
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Rok Gebrak telah melompat dari pedati dan berlari di udara ke arah Rugi Sabuntel yang mengangkat sanderanya, Gatot.
Rugi Sabuntel membiarkan sejenak serangan datang. Ketika dekat, Rugi Sabuntel cepat bergeser dan menjadikan tubuh Gatot sebagai tameng hidup.
Set!
“Aak...!” jerit Gatot saat pedang Rok Gebrak membacok punggungnya, menciptakan luka yang besar.
“Gatooot!” pekik Rok Gebrak dan Rok Gandir histeris.
Bukan Rok Gebrak yang sengaja melukai rekannya itu, tetapi Rugi Sabuntel yang menjadikannya korban.
Setelah menjadikan Gatot sebagai tameng hidup, Rugi Sabuntel melepas sanderanya begitu saja ke tanah. Dia terus meladeni serangan pedang yang tergolong cepat.
Meski merasa bersalah, Rok Gebrak harus terus menyerang Rugi Sabuntel. Sementara Rok Gandir segera turun menghampiri tubuh Gatot yang kini bersimbah darah. Namun, kondisi Gatot yang sudah lemah sejak lama, ditambah luka pedang yang besar, membuatnya mengembuskan napas terbuncit.
Rugi Sabuntel bisa menilai bahwa serangan pedang Rok Gebrak memiliki kualitas bagus dan bermutu. Karena itu, Rugi Sabuntel pun tidak mau menganggap remeh kedua lawannya.
Rugi Sabuntel menghindari mata pedang dengan maju merapatkan jarak dan menangkis tangan yang memegang pedang.
Duk duk!
Ternyata Rok Gebrak tangguh. Baru saja Rugi Sabuntel merapat, dada kekarnya sudah mendapat hantaman sikut Rok Gebrak dua kali. Namun, Rugi Sabuntel bergeming. Bukan Pendekar Gendut Budiman namanya jika satu dua sikutan saja bisa termundur.
Mengetahui lawannya seteguh gunung asmara, Rok Gebrak segera mundur setindak guna merenggangkan jarak agar serangan pedangnya leluasa merobek perut gendut Rugi.
Rugi jelas tidak mau perutnya dibedah. Ia cepat melompat mundur sehingga tercipta jarak dua tombak.
Tidak pakai rehat untuk senyum atau mengerling lebih dulu, kedua petarung lanjut langsung maju siap beradu, seperti duel dua ekor domba.
Tings! Zerzzz!
“Aak!” jerit Rok Gebrak tiba-tiba.
Bukk!
“Hukhr!” keluh Rok Gebrak dengan tubuh terlempar kencang dan jatuh terseret di dekat roda pedati.
Apa yang terjadi sebenarnya? Jangan dijawab!
__ADS_1
Kembali pada waktu dua detik sebelumnya.
Ketika kedua pendekar maju bersamaan, Rok Gebrak mengayunkan pedangnya dengan cepat dan full power. Di sisi lawan, Rugi yang awalnya bertangan kosong, tangan kirinya tiba-tiba mencabut Keris Ratu Bintang yang terselip di pinggang kirinya, di balik jubah ungunya.
Dengan Keris Ratu Bintang yang wujudnya meliuk cantik, Rugi Sabuntel mengadu dengan pedang Rok Gebrak. Intinya, Rugi Sabuntel ingin menjajal sejauh mana kehebatan pusakanya.
Ketika kedua benda logam itu beradu, selain membuat bilah pedang Rok Gebrak rompal ompong, juga ada setruman tidak berwarna yang menyengat tangan dan tubuh Rok Gebrak. Sengatan itu membuatnya kejang selama satu detik hingga kemudian tendangan keras Rugi menghajar perutnya.
Jika setruman dari Keris Ratu Bintang membuat tenaga Rok Gebrak menyusut drastis, berbeda dengan tendangan Rugi yang memberi efek mules pada perut.
Tut!
Karena terkejut melihat pertarungan di bawah sana, wanita pemanjat pohon kelapa sampai terkentut. Untung privasinya masih terjaga. Suara gas biologisnya tidak sampai terdengar oleh ketiga pendekar di bawah.
“Gebrak!” teriak Rok Gandir terkejut melihat adiknya dengan mudah tumbang.
Rok Gandir cepat memandang marah kepada Rugi Sabuntel yang sedang memahamami jenis serangan yang telah diberikan oleh Keris Ratu Bintang.
“Matilah kau, Gendut!” teriak Rok Gandir.
Sresss!
Rok Gandir tidak mencabut pedang di punggungnya, tetapi dia bangkit dari sisi mayat Gatot dan menghentakkan kedua tangannya dengan jari-jari merentang.
Tress!
Rugi Sabuntel yang cukup terkejut dengan jenis serangan itu, bertindak cepat dengan melompat berputar di udara sambil kembali mengandalkan Keris Ratu Bintang. Sepertinya Rugi semakin yakin kepada senjatanya itu.
Sambil berputar di udara, tangan kiri Rugi mengibas menyambut dua sinar yang mengarah tubuhnya. Ternyata Keris Ratu Bintang bisa menangkal serangan sinar itu. Dua sinar yang ditebas oleh Keris Ratu Bintang ambyar. Sementara delapan sinar lainnya lolos dan ambyar pada ujung lesatannya tanpa menimbulkan ledakan energi atau kerusakan.
Bugk!
Ketika Rugi Sabuntel yang seperti drum dilempar itu mendarat dengan ujung kaki kanannya, ilmu Pendaratan Dewa Goyang langsung diaktifkan.
Bersamaan dengan Rok Gandir bergerak maju dengan pedang yang dicabut menyambut pendaratan Rugi, satu gelombang energi menyebar ke segala arah dari kaki Rugi dan menghantam Rok Gandir.
Tubuh besar Rok Gandir terlempar ke belakang dan mendarat dengan bokongnya lebih dulu di dekat mayat Gatot. Pedangnya masih tergenggam kuat di tangan.
Sementara itu, pedati terdorong mundur setelah kuda dan pedati terkena gelombang energi. Pergerakan pedati itu mengejutkan Rok Gandir dan Rok Gebrak.
“Hartanya!” teriak Rok Gandir kepada Rok Gebrak yang tenaganya mulai terkumpul kembali.
Rok Gebrak cepat berlari menangkap tali pada wajah kuda agar si kuda tidak menjadi liar dan pedati pun berhenti bergerak.
__ADS_1
Telinga Rugi Sabuntel seperti telinga kucing mendengar teriakan seekor tikus. Dia jadi tahu bahwa peti kayu besar yang ada di atas pedati ternyata berisi harta. Awalnya dia menduga peti itu berisi buah. Seketika itu terlintas rencana di kepalanya.
Sementara wanita pemanjat pohon kelapa hanya bisa mendelik-delik menyaksikan pertarungan di bawah. Jantungnya berdebar-debar, tapi itu bukan tanda bahwa dia sedang jatuh hati.
Melihat pedati dan kuda sudah berhasil diamankan, Rok Gandir yang telah berdiri menancapkan pedangnya ke tanah. Bilah pedang itu mendadak menyala merah seperti pedang lampu mainan.
Rok Gandir kembali menghentakkan kedua tangannya, mencoba peruntungan ilmu Sepuluh Hantu Ular untuk kali kedua.
Sresss!
Sepuluh sinar gelap berwujud ular pendek melesat terbang menyerbu Rugi Sabuntel.
Tress!
Rugi Sabuntel melakukan penghindaran yang semodel tadi. Dia melompat berputar di udara sambil tangan kirinya menebas dua ular sinar yang akan mengenai tubuhnya menggunakan Keris Ratu Bintang.
Setelah melepas ilmu Sepuluh Hantu Ular, Rok Gandir sendiri langsung melesat maju sambil menyambar pedang bersinar merahnya. Dia tidak mau menunggu si gendut mendarat lebih dulu ke tanah.
Pedang yang bersinar merah melesat cepat menusuk ke arah target yang besar wujudnya. Bisa dipastikan pedang bersinar itu akan menusuk telak tubuh Rugi jika murid tunggal Ki Robek itu tidak melakukan sesuatu.
Keris Ratu Bintang sudah bertugas menghalau dua ular sinar, sementara untuk menangkis pedang dengang ilmu Telapak Lahar cukup berisiko.
Ting!
“Hah!” Rok Gandir terkejut kuadrat.
Pertama Rok Gandir terkejut karena Rugi mengeluarkan sebuah senjata dari balik jubahnya, yaitu sebilah keris lain, tapi wujudnya lurus tanpa lekukan ular. Kedua dia terkejut ketika pedang bersinarnya ditangkis oleh keris yang bernama Keris Raja Bintang itu. Dia merasa pedangnya menghantam sesuatu yang sangat keras dan berat. Terbukti, pedang bersinar Rok Gandir langsung patah dua dan padam.
Jleg!
Secara bersamaan, kedua pendekar itu mendarat di tanah. Namun, terjadi perbedaan kondisi. Jika Rugi mendarat dengan mulus, maka Rok Gandir mendarat dengan kendala. Setelah mendarat, sepasang kaki Rok Gandir gemetar, demikian pula gigi dan tangan yang memegang pedang buntung.
Kondisi Rok Gandir itu adalah efek samping dari beradu senjata dengan Keris Raja Bintang. Jelas, keadaan Rok Gandir adalah gawat baginya karena Rugi Sabuntel tidak berhenti bergerak.
Set!
“Aaakk...!” jerit Rok Gandir sangat keras dan panjang.
“Kakaaang!” teriak Rok Gebrak kencang histeris.
Begitu mudahnya Rugi Sabuntel menggores dada Rok Gandir dengan Keris Raja Bintang. Baju loreng plus dada kekarnya robek lebar. Lebih mengerikannya lagi, dari sayatan lebar yang tercipta itu, ada api biru yang awet membakar baju, kulit dan daging.
“Aak...!” jerit Rok Gandir sambil berguling-guling di tanah dengan tubuh dibakar oleh api biru yang kecil tapi awet dan menyebar. (RH)
__ADS_1