Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 21: Pertarungan Awal


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


Saat mempersiapkan diri di pinggir jurang Desa Lorogundik, selain memasang dua batang bambu, Rugi Sabuntel juga membuat lubang-lubang di padang rumput.


Rugi Sabuntel membuat lubang yang banyak di tanah dengan cara menusuk tanah dengan tinjunya yang membara kuning sepanas lahar gunung berapi. Seperti jari telunjuk menusuk adonan kue, semudah itulah Rugi melubangi tanah. Lubang tanah di bawah rerumputan lebat itu dia buat sedalam sikunya.


Salah satu lubang itulah yang diinjak oleh kaki kuda Ronggolate sehingga tersandung dan membuat penunggangnya jatuh berguling ke depan.


Kejadian itu mengejutkan Gurat Satria dan para anak buahnya.


Ronggolate yang jatuh berguling di rerumputan buru-buru bangun. Meski dia hanya jatuh biasa, tetapi tetap saja malunya menyakitkan hati.


“Keparat jadah!” maki Ronggolate seperti orang mabuk.


Sruk!


“Akk!” jerit tertahan Ronggolate saat satu kakinya terperosok masuk ke dalam lubang.


Emosi yang melanda diri membuatnya lupa untuk menguasai keadaan.


Jeritan Ronggolate kembali membuat Gurat Satria dan anak buahnya terkejut. Namun, mereka kembali lega, setelah melihat Ronggolate baik-baik saja dan bisa menarik kembali kakinya keluar.


Sekedar lecet sedikit karena kaki jeblok ke dalam lubang bukanlah luka berarti bagi seorang pendekar. Justru akan menjadi kecengengan jika harus mengerang hanya karena luka terbaret.


“Hihihi!” tawa Rambati melihat apa yang dialami oleh Ronggolate.


Ronggolate hanya melirik kesal kepada Rambati.


“Hati-hati, banyak lubang ular!” seru Rugi Sabuntel mengingatkan.


Terbeliak Ronggolate mendengar ‘lubang ular’. Jika hanya lubang belut mungkin tidak masalah, tetapi kalau lubang ular yang ada ularnya, bisa repot kalau ada yang mematuk. Seharusnya anggota Kelompok Ular Pembunuh tidak boleh takut kepada ular sungguhan.


“Hiaat!” pekik Ronggolate akhirnya. Dia memilih melompat dan berlari di atas ujung-ujung rumput. Pokoknya terlihat keren, seperti adegan pendekar di film-film.


Ronggolate akhirnya mendarat di pinggir jurang, agak menjauh dari pedati dan kudanya. Rugi Sabuntel membiarkannya, tidak mengganggunya.


Dari tempatnya berdiri, Ronggolate bisa melihat keberadaan peti kayu yang digantung di ujung kedua batang bambu. Dia pun bisa melihat ke dasar jurang yang tertutupi oleh semak liar yang lebat. Dia bisa langsung menyimpulkan bahwa akan sulit mencari jika peti itu jatuh ke dasar, bahkan belum tentu mudah untuk menemukannya karena akan tertutupi oleh semak belukar yang bisa jadi juga ada ular besarnya.


“Ketua! Hartanya digantung di juraaang!” teriak Ronggolate kepada Gurat Satria.


“Ambiiil!” perintah Gurat Satria.


Bingunglah Ronggolate mendapat perintah itu. Jika dia memaksa pergi ke batang bambu yang menjuntai di atas jurang, bisa-bisa bambu akan bertambah beban dan khawatir bambu akan patah. Dan juga, Rugi Sabuntel tentunya tidak akan membiarkannya.

__ADS_1


“Jika kau mati, Gendut, akan lebih mudah urusan ini selesai!” seru Ronggolate.


Sing!


Ronggolate mencabut pedangnya lalu berlari beberapa langkah dan melompat naik ke pedati dengan berlari di udara.


Set!


Satu tebasan pembuka langsung mengancam leher Rugi Sabuntel, tetapi pendekar gendut itu gesit mengelak. Kemudian terjadi pertarungan singkat di atas bak pedati. Pertarungan rapat membuat pedang Ronggolate tidak begitu berfungsi, karena selalu dipotong pergerakannya oleh posisi rapat Rugi.


Untuk sementara, Rugi Sabuntel hanya main fisik.


Sementara kuda pedati agak resah dengan posisi kaki yang tidak tenang. Ingin rasanya dia berlari kencang, tetapi sepertinya dia sudah bersepakat dengan Rugi untuk tidak kabur ke mana-mana.


Tidak berapa lama, Ronggolate terlempar dari atas pedati setelah Rugi mendorongkan bahunya ke dada lawannya itu. Ronggolate yang terlempar bisa mendarat dengan kokoh di tanah. Dia tidak apa-apa karena memang serangan Rugi hanya sebuah dorongan badan besar.


Sementara Gurat Satria dan yang lainnya hanya menonton dari seberang padang rumput kecil itu.


“Jika kau menyerang lagi, nasibmu akan buruk, Kisanak!” kata Rugi Sabuntel memperingatkan.


“Oh ya? Aku takuuut!” ucap Ronggolate dengan mimik mengejek. Lalu teriaknya, “Kau akan tahu kehebatan Pedang Pemutus Nyawa-ku! Heaaat!”


Ronggolate lalu melakukan gerakan pedang yang cepat di tempatnya berdiri. Pedang yang bergerak dengan cepat tahu-tahu berubah warna membara merah seperti bara api. Setiap gerakannya meninggalkan asap tipis.


“Hiaaat!” teriak Ronggolate sambil menebas.


Meski serangan pedang Ronggolate lebih garang dan lebih cepat, tetapi seperti sebelumnya, Rugi Sabuntel lebih cepat mengelak. Namun kali ini, Rugi Sabuntel bisa merasakan setinggi apa panas dari pedang itu.


Sreeets!


Pada satu gerakan, sabetan pedang Ronggolate membuat ujungnya lewat dekat dengan papan pedati. Segaris api langsung tercipta karena terlalu panasnya pedang itu.


Setelah tahu setinggi apa panas pedang Ronggolate, barulah Rugi bertindak untuk menghentikan agresi Pedang Pemutus Nyawa itu.


Tek!


“Hah!” kejut Ronggolate saat tusukan pedangnya ditangkap oleh jepitan dua jari tangan Rugi Sabuntel yang menyala kuning. Pedangnya kemudian dipatahkan dengan mudah.


Beg!


“Hekh!” keluh Ronggolate saat tendangan lawannya menghantam dadanya dengan keras.


Tubuh Ronggolate terlempar deras dari atas pedati.

__ADS_1


Blugk!


Ronggolate jatuh memakai punggung lebih dulu. Sementara pedangnya terlepas cukup jauh dan sudah padam.


Krak!


“Aaak...!” jerit Ronggolate kencang dan panjang, saat tiba-tiba Rugi Sabuntel sudah berdiri di dekatnya dan juga sudah menginjak pergelangan kakinya.


Terdengar jelas suara tulang yang patah.


“Ronggolate!” teriak Gamak Pera terkejut. Dia cepat menggebah kudanya, “Heah heah!”


Gamak Pera berkuda kencang melewati padang rumput.


Jruk! Bdluk!


Tiba-tiba saja kuda Gamak Pera tersungkur setelah satu kakinya terjeblos dalam lubang. Karena kudanya berlari kencang, jatuh kuda pun lebih dramatis dan Gamak Pera cukup jauh bergulingan. Namun, itu tidak memberi luka apa-apa kepada Gamak Pera.


Gamak Pera cepat bangkit dan hendak maju berlari menyerang Rugi Sabuntel. Namun, dia terpaksa menahan diri saat melihat Rugi Sabuntel telah meletakkan satu telapak kakinya di dada Ronggolate.


“Temanmu akan aku bebaskan jika kalian memberi tahu siapa yang membayar kalian untuk membunuh Gusti Pangeran Doro. Jika kau tetap maju, nyawanya akan melayang!” seru Rugi Sabuntel.


“Akk!” erang Ronggolate karena merasakan dadanya seperti ingin remuk oleh injakan kaki Rugi Sabuntel.


Melihat itu, Gamak Pera pun jadi bingung. Dia yakin bahwa Rugi Sabuntel tidak main-main dengan ancamannya.


“Gendut! Lepaskan temanku dan berikan hartaku, maka istrimu aku berikan kepadamu!” teriak Gurat Satria yang merasa kalah tawar.


“Tidak! Sekarang aturannya, harta ditukar dengan istriku, nyawa anak buahmu ditukar dengan nama pejabat yang ingin membunuh Gusti Pangeran Doro. Pedang Petir Naga akan aku rebut sendiri darimu!” teriak Rugi Sabuntel pula.


“Setuju!” teriak Gurat Satria dengan tatapan yang marah. “Orang yang membayar kami untuk membunuh Pangeran Doro adalah Menteri Pembangunan Dangkal Abang. Sekarang bebaskan anak buahku!”


Rugi Sabuntel lalu mengangkat kakinya dari dada Ronggolate. Dia lalu melompat naik ke atas bak pedati yang terbakar kecil.


Wuss!


Rugi Sabuntel cukup mengibaskan ujung jubahnya yang mengembuskan angin kencang memadamkan api di bak pedati.


“Aaak!” erang Ronggolate sambil bergerak berdiri. Dia merasakan sakit pada pergelangan kaki kirinya yang patah tulangnya karena tadi diinjak oleh kaki yang lebih berat dari kaki gajah.


Gamak Pera segera mendatangi Ronggolate yang kesulitan berjalan.


“Sekarang bebaskan istriku!” teriak Rugi Sabuntel. (RH)

__ADS_1


__ADS_2