
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Gusti Pangeran segera pergi berlari dengan tertatih menuju ke posisi istrinya yang sedang disandera oleh Kluwing.
Nyi Unyu yang sudah menumbangkan lelaki yang bernama Gatot, juga bergerak mendatangi Kluwing yang telah menghunuskan pedangnya dan meletakkan senjata itu di bahu istri Gusti Pangeran.
Di sisi lain, Gawul dan Kupatan yang dalam kondisi berlumur lumpur rawa, sudah menyerang Rugi Sabuntel dengan brutal.
Rugi Sabuntel yang bertangan dua tanpa senjata, meladeni dengan pembawaan yang tenang, laksana seorang pendekar yang memang sudah biasa berada di bawah ancaman pedang. Tubuhnya yang berat tidak mencegahnya bergerak gesit.
Rugi memilih pertarungan rapat. Kedua tangannya begitu cekatan menetralisir serangan pedang kepadanya, dengan cara lebih dulu memangkas gerakan tangan lawan yang memegang pedang.
Setelah tidak kunjung bisa melukai Rugi Sabuntel dengan serangan-serangan mereka, Gawul dan Kupatan mengeluarkan ilmu Tapak Jejak. Dengan telapak tangan kiri yang berwarna biru kebiru-biruan dan berasap tipis, keduanya terus melanjutkan pertarungan dengan tangan kanan tetap berpedang.
Melihat lawan sudah mengeluarkan ilmu Tapak Jejak pada tangan kirinya, Rugi Sabuntel pun menyiapkan kesaktiannya. Itu segera Rugi tunjukkan.
Pak! Bak!
“Hekh!” keluh Kupatan saat pukulan tangan kiri Rugi Sabuntel mendarat telak di dada Kupatan.
Sebelumnya, ketika tangan kiri Kupatan mengincar dada lawan, dengan cepat Rugi menyambut serangan itu dengan hantaman telapak tangan kanan.
Rugi Sabuntel memakai ilmu Lempar Daya, bukan Lempar Aku. Ketika energi Tapak Jejak menghantam telapak tangan kanan Rugi, energi itu langsung tersedot dan dengan sangat cepat dialirkan lewat bahu ke tangan kiri.
Tangan kiri Rugi yang mendapat energi kiriman, dengan spontan dan sangat cepat masuk ke dada Kupatan. Gerakan tangan kiri sangat cepat dan terlalu sulit untuk dihindari atau ditangkis.
Kupatan terdorong ke belakang, ke arah rawa, tapi tidak sampai jatuh. Dadanya hangus berasap dengan baju yang jebol dan kulit dada yang rusak.
“Akk!” erang Kupatan kesakitan terkena energi kesaktiannya sendiri. Dalam hati dia bingung. Kenapa orang gendut itu memiliki ilmu yang sama?
Karena kesakitan dadanya terbakar, tanpa sadar Kupatan mundur selangkah. Dia lupa bahwa di belakangnya rawa.
Jbur!
Kaki kanan Kupatan terperosok ke air rawa, memaksanya jatuh lagi ke dalam rawa. Untung jatuh ke rawa, bukan jatuh ke jurang.
Terkejut Gawul mendengar keberisikan Kupatan, membuatnya terpaksa melirik. Pada waktu yang hanya sekejap itu, Rugi memanfaatkan momentum.
Tep!
__ADS_1
Tahu-tahu bilah pedang Gawul sudah terjepit oleh dua jari besar Rugi.
Tik!
Kedua jari Rugi Sabuntel mendadak menyala kuning seperti lahar gunung berapi. Kekuatan ilmu Telapak Lahar itu membuat unsur logam pedang meleleh, sehingga mudah bagi Rugi untuk mematahkannya.
Tsek!
Gawul terkejut. Namun tahu-tahu ujung pedang yang dipatahkan itu sudah menancap dalam di dadanya.
“Aaak!” pekik Gawul, tapi tangan kirinya menyerangkan telapaknya.
Pak!
“Aaak!” jerit Gawul semakin kencang dan panjang jeritannya.
Rugi Sabuntel menantang telapak tangan kiri Gawul dengan telapak tangannya yang membara kuning. Hasilnya, telapak tangan Gawul termakan seperti plastik yang dibakar api karena terlalu panasnya telapak tangan Rugi.
Gawul terdorong dan jatuh terjengkang di pinggiran rawa.
Gawul bernasib sangat malang. Sudahlah pedangnya dipatahkan, dadanya ditusuk, tangannya lumer sampai terlihat tulang jari-jarinya, jatuh pula di pinggir rawa, ditambah kepalanya masuk ke air rawa. Sampai-sampai ada seekor kodok yang terkejut dan spontan melompat ke atas wajah Gawul.
“Aaak!” jerit Gawul lagi karena ketika dia berguling, tanpa sengaja patahan pedang yang masih menancap di dadanya tertekan oleh tanah, tambah menusuk ke dalam. Insiden itulah yang kemudian membunuh Gawul.
Rugi Sabuntel lalu beralih memandang kepada Nyi Unyu dan Gusti Pangeran.
Penjahat yang bernama Kluwing masih main ancam dengan menyandera istri Gusti Pangeran yang posisinya terduduk. Sementara Nyi Unyu dan Gusti Pangeran tidak berani bertindak ceroboh.
“Lepaskan istriku, kami akan membiarkanmu pergi!” seru Gusti Pangeran.
Sementara Nyi Unyu, dia juga ingin membujuk Kluwing agar mau melepaskan sanderanya, tetapi dia tidak bisa berkata.
“Mundur kalian! Menjauh!” teriak Kluwing.
Namun, sebelum Nyi Unyu dan Gusti Pangeran menuruti perintah Kluwing yang memegang kendali, Rugi Sabuntel telah berlari di udara di belakang Nyi Unyu.
Begk!
Rugi Sabuntel yang mengudara mendarat di depan Nyi Unyu dan Gusti Pangeran, agak jauh di depan Kluwing. Ternyata, pendaratan Rugi Sabuntel bukan pendaratan biasa, tapi itu Pendaratan Dewa Goyang tingkat satu yang menyebarkan gelombang tenaga sakti yang tidak terlihat.
Nyi Unyu dan Gusti Pangeran terpental. Nyi Unyu terpental menghantam tebing tanah dan Gusti Pangeran terpental ke air rawa. Tak ayal lagi, Gusti Pangeran berkubang dalam lumpur dan itu membuat kian perih luka pedang di punggungnya.
__ADS_1
Sementara Kluwing yang awalnya merasa tidak diserang, tahu-tahu terpental ke belakang. Sanderaannya jadi lepas seiring tubuhnya menjauh dari istri Gusti Pangeran yang bergulingan.
Setelah Kluwing terpisah dari sanderanya, Rugi Sabuntel cepat berlari memburu posisi Kluwing.
Kluwing agak panik didatangi si gendut. Dia buru-buru mencari pedangnya. Ternyata pedangnya terbuang jauh darinya tanpa izin terlebih dulu.
Buk!
Tahu-tahu Rugi Sabuntel telah tiba di dekat Kluwing seiring tendangan yang menghantam telak rusuk Kluwing. Kluwing terlempar bergulingan ke samping.
Rugi Sabuntel terus mengejar. Kluwing pun tidak mau menjadi korban bulan-bulanan.
Kluwing tiba-tiba bergerak seperti ulat gentong dengan kedua kaki yang kemudian melesat tiba-tiba menyongsong pergerakan Rugi.
Beng!
Kedua kaki Kluwing menghantam perut gendut Rugi Sabuntel. Keras.
Namun, laksana menghantam lemak abadi, kedua kaki itu justru terdorong balik, membuat Kluwing terlempar jatuh, tetapi dia teruskan jatuhnya dengan gulingan yang menjauhi Rugi agar berkesempatan bangun berdiri.
Kluwing berkesempatan bangkit berdiri dan memasang kuda-kuda. Entah kuda jantan atau betina, atau gender baru.
Kedua telapak tangan Kluwing berwarna biru kebiru-biruan dan berasap tipis. Dia mengeluarkan ilmu Tapak Jejak.
Karena sudah pernah menghadapi kesaktian itu dan mengalahkannya, Rugi Sabuntel tanpa pikir panjang langsung maju. Kluwing pun penuh ambisi maju menyerang dengan mengandalkan kedua telapak tangannya.
Untuk sementara Rugi Sabuntel menghindar dan menangkis pada bagian batang tangan Kluwing saja. Hingga akhirnya....
Pak!
“Aaak...!” jerit Kluwing karena telapak tangan kanannya lumer oleh panas tinggi telapak tangan Rugi yang menyala kuning oleh ilmu Telapak Lahar.
Bukr!
Setelah itu, Rugi Sabuntel menyusulkan satu tinju keras menghantam dada Kluwing. Terdengar suara tulang dada yang patah bersamaan dengan darah yang tersembur dari mulut Kluwing ke wajah Rugi.
Pemuda gendut itu hanya memejamkan mata sejenak saat darah kental menyemprot wajahnya.
Tinju yang pernah membunuh seekor kuda itu juga membunuh Kluwing.
Dengan demikian, berakhirlah pertarungan tersebut. Gusti Pangeran dan istrinya terselamatkan. (RH)
__ADS_1