Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 32: Dendam Gura Kawini


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


 


“Di mana istriku, Guru?” tanya Rugi Sabuntel kepada Ki Robek.


“Rambati pergi menyusulmu, karena kau telat pulang,” jawab Ki Robek tanpa ekspresi kegembiraan atas kepulangan muridnya itu.


“Hah! Kenapa pergi lagi?” kejut Rugi.


“Kami saja yang bukan istrimu merasa cemas kau belum pulang-pulang. Apalagi istrimu,” kata Bendong dengan nada yang terkesan menyalahkan.


“Yang kami tahu kau bertarung di saat senja. Jikapun pertarunganmu berlangsung sampai tengah malam, seharusnya kau bisa tiba di sini saat pagi. Apakah kau menderita luka parah sehingga telat kembali?” cecar Ki Robek.


“Aku hanya luka robek di dada dan mengobatinya. Aku meninggalkan Desa Lorogundik saat pagi,” jawab Rugi.


“Aku harus menyusul Rambati, Guru,” kata Rugi Sabuntel.


“Eh eh eh! Katanya kau mau menemani Emak makan, Rugi!” kata Mak June sambil buru-buru memegangi lengan besar Rugi, seperti istri yang tidak mau ditinggal suaminya.


“Istrimu itu orang sakti, Rugi. Dia sudah terbiasa ke mana-mana seorang diri. Tinggallah dulu di sini. Di sini juga kami sedang menunggumu untuk menyelesaikan masalah dengan Adipati Bawel,” kata Nyai Demang.


“Tapi dia istriku, Nyai. Meskipun dia sakti, aku tetap tidak tenang jika tidak memastikan keadaannya,” tandas Rugi Sabuntel.


“Tapi, bagaimana dengan para pembunuh itu, Rugi?” tanya Blikik.


“Aku sudah membunuh pemimpinnya dan beberapa dari mereka. Adipati Bawel yang membayar mereka,” jawab Rugi. Lalu katanya kepada Mak June, “Biarkan aku pergi, Mak. Aku hanya mau menyusul, bukan untuk bertarung.”


Dengan wajah yang mengerenyit menunjukkan keberatan badannya, Mak June melepas lengan anak bermata duanya.


“Tapi bagaimana jika Adipati mengirim pembunuh lagi?” tanya Campani tiba-tiba.


“Guru lebih sakti dariku,” kata Rugi.


Dia lalu bergegas kembali menaiki kudanya.

__ADS_1


“Berjanjilah kau akan pulang secepatnya jika sudah bertemu Rambati, Rugi!” kata Nyai Demang agak kencang.


“Iya, Nyai. Aku akan pulang demi Nyai!” sahut Rugi Sabuntel seperti lirik lagu “Cinta Sabun Colek”.


Sedikit terhibur perasaan sedih Nyai Demang mendengar komitmen Rugi Sabuntel. Bagaimana tidak sedih, sudahlah ditinggal mati oleh suami tercinta, pada saat yang sama ditinggal kawin pula oleh calon selingkuhan?


“Hea hea!” gebah Rugi Sabuntel keras, benar-benar terkesan buru-buru.


Nyai Demang dan orang-orang yang bersamanya itu terpaksa harus memperpanjang masa tunggunya, yang akan menjadi saat-saat paling menjenuhkan, kecuali Bendong dan Ajeng yang sedang melakukan upaya penyamaan frekuensi sinyal cinta mereka.


Lalu di mana Rambati? Jangan dijawab!


Rambati terus berkuda. Hari ini dia mengenakan pakaian serba putih. Dia sudah sampai di Desa Buangsial, tetapi tidak berniat mampir untuk minum kopi melepas dahaga atau makan bakso untuk sekedar mengganjal usus. Rambati terus berkuda untuk menuju ke Desa Lorogundik yang masih agak jauh.


Sudah sering gadis cantik jelita itu berpapasan kuda dengan penunggang kuda lain atau pedati, tetapi tidak ada yang dia kenal, meski beberapa penunggang mengenalnya karena pernah menonton Duel Pendekar Butogilo.


Namun, saat baru saja meninggalkan Desa Buangsial, ada satu pendekar wanita penunggang kuda yang menghentikannya. Cara menghentikannya pun tidak santun. Mungkin karena kudanya tidak pernah berguru tata krama di jalanan.


Pendekar wanita yang menghadang Rambati berusia lebih tua dan lebih matang daripada orang yang dihadangnya. Rambutnya digelung dua di atas kepala, miring kanan dan kiri, tapi seimbang, sehingga agak terlihat lucu dan menggemaskan, meski raut wajah cantiknya tidak demikian. Sorot matanya menunjukkan permusuhan kepada Rambati. Bibir bergincu merahnya tidak memiliki jejak senyum sedikit pun. Wanita berpakaian merah-kuning-putih itu menyandang pedang bagus di pelana kudanya.


Rambati cepat menarik kencang tali kekang kudanya untuk berhenti mendadak agar tidak menabrak kuda Gura Kawini yang menghadang dengan cara frontal. Rambati jadi menatap tidak suka kepada pendekar yang lebih senior itu.


“Kakak Gura, apa yang kau lakukan?!” tanya Rambati agak membentak. Dia memang mengenal Gura Kawini dan akrab menyebutnya dengan panggilan “Kakak”.


“Membalas dendam!” jawab Gura Kawini lebih lantang dengan mata mendelik.


“Apakah Kakak ingin membalas kematian adikmu?” terka Rambati yang bisa menduga dendam siapa yang ingin dibalas oleh Pendekar Dua Pedang.


“Sangat jelas kau sudah tahu. Aku tahu kau tidak membunuh adikku Gurat Satria, tapi karena kaulah, pendekar gendut itu membunuh adikku. Setelah menguburkan adikku, aku langsung mengejar kalian. Keberuntungan bagiku karena justru dengan cepat bertemu denganmu di tengah jalan. Kau dan suamimu harus menyusul adikku dan meminta ampun kepada arwahnya di alam kubur,” tandas Gura Kawini.


“Seenaknya saja Kakak menyalahkan orang. Gurat Satria mati karena kejahatannya sendiri dan kesalahannya sendiri. Sebagai pembunuh bayaran, kematian sudah menjadi lumrah. Terlalu naif jika kematian seseorang yang sudah membunuh banyak orang karena uang perlu dibalaskan,” debat Rambati.


“Jaga bicaramu, Perempuan Murahan!” bentak Gura Kawini sambil menunjuk wajah Rambati. Dia semakin marah.


“Untuk apa aku menjaga bicaraku kepada orang yang ingin membunuhku? Jika Kakak ingin membunuh suamiku, maka aku tidak takut untuk pasang badan!” tantang Rambati.

__ADS_1


“Untuk apa berpanjang lidah? Cepat mati itu lebih baik!” teriak Gura Kawini lalu tangan kirinya menggenggam gagang pedang dan tangan kanan mendorong di punggung kudanya.


Gerakan itu membuat tubuh Gura Kawini melompat mengudara dengan tangan kiri telah menghunus pedang. Lompatan tubuhnya langsung mengarah ke posisi Rambati dan kudanya.


Bset!


Rambati cukup terkejut melihat serangan tiba-tiba dan cepat itu. Rambati cepat melompat dari punggung kudanya demi menghindari serangan maut itu.


Tidak tanggung-tanggung, dengan menghindarnya Rambati yang meninggalkan pelananya, sabetan pedan Gura Kawini justru menyasar leher kuda. Leher kokoh bang kuda tertebas putus.


Serangan yang tidak main-main itu jelas memancing pula kemarahan Rambati. Namun, setelah menghindar, dia langsung diburu kembali oleh Gura Kawini. Kali ini Rambati menghadapi dengan tangguh, meski tanpa senjata.


Pertarungan sengit pun terjadi di antara kedua wanita cantik itu.


Namun, kondisi itu lambat laun membuat Rambati terdesak, karena Gura Kawini memang pendekar pedang.


Set!


Ketika pedang Gura Kawini berhasil merobek pinggang baju Rambati dan menggores sebaretan kecil kulit, istri Rugi itu buru-buru melompat mundur menjauh. Rambati segera memeriksa pinggangnya, karena kulitnya terasa perih.


“Sebentar lagi puluhan garis pedang akan aku buat di tubuhmu!” seru Gura Kawini yang memang belum merasakan kepayahan melawan Rambati.


“Coba saja jika Kakak sanggup!” tantang Rambati sambil mengambil sesuatu dari balik pakaiannya.


Zerzz!


Sementara tangan kanan Rambati mengeluarkan selembar kipas merah yang langsung dia kembangkan, tangan kirinya kini diselimuti listrik sinar biru dari ilmu Tinju Petir Biru.


Rambati mengeluarkan selembar kipas bukan untuk mengusir gerah karena berkeringat, tetapi kipas itu sebagai senjata.


“Boleh, boleh, boleh,” ucap Gura Kawini melihat persenjataan Rambati.


Zess!


Gura Kawini lalu menyalakan telapak tangan kanannya menjadi membara hijau. Sementara pedang tetap di tangan kiri karena Gura Kawini adalah seorang kidal.

__ADS_1


Secara bersamaan, kedua wanita itu bergerak maju dengan cepat. Pertarungan sengit pun kembali tergelar. (RH)


__ADS_2