
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Ketika pedang Gura Kawini menusuk, Rambati menggunakan kipasnya sebagai tameng penangkis. Hebatnya kipas itu, dia tidak robek oleh pedang. Pada saat yang bersamaan, tinju kiri Rambati yang berlistrik tegangan tinggi mengincar wajah lawannya.
Zerzzz!
Namun, dengan berani Gura Kawini menahan tinju itu dengan telapak tangan kanannya yang membara hijau.
“Aaakr!” jerit Gura Kawini dengan gigi saling menekan kuat menahan setruman pada tubuhnya.
“Aaak!” pekik Rambati pula ketika kekuatan telapak tangan Gura Kawini membakar kulit tangan dan jari-jarinya.
Set!
Setruman membuat Gura Kawini sulit melakukan gerakan karena kejang. Namun, berbeda dengan Rambati yang hanya menahan luka bakar berat pada tangan kirinya.
Set!
Kondisi itu masih bisa membuat Rambati menyerangkan kipas tajamnya yang merobek lengan kanan Gura Kawini. Besetan kipas itu membuat keduanya saling termundur.
Duk!
Gura Kawini sampai terlutut satu kaki karena menderita kelemasan usai disetrum tegangan tinggi. Dua cepolan rambutnya agak tidak rapi karena ada yang menegang saat disetrum.
Di sisi sebelah, Rambati memandangi tangan kirinya yang sampai tulang-tulang jarinya terlihat karena kulitnya terkelupas parah. Dia mengerenyit menahan panas dan pedih.
Gura Kawini berhenti sebentar untuk mengumpulkan kekuatan. Kelemasan membuatnya akan mangalami bahaya jika memaksakan menyerang. Tangan kanannya pun berlumur darah dari lengan yang robek.
Namun, meski kesakitan, Rambati sepertinya akan mengambil momentum.
Set!
Rambati melempar kipas merahnya dalam kondisi terkembang. Kipas itu melesat terbang berputar-putar menyerang Gura Kawini.
Tek!
Gura Kawini hanya memasang bilah pedangnya di depan badan sebagai pelindung, membuat si kipas terbang melesat pulang, tidak jatuh.
Pada saat yang sama, Rambati mencabut kipas keduanya dari balik pinggang dan langsung mengembangkannya. Rambati memang memiliki dua kipas merah.
Rambati melakukan gerakan kaki naik ke udara menyambut kipas yang terbang pulang.
Set!
Dengan cara yang akrobatik, kaki Rambati melesatkan kembali kipas itu menyerang Gura Kawini.
__ADS_1
Set! Crak!
Tiba-tiba Gura Kawini menebaskan pedangnya dari bawah ke atas, menebas kipas merah yang terbang menyerang. Meski tidak terkoyak, tetapi kipas itu terpental jauh dan jatuh.
Pada saat yang sama, Rambati telah datang dengan serangan kipas yang mengamuk di tangan kanan. Gura Kawini yang belum begitu fit, memilih melempar tubuhnya ke belakang dan bergulingan demi menjauhi ancaman kipas tajam Rambati.
Melihat Gura Kawini posisinya tersudut, Rambati terus mengejar lawannya.
Set!
“Aaak!”
Yang menjerit bukan Gura Kawini, tetapi justru Rambati.
Seperti ini kronologinya. Ketika Rambati terus mendekatkan sayatan-sayatan kipasnya ke tubuh Gura Kawini yang berguling-guling menghindar di tanah, tiba-tiba dari balik tubuh pendekar berpedang itu melesat satu pedang sinar ungu yang menusuk betis kanan Rambati.
Menjeritlah Rambati dan berhenti bergerak.
Keadaan itu membuat Gura Kawini cepat bangkit dengan menggenggam dua pedang. Satu pedang sungguhan, satu pedang sinar ungu. Karena dua pedang inilah Gura Kawini dijuluki Pendekar Dua Pedang.
Set! Tek!
Pedang yang melesat ingin memenggal leher Rambati masih bisa ditahan oleh hadangan kipas merah. Gura Kawini segera menyusulkan tusukan pedang sinar ungu.
Rambati memilih melempar tubuhnya jauh ke belakang. Kondisi kaki yang terluka oleh tusukan tadi, membuat Rambati tidak bisa mendarat baik. Giliran dia yang jatuh bergulingan di tanah. Dan giliran Gura Kawini yang memburu Rambati menggunakan kedua pedangnya.
Set! Trak!
Gura Kawini terpaksa menahan langkahnya demi menangkis serangan kipas tajam. Gura Kawini menangkis dengan pedang sungguhan di tangan kiri karena tangannya kanannya tidak kuat, efek dari luka besar di lengan kanannya.
Setelah berhasil membuang jauh kipas merah, Gura Kawini berniat kembali memburu Rambati. Namun, Gura Kawini harus menghentikan langkahnya karena terkejut melihat apa yang ada depannya.
Di udara di depannya, Gura Kawini melihat ada enam kupu-kupu sinar merah yang sedang melayang mengepak-ngepakkan sayapnya. Yang menyeramkan, keenam kupu-kupu sinar itu dihiasi serat listrik berwarna kuning.
Gura Kawini cukup trauma mengenang rasa sakit ketika disengat oleh Tinju Petir Biru.
Rupanya, Rambati yang saat itu sedang kesulitan berdiri karena luka tusukan di betisnya, cepat melakukan gerakan tangan bertenaga dalam tinggi untuk mengeluarkan kesaktian Kupu-Kupu Petir. Maka muncullah enam kupu-kupu sinar merah.
Zerzzz!
“Aaak!” jerit Gura Kawini tinggi saat keenam kupu-kupu sinar merah melesatkan aliran sinar kuning seperti listrik ke satu objek, yaitu dirinya.
Sengatan itu berlangsung hanya satu hitungan saja. Meski demikian, itu sukses membuat Gura Kawini lemas dan jatuh terlutut dengan kedua dengkul jatuh ke tanah.
“Hiaaat!” pekik Gura Kawini kencang sambil tiba-tiba melompat jauh ke depan seperti lompatan harimau menerkam mangsa. Dia seolah-olah menggunakan energi cadangan.
Set set!
__ADS_1
Sambil melompat seperti itu, tangan kanan Gura Kawini melempar pedang sinarnya kepada Rambati. Meski lemparan pedang itu nyaris tidak bertenaga, tetapi membuat Rambati melompat menghindar dengan tolakan kaki kiri.
Seek!
“Hekrr!” pekik tertahan Rambati di udara, ketika pedang di tangan kiri Gura Kawini melesat sangat cepat dan menusuk telak perut Rambati di udara, sampai tembus ke punggung.
Zerzzz!
“Aaakk!” jerit Gura Kawini pula saat tubuhnya masih mengudara.
Jadi, sebelum pedang kedua menghujam tubuh Rambati, keenam Kupu-Kupu Petir juga melesatkan aliran listriknya menyengat tubuh Gura Kawini di udara.
Blug! Blug!
Kedua wanita jatuh seperti kelapa tua di tanah.
Rambati yang mulutnya mengeluarkan banyak darah, berusaha bangkit berdiri dengan pedang bermukim di tubuhnya. Namun, dia langsung jatuh lagi dan terbanting di tanah.
“Ka-ka-kakang Rugi!” ucap Rambati lirih dengan wajah mengerenyit menahan sakit yang begitu pedih.
Dia pun sudah tidah bisa bangkit lagi.
“Ka ... kang Ru ... gi,” ucap Rambati sangat pelan dan terputus-putus. Setelah itu terputus selamanya. Rambati mati.
Sementara itu, Gura Kawini yang juga tidak bisa bangkit karena nyaris hilang seluruh tenaganya, berusaha bergerak merayap. Asap mengepul tipis dari seluruh bagian tubuhnya. Sengatan kedua dari ilmu Kupu-Kupu Petir membuatnya terpanggang hidup-hidup.
Gerakan rayapan Gura Kawini perlahan memelan, sehingga gerakan itu kemudian berhenti sama sekali, tetapi masih terlihat ada gerakan tanda bahwa dia masih bernapas.
Setelah itu hening.
Waktu berjalan, hingga selama durasi menggoreng terong.
Gledek gledek...!
Ada suara roda pedati karena memang ada pedati yang sedang berjalan. Tidak perlu heran jika ada pedati yang berjalan, karena ada kerbau yang menariknya. Tidak perlu heran jika ada kerbau yang menarik pedati, karena ada sais yang suka melecuti bokong indah si kerbau dengan cemeti bergagang kayu bambu.
Sais yang masih berusia produktif, yaitu separuh abad plus tiga tahun, terkejut ketika perjalanannya terhalang oleh bangkai kuda.
Terpaksa dia menghentikan langkah kaki kerbaunya, membuat pedatinya pun berhenti melaju.
Keberadaan bangkai kuda yang kepalanya terpenggal rapi, membuat sais itu edarkan pandangan.
“Hah!” pekik si sais saat melihat ada dua sosok tubuh perempuan yang tergeletak berjauhan. Tubuh yang satu sudah jelas mati karena kondisinya berhias pedang menancap dan bersimbah darah.
Tubuh yang lain belum pasti apakah sudah mati atau belum. Kondisi tubuhnya tengkurap, tapi sepertinya tidak baik-baik saja.
Sais itu segera turun. Dia lebih tertarik menghampiri tubuh yang tengkurap karena Rambati sudah jelas mati.
__ADS_1
“Mati juga. Sampai gosong seperti ini,” ucap sais itu setelah membalikkan tubuh Gurah Kawini jadi terlentang.
Ternyata Gura Kawini akhirnya mati juga. (RH)