
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
“Aku bisa mengobati luka Gusti Pangeran.”
Itulah isi pesan tulisan kecil Nyi Unyu pada daun yang kecil.
“Tapi aku tidak bisa menunggu. Aku harus segera pergi ke sarang Ular Pembunuh, Nyi,” kata Rugi Sabuntel.
“Kenapa, Nak Rugi?” tanya Limpa Rayu yang tidak mengerti topik pembahasan Rugi dengan Nyi Unyu.
“Nyi Unyu mengatakan, dia bisa mengobati Gusti Pangeran, tapi aku sendiri tidak bisa menunggu karena harus segera menyelamatkan istriku,” jawab Rugi.
Nyi Unyu kembali memberikan selembar daun yang sudah ditulisinya dengang tulisan yang mini tapi jelas. Rugi kembali menerima dan membaca tulisan itu.
“Kau pergi lebih dulu, biar aku membantu Gusti Pangeran,” baca Rugi.
“Kenapa Nyi Unyu berbicara lewat tulisan di daun?” tanya Pangeran Doro heran.
Nyi Unyu menjawab dengan bahasa isyarat. Dia menunjuk mulutnya lalu menggeleng-gelengkan jarinya.
“Oh, Nyi Unyu tidak bisa bicara? Bisu?” terka Pangeran Doro terkejut.
Nyi Unyu mengangguk.
Akhirnya disepakatilah kesepakatan di antara mereka berempat.
Mereka naik lebih dulu ke atas jurang, di mana ada kereta dan kuda-kuda yang ditambatkan. Gatot yang masih hidup juga digondol naik ke atas, meninggalkan ketiga rekannya yang mati.
Tidak ada prajurit pengawal dari Pangeran Doro dan istrinya yang masih hidup, sehingga adik dari Raja Kerajaan Kutan itu tidak memiliki pengawal lagi, padahal perjalanan pulang ke Ibu Kota masih jauh.
Rugi Sabuntel akhirnya melanjutkan perjalanannya tanpa Nyi Unyu yang cantik membisu. Dia hanya ditemani oleh Gatot yang berstatus sandera. Gatot yang tidak berdaya ditengkurapkan di punggung kuda lain, tidak satu kuda dengan Rugi. Alasan si kuda adalah berat jika harus ditunggangi oleh dua orang.
Jadi, Rugi berkuda dengan menggandeng kuda lain. Maksudnya bukan Rugi yang bergandengan tangan dengan si kuda, tetapi kudanya yang menarik kuda lain dengan tali yang terikat. Semoga tidak salah paham.
Sementara Nyi Unyu, dia menjadi sais kereta kuda sekaligus mengawal Pangeran Doro. Status pangerannya membuat Doro Ronggowoso dan istrinya sangat penting untuk dilindungi hingga sampai ke kediamannya, terlebih mereka berdua sudah menjadi target bunuh Kelompok Ular Pembunuh.
Nyi Unyu harus memberikan pengobatan dulu kepada luka di punggung Pangeran dengam mampir ke sebuah desa terdekat. Itu agar luka Pangeran Doro tidak mengalami infeksi berat.
Nyi Unyu telah menitip pesan kepada Rugi. Jika Rugi bisa mengalahkan Kelompok Ular Pembunuh, Nyi Unyu meminta kembali haknya, yaitu Pedang Petir Naga.
“Aku akan berusaha mengembalikan Pedang Petir Naga kepadamu, Nyi.”
__ADS_1
Itu janji Rugi kepada Nyi Unyu yang membuat perawan setengah tua itu merasa bahagia. Ingin rasanya dia memeluk Rugi karena bersedia berkorban nyawa demi dirinya, tetapi sayang Rugi sudah suami orang. Itulah cinta, kecewanya selalu bersambung.
Berdasarkan keterangan Gatot, Kelompok Ular Pembunuh bersarang di Kampung Ular, sebuah kampung komunitas di tengah hutan.
Meski Gatot sudah menunjukkan jalan, Rugi juga bertindak agak pintar. Maklum pendidikan Rugi informal, jadi pintarnya pakai “agak”. Dia juga bertanya kepada warga desa yang ditemuinya tentang lokasi Kampung Ular. Biar cocok maksudnya.
Ternyata, keterangan warga yang tahu tentang Kampung Ular, cocok dengan keterangan Gatot. Gatot jujur karena dia belum mau mati seperti Kupatan.
Pada akhirnya, Rugi yang membawa dua kuda telah tiba di Desa Lorogundik, desa yang berbatasan langsung dengan hutan tempat Kampung Ular berada. Meski demikian, Rugi memutuskan untuk bertanya lagi kepada warga yang dijumpainya.
Target Rugi kini adalah seorang warga wanita yang sedang memanjat pohon kelapa yang tinggi. Jangan ditanya kenapa bukan lelaki saja yang memanjat pohon kelapa!
Rugi turun dari kudanya dan menambatkannya di pohon pinggir jalan. Dia berjalan beberapa tombak untuk sampai di bawah pohon kelapa yang di atasnya ada seorang perempuan. Perlu diperhatikan, perempuan itu memakai celana luar dan dalam kala memanjat. Jadi, jangan diperhatikan.
“Nini pemetik kelapa!” teriak Rugi sambil mendongak.
Panggilan itu membuat wanita pemanjat menengok ke bawah, bukan ke samping. Dia melihat Rugi sebagai makhluk yang bulat, karena dilihat dari atas.
“Ada apa?!” tanya wanita berusia separuh abad minus dua tahun itu. Dia masih di atas karena belum ada ajakan untuk ngopi bareng.
“Aku mau bertanya!” sahut Rugi dari bawah.
Wanita di atas pohon kelapa memandang sebentar kuda Rugi Sabuntel dan orang yang tengkurap pasrah di punggung kuda satunya.
“Kalau aku bisa jawab, aku dapat apa?” tanya si wanita pemanjat.
“Bertanyalah!” perintah wanita itu tanpa sudi turun sedikit pun.
“Apakah Nini tahu di mana Kampung Ular?” tanya Rugi.
Pada saat hendak menjawab, terdengar suara roda kayu dan lari kuda dari kejauhan. Wanita di atas pohon kelapa segera memandang ke ujung jalan, tempat munculnya sebuah pedati kuda yang berlari agak kencang.
Melihat wanita pemanjat memandang ke arah jauh, Rugi juga ikut memandang ke sana.
“Sepertinya itu orang Kampung Ular!” teriak wanita di atas sambil menunjuk ke arah pedati kuda yang datang mendekat.
Mendengar teriakan itu, Gatot yang sudah sangat lemah, sekuat tenaga mencoba mengangkat kepalanya dengan risiko leher yang sakit sekali.
“Aaak!” erang Gatot untuk melihat ke ujung jalan. Dia juga mendengar suara roda kayu dan kaki kuda.
Dengan pandangan terbatas, Gatot berusaha mengenali dua orang berpedang yang duduk di atas pedati. Dua orang lelaki. Yang satu duduk sebagai kusir dan satu lagi duduk di atas sebuah peti kayu besar di bak pedati.
“Terima kasih, Nini!” teriak Rugi kepada wanita pemanjat pohon.
__ADS_1
“Iya!” sahut wanita di atas. Dia lalu melanjutkan pekerjaannya di atas pohon. Entah pekerjaan apa yang dia lakukan, yang jelas bukan sedang mencuci baju.
Rugi Sabuntel lalu kembali menuju kudanya untuk menghadang pedati yang akan berlalu. Namun, sebelum Rugi tiba di dekat kudanya, Gatot sudah berteriak.
“Roook!” teriak Gatot kepada orang di atas pedati, tapi tidak kencang karena kondisi kerongkongannya yang bermasalah.
Namun, meski teriakannya tidak keras, tetapi kedua lelaki berpedang di atas pedati mendengar.
Lelaki pengendali kuda pedati bertubuh besar dan kekar. Dia berkepala botak plontos seperti biksu. Hanya kepalanya yang mirip biksu, karena pakaian lorengnya berbahan kulit asli yang sudah disamak. Agar tidak disebut tuyul, dia memelihara kumpulan rambut di dagunya yang biasa disebut jenggot. Dia bernama Rok Gandir.
Adapun lelaki yang duduk di atas peti kayu berbadan sedang-sedang saja, bahkan tidak memiliki otot yang begitu menonjol. Dia berambut gondrong sebahu. Hidungnya memiliki porsi berlebih bagi wajahnya yang terkesan mungil tanpa kumis dan jenggot. Ia mengenakan pakaian warna biru gelap berhias warna hijau gelap pula. Dia bernama Rok Gebrak.
Mendengar panggilan Gatot yang terkesan pelan, kedua Rok itu jadi serius memandang kepada kedua kuda yang sedang ditambatkan di pinggir jalan.
“Siapa orang di atas kuda itu, Gebrak? Sepertinya dia memanggil kita,” tanya Rok Gandir, seiring pedati mereka kian mendekati posisi kuda.
“Dari warna pakaiannya, sepertinya itu Gatot,” jawab Rok Gebrak.
Perhatian mereka jadi teralihkan kepada pergerakan Rugi Sabuntel yang berjalan dan berhenti di tengah jalan, sengaja menghadang pedati.
“Sepertinya ada yang mau cari mati dari kita,” kata Rok Gebrak kepada rekannya, setelah memastikan bahwa orang yang tertelungkup di atas kuda adalah Gatot.
“Berhenti, Kisanak!” seru Rugi Sabuntel tanpa gentar.
Rok Gandir menarik tali kekang kudanya untuk berhenti.
“Apa yang kau inginkan, Kisanak Gendut? Sepertinya kau ingin mencari perkara. Jika benar, kau berhadapan dengan orang yang benar,” kata Rok Gandir.
“Apakah kalian anggota Kelompok Ular Pembunuh?” tanya Rugi Sabuntel.
“Benar sekali. Kau bahkan sedang berdiri di wilayah kekuasaan Ular Pembunuh,” jawab Rok Gandir.
“Baiklah. Itu berarti aku sudah tidak memerlukan sandera,” kata Rugi Sabuntel.
Rugi lalu berjalan menghampiri Gatot.
“Aaak! Roook, tolooong!” jerit Gatot ketika tubuhnya diangkat oleh Rugi Sabuntel. Dia sangat kesakitan karena sendi dan ototnya jadi bergerak.
“Gatooot!” teriak Rok Gandir dan Rok Gebrak melihat hal itu.
Sing!
Rok Gebrak mencabut pedang di punggungnya.
__ADS_1
“Mencari mati kau, Gendut!” teriak Rok Gebrak yang langsung melompat dan berlari di udara ke arah Rugi Sabuntel.
Mendengar keributan di bawah, wanita di atas pohon kelapa terkejut dan tegang sebagai penonton. (RH)