
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Setelah kepergian Adipati Bawel Semara dan istri mudanya, Campani kembali keluar ke teras, bergabung dengan ibunya dan Ageng.
Ki Robek dan Bendong juga ikut bergabung. Sepertinya kedua lelaki beda usia itu juga penasaran dan ingin tahu. Rupanya keduanya memiliki jiwa kepo juga.
“Untuk sementara Gusti Adipati mengambil alih usaha perunggu dan gula yang dimiliki oleh kami. Alasannya untuk kepentingan penyelidikan,” jawab Nyai Demang ketika Bendong bertanya.
“Aku rasa itu hanya alasan saja untuk menguasai kedua usaha besar itu. Untuk apa menyelidiki dari sisi yang baru sekedar dugaan. Seharusnya dia langsung memburu Kelompok Ular Pembunuh yang sudah jelas-jelas sebagai pembunuh Demang. Tinggal memaksa pembunuh bayaran itu mengaku siapa yang membayar mereka,” kata Ki Robek.
“Atau mungkin, pembunuhan Gusti Demang ada hubungannya dengan Adipati Bawel,” kata Bendong berspekulasi.
“Jika seseorang dibunuh oleh orang yang bukan menjadi musuhnya, maka yang patut jadi calon tersangkanya adalah orang yang sangat diuntungkan dari pembunuhan itu,” kata Ki Robek.
“Bukankah Adipati sangat diuntungkan, Ki? Terbukti dia mengambil alih usaha perunggu dan gula Gusti Demang,” kata Bendong.
“Meski itu kenyataannya, tapi tetap saja itu menjadi dugaan yang perlu bukti atau pengakuan,” kata Ki Robek. “Sejak awal, Adipati adalah salah seorang yang aku curigai. Adipati sangat mampu dan tidak akan berat untuk membayar mahal Kelompok Ular Pembunuh. Jika orang yang membayar mereka sesama demang, mungkin akan berisiko demang itu jatuh miskin.”
“Kenapa Gusti Adipati sekejam itu?” tanya Campani sedih.
“Itu hanya dugaan, Campani, Nyai. Selagi belum ada bukti dan pengakuan, dugaan itu masih memiliki peluang untuk salah,” kata Ki Robek.
“Jika benar orang di balik semua ini adalah Gusti Adipati, aku tidak akan membiarkannya hidup tenteram,” kata Nya Demang bernada dendam. “Mungkin juga dia menyangka, dengan dibunuhnya suamiku, dia bisa melamar Campani dengan mudah. Dia mengira syarat Cincin Mata Pelangi sudah tidak berlaku dengan sudah matinya Demang.”
“Gusti Adipati menyatakan lamaran lagi di saat kita masih berkabung?” tanya Campani serius kepada ibunya.
“Benar,” jawab Nyai Demang.
“Keterlaluan. Orang tidak tahu tata krama. Apakah dia tidak mengerti dan tidak bisa menahan diri!” maki Bendong ikut emosi. Lelaki ganteng mana yang tidak marah jika melihat dua wanita cantik dizalimi.
__ADS_1
“Niat Gusti Adipati melamar Campani yang begitu terburu-buru kian memperkuat dugaan Guru,” kata Nyai Demang.
“Jadi Ibu tetap menjadikan Cincin Mata Pelangi sebagai syarat?” tanya Campani.
“Iya. Itu semata-mata untuk mengusir domba tua itu. Namun, Ibu juga akan tetap menjadikan cincin itu sebagai syarat bagi orang yang mau melamarmu,” jawab Nyai Demang.
“Pantas, beberapa hari lalu, Rugi mendesakku untuk memberi tahu tentang Cincin Mata Pelangi,” kata Ki Robek.
Terkejut Nyai Demang, Campani, dan Bendong mendengar perkataan Ki Robek.
“Maksud Aki, Rugi berniat melamar Campani?” terka Bendong, membuat Campani mendadak bahagia.
“Dia tidak mengatakan. Dia hanya menanyakan benda itu. Kalian nilai sendiri,” kata Ki Robek.
“Rugi tahu di mana bisa mendapatkan cincin itu?” tanya Nyai Demang serius pula, tapi hatinya tidak bahagia karena Cincin Mata Pelangi adalah syarat untuk mendapatkan Campani, bukan syarat untuk dirinya.
“Dia hanya tahu pusaka itu milik siapa. Dan aku pun hanya menduga ada di mana,” jawab Ki Robek.
“Jika memang salah satu niatan Adipati adalah memperistri Campani, aku khawatir Adipati akan melakukan sesuatu yang buruk lagi guna bisa memaksa Campani mau menikah dengannya,” kata Ki Robek lagi, kembali ke laptop. “Tapi, cukup berbahaya jika berurusan dengan penguasa besar setingkat adipati. Aku pernah mengalaminya di masa lalu. Ketika aku melawan kejahatan, penguasa yang aku tentang melaporkan aku ke Kerajaan dan memfitnahku. Pihak kerajaan tentunya lebih percaya laporan pejabatnya daripada laporan orang asing.”
“Lalu apa yang harus kami lakukan, Guru?” tanya Nyai Demang.
“Aku dan Bendong akan tetap berjaga untuk kalian, selama kami diberi makan dan minum. Bendong tidak akan ada masalah jika lama di sini, selama di sini ada Ageng,” kata Ki Robek.
Bendong dan Ageng kompak terbeliak mendengar kalimat akhir Ki Robek.
“Pokoknya kalian waspada saja selagi dalang pembunuh itu belum terungkap,” kata Ki Robek. Dia lalu berjalan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya main ayunan. Maksudnya itu menulis kitab sambil main ayunan, bukan main ayunan sambil menulis kitab. Semoga bisa dipahami.
Bendong dan Ageng jadi saling lirik, membuat Ageng menunduk malu, lalu wanita cantik itu juga berbalik pergi.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam bilik kereta kuda yang dikawal beberapa prajurit berkuda.
“Sepertinya Nyai Demang memang tidak mau anaknya aku nikahi,” keluh Adipati Bawel Semara.
“Aku rasa, Nyai Demang masih merasa nyaman karena dia masih dilindungi oleh orang-orangnya,” kata Lilis Angir. “Jika ingin membuat Campani dan Nyai Demang merasa tidak memiliki pelindung, semua yang mereka miliki harus dimusnahkan, Gusti.”
“Tapi aku tidak mau membayar Kelompok Ular Pembunuh lagi. Aku sudah membayar lunas mereka. Uangku berkurang banyak hanya untuk membayar mereka, tetapi hasilnya tidak bisa langsung aku rasakan,” keluh Adipati.
“Gusti Adipati bisa menggunakan prajurit atau centeng kita,” kata Lilis Angir.
“Itu sangat berisiko. Bagaimana jika ada yang mengadu ke pejabat Istana?” kata Adipati.
“Beberapa hari yang lalu, Demang Setagih, demang Kademangan Buto Cangkem menceritakan bahwa Juragan Gorong telah dirampok oleh dua orang perampok yang tidak dikenal. Sampai-sampai hartanya habis,” kata Lilis Angir.
“Iya. Lalu apa hubungannya?” tanya Adipati Bawel Semara.
“Adipati bisa menugaskan dua centeng kita bertindak sebagai perampok tidak dikenal itu. Suruh mereka merampok di rumah Nyai Demang. Merampok hanya sebagai alasan, tujuannya adalah membunuh para pelindung Nya Demang. Kita hancurkan juga semua usahanya agar Nyai Demang benar-benar jatuh miskin,” jelas Lilis Angir.
Adipati Bawel terdiam sejenak memikirkan ide istrinya yang terkesan lengkap.
“Hahaha! Kau memang istriku yang paling licik,” tawa Adipati Bawel sambil memuji dan merangkul erat istrinya.
Namun, Lilis Angir jadi merengut.
“Dan paling cerdas,” tambah Adipati memuji, lalu menciumi paksa istri halalnya itu.
“Hihihi!” tawa geli Lilis Angir karena kegelian. Dan tawanya jadi terhenti terdengar karena bibirnya sudah disumpal oleh bibir suaminya.
Lilis Angir harus menahan napas dan pasrah karena suaminya sampai setua itu tidak pandai menahan napas saat menciumi istri-istrinya. Adipati Bawel tidak pernah diberi tahu bahwa napasnya bau naga.
__ADS_1
Ketika Adipati mengakhiri agresi cintanya, Lilis Angir hanya bisa megap-megap untuk menghirup oksigen segar.
“Hahaha!” Adipati Bawel hanya tertawa melihat nasib istrinya. (RH)