aku sudah punya istri,” jawab Rugi sampai tertawa pendek.
“Namamu siapa, Ni?” tanya Rugi Sabuntel sambil berjalan ke pedati.
“Namaku Karani,” jawab si wanita sambil mengerenyit ngeri melirik mayat ketiga anggota Kelompok Ular Pembunuh yang tidak balas melirik.
“Namaku Rugi Sabuntel,” kata Rugi merasa perlu memperkenalkan diri juga.
“Iya,” ucap Karani dengan mimik masih dalam kategori takut.
“Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu,” kata Rugi Sabuntel datar.
“Iya,” ucap Karani lagi.
Rugi Sabuntel lalu mendudukkan Karani di atas bak pedati. (RH)
__ADS_1