
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Gurat Satria berjalan dengan langkah cepat. Wajahnya marah, terlihat dari sorot matanya yang tajam dan bibirnya yang agak maju. Di belakangnya berjalan pula Toreh, Gamak Pera, Kin Anti, Ronggolate, Kulum Ratih, dan Karani. Rupanya Karani sudah berhasil sampai ke Kampung Ular.
Di kala wajah-wajah anggota utama Kelompok Ular Pembunuh itu menunjukkan kemarahan, Karani justru menunjukkan wajah ketakutan. Dia seolah-olah dipaksa berjalan di tengah-tengah sekawanan serigala, bukan sekawanan ular. Dia bingung, tapi mau tidak mau harus ikut.
Di tangan Gurat Satria terpegang dua gagang pedang tanpa bilah.
Pergerakan mereka menjadi pusat perhatian warga Kampung Ular. Sebagian warga memilih mengikuti, tetapi menjaga jarak dari para pemimpin itu.
Ternyata Gurat Satria dan anak buahnya mendatangi Penjara Pembunuh Sukma, penjara yang teralisnya ditutupi oleh tumpukan semut-semut hitam besar-besar. Di dalam kurungan itu duduk bersila Rambati dengan mata yang terpejam. Dia masih mengenakan baju pengantin yang aroma wanginya sudah raib.
Sepertinya Rambati sedang bersemadi. Tampak ada sepiring makanan utuh di sisinya, menunjukkan Rambati tidak menyentuh makanan tersebut.
Telinga Rambati mendengar suara langkah cepat beberapa pasang kaki itu. Hingga Gurat Satria dan rombongan berhenti di depan kerangkeng, Rambati masih memejamkan matanya.
“Rambati!” panggil Gurat Satria cukup keras, nadanya sangat jelas bahwa dia sedang marah.
Rambati pun membuka sepasang matanya yang agak memerah karena lama terpejam.
Tlak!
Gurat Satria melempar kedua gagang pedang milik dua Rok ke depan kerangkeng. Sejenak Rambati fokus memandangi dua benda itu. Dia kenal bahwa kedua gagang pedang itu adalah milik Rok Gandir dan Rok Gebrak.
“Rok Gandir dan Rok Gebrak sudah mati!” kata Gurat Satria keras dengan cuping hidung yang juga mengeras.
Mendengar kabar itu, terkejut dan gemparlah warga Kampung Ular mendengar dua tokoh mereka telah tewas. Bukti kuat dari berita itu adalah dua gagang pedang yang buntung.
“Kenapa marah kepadaku?” tanya Rambati dengan tenang, tidak terbawa oleh atmosfer yang dibawa oleh keluarga besarnya itu.
“Yang membunuh mereka adalah suami gendutmu itu.” Yang menjawab adalah Toreh, ayah Rambati.
“Oh,” ucap Rambati pendek dengan ekspresi yang dingin. Padahal di dalam hatinya dia senang. Itu terbukti bahwa suaminya sudi berkorban nyawa demi menyelamatkannya.
Apa yang dilakukan oleh Rugi Sabuntel membuat Rambati merasa sangat berharga karena usia ikatan cinta mereka masih terlalu singkat. Namun, Rugi Sabuntel mau memperjuangkannya, padahal Kelompok Ular Pembunuh adalah kumpulan pendekar kuat.
“Tidak aku sangka, membawamu pulang justru membawa bencana kepada kelompok kita!” kata Gurat Satria.
__ADS_1
“Daripada menjadi bencana yang lebih buruk, biarkan aku pergi dan kembali kepada suamiku,” kata Rambati.
“Tiga pendekar kita telah mati. Ini harus dibayar. Kini suamimu menunggu kematiannya di jurang Desa Lorogundik,” kata Gurat Satria.
Semakin gembira Rambati mendengar bahwa ternyata Rugi Sabuntel sudah berada di desa luar hutan. Ada senyum samar yang menggeliat di bibir gadis cantik jelita itu.
“Aku hanya sarankan, lupakan mimpimu untuk memiliki diriku, Gurat. Relakan saja mereka yang mati, seperti kalian tidak pernah peduli dengan orang-orang yang kalian bunuh. Suamiku sangat kuat. Kau sudah merasakannya,” ujar Rambati.
Perkataan Rambati itu membuat Gurat Satria dan anak buahnya kian tajam menatap Rambati.
“Kau akan ikut ke jurang Desa Lorogundik untuk menyaksikan langsung kematian si gendut itu,” kata Gurat Satria.
“Jangan sampai kau mempermalukan dirimu sendiri di depan mataku, Gurat,” kata Rambati.
Gurat Satria lalu berbalik dan memandang tajam kepada Karani.
“Matilah aku,” ucap Karani di dalam hati. Dalam takutnya, pikiran itu yang langsung muncul di dalam kepalanya saat Gurat melototinya.
“Bebaskan perempuan ini. Dia hanya utusan!” perintah Gurat Satria kepada anak buahnya.
“Ayo, jalan!” perintah Kulum Ratih sambil mendorong pelan lengan Karani.
“I-i-iya,” ucap Karani dengan suara bergetar, menunjukkan bahwa dia benar-benar dalam kondisi ketakutan.
Gurat Satria lalu berjalan pergi. Seluruh anak buah utamanya mengikuti di belakang.
“Ayah!” panggil Rambati.
Toreh menahan langkah dan kembali berbalik menghadap kepada putrinya di dalam kerangkeng.
“Lebih baik Ayah tidak bertarung melawan suamiku. Dia adalah menantumu,” kata Karani.
“Aku tidak percaya jika suamimu begitu sakti,” kata Toreh, lalu berbalik dan melangkah pergi menyusul Gurat dan yang lainnya.
Setelah menemui Rambati, Gurat Satria dan sejumlah anak buah utamanya berkumpul di sebuah ruangan papan. Dalam ruangan cukup besar itu ada beberapa kursi kayu yang kemudian mereka duduki.
Gurat Satria, Toreh, Kin Anti, Gamak Pera, dan Ronggolate duduk di kursi yang tanpa meja.
__ADS_1
“Bagaimana menurutmu, Toreh?” tanya Gurat Satria. “Pendekar gendut itu tidak hanya membunuh tiga orang kita, tetapi dia juga menyandera harta kita yang banyak.”
“Tapi siapa orang kita yang ketiga? Bukankah Rok Gandir hanya berdua?” tanya Kin Anti.
“Menurut perempuan pembawa pesan itu, orang ketiga adalah Gatot,” jawab Gurat Satria.
“Gatot pergi bersama Kupatan, Gawul dan Kluwing untuk menangkap Pangeran Doro Ronggowoso yang sedang melakukan perjalan bersama istrinya,” kata Kin Anti.
“Aku belum melihat mereka pulang,” kata Gamak Pera.
“Jika suami Rambati berurusan dengan Gatot, berarti orang gendut itu juga bertemu dengan yang lain,” kata Toreh.
“Ronggolate, kumpulkan separuh orang-orang kita. Kita akan balas kematian rekan-rekan kita!” perintah Gurat Satria.
“Baik,” ucap Ronggolate patuh. Dia kemudian segera bangkit dan berbalik keluar.
“Tunggu, sepertinya kita telah melanggar aturan kita sendiri, Ketua,” kata Toreh.
“Apa maksudmu, Toreh?” tanya Gurat Satria dengan tatapan tidak suka. Perkataan Toreh jelas mengisyaratkan bahwa Gurat Satria telah berbuat salah.
“Aturan kita adalah membunuh orang yang diperintahkan. Kita tidak membalas dendam. Jangan lupa dengan aturan yang kita buat sendiri. Membalas dendam akan berisiko menghancurkan kita sendiri,” jelas Toreh.
“Jika Gatot dan rekan kita terbunuh dalam tugas, kita tidak akan membalas dendam. Namun, Rok Gandir dan adiknya tidak dalam tugas untuk membunuh, tapi mereka pulang membawa harta kita yang banyak,” tandas Gurat Satria membenarkan tindakannya.
“Kenapa pendekar gendut itu membunuh Rok Gandir dan Rok Gebrak, yang berunjung dirampoknya harta kita?” tanya Toreh.
“Dia datang untuk Rambati,” jawab Gurat pelan, memberi isyarat bahwa dia mungkin mengakui kesalahannya.
“Kita kembalikan Rambati kepada suaminya, maka urusan dengan pendekar gendut itu selesai,” kata Toreh.
Mendengar usul ayah Rambati itu, Gurat Satria dan yang lainnya terkejut.
“Tidak!” teriak Gurat Satria keras sambil berdiri dari duduknya, menunjukkan kemarahannya. “Rambati adalah calon istriku. Orang gendut itu yang merebutnya dariku. Jika dia datang untuk mengambil milikku, akan aku hadapi dia sebagai seorang lelaki dan sebagai seorang pendekar!”
“Aku tidak peduli dengan urusan Ketua tentang Rambati, tetapi kematian Rok Gandir dan Rok Gebrak harus dibalas dan harta kita harus direbut kembali, dengan keras atau tidak!” tegas Kin Anti.
“Aku putuskan, kita berangkat ke jurang Desa Lorogundik sekarang!” tegas Gurat Satria. (RH)
__ADS_1