
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Seperti biasa, jika malam hari, gudang jagung milik mendiang Demang Segara Gara dalam kondisi tertutup. Gudang jagung itu hanya dijaga oleh dua orang centeng di sisi luar.
Di luar bangunan kayu yang cukup luas itu ada semacam pos siskamling, tapi tidak memiliki kentongan atau kompor gas untuk sekedar membuat kopi penghangat usus.
Ada empat centeng yang bertugas sebagai penjaga, dua centeng sif pagi dan dua centeng sif malam. Dua centeng yang sif malam bernama Kudi Sando dan Panukan.
Kudi Sando seorang lelaki seperti Rugi Sabuntel, tetapi dia lebih pendek. Goloknya yang bersarung terlihat berwibawa dengan gagang hitam dan ukiran berwujud kepala macan. Perut buncitnya suka dipamer untuk menunjukkan kewibawaannya sebagai seorang centeng.
Panukan sendiri kontras fisiknya dengan rekannya. Dia bertubuh kurus, tetapi memiliki otot yang keras lagi alot. Namun ada yang aneh dengan dirinya, meski kurus, tetapi pola makannya tidak kalah saing dengan Kudi Sando.
Di pos ada dua obor yang menyala. Ada pula di dekat pintu utama gudang dan masing-masing satu di sudut depan bangunan gudang.
Saat itu, Kudi Sando sedang tertidur di pos keamanan. Meski dia berbaju, tetapi kemejanya itu tidak berkancing, membuat dada doernya dan perut gendutnya terpampang bebas dengan gerakan pelan mengikuti irama dengkurannya.
Ngiiik! Berrr! Ngiiik! Berrr! Ngiiik! Ngokrrr!
Seperti itulah kira-kira musik dengkuran yang tiap malam dimainkan oleh Kudi Sando. Sangat sadis di telinga.
Bagi Panukan, dia sudah akrab oleh kebisingan itu. Dia sudah berdamai dengan kondisi itu. Jika tengah malam sudah mereka lalui, Kudi Sando pasti akan tidur dan meninggalkan Panukan seorang diri berjaga.
Selain sesekali berjalan berpatroli mengelilingi area luar gudang jagung, sesekali pula Panukan menjahili rekannya itu, seperti saat ini.
Panukan baru saja kembali dari berkeliling. Situasi aman.
Yang namanya berjaga seorang diri, tanpa novel untuk dibaca atau gadget untuk main game online, akhirnya Panukan memilih menjahili rekan gendutnya.
Panukan meletakkan sekumpulan rambut jagung di atas bibir Kudi Sando yang menganga lebar. Dengan demikian, rambut jagung itu akan berkibar jika Kudi Sando mengembuskan napas dan akan tersedot masuk jika tertarik oleh napas. Namun, itu tidak masuk sampai ke tenggorokan.
Selain rambut jagung, Panukan juga membuat bedak arang. Tidak hanya wajah rekannya yang dia corat-coret, tetapi juga perut gendutnya. Karena sering melukis di wajah dan perut gendut Kudi Sando, lama kelamaan Panukan pandai melukis, bahkan menjadi bakat hingga layak ikut Got Talents.
Saking asiknya melukis dengan cat arang di perut rekannya, Panukan tidak menyadari bahwa ada lima sosok hitam bertopeng bergerak di dalam kegelapan.
Sesaat kelima orang itu berhenti bergerak. Orang terdepan memberi isyarat tangan agar bergerak ke arah gudang dan ada juga yang bergerak ke arah pos. mirip komandan pasukan khusus.
__ADS_1
Maka, kelima orang itu memecah kelompok menjadi dua. Tiga orang bergerak ke arah pos dan dua lainnya bergerak ke arah gudang jagung.
Yang dua orang berlari seperti maling ke sudut bangunan yang memiliki sebatang obor yang terpasang. Sementara yang tiga orang berjalan lebih mengendap-endap mendekati pos, mendekati Panukan yang membelakangi mereka.
“Hahaha!” tawa Panukan melihat hasil karyanya.
Suara tawa Panukan sukses membuat ketiga orang yang sudah menggenggam golok terkejut dan sontak berhenti seperti patung, bahkan mereka pun menahan napas demi tidak ketahuan.
“Hahaha!” tawa Panukan lagi, membuat ketiga orang itu paham bahwa Panukan tertawa sendiri, bukan menertawakan mereka.
Sementara itu, dua orang lelaki berpakaian hitam lainnya sudah mengambil obor dan menyulut ujung atap yang terbuat dari rumbia. Dengan cepat ujung atap itu terbakar oleh api. Panukan tidak menyadari itu sama sekali, karena arah hadapnya bukan ke arah kiblat. Lebih-lebih Kudi Sando, dia tidak bisa melihat di dalam tidurnya.
Baru saja ketiga orang dekat pos itu mendekati Panukan, bahkan salah satunya telah mengangkat golok hendak membacok dari belakang, tiba-tiba....
Gluduk gluduk...!
Tiba-tiba terdengar suara roda kayu berputar di jalanan. Bodohnya lelaki yang sudah mengangkat golok, dia justru menengok untuk melihat apa yang datang di saat Panukan juga ikut ingin tahu apa yang datang.
“Jiaaak!” pekik Panukan terkejut bukan main karena melihat sudah ada tiga orang asing bergolok di dekat pos, terlebih orang yang paling dekat sudah angkat senjata tinggi-tiggi.
Sontak Panukan terlompat menyeberangi tubuh gendut Kudi Sando.
“Hei!” teriak satu suara perempuan yang begitu kencang dari atas sebuah pedati, sampai-sampai membuat lelaki yang hendak membacok jantungan.
Lelaki itu merasa lemas dan tangannya gemetar kencang, seolah-olah sedang berpura-pura gemetar.
“Ka-ka-kabur!” seru salah satu dari mereka.
Buru-buru ketiga lelaki asing itu berlari pergi hendak meninggalkan tempat tersebut.
Melihat ada yang datang dan ketiga rekannya memilih kabur, dua lelaki yang sudah membakar ujung atap gudang, juga ikut panik dan cepat menyusul temannya.
Plak!
Panukan yang syok cepat memukul wajah Kudi Sando. Lelaki itu sontak bangun duduk gelagapan, seolah-olah gada malaikat kubur baru saja menggebuk wajahnya. Kudi Sando semakin sawan ketika Panukan berteriak kencang dan panik.
“Gudang dibakar! Gudang dibakar!”
__ADS_1
“Kalau mau mengerjaiku cari cara yang bagus!” kata Kudi Sando sambil mendorong wajah Panukan, sampai-sampai teman kurusnya itu terjengkang.
Namun, Kudi Sando tiba-tiba terbeliak terperangah. Dia bukan melihat api yang membakar atap gudang dengan cepat, tetapi dia melihat satu peristiwa yang ajaib dan hanya bisa dilakukan oleh orang sakti.
Ada sebanyak enam kupu-kupu sinar merah yang terbang mengejar kelima lelaki berpakaiah hitam yang kabur.
Zerzzzr...!
“Aaak...!” jerit kencang kelima lelaki berpakaian hitam, saat kupu-kupu sinar merah itu melesatkan listrik sinar merah yang menyetrum mereka.
Kelimanya jatuh ke tanah dengan tubuh kejang. Namun, hanya berlangsung satu detik saja.
Kelima orang itu buru-buru berusaha bangkit setelah sengatan berhenti. Namun, kondisi lemas membuat mereka bangun dengan kaki gemetar hebat. Dua di antaranya bahkan jatuh lagi karena terlalu lemasnya seluruh sendi dan otot.
Zerzzzr...!
Kupu-kupu sinar merah dari ilmu Kupu-Kupu Petir itu kembali melesatkan aliran listrik sinar merah kepada kelima lelaki tersebut.
“Aaak...!” jerit mereka lagi dengan tubuh kejang.
“Gudang terbakar, Kudisan!” teriak Panukan sambil memukul kepala teman gendutnya itu.
Kudi Sando pun cepat menengok ke arah gudang, ternyata api sudah membakar sebagian atap dan mulai membakar dindingnya. Dia telah sadar, padahal cahaya api sudah menerangi tempat itu.
“Kebakaraaan! Kebakaraaan!” teriak Kudi Sando panik bukan main.
Buru-buru Kudi Sando turun dari pos dan berlari ke arah sisi belakang gudang. Di belakang ada sumur yang ada airnya. Panukan sepakat dengan rekannya itu. Dia cepat menyusul ke belakang.
Tong tong tong...!
Tiba-tiba terdengar suara kentongan dipukul bertalu-talu, asalnya dari arah tengah Desa Buangsetan.
“Kebakaraaan! Kebakaraaan! Gudang jagung Gusti Demang kebakaraaan!”
Terdengar teriak seorang warga dari kejauhan.
Mendengar suara kentongan yang dipukul terus-menerus dan teriakan warga, sejumlah warga segera berkeluaran dari rumah-rumahnya. Mereka segera bisa melihat api di lokasi gudang jagung. Maka mereka pun beramai-ramai berlarian mendatangi tempat kebakaran, bahkan ada warga memikul air yang diambilnya dari sumur rumahnya.
__ADS_1
Di sisi lain, Rambati yang melumpuhkan para penyerang dengan ilmu Kupu-Kupu Petir, sudah memadamkan kesaktiannya. Sementara kelima lelaki berpakaian hitam tergeletak tidak berdaya, setelah mendapat dua kali setruman tegangan tinggi. Jika disetrum sekali lagi, mereka semua pasti akan mati. (RH)