Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 36: Lilis Angir Selingkuh


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


 


“Lilis Angir! Lilis Angir!”


Teriakan Adipati Bawel Semara yang terdengar seperti masih di luar rumah, mengejutkan Lilis Angir yang sedang duduk mengangkang di atas perut Samber Raga.


Lilis Angir yang sedang berpura-pura berkuda di atas ranjang itu, tepatnya di atas Samber Raga, sontak berhenti ********* dan menengok ke arah pintu kamar yang tertutup dan terkunci. Mirip maling yang sedang diteriaki dari luar.


Samber Raga yang sedang keenakan, terkejut pula dengan mata mendelik. Dia mendelik bukan karena enaknya yang mendadak hilang, tetapi karena mendengar panggilan yang sama.


Meski bukan namanya yang dipanggil oleh suara sang ayah, tetapi orang yang dipanggil sedang duduk tanpa busana di atas perutnya. Tepatnya turun sedikit.


Plop!


Buru-buru Lilis Angir yang cantik dan berkeringat itu bangkit dari tubuh anak sambungnya, sampai-sampai ada suara pelepasan yang dipaksa.


“Kenapa Ayah bisa pulang secepat ini?” tanya Samber Raga gusar setengah berbisik kepada Lilis Angir yang buto. Dia marah sambil buru-buru meraih sarung.


“Seharusnya ayahmu pulang sore!” jawab Lilis Angir pula terkesan marah, tapi lebih kepada tegang dan panik.


Tiba-tiba dia menarik sarung yang baru mau dipakai oleh Samber Raga yang masih di atas kasur.


“Ini sarungku!” sentak Lilis Angir, membuat Samber Raga buto kembali.


“Jangan keras-keras!” hardik Samber Raga tapi mode berbisik. Ia mendelik kepada Lilis Angir yang mengeluarkan keringat baru, keringat kepanikan.


“Lilis Angir! Lilis Angir!” teriakan Adipati Bawel Semara sudah terdengar di dekat kamar, membuat keduanya terdiam seperti patung dalam kondisi masih mayoritas bugil.


Tap tap tap!


Terdengar suara langkah Adipati Bawel Semara lewat menuju ke dalam, arah dapur dan belakang.


“Bagaimana ini?” tanya Lilis Angir. Di saat seperti itu, kecerdasannya seolah-olah sedang bersembunyi.


“Pakai pakaianmu dan bersembunyi di belakang pintu!” kata Samber Raga geram kepada Lilis Angir.


Buru-buru Lilis Angir mengikat sarungnya di pinggang, lalu meraih segala macam pakaiannnya. Pertama, yang penting seluruh pakaian terpakai. Kedua, harus bersembunyi atau....


“Lewat jendela!” suruh Samber Raga.


“Tapi itu tinggi,” kata Lilis Angir berat hati.


“Aku angkat,” kata Samber Raga sambil buru-buru memakai celananya.


Samber Raga menarik tangan Lilis Angir saat wanita itu sudah mengenakan pakaian atas dan bawahnya.

__ADS_1


“Ayo naik!” kata Samber Raga berbisik.


Tinggi jendela kamar itu nyaris setinggi dada, tapi bisa dilewati satu tubuh jika memang niat.


Daripada tertangkap basah oleh suaminya, Lilis Angir harus keluar lewat jendela itu. Dia pun melompat dan menyangkutkan perutnya di kusen jendela. Samber Raga segera menempatkan kedua telapak tangannya di bokong ibu sambungnya itu. Didorongnya bokong empuk yang sangat terasa tidak memakai dalaman lagi.


“Ak!” pekik tertahan Lilis Angir karena dia didorong terus sehingga dia cenderung mau jatuh keluar.


Blugk!


Setelah mau jatuh, Lilis Angir akhirnya jatuh sungguhan ke tanah.


“Aak!” rintih Lilis Angir. Namun dia cepat sadar, maka cepat dia tahan erangannya tanpa mengurangi rasa sakitnya.


“Lilis!” panggil suara Adipati Bawel Semara dari arah belakang rumah, tepatnya pintu dapur.


Alangkah jantungannya Lilis Angir mendengar panggilan yang seolah-olah tanpa dinding penghalang. Sambil meringis, Lilis Angir menengok ke belakang.


“Mati aku,” ucap Lilis Angir dalam hati, tapi terkejut ulang saat melihat suaminya datang tergesa-gesa ke arahnya. Tidak mungkin dia bisa menghindar lagi, bahkan lari pun serasa mustahil karena dia masih terduduk di tanah.


Di dalam kamar, Samber Raga pun terkejut bukan main. Bermaksud menyembunyikan ibu tirinya, eh justru sebaliknya. Samber Raga cepat bergerak bersembunyi di sudut kamar yang sejajar dengan jendela.


“Apa yang kau lakukan, Lilis?!” tanya Adipati dengan agak membentak, menunjukkan bahwa dia curiga istri mudanya jatuh melompat dari jendela putranya.


“Aku ... aku jatuh, Gusti,” kata Lilis minta dikasihani.


Dia sudah sampai di dekat istrinya, tapi tidak membantunya bangun berdiri.


“Jangan-jangan....”


“Jangan-jangan aku selingkuh dengan putramu?!” sentak Lilis Angir cepat dan kencang, memotong kata-kata suaminya. Dia menunjukkan wajah marah karena mau dituduh yang tidak-tidak.


“Lalu kenapa keluar dari kamar putraku? Pakaian dan rambutmu kusut seperti ini. Wajahmu berkeringat!” Adipati balas membentak istrinya, membuat wanita itu agak mengkerut.


“Aku ... aku hanya ... hanya mencari jarumku yang dipinjam oleh Samber,” jawab Lilis Angir.


“Bukankah Samber Raga ada di dalam, kenapa kau keluar lewat jendela?” tanya Adipati tidak percaya.


“Tidak ada. Dia tidak ada di kamarnya. Makanya aku masuk lewat jendela!” tandas Lilis Angir yang mulai menguasai irama kebohongannya.


Adipati Bawel Semara lalu melongokkan kepalanya ke jendela dan melihat kondisi di dalam kamar putranya. Lilis Angir kian tegang.


Dilihatnya kain kasur berantakan. Ada helaian cawat lelaki yang berserak di sisi ranjang. Adipati Bawel Semara bisa melihat pintu kamar yang tertutup. Kondisinya tidak dikunci dari dalam.


Dia lebih memasukkan kepalanya untuk melihat seluruh sudut ruang kamar itu. Dia pun bisa melihat sudut kamar tempat Samber Raga tadi berdiri. Namun, di sana sudah tidak ada Samber Raga.


Di saat suaminya sedang memonitor isi kamar, Lilis Angir bergerak bangkit. Dia merasa agak lega karena suaminya diam saja. Itu artinya dia tidak menemukan Samber Raga di dalam.

__ADS_1


“Akk!” pekik Lilis Angir karena ternyata lutut kanannya tidak bisa diluruskan, seperti ada uratnya yang terlipat atau terjepit.


Adipati Bawel Semara segera mengeluarkan kepalanya dari dalam kamar dan memandang istrinya sejenak.


Plak!


“Aak!” jerit Lilis Angir kencang dengan tubuh jatuh terduduk lagi, ketika Adipati Bawel Semara menampar pipinya dengan keras.


Jeritan itu memancing para prajurit dan centeng di sekitar rumah bermunculan untuk melihat siapa yang menjerit dan apa yang terjadi.


Dari rumah lain yang masih satu pekarangan, keluar pula seorang wanita seusia Adipati. Wanita itu berpakaian bagus warna kuning. Rambutnya terurai panjang agar terlihat lebih muda dan cantik jika dilihat dari belakang.


Wanita itu adalah Sumira Dasmi, istri tertua Adipati Bawel sekaligus ibu dari Samber Raga.


Ada satu wanita lagi yang mengikuti Sumira Dasmi. Dia jauh lebih muda dan jauh lebih cantik. Cantiknya sepadan dengan Lilis Angir. Wanita berpakaian kuning gading itu bernama Kunir Sulasih, istri kedua Adipati Bawel.


Mereka pun bergegas mendatangi lokasi pertengkaran. Mereka melihat Lilis Angir sedang menangis sambil memegangi pipinya yang panas dan merah.


“Perempuan tidak tahu diuntung!” maki Adipati Bawel Semara sambil menjambak rambut Lilis Angir.


“Aaak!” jerit Lilis Angir kesakitan. “Ampuni aku, Gusti! Ampuni aku!”


“Gusti Adipati, jangan lakukan!” pekik Kunir Sulasih yang berlari menghampiri mereka lalu memegangi lengan suaminya.


“Aku angkat dia dari dunia pelacuran agar menjadi wanita bermatabat, tetapi di rumahku dia malah melacur dengan putraku sendiri!” teriak Adipati Bawel marah.


Terkejutlah semua orang yang mendengar itu, terutama Kunir Sulasih yang ingin membela madunya. Mendengar itu, dia jadi melepaskan tangannya dari lengan suaminya.


“Aku sudah curiga dari dulu dengannya, Gusti Adipati,” kata Sumira Dasmi dengan nada ketus dan tatapan benci kepada Lilis Angir.


Lilis Angir meringis sambil memegangi pergelangan tangan Adipati yang menggenggam kuat rambutnya.


“Aku pernah mengintip Lilis mengendap-endap di dekat kamar Samber Raga, tapi aku tidak melaporkan kepada Gusti, karena Gusti selalu membela yang muda,” kata Sumira Dasmi lagi, sekaligus menyisipkan kritikan.


Ehehehe!


Drap drap drap!


Tiba-tiba terdengar suara ringkikan seekor kuda yang disusul suara larinya di sisi lain. Larinya kencang, seperti kuda yang ingin cepat-cepat meninggalkan rumah itu.


Adipati melepas rambut Lilis Angir untuk melihat siapa yang berkuda. Dia menerka bahwa itu adalah Samber Raga yang ingin kabur.


Panglima Muda Arit Batik dan anak buahnya, serta para centeng, juga segera menengok melihat ke arah sisi lain dari lingkungan rumah itu. Namun, mereka semua hanya melihat seekor kuda yang berlari kencang tanpa penunggang.


Drap drap drap!


Tiba-tiba dari arah belakang terdengar lagi lari kuda yang lain, tapi tidak didahului ringkikan kencang seperti tadi. Ketika mereka melihat ke belakang, ternyata ada satu ekor kuda hitam yang berlari kencang ke arah Adipati. Kuda itu ditunggangi oleh Samber Raga yang tidak berbaju, tapi bercelana.

__ADS_1


Semua terkejut karena Samber Raga sepertinya ingin menabrak ayahnya sendiri. (RH)


__ADS_2